"Wulan ...." Alvero menghentikan motornya di depan rumah Wulan. Dia tersenyum menatap Wulan yang sudah menunggunya. "Ayo!"
Wulan memakai helmnya lalu naik ke boncengan Alvero. Beberapa saat kemudian motor Alvero mulai melaju.
Senyuman terus mengembang di bibir Wulan, akhirnya dia merasakan bagaimana rasanya dijemput pacar saat berangkat ke sekolah.
"Kamu pegangan," kata Alvero. Dia menoleh Wulan sesaat.
Wulan semakin salah tingkah. Dia ingin memeluk Alvero dari belakang tapi ragu.
Satu tangan Alvero akhirnya menarik tangan Wulan agar memeluknya. "Gak usah malu."
Wulan hanya tersenyum. Dia memajukan dirinya dan memeluk Alvero dengan kedua tangannya. Dadanya masih saja berdebar tak menentu. Mungkinkah satu per satu keinginannya akan terwujud? Dia tidak pernah merasa bahagia seperti ini.
Setelah sampai di sekolah, beberapa teman menatap iri dengan kedekatan Alvero dan Wulan.
"Kok bisa sih Vero sama Wulan?"
"Gak tahu, ada maunya mungkin Vero."
"Mereka kan satu klub renang. Sama-sama atletik. Ya mungkin memang terlibat cinlok."
Mendengar desas-desus itu membuat Wulan merasa malu lagi. Dia berjalan mendahului Alvero menuju kelas.
"Wulan tunggu!" Lagi-lagi Alvero menahan tangan Wulan. Meskipun niat awalnya dia mendapatkan Wulan karena taruhan, dia tidak malu mengakuinya sebagai pacar di depan teman-temannya. Baru setelah mendapatkan helm yang dia inginkan, dia akan cari cara untuk memutuskan Wulan.
"Nanti sepulang sekolah ke rumahku yuk! Kan hari ini tidak ada latihan. Setelah dari rumahku, kita ke rumah sakit jenguk Ara," ajak Alvero. Dia menggenggam satu tangan Wulan sambil berjalan menuju kelas.
"Ke rumah kamu? Hmm, aku malu ada kedua orang tua kamu."
"Gak papa. Aku punya adik perempuan. Jadi gini, adik perempuanku itu sekolah jurusan tata rias. Kebetulan dia ada praktek untuk perawatan wajah dan rambut, sepertinya kamu cocok jadi modelnya."
"Tapi aku gak cantik."
Alvero menghentikan langkahnya dan menatap Wulan. Dia menarik kuncir rambut Wulan hingga membuat rambut panjang itu tergerai. "Kamu itu cantik, hanya saja kurang percaya diri."
Wulan menundukkan kepalanya karena wajahnya kembali memerah dipandang Alvero sedekat itu.
Alvero menyentuh dagu Wulan dan menahannya agar pandangannya lurus menatapnya. "Jangan pernah menunduk lagi."
Mereka saling menatap begitu dekat. Hingga akhirnya tatapan mereka dibuyarkan oleh sorakan teman-temannya.
"Vero, kalau mau ciuman jangan di depan kelas."
"Iya, gak modal lo!" Radit merangkul bahu Alvero dan mengajaknya pergi karena ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.
Alvero masih sempat melambaikan tangannya pada Wulan sebelum dia pergi.
Wulan hanya tersenyum kecil lalu dia masuk ke dalam kelasnya.
...***...
Antares tersenyum melihat kedua mata Adara yang kini telah terbuka. "Ara, akhirnya kamu sadar."
"Ara, sudah sadar. Syukurlah." Shena tersenyum melihat Adara yang akhirnya membuka kedua matanya.
Sky segera memanggil dokter untuk memastikan kondisi putrinya.
"Aku sudah pingsan berapa lama? Badanku rasanya sakit semua," kata Wulan.
"Mulai dari semalam sampai sekarang jam sebelas. Tidak apa-apa, sebentar lagi kamu pasti sembuh."
Dokter dan suster datang lalu memeriksa kondisi keseluruhan Adara. Semua normal, tidak ada cidera serius di tubuhnya. "Kaki dan tangan bisa bergerak normal. Kamu bisa mengingat keluarga kamu?"
Adara menganggukkan kepalanya.
"Hasil ct scan juga sudah keluar, tidak ada pendarahan pada otak. Tinggal pemulihan saja. Istirahat yang cukup biar cepat pulih."
Adara mengangguk pelan lagi.
"Terima kasih banyak, Dokter." Kemudian Sky mengantar dokter keluar ruangan itu.
Antares kembali duduk di dekat Adara. Dia kembali menggenggam tangannya. "Ara, aku minta maaf. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini."
