Arrysakka?

Knock… Knock…

Ketukan pintu terdengar dari luar ruangan.

"Masuk," ucap seorang pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Raut wajahnya memancarkan kelelahan, kebingungan, dan kecemasan yang mendalam. Matanya segera tertuju pada seorang pria yang masuk ke dalam ruangan, yang tak lain adalah sekretarisnya.

"Tuan, informasi dari penyelidikan tentang Nona Muda belum menunjukkan hasil. Semua orang yang diperintahkan untuk mencarinya masih belum menemukan keberadaannya," jelas Aland dengan nada penuh kekhawatiran.

"Apakah itu yang ingin ku dengar?!" suara pria itu menggema, tajam dan penuh tekanan.

"Maafkan saya, Tuan. Saya akan segera kembali mencari Nona Muda," jawab Aland dengan nada penuh penyesalan sebelum segera meninggalkan ruangan yang terasa semakin sesak. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatap punggung Aland dengan pandangan tajam, penuh ketegangan.

"Lea..." gumamnya pelan, sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut sakit. Kecemasan menguasainya, membuatnya sulit berpikir jernih. Ia memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa sebelum turun langsung mencari putrinya. Duduk diam tanpa bertindak hanya membuat pikirannya semakin tidak tenang.

Namun, pekerjaan yang ia kira bisa diselesaikan dengan cepat ternyata terus bertambah. Satu per satu dokumen baru datang menumpuk di mejanya. Pria itu mulai merasa terjebak dalam rutinitas yang tak berkesudahan. Matanya memandang tumpukan dokumen dengan tatapan kosong, seolah tenaga dan semangatnya telah terkuras habis.

"Sialan dengan pekerjaan ini!" geramnya sambil mengambil jas yang tergeletak di kursi, lalu mengenakannya dengan cepat. Langkahnya tegas dan penuh emosi saat meninggalkan ruangannya.

Aland, yang sudah menunggu di luar, langsung menghampirinya. "Tuan, mau ke mana?" tanyanya dengan nada cemas. Ia tahu pekerjaan yang harus diselesaikan masih banyak, dan bosnya meninggalkan begitu saja bukan hal yang biasa. Namun, pria itu tidak menggubrisnya sama sekali dan terus berjalan menuju lift, membuat Aland hanya bisa mengikutinya dengan tatapan khawatir.

Setibanya di lantai satu, tempat kendaraan perusahaan terparkir rapi, pria itu langsung masuk ke salah satu mobil. Mesin mobil segera menyala, dan dalam sekejap kendaraan itu meluncur keluar dari pekarangan perusahaan, meninggalkan Aland yang masih terpaku di tempatnya.

Sepanjang jalan, matanya tidak pernah berhenti menyisir setiap sudut kota. Ia mencari putrinya, sosok kecil yang begitu berharga baginya. Rasa bersalah terus menghantui pikirannya. Kesibukan kerja membuatnya lalai, sehingga putrinya bisa hilang begitu saja.

Laporan awal menyatakan bahwa putrinya kabur, tetapi ia sulit mempercayai hal itu. Bagaimana mungkin seorang anak berusia lima tahun bisa kabur sendirian? Mau ke mana dia? Rasanya tidak masuk akal. Namun, fakta bahwa sudah enam jam berlalu tanpa jejak membuat pikirannya semakin kacau.

"Ini pasti bukan kabur..." gumamnya, mencengkeram setir dengan erat. "Dia pasti diculik... tapi siapa yang tega melakukannya?"

Tatapannya kembali menyisir jalanan, penuh ketegangan dan kecemasan. Satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan berhenti sampai putrinya ditemukan.

"Kalau aku menemukan penculik itu, jangan harap bisa hidup!" umpat pria itu dengan suara geram, tatapannya tajam menyisir setiap sudut jalan yang dilewatinya.

Waktu berlalu tanpa terasa, dan malam mulai menyelimuti kota. Namun, pria itu masih terus mencari. Sepanjang perjalanan, ia terus menghubungi bawahannya untuk memastikan apakah ada perkembangan. Sayangnya, hasilnya nihil. Kekhawatiran semakin menyesakkan dada.

Drrtt...

Ponselnya bergetar, menampilkan nama 'Ibu' di layar. Kekhawatirannya bertambah—ia takut berita kehilangan putrinya telah sampai ke telinga sang ibu. Berat rasanya untuk menjawab panggilan itu, tetapi dering tak berhenti memaksa.

"CK!" desahnya, penuh kesal, sebelum akhirnya menjawab.

"Kenapa kamu baru angkat? Apa kamu mau menyembunyikan kehilangan cucu Ibu, hah?!" suara dari seberang terdengar penuh amarah.

"Ibu harus tenang," ujarnya, berusaha menenangkan.

