BAB 16

Alvero hampir tak berkedip melihat penampilan Wulan saat ini. Hanya dengan polesan make up tipis saja wajahnya sangat terlihat cantik dengan rambut yang tergerai lurus. Wulan juga memakai rok levis selutut milik Vani yang dia belikan tapi tak pernah Vani pakai karena kekecilan. Cardigan berwarna biru muda yang dipakai Wulan juga sangat pantas dengan kulit putihnya.

"Cantik kan? Ternyata gaun itu pas di tubuh Kak Wulan bukan di tubuhku," bisik Vani yang menyadarkan lamunan Alvero.

"Itu tubuh kamu aja yang gemuk. Makanya olahraga biar langsing."

"Ih, ngeselin! Udah sana pergi, ntar keburu malam."

Alvero tersenyum dan mendekati Wulan. "Kita berangkat sekarang ya."

Wulan menganggukkan kepalanya kemudian dia keluar dari rumah Alvero. Dia kini menaiki motor Alvero dan memeluknya dari belakang setelah motor itu melaju.

"Kamu cantik sekali," kata Alvero sambil sedikit menoleh Wulan.

"Ini semua berkat Vina. Dia sangat berbakat ya." Wulan mendekatkan dirinya agar bisa mendengar suara Alvero.

"Iya, dia bakatnya memang merias sama makan." Alvero tertawa kecil lalu dia mengusap tangan Wulan yang ada di perutnya. Baru beberapa hari dia dekat dengan Wulan, mengapa rasanya sangat nyaman. Dia tidak ingin memutuskan Wulan dengan cepat.

Beberapa saat kemudian, dia sudah menghentikan motornya di tempat parkir rumah sakit. Mereka turun dari motor lalu masuk ke dalam rumah sakit itu.

"Vero, tapi aku gak enak bertemu sama Ara setelah aku terpilih menjadi kandidat event itu. Dia pasti masih marah sama aku."

Alvero menggenggam tangan Wulan dan masuk ke dalam lift menuju lantai tiga tempat Adara dirawat. "Gak papa. Ara pasti sudah gak marah. Kan kamu datang sama aku."

Wulan hanya tersenyum kecil. Semakin hari, rasanya dia semakin cinta dengan Alvero karena sikap manis Alvero padanya.

Setelah sampai di lantai tiga, mereka berdua melihat Antares yang sedang duduk di depan ruang rawat Adara sambil memainkan ponselnya.

"Ares," panggil Alvero yang membuat Antares mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

Antares kini menatap Wulan dan Antares yang sedang berpegangan tangan.

Wulan adik kandung kamu.

Antares berdiri dan menghampiri mereka berdua. Dia masih menatap kedua tangan yang saling terpaut itu.

"Kita udah jadian," kata Alvero sambil tersenyum menang.

Seketika Antares menatap Alvero. Dia masih ingat tentang taruhannya dengan Alvero tapi dia sedang tidak minat membahas taruhan itu. Bukan karena dia akan kehilangan helm termahalnya tapi ini tentang Wulan.

"Jangan masuk ke dalam," kata Antares. Dia tidak ingin papanya bertemu dengan Wulan untuk saat ini.

"Kenapa? Kita hanya ingin menjenguk Ara," kata Alvero.

"Ya udah lo aja yang masuk. Gak boleh banyak orang yang masuk di dalam." Kemudian Antares kembali duduk dan melipat kedua tangannya.

"Gak papa, aku tunggu di sini saja," kata Wulan sambil melepas genggaman tangannya.

"Ya udah, aku ke dalam sebentar saja." Kemudian Alvero masuk ke dalam ruang rawat itu.

Wulan duduk di dekat Antares. "Apa kamu marah karena aku menggantikan posisi Ara di event itu?" tanya Wulan.

Antares kini menatap Wulan. "Nggak! Gue marah bukan karena itu."

"Kenapa?" tanya Wulan tak mengerti. Dia melihat kemarahan yang besar dari sorot mata Antares.

Antares membuang napas kasar. Usahanya mencegah Wulan untuk bertemu papanya sia-sia karena ternyata Alvero justru keluar dari ruangan itu dengan papanya.

"Wulan." Sky mendekati Wulan dan memegang kedua lengannya. Dia menatap Wulan dengan kedua mata yang berkaca. Pantas saja sejak pertama melihat Wulan ada perasaan yang aneh di hatinya. Seperti ada sebuah ikatan batin yang sulit dia ungkapkan. "Kamu masuk saja tidak apa-apa."

Antares membuang napas kasar dan pergi dari tempat itu.

