BAB 7

"Wulan, lo bisa mulai bekerja hari ini. Gue udah bilang sama Om Sky. Lo bisa bantu bersih-bersih setelah latihan nanti," kata Alvero saat bertemu Wulan di tempat latihan renang.

Seketika senyum Wulan mengembang. Dia menggenggam tangan Alvero dan mengucapkan terima kasih berulang kali. "Makasih banget. Pekerjaan ini sangat berharga buat gue. Pas tidak ada latihan, gue juga mau bersihkan tempat ini."

"Iya, nanti gaji lo biar dijelaskan sendiri sama Om Sky. Sepertinya akan digaji per jam. Semangat ya, gue hanya bisa bantu ini."

"Gak papa. Gue udah senang sekali." Kemudian Wulan melepas tangannya dan duduk di tepi kolam yang diikuti oleh Alvero. "Makasih ya, ternyata lo orangnya sangat baik."

Alvero menganggukkan kepalanya. "Jangan terlalu menutup diri lo untuk orang lain. Gak semua orang itu memandang status sosial orang lain. Gue, Ares, dan Ara itu sama. Kalau lo gak punya teman, lo berteman aja sama Ara. Dia pernah cerita sama gue, kalau dia sebenarnya mau berteman sama lo tapi lo yang selalu menghindar."

"Iya, gue minder. Gue tidak seperti kalian semua."

"Lo itu hebat. Kenapa lo harus merasa malu sama diri lo sendiri? Lo aja bisa cari uang sendiri, sedangkan gue dan teman-teman lainnya hanya mengandalkan kekayaan orang tua. Apa yang lo dapat selama ini, jadikan kebanggan sendiri di dalam diri lo, agar lo gak merasa insecure lagi."

Wulan menganggukkan kepalanya. Baru kali ini ada seseorang yang berkata seperti itu padanya. Tentu saja, dia percaya dengan semua perkataan Alvero.

Beberapa saat kemudian, latihan berenang dimulai. Wulan selalu bersemangat mengikuti semua latihan meskipun dia tidak terpilih menjadi kandidat dalam event internasional.

Hari itu Sky datang ke tempat latihan setelah sekian lama dia tidak pernah ke klub. Dia melihat anak-anak didik di klubnya latihan.

Dia melihat Adara yang belum ada perkembangan secara signifikan sejak awal masuk klub. Padahal putri satu-satunya itu sudah dia latih berenang sejak kecil.

"Vicky, kenapa Ara kamu masukkan dalam kandidat event besar itu. Skillnya masih terbatas. Apa kamu memasukkannya karena Ara putriku?" tanya Sky sambil mengamati semua anggota yang sedang berlatih.

"Karena aku memilih Ares dan Vero. Nanti kalau Ara tidak terpilih, dia kecewa."

"Tidak apa-apa Ara kecewa agar dia bisa berusaha lagi." Sky menghentikan pandangan matanya pada seorang gadis yang sangat bersemangat dan memiliki skill jauh di atas Adara. "Dia siapa? Dia juga terpilih masuk kandidat?"

Vicky menggelengkan kepalanya. "Dia Wulan. Dia tidak masuk dalam kandidat itu."

"Kenapa? Dia hebat loh. Aku saja yang baru melihatnya tahu kalau dia calon atletik yang hebat. Apa karena dia bergabung dengan klub ini secara gratis dan salah satu penerima beasiswa?"

"Bukan karena itu. Kamu tahu kan kelemahan aku dalam memilih kandidat kayak gini. Aku selalu bingung memilihnya, karena bagiku mereka semua hebat."

Sky semakin mendekat dan berdiri di pinggir kolam. "Masukkan dia ke dalam kandidat."

"Tapi pesertanya sudah pas."

"Coret nama Ara. Biar aku sendiri yang bilang sama Ara."

"Ya sudah. Semua keputusan ada di tangan kamu."

Sky terus menatap Wulan berlatih. Entah mengapa tekniknya berenang sama persis seperti dirinya dulu. Meskipun Wulan seorang perempuan, tapi masa ototnya kuat.

"Ara, Wulan, kalian berdua ke ruangan saya. Ada sesuatu yang akan saya sampaikan," kata Sky setelah Wulan dan Adara berhenti di pinggir kolam.

"Iya, Papa," kata Adara.

Sedangkan Wulan hanya menganggukkan kepalanya. Dia memang sudah beberapa kali melihat Sky di tempat latihan tapi baru kali ini dia dipanggil. Ya, mungkin karena dia akan mulai bekerja sampingan juga di tempat itu. Seperti apa yang dikatakan Alvero sebelumnya.