"Tidak apa-apa, Kak. Aku yang salah tiba-tiba masuk ke jalan. Kak Ares kenapa tidak sekolah?"
"Ares tidak mau masuk sekolah kalau kamu belum sadar," sahut Shena.
"Aku gak tenang sebelum melihat kamu membuka mata. Aku benar-benar merasa bersalah, Ra. Aku gak akan maafkan diriku sendiri kalau terjadi apa-apa sama kamu."
Adara tersenyum kecil. "Tapi sekarang aku gak papa, Kak. Jangan menyalahkan diri sendiri terus."
"Ares, minta makanan pada suster untuk Ara. Sekalian kamu ke rumah juga ambil baju ganti untuk Mama dan juga Ara. Tanya sama Papa juga jadi ke kantor tidak? Kelihatannya Papa sibuk dari tadi."
Antares hanya menganggukkan kepalanya. "Ya udah, aku pulang dulu. Aku akan segera ke sini lagi." Kemudian dia berjalan keluar dari ruang rawat Adara. Dia sengaja mencari papanya, pasti papanya sedang mengurus masalah tes DNA itu lagi. Itu Papa!
Antares mendekat dan mendengarkan pembicaraan Sky dan dokter di depan pintu.
"Kebetulan sekali sample darah Adara sudah ada dan dicocokkan dengan darah Pak Sky sehingga hasil lab keluar dengan cepat. Jika menggunakan partikel lain masih membutuhkan waktu beberapa hari. Ini hasil tes DNA nya."
Sky membuka hasil tes DNA itu yang menyatakan tidak ada kecocokan sama sekali dengan dirinya. Ada rasa kecewa di hatinya karena anak yang dia sayangi selama 18 tahun ternyata bukan darah dagingnya, lalu bagaimana kondisi putri kandungnya saat ini?
"Kami dari pihak rumah sakit sangat meminta maaf atas kejadian ini. Kami siap membantu Pak Sky jika memang ingin menukar kembali putri Pak Sky. Kami akan mempertemukan kedua keluarga dan memberikan bukti-bukti yang kuat."
Sky menggelengkan kepalanya. "Untuk sementara, biar saya sendiri yang mengurusnya. Saya permisi." Kemudian Sky berdiri dan keluar dari ruangan itu. Dia berhenti sesaat di koridor rumah sakit untuk melihat alamat yang dia simpan di ponselnya.
"Kawasan ini kan dekat dengan TPA." Sky kembali menyimpan ponselnya lalu dia berjalan jenjang keluar dari rumah sakit. Dia harus mendapat informasi tentang putri kandungnya hari itu juga.
Sky kini menaiki mobilnya dan melaju menuju alamat itu. Beberapa saat kemudian, dia telah sampai dan menghentikan mobilnya di depan gang, lalu turun dari mobilnya karena gang itu sangat sempit. Dia berjalan masuk ke dalam gang itu. Dia bertanya pada seseorang di gang itu, hingga akhirnya dia menemukan rumah yang dia cari.
Dia kini menghentikan langkah kakinya di depan rumah semi permanen yang sangat dekat dengan sampah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan putrinya di tempat itu.
"Cari siapa, Pak?"
Sky menatap ibu-ibu yang baru saja meletakkan barang rongsokan di dekat rumahnya. "Apa benar ini rumah Pak Rosyid?"
"Iya, tapi suami saya sudah meninggal."
Hati Sky semakin berkabut. Dia terus membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan putrinya.
"Ada perlu apa?"
Sky terdiam. Dia bingung harus memulai pembicaraan darimana. "Apa 18 tahun yang lalu ibu melahirkan seorang putri di rumah sakit harapan?"
"Iya."
"Kebetulan istri saya juga melahirkan di rumah sakit itu. Kemungkinan besar putri kita tertukar."
"Tidak mungkin! Wulan sudah saya rawat sejak bayi, saya sangat menyayanginya. Dia anak kandung saya. Tidak mungkin tertukar dengan anak Bapak!"
"Wulan?" Seketika ingatan Sky tertuju pada Wulan yang bergabung di klub renangnya. "Apa Wulan adalah atletik renang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Risma Waty
Saatnya Wulan merasakan hidup tanpa bekerja keras... Aku yakin Sky dan Shena akan memperlakukan ibunya Wulan dengan baik.
2024-05-21
0
Salim S
benarkan Ara dan Wulan ketuker,semoga Ares bisa menerima Wulan sebagai adiknya...Sky grecep langsung sat set buat nemuin anak kandungnya...
2024-05-20
1
Fela Lala
lanjut dong kak,, semangat
2024-05-20
0