"Bagaimana Ibu bisa tenang?! Cucuku hilang! Dan kamu, sebagai ayahnya, malah tidak langsung memberi tahu Ibu! Sekarang malah menyuruh Ibu tenang!"

"Maafkan aku, Ibu. Tapi ini demi kesehatan Ibu. Aku tidak ingin Ibu terguncang. Aku janji akan menemukan Lea."

"Tidak! Ibu harus ikut mencari Lea! Ayahmu juga sudah tahu. Jadi bersiaplah! Kalau sampai Lea belum ditemukan, Ayahmu pasti akan menuntutmu."

Klik. Sambungan terputus. Pria itu terdiam. Kata-kata ibunya seperti pisau yang menusuk ke hati.

"Benar. Aku pantas dituntut. Aku gagal sebagai seorang ayah," gumamnya lirih. Tatapannya kosong, penuh penyesalan.

Waktu terus bergulir. Tak terasa, jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun ia tetap mengitari jalanan, masih mencari dengan tekad yang tak luntur meski tubuhnya sudah mulai lelah.

***

"Lea..." panggil Khyra sambil membuka pintu kamarnya, matanya langsung tertuju pada Lea yang sedang sibuk bermain Lego di atas kasur.

"Mama, lihat! Lea buat rumah!" seru Lea dengan penuh antusias. Tatapannya penuh harap, menanti pujian dari Khyra.

"Wah... Lea pintar sekali! Apa Lea suka warna pink, ya?" tanya Khyra, tersenyum melihat rumah Lego yang semuanya berwarna pink, meskipun di antara balok-balok itu ada beberapa warna lain.

"Benar! Lea suka sekali warna pink!" jawab Lea semangat, sambil kembali menyusun rumahnya yang belum sepenuhnya selesai.

Khyra duduk di tepi kasur, menatap Lea yang begitu serius menyusun Legonya. Perlahan, ia mencoba membuka percakapan yang lebih serius.

"Lea..." panggilnya lembut. "Mama mau tanya sesuatu, boleh?"

Lea menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada Legonya. "Mama mau tanya apa?" tanyanya tanpa menghentikan tangannya yang sibuk menyusun balok.

Khyra menarik napas dalam-dalam. "Nama Ayah Lea..."

Sejenak, tangan mungil itu berhenti. Mata Lea menatap Legonya dengan tatapan yang tiba-tiba kosong. Ia tidak menjawab. Mulutnya yang semula banyak bicara kini tertutup rapat, seolah mengunci rahasia yang tak ingin diungkapkan.

"Lea anak pintar, kan?" Khyra mulai membujuk dengan suara lembut. "Ayah Lea pasti sangat khawatir. Atau mungkin Nenek Lea juga. Apa Lea tidak rindu?"

Lea terdiam sesaat, lalu pelan-pelan menjawab, "Lea... rindu, tapi Lea ingin bersama Mama."

Khyra menghela napas, menatap wajah mungil Lea yang terlihat begitu polos namun menyimpan sesuatu. Ia tersenyum, mencoba menenangkan. "Lea akan tetap bersama Mama, sayang. Tapi Lea harus bantu Mama. Anak Mama yang pintar harus bilang, siapa nama Ayah Lea?"

Tangannya mengelus rambut halus Lea dengan lembut, memberikan rasa nyaman agar gadis kecil itu mau berbicara.

Lea menunduk sebentar, seolah sedang mencari keberanian, lalu menjawab dengan suara kecil, "Nama Ayah... Arrysakka."

Namun, pengucapannya terdengar agak belepotan, membuat Khyra sedikit bingung. "Arrysakka?" Khyra mengulangi nama itu, mencoba memastikan apa yang baru saja didengarnya.

"Sakka! Nenek selalu memanggil Ayah Sakka!" ucap Lea lagi dengan penuh keyakinan, membuat Khyra akhirnya mendapatkan petunjuk jelas.

"Baiklah... Terima kasih, Lea anak pintar Mama," Khyra tersenyum lembut kepada Lea. Ia merasa lega sekaligus terharu karena akhirnya Lea mau berbagi informasi yang sangat penting.

"Sama-sama! Lea cinta Mama..." ucap Lea dengan nada riang, wajahnya berseri-seri, senang karena terus dipuji.

Namun, ucapan itu membuat Khyra terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke wajah polos Lea yang sedang tersenyum bahagia. Anak kecil yang baru ia temukan tadi siang kini berbicara dengan tulus, seolah ia benar-benar ibu kandung Lea yang telah hidup bersama selama bertahun-tahun. Perasaan hangat sekaligus berat memenuhi dada Khyra, tetapi ia tetap tersenyum, berusaha tidak menunjukkan kebingungannya.

