"Apa? Ara kecelakaan?" Alvero terkejut mendengar kabar Adara kecelakaan lewat ponselnya. Dia masih berhenti di depan rumah Wulan setelah pulang dari tempat latihan. Bahkan Wulan masih menunggunya di dekat pintu. "Gimana keadaannya sekarang?"
Alvero mendengarnya dengan serius penjelasan Antares di seberang sana. "Kasihan sekali. Semoga lekas sembuh. Lo jangan nyalahin diri lo sendiri, ini semua murni kecelakaan. Ara pasti cepat sadar. Iya, besok gue izinin kalau lo gak masuk." Kemudian Alvero menutup panggilannya pada Antares.
"Ara kenapa?" tanya Wulan.
"Dia kecelakaan. Tadi Ara ke tempat balapan dan gak sengaja masuk ke lintasan. Saat Ares akan sampai di garis finish, dia tertabrak motor Ares."
"Terus gimana kondisinya?"
"Katanya lumayan parah. Gak bisa bayangin gimana perasaan Ares karena dia sangat sayang sama adiknya. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri." Alvero masih duduk anteng di atas motornya. Sebenarnya dia ingin bilang pada Antares jika dia sudah memenangkan taruhan itu tapi sepertinya harus tertunda sampai Adara sembuh. Dia tidak ingin mengganggu Antares.
Beberapa saat kemudian, Riki datang dan lagi-lagi dia mabuk berat. Dia menghampiri Alvero dan meminta uang padanya. "Lo habis jalan sama Wulan kan? Bagi gue uang."
Wulan menarik Riki agar menjauh dari Alvero. "Kak Riki jangan pernah minta apapun sama Vero."
"Lo sengaja cari pacar anak orang kaya agar bisa lo poroti kan? Bagilah sama kakak lo sendiri."
"Nggak! Aku gak pernah mau memanfaatkan Vero. Kamu pergi saja!"
"Dasar adik gak ada gunanya!" Riki mendorong Wulan hingga membuat kepala Wulan terbentur stang motor Alvero.
Seketika Alvero turun dari motornya dan menyergap krah Riki. "Gue biarin lo, lo makin kurang ajar! Wulan itu adik lo! Lo yang harusnya jaga dia!" Alvero mendorong Riki hingga terjatuh ke tanah. Dia melempar uang lima puluh ribu agar dia pergi dari tempat itu. "Jangan pernah ganggu Wulan lagi!"
"Vero, jangan dikasih. Nanti dia minta terus," kata Wulan.
Riki pergi sambil membawa uang itu.
"Vero, lebih baik kamu jangan pernah ke sini lagi daripada kamu bertemu Kak Riki lagi." Wulan duduk dengan kedua mata yang mengembun. Dia sangat malu mempunyai kakak seperti Riki yang setiap harinya selalu mabuk-mabukan dan terus meminta uang.
"Gak papa." Alvero mengambil plester di dalam tasnya lalu memasangnya di dahi Wulan yang terluka. "Dahi kamu luka. Sakit tidak?"
Wulan menatap Alvero yang memasang plester di dahinya. Dia menggeleng pelan. Dadanya berdebar tak karuan mendapat perhatian dari Alvero.
"Andai aja aku punya kakak yang baik seperti Ares ke Ara pasti sangat bahagia. Meskipun hidup susah begini pasti gak akan terasa."
"Semoga aja kakak kamu dapat hidayah dan berubah. Kamu yang sabar saja." Alvero kini duduk di sebelah Wulan. Lama kelamaan dia memang merasa nyaman berada di dekat Wulan. "Besok aku jemput ya? Kamu gak usah bawa motor."
"Kamu jemput?"
Alvero menganggukkan kepalanya. "Aku belum pernah bonceng pacarku ini."
Pipi Wulan bersemu merah mendengar Alvero menyebutnya pacar. Dia tersenyum kecil karena menjadi pacar Alvero memanglah impiannya. Dia tidak pernah menyangka takdir membawanya bersama Alvero meskipun baru beberapa jam menjadi pacarnya.
"Udah malam, aku pulang dulu ya. Besok kamu tunggu aku. Aku jemput, oke?" Alvero berdiri lalu mengusap puncak kepala Wulan. "Ibu kamu sudah tidur ya?"
"Iya, Ibu sudah tidur dari tadi karena tiap hari jam tiga sudah bangun."
"Ya sudah, salam buat ibu kamu. Aku pulang dulu." Alvero menaiki motornya dan beberapa saat kemudian motor Alvero melaju.
"Hati-hati." Wulan melambaikan tangannya. Setelah motor Alvero tak terlihat, barulah Wulan masuk ke dalam rumahnya.
...***...
