BAB 4

"Wulan! Kenapa kamu kabur dari Andre? Kalau kamu kabur dari Andre, berikan aku uang untuk membayar hutang!" Riki berjalan mendekat. Dia berhenti di dekat motor Alvero. "Lo pacarnya Wulan? Anak orang kaya rupanya."

"Bukan, aku gak kenal sama dia. Dia cuma cari alamat rumah," kata Wulan. Dia tidak ingin Alvero masuk dalam masalah kakaknya.

"Gue gak percaya. Lo pacarnya Wulan kan?"

Alvero menatap tajam pria yang berdiri di dekatnya dengan bau alkohol yang menyengat itu. "Iya, kenapa?"

"Motor lo bagus juga, pasti lo anak orang kaya. Bisalah bagi gue duit!"

"Vero, jangan! Lo pergi aja!" suruh Wulan. Dia tidak ingin Alvero memberi kakaknya uang karena sekali diberi uang, kakaknya pasti akan meminta secara terus menerus.

"Buat apa?" tanya Alvero. Dia semakin mengeraskan rahangnya dan bersiap menantang Riki.

"Kak Riki, udah, biarkan Vero pergi." Wulan menarik tangan Riki tapi Riki justru mendorongnya hingga terjatuh.

Seketika Alvero turun dari motor. Dia menyergap kaos Riki dan bersiap memukulnya tapi berhenti tepat di depan wajah Riki. Dia menurunkan kepalan tangannya. "Gue gak akan kasih lo uang! Tapi gue peringatkan sama lo, gue gak peduli lo sekalipun lo kakak Wulan. Sekali lagi lo berani nyakitin Wulan, lo berhadapan sama gue."

"Cih, lo siapa?"

"Gue Alvero. Ketua geng motor Storm Rider. Lo bukan lawan gue!" Alvero mendorong Riki cukup keras hingga dia melangkah mundur beberapa langkah.

Kemudian Alvero menaiki motornya lagi dan pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah kepergian Alvero, buru-buru Wulan masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Dia duduk di atas ranjangnya yang keras sambil memikirkan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Alvero selama seharian itu. "Kenapa tiba-tiba Vero deketin gue? Sebelumnya dia sama sekali gak pernah nyapa gue. Apa boleh gue berharap?"

Wulan menyentuh pipinya yang sempat mendapat satu kecupan dari Alvero. Meskipun itu hanya mengambang dan tidak menyentuh sepenuhnya tapi sudah berhasil menggetarkan dadanya.

...***...

Alvero menghentikan motornya di dekat Andre dan juga teman-temannya berkumpul. Dia turun dari motornya dan menghampiri Andre.

"Berapa hutang Riki?" tanya Alvero.

"Ck, lo beneran pacaran sama cewek gembel itu?"

Alvero membuang napas kasar. Dia bertanya sekali lagi pada Andre. "Berapa hutang Riki?"

"Sejuta."

Alvero berpikir sejenak. Meskipun hanya satu juta, uang sakunya sangat pas-pasan. Kedua orang tuanya benar-benar mengajarinya berhemat sejak dini. Tapi dia tidak boleh merendahkan dirinya sendiri di depan Andre dan teman-temannya. "Besok gue kasih uang itu, tapi jangan pernah ganggu Wulan lagi!"

"Oke, gue tunggu di sini besok malam."

Alvero kembali mengendarai motornya, lalu melajukan motornya dengan kencang pergi dari tempat itu.

"Sepertinya gue harus pinjam uang sama Ares. Gak papalah gue keluar modal satu juta yang penting nanti balik dua puluh juta."

...***...

Malam hari itu, Antares baru sampai di rumahnya setelah berkumpul dengan teman-temannya di basecamp. Dia menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Adara.

Saat melewati pintu kamar Adara yang sedikit terbuka, dia mengintipnya dan melihat Adara yang sudah tertidur pulas sambil memegang ponselnya. Dia masuk ke dalam kamar itu dan mengambil ponsel yang ada di tangan Adara. Kemudian dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Adara.

Saat dia akan meletakkan ponsel itu, dia melihat aplikasi pesan yang masih terbuka. Dia penasaran dengan isi pesan yang masih terbuka itu.