"Apakah Lea tidak memiliki ibu? Sehingga dia salah mengenali ibunya?" gumam Khyra, terus menatap Lea dengan perasaan campur aduk.

"Ah, Khyra..!" panggil Mama Khyra dari luar kamar, membuat Khyra terkejut. Sebelum ia sempat menjawab, mama Khyra sudah muncul di pintu kamar, membawa senyum lembut.

"Makan, nak. Lea ayo sayang, kita pergi makan," ucap Mama Khyra sambil meraih Lea dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Mereka berdua kemudian berjalan menuju ruang makan.

"Silakan makan, nak. Semoga Lea suka masakan nenek," ucap Mala, ibu Khyra, sambil tersenyum kepada Lea yang tampak mengantuk.

Mereka pun menikmati makan malam dengan tenang.

"Pa, Ma, Khyra ke kamar duluan, Lea sudah terlihat ngantuk," ucap Khyra sambil menggendong Lea kembali.

"Iya, sayang. Mama dan Papa masih ingin menonton," jawab Papa Khyra.

Setibanya di kamar, Khyra dengan hati-hati membaringkan Lea di tempat tidur dan menutupinya dengan selimut.

"Selamat malam, Lea..." ucap Khyra lembut, mematikan lampu dan menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram. Khyra kemudian beranjak menuju teras kamarnya sambil membawa ponselnya. Ia ingin menelepon Sakinah.

"Assalamualaikum," ucap Khyra begitu Sakinah mengangkat telepon.

"Iya, Waalaikum'salam, Khyra. Bagaimana kabar Lea?" tanya Sakinah dengan penuh perhatian.

"Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Aku menelepon karena Lea akhirnya menyebutkan nama ayahnya."

"Serius? Terus, siapa nama ayahnya? Kalau dia juga menyebutkan marga, kita bisa lebih mudah mencarinya."

"Arrysakka..." jawab Khyra dengan ragu.

"Arrysakka? Apa kamu serius?" tanya Sakinah dengan sedikit keheranan.

"Iya, itu yang Lea ucapkan. Coba kita cari, siapa tahu ada petunjuk."

"Baiklah. Btw, besok kamu mengajar nggak?" tanya Sakinah.

"Emm, besok kan hari Jumat. Aku nggak ada jadwal, jadi kosong."

"Bagus! Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan-jalan dengan Lea? Siapa tahu orang tuanya yang sedang mencarinya bisa melihatnya, atau kita mungkin nggak sengaja bertemu mereka?" saran Sakinah, terdengar ide yang sangat bagus.

Mendengar itu, Khyra tersenyum dan mengiyakan ajakan Sakinah.

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

smg aja khyra tdk di sangka penculik sm kel jg bpky lea

2025-01-04

0

Nurjannah Rajja

Nurjannah Rajja

Cari anak lebih penting kali....gak akan bangkrut kan...kalau ditinggal sehari dua hari. Anak loh. Hilang lagi.

