BAB 6

"Putuskan Lukas! Aku gak suka kamu sama dia!"

Adara hanya berdengus kesal, lalu dia masuk ke dalam kelasnya. Untunglah dia berbeda kelas dengan Antares dan juga Alvero. Dia kini duduk di samping Raya, teman baiknya.

"Bete banget lo?" tanya Raya yang melihat Adara beberapa kali menggembungkan pipinya.

"Kak Ares ngeselin. Masa dia nyuruh gue putus sama Lukas."

"Memang kenapa?"

Adara mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu pada Raya. "Wajar gak sih skinship saat pacaran?"

Raya tak bisa menahan tawanya. Tapi belum juga dia menjawab pertanyaan sahabatnya yang polos itu, guru di jam pertama sudah masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran hari itu.

Adara tak menyimak pelajaran hari itu. Dia membuka pesan dari Lukas di ponselnya.

Jangan bilang Ares soal tadi.

Adara tak membalasnya. Dia menutup kembali ponselnya. Selama berpacaran dengan Lukas, dia memang belum pernah berciuman dan melakukan sentuhan fisik secara berlebihan selain berpegangan tangan. Dia pikir begitulah pacaran yang sehat tapi beberapa hari ini, Lukas seolah menginginkan lebih dari itu. Dia menjadi dilema.

Hingga istirahat, Adara masih saja di dalam kelas. Dia menahan Raya agar tidak keluar karena dia ingin curhat dengannya. Selain dirinya dan Raya, ada Wulan yang masih duduk anteng di dalam kelas sambil membaca buku pelajarannya di kursi depan paling ujung.

"Ada apa? Ke kantin yuk, gue laper," ajak Raya.

"Bentar, lo belum jawab pertanyaan gue."

"Oo, yang tadi." Raya tertawa cukup keras yang membuat Adara membekap bibir Raya agar berhenti tertawa.

"Ssttt, jangan keras-keras."

Akhirnya Wulan berdiri dan keluar dari kelasnya. Mungkin dia merasa jika Adara dan Raya terganggu karena keberadaannya.

"Skinship yang kayak gimana yang lo maksud?" tanya Raya setelah memastikan Wulan keluar dari kelas.

"Yang lebih dari pegangan tangan. Wajar gak sih gaya pacaran kayak gitu?"

"Memang selama lo pacaran sama Lukas gak pernah lebih dari pegangan tangan?"

Adara menggelengkan kepalanya karena selama ini kakaknya terus mengawasinya. "Gue diawasi terus sama Kak Ares."

"Yah, wajar sih, kan lo adik kembarnya pasti Ares gak mau lo dirusak sama Lukas. Tapi yang gue heranin, masa selama lima bulan pacaran lo sama sekali gak pernah ciuman?"

Adara menggelengkan kepalanya. "Nggak. Ih, gue terlalu polos ya."

Raya hanya tertawa. "Gak papa sih bagus. Gue juga gak mau pengaruhi lo."

"Tapi semalam Lukas minta pap. Dia juga ingin kita jalan ke tempat yang hanya ada gue dan dia. Gue jadi takut. Emang apa enaknya sih adegan 18 plus itu?"

Raya hanya tertawa kemudian dia mengambil ponselnya dan mengirim sebuah link pada Adara. "Nanti lo lihat di rumah. Hayati dan resapi biar lo ngerti apa enaknya."

Adara mengernyitkan dahinya melihat beberapa link film 18 plus itu. Selama ini dia hanya melihat drakor dan dracin saja yang tidak sevulgar film yang baru saja dibagikan linknya oleh Raya untuknya. "Ya udah, nanti aja gue coba lihat. Ke kantin yuk!"

Kemudian mereka berdua keluar dari kelas dan berjalan menuju kantin.

...***...

Wulan menghentikan langkah kakinya saat Alvero berhenti di depannya. Alvero tidak akan berhenti mengejar Wulan sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.

"Mau ke kantin?" tanya Alvero.

"Nggak, gue baru dari toilet."

"Ayo ke kantin, temani gue."

Wulan menggelengkan kepalanya. Buru-buru dia pergi dari Alvero yang membuat Alvero sedikit kecewa. Dia kira sangat mudah mendekati Wulan tapi rasa insecure Wulan membuat semuanya terasa sulit.

Alvero berjalan menuju kantin dan menemui Antares. Dia duduk sambil mengambil minuman dingin Antares. "Agar silaturahmi kita gak terputus, gue pinjam lo dong limaratus."

"Buat apa? Njir, anaknya Coach Vicky pinjam uang."

"Buat modal taruhan. Gue mau bantu Wulan. Ya, hitung-hitung keluar modal dikit biar dapat helm 20 juta."

"Mana ada ceritanya kayak gitu, keluar modal buat taruhan. Bilang aja kalau lo udah respect sama Wulan."

"Nggaklah. Gue gak pakai perasaan. Gue akan dapatkan Wulan minggu depan. Pasti!" Alvero begitu yakin, jika akan mendapatkan Wulan secepat itu.

"Kalau lo jatuh cinta sama Wulan beneran, helm gue kembali."

"Oke, deal!" Alvero menjabat tangan Antares pertanda dia setuju dengan kesepakatan itu.

"Taruhan apa?" tanya Adara. Dia duduk di sebelah kakaknya sambil membawa semangkok bakso. "Lo dekati Wulan karena taruhan sama Kak Ares?" tanya Adara secara langsung karena dia sudah hafal karakteristik kedua pria itu yang sudah sering taruhan.

"Sssttt, lo jangan bilang siapapun masalah ini," kata Alvero.

"Oke, asal gue dapat jatah kalau lo menang."

"Ares, adek lo!"

Antares hanya tertawa dan mengambil alih sendok yang ada di tangan Adara. Dia melahap dua bakso kesukaan Adara.

"Ih, Kak Ares beli sendiri!"

Antares hanya tertawa dan mengacak rambut Adara. Dia sangat senang melihat wajah kesal Adara dengan pipi menggembungnya itu. "Mirip banget sama ikan buntal. Makanya jangan kebanyakan makan bakso."

"Ih!"

"Yah, Ara gabung sama kakaknya." Raya menghentikan langkah kakinya saat melihat Adara duduk bersama Antares dan Alvero. Dia lebih memilih kembali ke kelas karena dia merasa tidak nyaman jika ada kedua saudara Adara di dekatnya.

"Raya, ikut gue sebentar!"

Raya dikejutkan dengan sebuah tarikan tangan yang membawanya ke belakang kelas.

"Lukas, ada apa?"

"Gue mau kita melakukannya. Nanti gue bayar!"

Terpopuler

Comments

nuraeinieni

nuraeinieni

lucas bukan laki2 baik ara.

2024-05-19

0

Yasmin Natasya

Yasmin Natasya

jangan sampe Andara dirusak Lukas ya tor...

2024-05-13

0

jaran goyang

jaran goyang

𝑙𝑘𝑖 𝑏𝑗𝑎𝑡.... 𝑚𝑜𝑔𝑎 𝑎𝑟𝑎 𝑙𝑖𝑎𝑡 𝑥𝑎𝑛 𝑏2... 𝑏𝑖𝑘𝑖𝑛 𝑔𝑡 𝑘𝑘... 𝑏𝑖𝑎𝑟 𝑔𝑒𝑟𝑐𝑒𝑝... 𝑏𝑖𝑎𝑟 𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑎𝑢

2024-05-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!