Antares membaca pesan yang masuk dengan nama Lukas. Dia tahu Lukas adalah pacar Adara yang baru dua bulan jadian. Sebenarnya dia tidak setuju jika Adara berpacaran dengan Lukas karena dari cerita teman-temannya, Lukas adalah seorang playboy. Dia tidak ingin adik kembarnya dipermainkan pria lain.

Pap dong, Ra.

Pap itu kamu dong atau kita video call saja.

Untunglah pesan itu belum dibaca oleh Adara. Antares segera menghapus pesan itu dan memblokir nomor Lukas. Dia tidak ingin adiknya dirusak oleh Lukas

Aku harus mengawasi Ara lebih ketat lagi. Jangan sampai Lukas mendekati Ara karena maksud tersembunyi.

Kemudian Antares keluar dari kamar Adara dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia melepas jaketnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dia sudah menguap panjang beberapa kali karena badannya yang terasa lelah seharian itu. Tak butuh waktu lama, kedua mata itu telah terpejam.

Keesokan harinya, Antares dikejutkan dengan gedoran Adara di pintu kamarnya. Kemudian masuk ke dalam kamar itu karena Antares tak juga membuka pintunya.

"Kak Ares!" Adara naik ke atas ranjang dan menindih dada kakaknya.

"Aduh! Aku gak bisa napas!" Antares membuka kedua matanya. Dia melihat Adara yang tengkurap di atas dadanya.

"Kak Ares blokir nomor Lukas di hpku ya?"

"Iya, kenapa? Dia gak baik buat kamu," kata Antares. Dia berusaha mendorong tubuh adiknya yang terasa berat menindihnya.

"Kak Ares, kenapa gitu. Jahat, ih! Dia jadi marah sama aku."

Karena Adara tak juga turun dari tubuhnya, Antares membalik tubuh Adara hingga dia berada di atas tubuhnya.

"Kamu sadar gak? Kamu hanya dimanfaatkan saja sama Lukas."

"Memanfaatkan gimana?"

"Kamu sering pap tubuh kamu untuk Lukas?"

"Ih, nggak pernah."

"Kalau kamu gak mau mengaku, aku akan laporkan sama Papa."

"Memang gak pernah. Makanya pacaran biar gak gangguin aku terus." Adara mendorong tubuh Antares agar menyingkir dari tubuhnya tapi sangat berat.

"Aku gak pernah pacaran."

"Makanya pacaran. Tapi memang gak ada yang mau sih sama Kak Ares."

"Apa kamu bilang?" Antares mencubit hidung adiknya lalu menggelitik pinggangnya.

"Kak Ares! Udah, ih!" Adara menendang Antares asal yang membuat Antares menjauh dan meringis kesakitan. Entah apa yang dia tendang, dia tidak sadar.

"Shits! Kamu tendang aset berhargaku. Aduh!"

"Aset apa?" Sedetik kemudian Adara tertawa. "Aset berharga? Punya Kak Ares kan keciill." Adara menciutkan dua jarinya sambil tertawa.

"Kecil? Sini aku kasih lihat. Bentuknya jelas beda waktu kamu lihat pas TK!"

Adara berlari keluar dari kamar kakaknya sambil menjulurkan lidahnya

Antares berdengus kesal lalu kembali duduk di tepi ranjangnya. "Hadeh, sayang Ara adik kembar aku. Kalau gak, udah aku kejar-kejar dia. Belum nemu tipe cewek yang unik kayak Ara. Polos tapi tukang ngeyel."

💗💗💗💗💗

Like dan komen ya....

Terpopuler

Comments

nuraeinieni

nuraeinieni

kalau memang ara bukan adik kembarx,,,,bisa dong ares jatuh cinta

2024-05-11

0

jaran goyang

jaran goyang

𝑎𝑟𝑒𝑠 𝑑𝑦 𝑏𝑘𝑛 𝑑𝑒𝑘 𝑚𝑢....𝑡𝑝 𝑤𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑦𝑔 𝑎𝑠𝑙...𝑎𝑞 𝑦𝑘𝑛 𝑡𝑢..

2024-05-11

0

Salim S

Salim S

kalau Ares tahu Adara bukan adik kembar nya apa Ares akan jatuh cunta ama Adara...tapi kan ga boleh karena Ares dan Adara satu suson kalau kata orang jawa mah...satu susuan...

2024-05-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!