2024-09-24

0

Yani

Yani

Ayahnya menghawatirkan anaknya karena hilang eh... anaknya malah seneng banget

2024-06-15

4

lihat semua
Episodes
1 Senyuman manis
2 Mamahh
3 KAMU MAMA LEA!
4 Arrysakka?
5 Lea mau sama mama!!
6 Apa aku setua itu di matanya?
7 Arshaka Virendra
8 Lea..
9 Terima kasih
10 Sholat?
11 Ceo V'E kembali
12 Mata yang selalu menatap
13 Informasi Gelap
14 Suara Merdu
15 Menciptakan Momen
16 Mawar Putih
17 Sebuah Masalah
18 Berkat Kehadiran Mu
19 Merasa Lega
20 Tugas Baru
21 Pikiran Aneh
22 Menemani?
23 Malu
24 Keberangkatan
25 Tingkah Aneh
26 Merah seperti Tomat
27 Menunggu
28 Ketakutan
29 First love
30 Ingin memilikimu
31 Sebuah harapan
32 Ketidakberdayaan
33 Sangat Cantik
34 Berjanji akan Menjaga dan Melindungi
35 Sebuah Usaha
36 Jingshang Park
37 Mencari Perhatian
38 Perjodohan
39 Awal Kenangan
40 Kenangan kelam mengejarnya kembali
41 Di Bawah Langit Senja
42 Dua Lamaran
43 Apa dia beragama Islam?
44 Sebuah Keputusan
45 Dunia Seakan Berhenti
46 Sebuah Tekad
47 Cintai Tuhannya Baru Umatnya
48 Kehilangan dan Keraguan
49 Antara Cemas dan Lega
50 Saat Semua Mata Tertuju Padamu
51 Dua Jalan, Satu Keputusan
52 Keputusan Shaka
53 Bertemu Lea
54 Langkah Awal
55 Kegelisahan di Balik Kepercayaan
56 Keputusan yang Mengubah Segalanya
57 Interaksi Singkat yang Mendebarkan
58 Kembalinya Tuan dan Nyonya Virendra
59 Jejak yang Tak Terduga
60 Kehadiran yang Mengguncang
61 Di Balik Tatapan dan Kata
62 Maukah Kamu Menungguku?
63 Cahaya Rembulan
64 Ingat Janjimu
65 Sosok yang Kembali
66 Dilema
67 Dia Calon Menantu Saya
68 Berita Hangat
69 Konferensi Pers
70 Bertemu Kedua Orang Tua Khyra
71 Lamaran
72 Sosok Asing
73 Gaun Merah
74 Suasana Perlahan Mencair
75 Sebuah Acara
76 Perjalanan Menuju Jeddah
77 Tiba Di Jeddah
78 Air Mata Bahagia
79 Saat Dua Hati Menyatu
80 Cahaya Subuh, Saksi Cinta Halal
81 Saat Cinta Berbicara dalam Sunyi
82 Saat Waktu Menguji Kesabaran
83 Keberanian yang Tertunda
84 Untung Aku Tak Memakanmu
85 Perjalanan Pulang dari Tanah Suci
86 Pertarungan Kecil di Pagi Hari
87 Tak Akan Terpisahkan
88 Waktu Seolah Melambat
89 Aku Harus Melihat Mereka
90 They are Everything to me
91 Kita Semua akan Melewati ini Bersama
92 Kembali
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Senyuman manis
2
Mamahh
3
KAMU MAMA LEA!
4
Arrysakka?
5
Lea mau sama mama!!
6
Apa aku setua itu di matanya?
7
Arshaka Virendra
8
Lea..
9
Terima kasih
10
Sholat?
11
Ceo V'E kembali
12
Mata yang selalu menatap
13
Informasi Gelap
14
Suara Merdu
15
Menciptakan Momen
16
Mawar Putih
17
Sebuah Masalah
18
Berkat Kehadiran Mu
19
Merasa Lega
20
Tugas Baru
21
Pikiran Aneh
22
Menemani?
23
Malu
24
Keberangkatan
25
Tingkah Aneh
26
Merah seperti Tomat
27
Menunggu
28
Ketakutan
29
First love
30
Ingin memilikimu
31
Sebuah harapan
32
Ketidakberdayaan
33
Sangat Cantik
34
Berjanji akan Menjaga dan Melindungi
35
Sebuah Usaha
36
Jingshang Park
37
Mencari Perhatian
38
Perjodohan
39
Awal Kenangan
40
Kenangan kelam mengejarnya kembali
41
Di Bawah Langit Senja
42
Dua Lamaran
43
Apa dia beragama Islam?
44
Sebuah Keputusan
45
Dunia Seakan Berhenti
46
Sebuah Tekad
47
Cintai Tuhannya Baru Umatnya
48
Kehilangan dan Keraguan
49
Antara Cemas dan Lega
50
Saat Semua Mata Tertuju Padamu
51
Dua Jalan, Satu Keputusan
52
Keputusan Shaka
53
Bertemu Lea
54
Langkah Awal
55
Kegelisahan di Balik Kepercayaan
56
Keputusan yang Mengubah Segalanya
57
Interaksi Singkat yang Mendebarkan
58
Kembalinya Tuan dan Nyonya Virendra
59
Jejak yang Tak Terduga
60
Kehadiran yang Mengguncang
61
Di Balik Tatapan dan Kata
62
Maukah Kamu Menungguku?
63
Cahaya Rembulan
64
Ingat Janjimu
65
Sosok yang Kembali
66
Dilema
67
Dia Calon Menantu Saya
68
Berita Hangat
69
Konferensi Pers
70
Bertemu Kedua Orang Tua Khyra
71
Lamaran
72
Sosok Asing
73
Gaun Merah
74
Suasana Perlahan Mencair
75
Sebuah Acara
76
Perjalanan Menuju Jeddah
77
Tiba Di Jeddah
78
Air Mata Bahagia
79
Saat Dua Hati Menyatu
80
Cahaya Subuh, Saksi Cinta Halal
81
Saat Cinta Berbicara dalam Sunyi
82
Saat Waktu Menguji Kesabaran
83
Keberanian yang Tertunda
84
Untung Aku Tak Memakanmu
85
Perjalanan Pulang dari Tanah Suci
86
Pertarungan Kecil di Pagi Hari
87
Tak Akan Terpisahkan
88
Waktu Seolah Melambat
89
Aku Harus Melihat Mereka
90
They are Everything to me
91
Kita Semua akan Melewati ini Bersama
92
Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!