"Ares! Lo mau kemana?" tanya Alvero.

"Mau ke toilet!"

Alvero urung mengikuti langkah Antares. Dia kini melihat tatapan mata Sky pada Wulan yang sangat berbeda.

"Ayo, masuk ke dalam," ajak Sky sambil memegang pergelangan tangan Wulan.

"Ara, ada Wulan," kata Sky. Dia berjalan bersama Wulan masuk ke dalam ruang rawat itu. Sedangkan Alvero berjalan di belakangnya.

Bukan hanya Adara yang menoleh tapi juga Shena. Shena tersenyum menatap Wulan. Dia baru pertama kali ini melihat Wulan.

"Hai, temannya Ara? Atau pacarnya Vero?" tanya Shena.

Alvero hanya tersenyum, sedangkan Wulan kini mencium tangan Shena. "Saya teman sekelas Ara."

"Pacar Vero, Tante," jawab Alvero sambil tersenyum.

"Apa? Kamu pacaran sama Wulan?" tanya Sky memastikan.

"Iya, Om. Kenapa?" tanya Alvero tak mengerti. Bahkan ayahnya sendiri saja tidak melarangnya berpacaran.

"Kalian masih sekolah, tidak boleh pacaran."

"Papa, tidak apa-apa. Mereka sudah besar. Asal tahu batasan ya tidak apa-apa," kata Shena. Dia masih tersenyum menatap wajah manis Wulan.

"Iya, Wulan kan bukan anak Papa, kenapa Papa larang-larang," kata Adara. Sebenarnya dia masih kesal dengan Wulan karena masalah event itu.

"Ara, semoga lekas sembuh ya," kata Wulan. Sebenarnya dia juga tidak tahu harus berkata pada Adara.

"Iya," jawab Adara singkat tanpa menatapnya.

"Ara, jangan begitu sama Wulan," kata Sky.

"Papa kenapa sih terus saja bela Wulan. Anak Papa itu aku bukan Wulan."

"Ara, jangan bilang seperti itu!"

Mendengar bentakan itu, seketika kedua mata Adara berkaca-kaca. Dia membuang wajahnya dan menangis. "Papa memang udah tidak sayang sama aku. Bahkan sejak aku sadar Papa sama sekali tidak bicara sama aku."

"Ara, bukan seperti itu. Maafkan Papa. Seharian ini Papa banyak kerjaan." Sky duduk di dekat Adara. Dia menghapus air mata Adara lalu menggenggam tangannya. Seharian itu dia memang sama sekali tidak bicara dengan Adara sejak Adara sadar. "Maaf ya, udah jangan menangis. Papa sayang sama kamu."

"Maaf, kalau kedatangan saya hanya mengganggu. Saya permisi." Wulan segera membalikkan badannya dan keluar dari ruangan itu.

"Wulan!" Alvero segera menyusul langkah kaki Wulan keluar dari ruangan itu.

Sky hanya menatap Wulan yang kini menghilang di balik pintu. Kemudian dia kembali menatap Adara. Adara dibesarkan di keluarganya dengan penuh kasih sayang dan dimanja, pasti sangat sulit bagi Adara untuk menerima semuanya jika dia tahu kenyataan yang ada.

Terpopuler

Comments

Melia Gusnetty

Melia Gusnetty

aahh..jijik nengok antares...krn ada rasa sm adara sm adik kandung sendiri i sprt itu..dn adara smg kau kembali sm klrg mu dh cukup kau mendapat kn kasih sayang dr klrg wulan dn menikmati kemewahan sedang kn wulan hidup menderita d tempat pembuangan sampah ...dan terpaksa jd pemulung dr kecil...saat nya kembali ke klrg masing2..

2024-12-15

0

Risma Waty

Risma Waty

Pelan2 saja Sky. Pertama-tama, yakinkan Ares utk menerima Wulan dan kalau kamu akan tetap sayang Ara. Kedua, perbaiki kehidupan Wulan dan ibunya spy tidak kekurangan lagi. Ketiga, jujur pada Shena.. terakhir kepada Ara & Wulan.

2024-05-22

0

jaran goyang

jaran goyang

𝒂𝒂𝒂𝒅𝒖𝒖𝒉𝒉𝒉𝒉...𝒋𝒈𝒏 𝒑𝒌𝒂𝒊 𝒉𝒕 𝒏𝒑 𝒔𝒊𝒄𝒉....𝒂𝒒 𝒌𝒔𝒍 𝒚𝒂𝒌 𝒈𝒏

2024-05-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!