"Ara, kamu masih marah sama Papa?" tanya Sky setelah makan malam selesai karena sedari tadi Adara hanya diam saja tak bicara apapun padanya. Bahkan sekarang dia juga tidak menjawab pertanyaan itu.
"Memang ada apa? Sejak pulang tadi Ara terus cemberut," tanya Shena.
"Papa menggantikan posisi Ara sebagai kandidat event internasional itu karena ada yang lebih unggul daripada Ara."
"Papa tega sekali mundurin anak sendiri." Shena membereskan piring kotor lalu dibawa ke tempat cuci piring.
"Papa pemilik klub itu, jadi harus adil." Sky berdiri dan mengikuti istrinya. Dia tahu persis jika istrinya memang sangat menyayangi Adara dan pasti akan membela Adara. "Ini semua juga demi nama baik klub kita, karena Ares dan juga Vero sudah masuk dalam kandidat itu. Papa tidak mungkin membiarkan Ara juga masuk karena orang dalam. Papa tahu skill Ara itu seperti apa."
"Iya, tapi Ara sudah terlanjur senang. Dia pasti juga sudah berusaha tapi Papa memupuskan harapannya begitu saja. Biasanya Papa juga tidak pernah mengurusi klub. Semua apa kata Vicky."
Adara berdiri dan mendekati kedua orang tuanya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya bertengkar hanya karena dirinya. "Mama, Ara tidak apa-apa. Ara memang tidak sehebat Wulan. Keputusan Papa memang benar. Ara juga tidak marah sama Papa."
"Ara ...." Sky mendekat dan mencium kening putrinya. "Maafkan Papa ya. Papa tidak bermaksud membuat kamu kecewa. Papa melakukan ini karena Papa tahu batas kekuatan kamu. Papa juga tidak mau kamu terlalu lelah berlatih. Papa sayang sama kamu."
"Iya, Papa. Maaf Ara sempat kesal sama Papa. Mama sama Papa jangan bertengkar lagi ya." Adara tersenyum lalu mencium pipi mama dan papanya. "Ara, mau tidur dulu."
"Selamat tidur ya." Shena membalas kecupan di kedua pipi putrinya. "Sweet banget." Shena masih saja tersenyum menatap Adara yang kini berjalan menuju kamarnya.
"Ya udah, piringnya biar dicuci sama bibi. Kita sweet-sweetan sendiri aja di kamar." Sky menarik tangan istrinya agar segera masuk ke dalam kamar.
...***...
Adara tak juga bisa tidur malam hari itu. Dia menatap layar ponselnya karena pesannya pada Lukas tak juga dibalas. Dia hubungi juga tidak diangkat. "Apa Lukas masih marah sama aku? Aku tuh gak bisa ngertiin sikap Lukas. Mau dia apa sih?"
Adara berdengus kesal. Kemudian dia membuka dinding chat Raya. Dia melihat beberapa link yang dikirim Raya. Dia penasaran lalu dia mengambil laptop dan menghidupkan laptopnya.
"Memang adegan 18 plus itu seenak apa sih?" Setelah menyalin link itu, Adara memasang headset di telinganya dan bersiap menontonnya.
"Ara, kamu belum tidur?"
Tiba-tiba saja Antares masuk ke dalam kamarnya. Adara menutup laptopnya karena film itu sudah mulai terputar. "Belum. Mau lihat drakor. Kak Ares kalau mau masuk kamar itu ketuk pintu dulu."
"Kamu biasanya juga gak pernah ketuk pintu masuk kamarku. Lihat drakor apa? Kenapa kamu tutup?" Antares mengambil laptop Adara meskipun Adara terus menahannya. Dia semakin curiga apa yang dilihat Adara.
"Kak, jangan lihat."
"Kamu lihat aneh-aneh?" Antares semakin memaksa hingga akhirnya dia berhasil membuka laptop itu. Terlihat sepasang manusia sedang bergumul di atas ranjang dengan pakaian yang sudah setengah terbuka.
"Ra, kenapa kamu lihat film kayak gini?" Antares menjeda film itu dan menatap Adara.
Adara melepas headset yang terpasang di telinganya. "Aku penasaran. Memang Kak Ares gak pernah lihat?"
