BAB 12

"Lo berani sekali nantangin gue!" Lukas datang bersama teman satu gengnya. Dia berhenti di dekat jalanan yang biasanya mereka buat untuk beradu balap.

Antares hanya tersenyum miring dan menutup helm full face nya. "Gue gak akan puas sebelum gue kalahin lo!"

Mereka berdua sudah bersiap di garis start. Suara deru sepeda motor semakin menggelegar. Setelah hitungan ketiga, mereka sama-sama melesat dengan kencang di jalanan.

Antares semakin menambah laju motornya. Dia menyalip motor Lukas. Beberapa kali Lukas berusaha menendang motornya tapi dia berhasil menghindar. Hingga akhirnya dia akan sampai di garis finish.

Antares terkejut saat melihat seseorang yang tiba-tiba menyeberang jalan. Sudah terlambat bagi dia mengerem motornya. Dia hanya bisa menekan klakson berulang kali. "Minggir, awas!"

Kejadian itu begitu cepat. Antares gagal membanting stir hingga dia menabraknya. Tubuhnya terpental dan membentur aspal.

Antares segera menghampiri seseorang yang dia tabrak. Jantungnya hampir saja berhenti saat melihat Adara yang sudah memejamkan kedua matanya dengan kepala yang terluka cukup parah.

"Ara!" Seketika Antares memeluk Adara. "Ara, maafkan aku Ara! Ara, aku mohon kamu bertahanlah!"

Antares segera mengangkat tubuh Adara. Untunglah ada mobil yang sudah dihentikan oleh teman-temannya. Dia segera membawa Adara ke rumah sakit. Kedua matanya sudah mengembun melihat luka di kepala Adara. Bahkan darah itu tidak berhenti mengalir.

"Ara, kenapa kamu bisa di sana? Maafkan aku, Ara. Semua ini salahku!" Antares sangat menyesal kenapa dia gagal membanting stirnya. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Adara.

...***...

Setelah mendengar kabar bahwa Adara kecelakaan, Sky dan Shena langsung datang ke rumah sakit. Mereka semua menunggu Adara yang sedang ditangani dokter.

Sky sangat marah pada Antares, karena dia sudah melarang Antares balapan tapi Antares masih saja melakukannya. "Kenapa kamu balapan lagi?!"

"Maaf, Pa ...." Hanya itu yang bisa Antares katakan, karena dia tahu semua ini memang kesalahannya.

"Papa sudah bilang, kamu jangan pernah ikut balapan. Dulu kamu kecelakaan, dan sekarang Ara yang kecelakaan! Bagaimana kalau Ara sampai kenapa-napa?"

"Iya, ini salahku, Pa. Aku juga sangat menyesal."

Sky membuang napas kasar lalu dia duduk dan memeluk istrinya yang menangis. "Kita berdoa saja, semoga Ara tidak kenapa-napa."

Beberapa saat kemudian, ada seorang suster yang keluar dari IGD. "Dengan keluarga pasien atas nama Adara?"

Seketika Sky, Shena, dan Antares mendekat. "Iya, kami keluarganya."

"Luka di kepala pasien cukup parah dan mengeluarkan banyak darah. Kebetulan stok darah O rhesus negatif hanya tinggal satu kantong saja di bank darah rumah sakit ini. Apa keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama, bisa segera didonorkan."

"O rhesus negatif? Golongan darah putri saya B. Golongan darah saya B, dan ibunya A. Bahkan saudara kembarnya sendiri AB. Apa tidak salah?" kata Sky.

"Tidak Bapak. Golongan darah putri Bapak O rhesus negatif. Jika tidak ada yang sama, saya akan menghubungi bank darah di rumah sakit lain. Semoga saja ada."

"Iya Sus, lakukan yang terbaik untuk putri saya."

Setelah suster itu kembali masuk, Sky dan Shena duduk lagi di kursi tunggu.

"Kenapa golongan darah Ara bisa O? Aku tahu persis hasil pemeriksaan sewaktu Ara lahir adalah B. Apa hasil itu salah? Memang selama ini Ara tidak pernah periksa golongan darah lagi?"

Shena menggelengkan kepalanya. "Setahu aku tidak pernah. Ya mungkin saja ada kekeliruan dari pihak rumah sakit."