Hingga pagi hari, Adara belum juga sadar. Antares dan mamanya masih setia menunggu Adara di rumah sakit. Sedangkan Sky, dia mencari informasi yang terus mengganjal pikirannya. Dia menuju ke bagian informasi untuk mencari tahu data kelahiran bayi yang sama dengan kelahiran si kembar di rumah sakit itu karena kebetulan Shena memang melahirkan di rumah sakit itu.
"Saya ingin mencari data keluarga bayi yang lahir 18 tahun lalu pada tanggal 2 Mei."
"Ada apa Bapak mencari informasi itu? Karena informasi itu sangat rahasia."
Sky terdiam beberapa saat. Sebenarnya dia juga ragu mencari informasi tentang Adara. Bagaimana jika Adara memang bukan putri kandungnya? Siapkah dia kehilangan Adara? Tapi jika dia tidak segera mencari informasi itu, dia tidak tahu bagaimana kondisi putri kandungnya di luar sana.
"Karena saya curiga putri saya tertukar di rumah sakit ini. Saya masih ingat jika golongan darah putri saya adalah B saat lahir, tapi ternyata golongan darah putri saya sekarang O. Saya hanya ingin melihatnya untuk memastikan."
"Baik, saya akan mencarinya. Tapi jika Bapak memang ragu, lebih baik lakukan tes DNA saja agar tahu kepastiannya." Petugas di ruang informasi itu segera mencari data di dalam komputernya.
"Iya, saya memang akan melakukan tes DNA." Sky sudah membawa sample rambut Adara. Dia terus mengingat masa pertumbuhan Adara sejak bayi hingga sekarang. Adara lah yang pertama kali memanggil dirinya Papa.
Sky mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa gusar di hatinya. Dia sangat menyayangi Adara, sebenarnya dia juga belum siap untuk mengetahui yang sebenarnya.
"Nama Anda, Sky Alexandre dan nama istri Anda adalah Shena?"
Sky menganggukkan kepalanya. "Anak saya kembar. Tolong lihat data putri saya."
Petugas informasi itu memutar layar komputernya. "Ini semua datanya. Golongan darah putri Bapak memang B dan ditanggal itu juga ada satu kelahiran bayi perempuan dari Ibu Wati dan Bapak Rosyid. Kebetulan sekali golongan darah putri mereka adalah O."
Sky terus menatap semua informasi itu. Sepertinya apa yang ditakutkannya memang benar. "Saya boleh meminta alamat rumah ini?"
"Boleh, asal Bapak tidak menyalahgunakannya untuk hal lain."
"Iya, saya akan datang ke alamat itu jika semua sudah terbukti." Sky segera mengambil foto alamat itu. Setelah semua informasi dia dapat, Sky menuju lab untuk menyerahkan sample DNA.
"Mengapa Papa ada di sini?" tanya Antares.
Sky terkejut karena sepertinya Antares mengikutinya. "Papa baru saja menemui Dokter untuk mengetahui kejelasan kondisi Ara."
"Bohong! Papa ingin memastikan kalau Ara tertukar di rumah sakit kan? Pa, Ara sudah 18 tahun bersama kita. Bagaimanapun kondisinya, dia akan tetap menjadi anak Mama dan Papa. Dia juga akan tetap menjadi adikku."
"Ares, tapi Papa juga ingin tahu bagaimana keadaan saudara kandung kamu. Bagaimana kalau dia hidup kekurangan di luar sana. Iya, Papa mengerti maksud kamu. Papa juga akan tetap menganggap Ara anak Papa. Tolong kamu mengerti kondisi ini dan kamu jangan bilang dulu sama Mama."
Antares tak menjawab perkataan Papanya. Dia berjalan jenjang kembali ke ruangan Adara. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Adara jika dia tahu dia bukanlah adik kembarnya.
Andai aku gak balapan sama Lukas, semua ini pasti tidak akan terjadi. Maafkan aku, Ara ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Melia Gusnetty
udh cukup ara itu hidup enak d klrg kamu sedang kn saudari kandung kamu hidup menderita d luaran sn...saat nya wulan bahagia
2024-12-14
0
Risma Waty
Gimana reaksi Ares saat terungkap Wulan adalah kembarannya krn jadikan Wulan sbg taruhan?
Ntar Sky bisa ajak 'mama'nya Wulan tinggal bareng spy Wulan bisa hidup layak. Ara juga tetap tinggal bersama mereka... jadi Ara & Wulan tidak kehilangan kasih sayang orang tua asli & palsu
2024-05-19
0
Salim S
tetep bisa jadi adik karena mereka satu suson atau menyusu pada satu ibu,Ares dan Ara ga bisa menikah kalau mereka menyusu pada satu ibu.jangan sampai nanti Ates malah benci sama Wulan kalau sudah terungkap siapa adik kandung yang sebenarnya.
2024-05-19
0