BAB 15

"Apakah Wulan adalah seorang atletik renang?" tanya Sky. Sejak melihat Wulan, dia merasa ada yang berbeda. Melihat gerakan renangnya, Wulan seperti memiliki bakat sejak lahir sama seperti dirinya.

"Iya, Wulan adalah seorang atletik renang. Dia bergabung di klub aquatik dan sudah beberapa kali mengikuti kompetisi."

Kedua mata Sky berkaca-kaca. Dia duduk di kursi yang berada di depan rumah itu. "Saya Sky, pemilik klub renang itu."

"Jadi, Anda Pak Sky?"

Sky menganggukkan kepalanya. Dia membuka hasil tes DNA lalu dia serahkan pada Wati. "Ini hasil tes DNA saya dan putri saya. Tidak ada kecocokan sama sekali. Saya sudah mencari informasi di rumah sakit dan yang melahirkan di rumah sakit itu pada tanggal dua Mei hanyalah Ibu. Golongan darah putri kandung saya adalah B. Sedangkan Ara, kemarin mengalami kecelakaan dan membutuhkan golongan O rhesus negatif. Di keluarga saya tidak ada golongan darah itu. Jadi saya curiga dan mencari informasi itu."

Mendengar hal itu, kedua kaki Wati terasa lemas. Dia duduk di dekat barang rongsokannya. Dia tidak ingin kehilangan Wulan. "Pantas saja saat tes kesehatan golongan darah Wulan menjadu B. Saya dan suami golongan darah O, tapi saya tidak mengerti dengan semua itu."

"Untuk memastikan, Ibu bisa melakukan tes DNA dengan Wulan."

"Saya tidak mau. Jangan pernah ambil Wulan dari saya!"

"Apa Ibu tidak ingin bertemu dengan anak kandung Ibu? Saya juga ingin merawat dan menyayangi putri saya. Saya juga ingin putri saya menikmati hak dia sebagai putri saya."

Air mata itu mengalir di pipi Wati. Dia terus mengingat kenangannya bersama Wulan sejak Wulan masih bayi. Dia tidak ingin berpisah dengan Wulan. "Saya sangat sayang sama Wulan."

"Saya juga sangat sayang dengan Ara. Tapi saya juga ingin bersama putri kandung saya. