BAB 18

"Wulan, ada titipan dari Ayah." Alvero memberikan sebuah surat saat menjemput Wulan di pagi hari itu.

Wulan membuka surat itu dan membacanya. "Aku berhak menempati rumah atlet?"

Alvero menganggukkan kepalanya. "Iya, nanti akan ada orang yang bantu kamu pindahan."

Kedua mata Wulan berkaca-kaca. Dia berlari masuk ke dalam rumah dan memanggil ibunya. "Ibu! Kita akan pindah ke rumah yang lebih layak." Wulan menunjukkan surat itu pada ibunya. Senyuman masih terus merekah di bibir Wulan.

Wati hanya membaca surat itu. Ya, tentu saja semua itu karena Sky yang tidak ingin putrinya dalam kondisi kekurangan. "Kamu mau menerima, Nak?"

Wulan menganggukkan kepalanya. "Ini kesempatan kita untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak bahkan ibu juga bisa bekerja di sana."

Wati tersenyum dan mengusap rambut Wulan. "Iya, ibu juga menerima tawaran itu. Semoga saja di tempat baru, Riki tidak berbuat ulah. Kalau dia berbuat ulah lagi, biarkan dia tinggal di sini sendirian."

"Aku berangkat dulu, sudah ditunggu Vero." Wulan keluar dari rumah itu dengan senyum yang masih merekah. Dia memakai helmnya lalu naik ke boncengan Alvero.

Kemudian Alvero segera melajukan motornya menuju sekolah.

"Vero, aku senang sekali. Satu per satu keinginanku benar-benar terwujud," kata Wulan.

"Iya, semua keinginan kamu pasti akan terwujud. Aku senang sekali melihat senyum ceria kamu seperti ini."

Wulan semakin tersenyum dan memeluk Alvero dari belakang. "Sejak kamu mendekatiku keberuntungan selalu mengikutiku. Mungkin kamu memang ditakdirkan untuk memberi keberuntungan buatku."

"Bukan karena aku, memang sudah saatnya kamu mendapatkan semuanya. Selama ini kamu sabar menghadapi hidup kamu jadi sekarang kamu akan menuai hasilnya," kata Alvero. Baru kali ini dia merasa spesial di hati seorang wanita. Dia harus segera membatalkan taruhan itu pada Antares karena dia benar-benar tidak ingin kehilangan Wulan.

Wulan tak menimpali perkataan Alvero, yang jelas semua perkataan itu membuat bunga di hatinya semakin bermekaran.

...***...

"Ares, lo nanti latihan?" tanya Alvero sepulang sekolah hari itu.

"Iya, gue nanti latihan. Besok Ara juga sudah boleh pulang. Kondisinya sudah jauh lebih baik," jawab Antares. Dia kini berjalan menuju tempat parkir bersama Alvero. "Lo udah menang taruhan, besok helmnya gue kasih kalau lo udah mutusin Wulan."

Alvero menghentikan langkah kakinya. Dia menarik tangan Alvero ke samping kelas. Dia lupa akan satu hal penting untuk membatalkan taruhan itu karena seharian sangat banyak tugas dari guru.

"Gue mau batalkan taruhan itu," kata Alvero.

Seketika Antares menatap Alvero. Dia tidak menyangka dengan keputusan Alvero yang tiba-tiba itu. "Kenapa? Bukankah lo sangat antusias dengan taruhan itu."

"Ya, gue udah gak mau melanjutkan taruhan ini."

"Karena apa? Lo jatuh cinta beneran sama Wulan? Sejak awal lo dekati Wulan karena taruhan! Lo ingat itu!"

"Iya, gue tahu, tapi gue ...." Alvero menoleh dan menatap Wulan yang sedang berdiri di dekat tembok. Ternyata Wulan mendengar semua pembicaraan mereka.

"Wulan!" Alvero mengejar Wulan yang berlari keluar gerbang. "Wulan tunggu!" Alvero terus mengejar lari Wulan yang sangat cepat itu. Dia kehilangan Wulan setelah Wulan menyeberang jalanan yang sangat ramai.

Alvero juga menyeberang jalanan itu tapi dia telah kehilangan jejak Wulan. "Sial! Wulan cepat banget hilangnya. Gue harus jelaskan semua sama Wulan." Kemudian Alvero mencari Wulan ke arah lain.

