BAB 10

"Gitu dong, jadi adik yang berguna. Punya pacar anak orang kaya itu dimanfaatin. Sampaikan makasih sama pacar kamu udah bayar hutangku," kata Riki yang membuat Wulan terkejut.

"Bayar hutang? Maksudnya apa?" Wulan urung menaiki motornya. Dia tidak tahu apapun tentang pembayaran hutang itu.

"Pacar kamu udah melunasi hutangku pada Andre."

Setelah mengetahui kepastian itu, Wulan segera menaiki motornya. Dia melajukan motornya cukup kencang ke sekolah. Dia tidak ingin Alvero melakukan ini padanya. Dia tidak ada sama sekali niat untuk memanfaatkan Alvero.

Setelah sampai di sekolah, Wulan segera turun dari motor. Kebetulan sekali Alvero sedang menunggunya di dekat tempat parkir.

"Wulan, aku kira kita bertemu lagi di jalan. Ternyata aku yang kepagian. Nih, coklat hangat buat kamu."

Wulan hanya menatap Alvero. Dia menarik Alvero ke samping kelas agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Kamu bayar hutang Kak Riki pada Andre?"

"Iya, aku hanya ingin bantu kamu."

"Seharusnya gak perlu kamu bayar. Aku jadi gak enak sama kamu. Aku gak mau Kak Riki memanfaatkan kamu. Berapa hutang Kak Riki, nanti aku kembalikan uang kamu."

Alvero menggelengkan kepalanya. "Gak perlu. Aku melakukan ini agar kamu tidak diganggu lagi sama Andre."

"Tapi aku gak enak sama kamu. Pokoknya nanti aku ganti, tapi aku cicil. Berapa hutangnya?"

Alvero menggelengkan kepalanya. Dia menyelipkan rambut Wulan ke telinganya. Dia baru menyadari wajah cantik Wulan yang natural itu. Bentuk mata dan juga alisnya sangat cantik. Bibirnya juga tipis dan hidungnya mancung. Hanya saja Wulan sama sekali tidak merawat wajah dan juga rambutnya.

Alvero mengusap pipi Wulan dan semakin menatap wajahnya dari dekat. Dia semakin mendekatkan wajahnya tapi Wulan mengalihkan wajahnya.

"Hmm, sebentar lagi udah bel masuk." Wulan meremat tangannya sendiri. Jantungnya berdetak tak karuan saat melihat wajah Alvero yang semakin mendekat.

Saat Wulan akan melangkahkan kakinya, Alvero menahan tangannya. "Apa jawaban kamu?"

"Hmm, aku ...."

"Apa kamu masih belum yakin sama aku?"

"Nanti malam saja setelah latihan."

"Oke." Alvero meletakkan minuman coklat hangat di tangan Wulan lalu melepas tangannya.

"Makasih," kata Wulan. Kemudian dia berjalan menuju kelasnya.

"Sebentar lagi, gue akan dapatkan Wulan!" Alvero menyugar rambutnya lalu dia berjalan menuju kelasnya.

...***...

"Raya kemana sih?" Adara mencari keberadaan Raya setelah keluar dari toilet. Sebelum dia masuk ke dalam toilet untuk berganti seragam setelah berolahraga, dia tahu persis jika Raya sedang mengantri di belakang sendiri, tapi sekarang Raya tidak ada di tempatnya.

"Apa ke kelas?" Adara menghentikan langkah kakinya di depan gudang peralatan olahraga. Dia melihat kuncir rambut Raya yang jatuh di depan pintu yang tertutup itu.

"Ini kan kuncir rambut Raya." Adara membuka pintu itu tapi ternyata pintu itu terkunci. Kemudian dia melihat gang di samping gudang itu yang mengarah ke belakang kelas. Dia penasaran, apa Raya ke belakang kelas?

Dia melihat sekitar tempat itu yang sangat sepi karena murid lain belum istirahat dan hanya dari kelasnya saja yang baru saja selesai pelajaran olahraga. Teman-temannya juga sedang sibuk membeli minuman di kantin. Daripada penasaran, Adara melangkahkan kakinya masuk ke gang sempit itu secara perlahan. Saat semakin dekat dengan belakang sekolah, dia mendengar suara Raya yang sedang berbisik dengan seseorang.

Adara mengintip mereka dari sela tumpukan meja yang tidak terpakai.

Raya dengan siapa?