Kemudian Wulan segera berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.

...***...

"Papa, mau bicara apa?" tanya Adara saat masuk ke dalam kantor klub itu.

"Kamu duduk dulu, menunggu Wulan masuk juga."

Adara akhirnya duduk di kursi, kemudian Wulan datang dan duduk di sebelahnya.

"Wulan, apa kamu tertarik untuk ikut event internasional itu?" tanya Sky.

Wulan menganggukkan kepalanya. "Saya memang sangat tertarik. Tapi saya tidak terpilih, mungkin skill saya masih di bawah rata-rata."

Sky tersenyum mendengar jawaban Wulan. "Saya melihat sendiri keterampilan kalian berdua berenang dan itu sangat jauh berbeda. Saya memang Papa Ara tapi saya tidak ingin ada ketidakadilan di klub ini."

Adara menautkan alisnya menatap Papanya. "Maksud Papa apa?"

"Ara, Papa tahu persis keterampilan kamu berenang. Papa sangat minta maaf karena Papa akan memberikan kesempatan pada Wulan untuk berjuang di event besar itu. Untuk sementara kamu mundur dulu ya."

"Papa, tapi Ara akan berusaha keras untuk event itu. Berikan Ara kesempatan."

Sky menggelengkan kepalanya. "Ara, kamu berlatih lebih lagi. Nanti kalau ada event lagi, kamu bisa mengikutinya. Ini demi nama baik klub kita juga."

Adara menggembungkan pipinya. Dia tidak menyangka papanya sendiri menggantikan posisinya. Dia sudah berangan ikut di event besar tapi angan-angannya pupus begitu saja.

"Pak Sky, biarkan Ara tetap mengikuti event itu. Saya bisa menunggu kesempatan yang lainnya," kata Wulan.

Sky menatap Wulan sesaat lalu Adara. "Tidak bisa. Keputusan saya sudah bulat."

Seketika Adara berdiri dan keluar dari kantor itu tanpa berkata apapun.

Sky menghela napas panjang melihat sikap putrinya yang selalu ingin dimanja dan semuanya harus dituruti. "Biarkan saja, nanti saya yang akan bicara sama Ara."

"Tapi saya tidak enak."

"Tidak apa-apa. Mulai sekarang kamu berlatih yang sungguh-sungguh. Saya yakin kamu akan menjadi atletik hebat. Saya baru ingat, Vero bilang kamu yang akan kerja paruh waktu di sini?"

Wulan menganggukkan kepalanya.

"Saya akan membayar waktu kerja kamu per jam. Jadi kalau semisal kamu capek atau banyak tugas sekolah, kamu tidak perlu membersihkannya. Nanti kamu bilang saja sama Pak Karno ya. Uang pembayarannya juga saya titipkan ke Pak Karno."

"Iya, Pak. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk bekerja di tempat ini."

Sky tersenyum melihat kedua mata yang berkaca-kaca itu. Hatinya ikut tersentuh melihat ekspresi yang tak biasa itu. "Semangat ya, saya yakin kamu akan menjadi orang sukses."

Wulan menganggukkan kepalanya lagi.

"Ya sudah, kamu bisa melanjutkan kegiatan kamu."

"Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya permisi." Kemudian Wulan keluar dari kantor itu.

Sky menatap Wulan hingga menghilang dibalik pintu. Ada perasaan aneh yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat melihat wajah Wulan.

"Kasihan, masih seumuran Ara tapi dia sudah harus bekerja untuk kebutuhan hidupnya."

💗💗💗

Like dan komen ya...

Terpopuler

Comments

nuraeinieni

nuraeinieni

gimana ceritax nih kalau wulan kembarx ares tertukar dgn ara.

2024-05-19

0

Salim S

Salim S

Wulan itu putrimu Sky itu sebabnya gaya dan tekhnik berenangnya sama persis kaya kamu...jangan sampai Ara jadi benci ke Wulan gara2 ini...

2024-05-13

0

jaran goyang

jaran goyang

𝑦𝑎 𝑗𝑘𝑠....𝑤𝑢𝑙𝑛 𝑘𝑛 𝑎𝑛𝑘 𝑘𝑛𝑑𝑔 𝑚𝑢...𝑎𝑟𝑎 𝑎𝑛𝑘 𝑏𝑢𝑎𝑛𝑔𝑛

2024-05-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!