Wulan yang sedang bersembunyi di dekat tong sampah, kini menangis terisak. "Ternyata semua ini semu. Iya, Vero gak mungkin benar-benar suka sama aku." Kemudian Wulan berdiri. Saat dia akan melangkahkan kakinya tiba-tiba ada motor yang hampir menabraknya.

"AAAAA ...." Wulan berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Sorry, gue gak lihat. Lo tiba-tiba muncul begitu saja. Lo gak papa kan?"

Bukannya menjawab tapi Wulan semakin terisak.

"Hei, jangan nangis. Apa yang sakit? Kita ke rumah sakit saja. Nanti dikira gue ngapa-ngapain lo."

Wulan membuka wajahnya dan menatap pria di depannya yang masih mengendarai motornya. Pria itu memakai jaket levis dan seragam putih dengan kancing yang terbuka. Motor sport dan helm full face itu menandakan jika dia salah satu anak motor.

"Wulan!"

Panggilan Alvero membuat Wulan bingung. Terpaksa dia naik ke boncengan pria itu. "Bawa gue pergi dari sini. Cepat!"

Pria itu kembali menutup kaca helmnya setelah melihat Alvero yang berlari ke arahnya.

"Wulan!" Alvero masih saja memanggil Wulan. "Shits! Kenapa Dipta bisa bonceng Wulan!"

Setelah laju motor Dipta jauh, Wulan menarik jaket Dipta agar segera menghentikan motornya. "Gue turun di sini saja."

Tapi Dipta tak juga menghentikan motornya. Dia terus melajukan motornya.

"Berhenti di sini aja. Please!" Wulan mulai ketakutan karena Dipta tak juga menghentikan motornya. Sepertinya dia bukan cowok baik-baik.

Akhirnya Wulan memukul punggung Dipta dengan tasnya. "Cepat berhenti!"

"Aduh! Iya, ini berhenti." Dipta menepikan motornya dan membuka kaca helmnya. "Padahal kan gue mau ajak lo ke kafe. Kita bisa ngobrol sambil makan."

Wulan turun dari motor Dipta tanpa menyahuti perkataan Dipta.

"Kenapa lari dari Vero? Lo ceweknya Vero dan lagi berantem sama dia?"

Wulan menatap pria itu. "Lo kenal sama Vero?"

Dipta tersenyum kecil lalu dia mengulurkan satu tangannya pada Wulan. "Gue Dipta. Murid SMA 5, di sebelah SMA lo."

Wulan tak membalas uluran tangan itu. "Makasih." Kemudian dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Dipta.

"Wulan." Dipta sempat membaca nama di dekat saku Wulan. "Jadi dia ceweknya Vero," gumam Dipta. Dia menutup kaca helmnya lalu dia melajukan motornya kembali.

Wulan menghapus sisa air mata di pipinya. "Gue gak boleh nangisin Vero kayak gini. Ya udahlah, memang gue siapa bisa pacaran sama Vero."

Beberapa saat kemudian ada sebuah mobil yang berhenti di dekat Wulan. Wulan menatap pengemudi mobil yang keluar dari mobil dan menghampirinya.

"Wulan kebetulan sekali kita bertemu di sini."

"Pak Sky ...."

Terpopuler

Comments

Risma Waty

Risma Waty

Tuh kan... Wulan jadinya tau deh ttg taruhan itu. Semoga Vero bisa jelasin ke Wulan. Area juga aneh, bukannya senang kalau Vero batalin taruhannya padahal sudah jelas2 Wulan itu adek kandungnya.

2024-05-23

0

Salim S

Salim S

jangan jadikan Ares musuh Wulan buat Ares sayang sama wulan bagaimana pun wulan adik kandungnya,lagian ga ada sejarahnya d keluarga Shena dan Sky kakak adek ga salung sayang dulu Arnav sangat sayang sama Shena begitupun Sky sayang banget ama almarhum Gala...

2024-05-23

4

jaran goyang

jaran goyang

𝒂𝒓𝒆𝒔....𝒂𝒒 𝒈𝒌 𝒏𝒚𝒈𝒌𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒖 𝒕𝒆𝒈𝒂 𝒎𝒂 𝒂𝒅𝒌 𝒌𝒏𝒅𝒈 𝒍𝒉𝒐...

2024-05-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!