"Ra, gue minta maaf," kata Raya saat berada di kelas.
Adara berpindah tempat duduk jauh dari Raya. Dia tidak ingin lagi berbicara pada Raya apalagi memaafkannya. Hatinya yang terluka tidak akan mudah terobati begitu saja.
Satu per satu masalah datang menghampirinya. Dia kehilangan kesempatan untuk mengikuti event internasional, dia kehilangan pacar, dia juga kehilangan sahabatnya. Setelah ini apalagi yang akan menghilang dari hidupnya.
"Kenapa lo duduk di sini?" tanya Wulan karena Adara menempati tempat duduknya.
"Lo pindah di samping Raya!" suruh Adara.
"Hmm, Ra, sorry soal kemarin. Gue ...."
"Gak usah bahas itu lagi!"
Wulan mengambil tasnya lalu duduk di sebelah Raya tanpa berkata apapun.
Air mata itu kembali menetes. Buru-buru Adara menghapusnya. Udah! Gue gak mau menangisi Lukas dan Raya lagi. Kalau gue nangis terus, mereka akan semakin senang.
...***...
"Kenapa Ara gak ikut latihan?" tanya Alvero setelah selesai berganti baju.
"Dia gak akan ikut renang lagi. Udah ngambek. Gue mau ke ke basecamp. Gue udah nantangin Lukas. Gue akan hajar dia di sirkuit balap. Enak aja dia mempermainkan Ara." Antares memakai jaketnya dan bersiap pergi.
"Nanti gue nyusul kalau urusan gue sama Wulan udah selesai."
"Vero, lo bener-bener ngincer helm gue sampai kayak gini. Gue kira lo udah nyerah."
"Nggaklah. Gue belum nyerah."
"Ya udahlah. Gue doain lo jatuh cinta beneran biar helm gue balik."
"Gak akan! Nanti gue susul. Gue gak mau anak buah gue diapa-apain anak geng motor lain."
"Sial lo! Gue gak pengecut!" Kemudian Antares berjalan keluar dari tempat latihan.
Sedangkan Alvero mencari keberadaan Wulan. Dia melihat Wulan yang sedang memungut sampah. Tentu saja, dia akan mendekat dan terus merayu Wulan.
"Sini aku bantu." Alvero mengambil alih sampah yang dibawa Wulan.
"Vero, kamu gak usah bantu aku tiap hari. Kamu pasti capek." Wulan menahan tempat sampah yang akan dibawa Alvero tapi Alvero tetap membawanya.
"Kamu juga capek habis latihan."
"Tapi ini memang pekerjaanku."
Alvero hanya tersenyum dan membuang sampah itu di dekat gerbang. Kemudian mereka cuci tangan lalu duduk di taman kecil yang berada di dekat tempat parkir.
"Wulan, bagaimana jawaban kamu?" Satu tangan Alvero meraih tangan Wulan dan menggenggamnya.
"Sebenarnya aku masih gak percaya kamu mempunyai perasaan sama aku. Kita sangat berbeda. Kamu anak orang kaya dan pelatih di sini. Sedangkan aku gak punya apa-apa. Kamu gak malu pacaran sama aku?"
Alvero menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus malu? Bagiku kamu hebat. Aku yakin suatu saat nanti kamu bisa sukses melebihiku. Atau kamu memang tidak memiliki perasaan apapun sama aku? Tidak apa-apa, aku bisa menerima semua jawaban kamu."
Wulan terdiam beberapa saat. Dia memandang langit gelap yang bertabur bintang itu. Beberapa hari ini satu per satu keinginannya terwujud dan malam itu, satu keinginannya juga akan terwujud karena dia sudah lama memendam perasaan pada Alvero.
"Aku ... aku sudah lama suka sama kamu, tapi aku sadar diri siapalah aku. Aku juga tidak menyangka tiba-tiba kamu mendekatiku. Ini semua seperti mimpi."
Alvero menatap wajah Wulan yang bersemu merah itu. Rasanya dia tidak tega memanfaatkannya seperti ini. Tapi tinggal selangkah lagi dia berhasil mendapatkan Wulan.
"Iya, aku mau jadi pacar kamu," jawab Wulan.
Mendengar jawaban itu membuat dada Alvero berdebar tak menentu. Beberapa hari dekat dengan Wulan, dia merasa nyaman. Wulan juga bukan gadis manja dan matre seperti dua mantannya dulu.
"Yes, akhirnya kamu menerimaku." Senyum mengembang di bibir Alvero. Senyuman kemenangan tanpa Wulan tahu yang sebenarnya.
...***...
"Apa? Kak Vero mau balapan dengan Lukas?" Adara beranjak dari ranjangnya saat dia dihubungi oleh Fadil, salah satu teman dekatnya di kelas. "Di dekat basecamp Kak Vero kan? Oke, gue ke sana sekarang."
Adara berdiri dan memakai jaketnya. Dia tidak akan membiarkan Alvero beradu balap lagi karena dua tahun yang lalu Alvero mengalami kecelakaan yang cukup parah. Dia juga tidak ingin Alvero dimarahi oleh Papanya.
Setelah memakai jaketnya, dia mengendap keluar dari rumah. Dia memesan ojek online di depan gerbang rumahnya dan beberapa saat kemudian ojek online itu tiba. Setelah naik ke atas motor, ojek online itu segera melaju menuju titik lokasi yang dituju Adara.
Sepanjang perjalanan Adara mengingat kejadian dua tahun yang lalu saat Alvero mengalami kecelakaan yang membuat ketua geng motor Storm Rider jatuh ke tangan Alvero karena Antares tidak boleh berkumpul dengan geng motornya dalam waktu yang cukup lama.
Setelah sampai di basecamp, dia melihat teman-teman Alvero sudah berkumpul di dekat jalanan itu. "Kak Ares dimana?"
"Dia udah mulai balapan."
"Kak Ares." Adara berlari mendekat tapi Antares dan Lukas sudah melaju dengan kencang dan saling menyalip. "Semoga Kak Ares gak kenapa-napa."
"Ara ...."
Panggilan itu membuat Adara kesal. Dia menatap Raya yang ada di dekatnya.
"Ara, gue minta maaf. Gue terpaksa ngelakuin itu karena gue butuh uang," kata Raya.
"Tapi gak harus sama Lukas juga!"
"Karena dia yang minta."
"Kenapa lo gak bilang sama gue. Kalau gue tahu dari lo, gue bisa putuskan Lukas sejak awal. Gue gak akan sesakit hati ini sama lo!"
Raya menahan lengan Adara yang akan pergi. "Ra, ini semua memang salah gue. Tapi gue gak mau persahabatan kita putus. Please, maafin gue."
Adara menarik kasar tangannya. Dia berlari menghindari Raya. Kemudian dia menyeberang jalan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Tanpa dia tahu ada motor yang melaju kencang ke arahnya.
TIINNN!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Salim S
jangan sampai adara kecelakaan dan memwbuat naya amnesia atau butuh sesuatu yang akan memebuka rahasia siapa dia sebenarnya....Ares pasti menang jangan ragukan kehebatannya,jadi inget dulu saat Arnav dan ayah Arsen sparing saat membuka kasus kematian Gala kembarannya Sky....
2024-05-17
0
jaran goyang
𝑢𝑑 𝑏𝑠 𝑛𝑒𝑏𝑎𝑘 𝑗𝑙𝑛 𝑐𝑟𝑡 𝑛𝑦
2024-05-17
0
Azizah az
ntar ara kecelakaan trus butuh donor darah tp sekeluarga nggk ada yg cocok, cuma nebak y kk 🤭🤭🙏
2024-05-17
1