BAB 2

"Kita terpilih, Res!" Alvero dan Antares saling tos karena mereka terpilih sebagai kandidat peserta event Internasional itu. Meskipun dengan terpilihnya anggota utama yang akan memicu gosip tidak enak karena adanya hubungan dengan orang dalam.

Antares melipat tangannya dan menatap adik kembarnya yang juga terpilih. Dia tahu persis skill adik kembarnya itu seperti apa. "Kenapa Ara terpilih? Bokap lo gak keliru kan? Harusnya kan si Wulan."

Alvero mengangkat kedua bahunya. "Gue gak peduli."

"Peka dikit sama cewek. Wulan itu naksir lo!"

"Yang bener lo. Cewek misterius kayak dia naksir gue?" Alvero kini melihat Wulan yang duduk di tangga penonton. Selama dua tahun lebih dia satu sekolah dengan Wulan dan juga berada di klub renang yang sama, dia sama sekali tidak pernah berbicara dengan Wulan.

"Iya, lo mau taruhan sama gue gak? Kalau lo bisa jadian sama Wulan, gua akan kasih helm full face AGV gue buat lo."

"Yang harganya 20 juta itu?" Alvero menyugar rambutnya dan tersenyum. "Oke, siapa yang menolak cowok kayak gue. Gue pasti dapatkan dia dengan cepat." Kemudian Alvero mengambil tisu lalu berjalan mendekati Wulan.

Dia mengulurkan tangan dan memberikan tisu itu untuk Wulan. "Jangan menangis." Tak lupa senyuman manis andalannya yang dia buat untuk memikat banyak wanita.

Wulan mendongak dan menatapnya. Dia tak juga menerima tisu itu.

Alvero duduk di sebelahnya dan menyusut air mata di pipi Wulan yang membuat Wulan mengambil alih tisu itu dari tangannya.

Wulan menghapus air matanya sendiri. Dia benar-benar salah tingkah karena tiba-tiba Vero duduk di dekatnya.

"Jangan bersedih, masih banyak kesempatan yang bisa lo raih."

Wulan hanya menganggukkan kepalanya. Ini pertama kalinya Alvero mengajaknya berbicara. Pipinya terasa memerah dan jantungnya berdegup cepat tak terkontrol. Keringat dingin juga sudah membasahi tangannya.

"Gue akui lo hebat," kata Alvero. "Pasti event selanjutnya lo yang akan terpilih."

Wulan hanya mengangguk. Dia tidak tahu harus bicara apa. Apalagi saat melihat teman-teman lainnya melihatnya sambil berbisik-bisik. Jiwa insecure-nya semakin meronta. Dia tidak pantas bersanding dengan Alvero.

"Sorry, gue duluan." Wulan berdiri dan menuruni anak tangga itu dengan cepat.

"Rumah lo dimana?" Pertanyaan Alvero sudah tidak Wulan jawab. "Ternyata mendekati Wulan gak semudah yang gue kira. Demi helm full face seharga 20 juta harus usaha," gumam Alvero.

Wulan masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaiannya. Tangannya masih terasa dingin setelah berada di samping Alvero meskipun hanya sesaat.

Setelah selesai mengganti bajunya, dia memakai tasnya dan keluar dari ruang ganti itu. Lebih baik dia pulang terlebih dahulu daripada hanya menyaksikan para kandidat yang sedang bersenang-senang.

Dia menaiki motornya dan melaju ke rumah semi permanennya yang berada di kawasan tempat pembuangan sampah.

Beberapa saat kemudian, dia menghentikan motornya di depan rumahnya. Meskipun rumahnya berjarak sepuluh meter dari pusat pembuangan sampah tapi gunungan sampah itu terlihat jelas dari rumahnya.

Kemudian dia menatap rumah dari setengah papan itu yang telah usang. Satu kalipun temannya tidak ada yang dia ajak ke rumah karena dia merasa malu dengan kondisi rumahnya.

"Ibu tidak punya uang! Kamu cari pekerjaan sana!"

Mendengar teriakan ibunya, Wulan masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi kakak laki-lakinya datang di saat mabuk dan meminta uang. "Kak Riki, ibu tidak punya uang! Kak Riki pergi saja, jangan pernah kembali ke rumah!"

"Heh! Bocah! Berikan uang kamu atau aku akan tunggu kamu di depan sekolah!"

"Riki, jangan ganggu adik kamu! Biarkan dia sekolah dengan tenang."

"Ibu selalu pilih kasih sama aku dan Wulan. Wulan disekolahkan di tempat bagus sedangkan aku harus putus sekolah!"