"Jangan karena penasaran kamu melihatnya terus ingin mencobanya. Siapa yang kasih kamu link ini?"
"Raya."
"Raya itu bukan teman yang baik. Kalau bisa kamu jangan lagi berteman dengan dia."
"Memang kenapa sama Raya? Aku yang tanya soal film ini sama Raya makanya dia kasih tahu aku. Aku kan juga udah 18 tahun."
Antares mencubit hidung Adara karena gemas. "Kamu memang sudah 18 tahun, tapi kamu masih sekolah. Gak boleh melakukan hal kayak gitu."
"Ih, siapa juga yang mau melakukannya. Aku kan cuma penasaran. Cuma mau lihat."
"Ya udah, kamu lanjut lihat. Biar gak penasaran lagi." Antares memakai satu headset lalu melanjutkan video itu.
"Kak Ares keluar dulu." Adara mendorong Antares agar keluar dari kamarnya tapi Antares tetap kekeh duduk di samping Adara sambil menonton film yang sudah kembali berputar itu.
"Aku juga penasaran lihat film dewasa sama adik kembar sendiri kayak gimana. Aku gak mau kamu hubungi Lukas terus pap atau video call karena pikiran kamu terkontaminasi film itu."
"Dih! Ngeselin banget! Kak Ares itu kayak hantu yang tiba-tiba datang dan terus menggangguku." Adara melipat kedua tangannya dan menggembungkan pipinya.
"Kayak hantu? Kamu kalau nangis juga datangnya ke aku." Antares memasang satu headset di telinga Adara agar mendengar suara meresahkan itu.
Adara yang baru pertama kali menonton film dewasa itu terkejut melihat adegan per adegan ditambah suara wanita yang mendominasi setiap permainan. "Ceweknya ini kesakitan atau menikmati sih?"
"Kamu lihat kayak gimana?"
Adara menelan salivanya melihat ekspresi wanita dalam film itu. Sepertinya wanita itu sangat menikmati. Ada rasa yang aneh di dalam tubuhnya yang bereaksi. Tubuhnya terasa panas dan seolah ingin disentuh.
Antares yang menyadari Adara mulai resah. Dia mematikan film itu. "Lihat film gini aja kamu udah bereaksi. Bahaya tahu gak! Nanti kamu jadi pengen coba."
"Kak, itu belum selesai."
"Udah, gak boleh lihat lagi."
"Ih!" Adara menghempaskan tubuhnya di ranjang. Setiap adegan itu masih terekam jelas dalam ingatannya. "Kok Kak Ares biasa aja lihat film gitu? Apa Kak Ares gak normal?"
Antares menjewer pipi Adara. "Gimana mau naf su kalau lihat sama adik sendiri."
Kemudian Antares meletakkan laptop itu di meja. "Awas kalau kamu lihat film dewasa lagi. Nanti aku aduin sama Papa biar kamu dimarahi."
"Iya, iya. Aku udah gak penasaran lagi."
Kemudian Antares keluar dari kamar Adara. Bohong, jika dia tidak bereaksi dengan tontonan dewasa itu. Tapi dia sangat pintar menyembunyikannya.
"Ara semakin meresahkan. Aku harus terus mengawasinya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Salim S
s raya itu pemain yah aslinya...makanya Ares ga suka Ara berteman ama raya...kenapa Ara punya circle pertemanan yang tixic sih,mending berteman ama Wulan aja Ra kamu ga akan rusak..
2024-05-15
0
jaran goyang
𝑙𝑜𝑛𝑔𝑜𝑟"..... 𝑔𝑘 𝑏𝑠 𝑏𝑑𝑘𝑛 𝑘𝑤𝑎𝑛 𝑠𝑚 𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑏𝑙𝑖𝑘 𝑠𝑙𝑖𝑚𝑢𝑡..... 𝑦𝑔 𝑜𝑡𝑎𝑘 𝑚𝑢 𝑑𝑎 18 +...
𝑏𝑖𝑎𝑟 𝑘𝑛....𝑛𝑛𝑡 𝑘𝑙𝑜 𝑢𝑑 𝑛𝑦𝑒𝑠𝑒𝑙 𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑠
2024-05-15
0
Azizah az
lanjut kk
2024-05-15
0