"Tapi golongan darah kita A dan B. Sedangkan Ares AB. Bagaimana bisa Ara jadi O?" Sky masih terus bertanya-tanya. Hatinya menjadi tidak tenang karena sesuatu yang janggal itu memang pernah terjadi di masa lalu.

"Papa, golongan darah O itu universal. Bisa dibentuk dari kedua orang tua yang memiliki golongan darah A atau B. Papa jangan berpikiran yang aneh-aneh. Sekarang aku hanya memikirkan kondisi Ara, aku tidak ingin memikirkan yang lainnya." Shena melepas pelukannya dan menyandarkan punggungnya di kursi. Saat ini dia hanya memikirkan keselamatan putri kesayangannya.

Sky berdiri dan mendekati pintu yang tertutup rapat itu. Dia masih ingat betul, saat Shena melahirkan, ada Zaki yang datang ke rumah sakit. Saat itu Zaki masih dendam padanya karena dia berhasil menjebloskan Zaki dan teman-temannya ke penjara karena kasus kecelakaan yang menimpa saudaranya.

Aku ingat, saat itu ada bayi perempuan yang berada satu ruangan dengan Ara. Apa jangan-jangan ... tapi itu tidak mungkin.

Sky berjalan mondar-mandir sambil memikirkan perkiraannya. Apa benar putrinya tertukar? Jika benar lalu dimana putrinya yang asli?

...***...

"Ara, cepat sadar sayang." Shena masih saja menangis di samping Adara yang sedang kritis. Dia tidak tahu kapan Adara membuka matanya karena Dokter juga belum bisa memastikan.

"Ini semua salahku. Aku tidak tahu Ara ada di jalan. Kalau terjadi apa-apa sama Ara, aku gak akan memaafkan diriku sendiri," kata Antares. Dia terus menggenggam tangan Adara. Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Andai dia mendengarkan perkataan Papanya untuk tidak beradu balap lagi, mungkin semua ini tidak akan terjadi.

"Ares, kamu pulang saja ya. Kamu tidur di rumah. Jangan salahkan diri kamu terus, ini semua kecelakaan."

Antares menggelengkan kepalanya. "Aku akan menjaga Ara di sini, sampai Ara sadar."

Sedangkan Sky duduk di sofa, kepalanya terasa pusing memikirkan semua yang terjadi.

Aku tidak bisa diam saja. Besok aku harus memastikannya.

Shena menoleh Sky yang terus melamun. Dia berdiri dan duduk di sebelahnya. "Papa kenapa? Masih memikirkan golongan darah yang tidak sama itu?"

Sky hanya terdiam, tak menjawab pertanyaan itu.

"Kesalahan tes bisa saja terjadi. Kenapa Papa berpikir keras kayak gini? Apa Papa beranggapan kalau Ara tertukar di rumah sakit?"

Mendengar hal itu Antares menoleh kedua orang tuanya. Tertukar di rumah sakit?

Sky menekan ujung hidungnya sesaat agar rasa pusing itu menghilang. "Bukan seperti itu. Ara anak kita." Kemudian Sky memeluk istrinya untuk menenangkannya. Dia tahu persis jika Shena sangat menyayangi Adara. "Aku sangat khawatir dengan Ara, sama halnya seperti kamu. Semoga Ara segera melewati masa kritisnya."

Antares kembali menatap wajah pucat Adara. Dia seolah bisa membaca apa yang ada dipikiran papanya. Apa mungkin Adara bukan adik kembarnya?

💗💗💗💗

Hai, udah banyak yang bisa menebak alur ceritanya ya? 😌😪🫠☺️🙄😶‍🌫️

Terpopuler

Comments

Salim S

Salim S

memang ara bukan anaknya Sky dan Shena,sebaiknya lakukan tes DNA diam2 aja Sky kamu akan tahu kalau Adara bukan putri kandungmu,melainkan Wulan karena itu skil berenang Wulan sama persis seperti mu dan Ares...

2024-05-18

2

Lina Herlina

Lina Herlina

lanjut thor

2024-05-18

0

Risma Waty

Risma Waty

Jangan2 Adara & Riki (kakaknya Wulan) adalah anaknya Zaki. Makanya kemampuan renang Adara tidak selevel Ares..malah Wulan yang lebih jago

2024-05-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!