"Itu karena kamu tidak mau berusaha! Wulan sekolah di tempat itu karena beasiswa!"

"Ibu memang selalu membela Wulan!"

Kepala Wulan semakin pusing mendengar pertengkaran itu. Akhirnya dia mengambil uang lima puluh ribu dan dia berikan pada kakaknya. "Aku cuma punya uang lima puluh ribu. Kak Riki pergi saja dan jangan kembali lagi."

Riki mengambil uang itu lalu keluar dari rumah.

"Wulan, tapi uang buat bensin kamu gimana?"

"Ibu tenang aja. Nanti malam aku akan bantu ibu cari barang bekas. Siapa tahu dari toko-toko dapat kardus banyak."

Kemudian Wulan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu. Air mata yang berusaha dia tahan kini terjatuh lagi. "Sampai kapan hidupku seperti ini?"

...***...

"Papa, kenapa Ara bisa terpilih sebagai kandidat di event internasional itu? Papa yang menyuruh Om Vicky?" tanya Antares pada papanya setelah sampai di rumah. Dia kini duduk di sebelah papanya yang sedang menatap layar laptopnya.

Sky mengalihkan pandangannya dari laptop dan menatap putranya yang semakin besar semakin mirip dengannya saat muda. "Tidak. Papa tidak pernah menyuruh Vicky memilih kamu ataupun Ara. Papa ingin kalian maju dengan skill kalian sendiri bukan karena orang dalam."

"Tapi kenapa bisa Ara terpilih?"

"Jadi Kak Ares gak percaya dengan kemampuanku? Ih, Kak Ares selalu aja ngeremehin aku." Adara masuk ke dalam kamarnya. Dia memang seringkali bertengkar dengan Antares meskipun tetap saling menyayangi.

"Bukan gitu, Ra." Antares menarik napas panjang. Selalu saja adik kembarnya itu pemarah dan keras kepala. "Aku cuma ingin isu orang dalam itu gak ada di klub. Masalahnya aku, Ara, dan Vero terpilih."

"Ya mungkin saja memang skill kalian bagus semua."

"Tapi masih ada yang jauh lebih hebat daripada Ara. Kapan-kapan Papa ke klub saat latihan dan lihat sendiri skill yang dia miliki. Namanya Wulan, dia salah satu penerima beasiswa dari klub kita dan dia justru tidak terpilih masuk menjadi kandidat."

"Oke, nanti Papa akan ke sana untuk melihatnya sendiri. Papa juga tidak mau Vicky memilih Ara hanya karena Ara anak Papa."

"Sip! Papa best. Biar Ara ikut kontes kecantikan aja, lebih cocok." Kemudian Antares berdiri dan berjalan menuju kamar adiknya. Dia membuka pintu yang tidak terkunci itu dan melihat Adara yang sedang tengkurap sambil memeluk bonekanya.

"Ra, kita udah 18 tahun. Harus bisa berpikir dewasa."

Adara tak menyahuti perkataan kakaknya itu.

"Ra, kalau kamu memang mau ikut di event itu, kamu harus buktikan kalau kamu bisa." Kemudian Antares duduk di samping Adara. "Jangan dikit-dikit kedinginan saat latihan, cepat capek, terus ini, terus itu."

"Memang iya, dingin, capek."

"Ya udah, kalau gitu serahkan saja pada Wulan kalau kamu memang gak sanggup."

Adara memutar tubuhnya dan menatap Antares. "Ih, adik Kak Ares itu aku atau Wulan sih. Belain aku dong."

Antares tertawa dan mencubit hidung mancung Adara. "Ra, kamu ingat satu hal, jangan pernah memanfaatkan kekuasaan orang tua untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan."

"Tapi aku ingin ikut bertanding di event itu." Kemudian Adara memeluk perut kakaknya.

"Ya udah, kalau begitu kamu harus mengikuti semua jadwal latihan yang cukup berat itu."

"Oke. Aku pasti bisa." Adara mendongak menatap Antares sambil tersenyum.

Entah mengapa tatapan Adara pada Antares selalu mampu menghipnotisnya. Ara saudara kembar gue, tapi perasaan apa ini yang muncul?

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Kayanya adik kembarnya anteres itu wulan deh bkan ara,kayanya mereka di tukar

2024-06-20

0

Salim S

Salim S

Sky....udah tua ternyata/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/itu Vero anaknya Vicky ama Nike ya...berarti Arsennya udah kakek2 ya...

2024-05-09

0

nuraeinieni

nuraeinieni

masih nyimak.

2024-05-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!