Adara tak melihat jelas wajah pria yang duduk di belakang Raya. Dia hanya melihat Raya yang sedang duduk di pangkuan pria itu dengan tangan yang menyusup ke dalam seragam olahraga Raya.

Astaga, apa yang Raya lakukan.

"Jangan di sini. Kemarin kan lo udah puas."

"Iya, tapi sekarang gue mau lagi. Nanti gue bayar lo. Gue udah gak tahan."

Suara itu?

Adara melebarkan kedua matanya saat melihat Lukas mencium Raya dengan brutal. Bahkan kedua tangan Lukas semakin berani menyentuh tubuh Raya. Ciuman itu semakin pindah ke leher Raya dan semakin intim.

Adara sudah tidak sanggup menahan emosinya. "Jadi ini yang kalian lakuin di belakang gue!" Dia kini berdiri di hadapan mereka berdua.

Mendengar suara Adara, seketika Raya berdiri sedangkan Lukas melepaskan pelukannya.

"Ara? Kok lo ada di sini?" tanya Raya. Dia tidak mengira jika Adara mengikutinya.

"Raya, gue gak nyangka lo main belakang sama Lukas." Adara akan menampar pipi Raya tapi terhenti. Dia mengepalkan tangannya dan menurunkannya.

"Ara, gue bisa jelasin!"

"Ara, jangan marah. Aku bisa jelasin sama kamu," kata Lukas membela dirinya sendiri.

"Jelasin apalagi? Semua udah jelas!" Adara memukul pipi Lukas dengan keras.

"Aku bayar Raya karena kamu gak mau aku ajak!" Lukas mengusap pipinya yang terasa panas karena tamparan Adara.

"Mulai sekarang kita putus!" Adara membalikkan badannya. Dia berlari melewati lorong kelas, tak peduli dengan panggilan Raya lagi.

Hatinya terlalu sakit, dikhianati pacar sekaligus sahabatnya.

"Ara, kenapa?" Antares yang baru saja keluar dari toilet melihat Adara berlari sambil menangis. Dia menahan tangan adiknya agar tidak berlari lagi.

"Kak Ares." Adara memeluk Antares dengan erat. Dia menangis terisak di dadanya.

"Kenapa?" tanya Antares sambil mengusap punggung Adara agar lebih tenang.

"Lukas selingkuh sama Raya."

Antares sudah menduga jika dua orang yang dekat dengan Adara memang tidak beres. "Aku sudah bilang, putuskan Lukas. Sekarang terbukti kan kalau dia cowok gak bener, dan Raya juga, aku udah tahu sejak lama kalau dia cewek gak bener. Dia itu cewek bayaran. Makanya aku terus mengawasi kamu."

Adara melepas pelukannya dan menatap Antares. "Kenapa Kak Ares baru bilang?"

"Kan kamu yang selalu gak percaya sama aku. Jangan sedih." Antares menghapus air mata di pipi Adara. "Harusnya kamu senang, karena kebusukan mereka berdua sudah terungkap."

Adara menganggukkan kepalanya. Untunglah dia masih punya kakak kembar yang selalu bisa mengerti perasaannya. "Aku mau ke kelas dulu. Nanti aku lanjut curhat lagi ya, Kak."

"Iya." Antares hanya menatap kepergian Adara. Dia kini membalikkan badannya dan mencari keberadaan Lukas.

"Itu dia!" Antares langsung menyergap krah Lukas dan memukul pipinya. "Gue udah peringatkan lo berulang kali, lo jangan pernah sakiti Ara!"

Lukas menepis tangan Antares. "Gue juga nyesel udah pacaran sama adik lo yang gak ada gunanya itu!"

"Shits lo!" Antares akan memukul Lukas lagi tapi berhenti karena dia melihat Pak Romi di depan ruang kelas. "Gue tunggu lo di dekat basecamp. Malam ini kita balapan!"

Terpopuler

Comments

Risma Waty

Risma Waty

Keturunan raja jalanan...
hajar, Ares

2024-05-16

0

Lina Herlina

Lina Herlina

lanjut kka

2024-05-16

0

Salim S

Salim S

wuiiiih....balapan dong..jangan di ragukan.kemampuan membalap nya Ares,dia cucu,keponakan,dan anak dari ketua geng motor yg hebat...tunjukin Res skill balap mu....suka deh aroma2 badboy dingin di luar tp hangat di dalam...

2024-05-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!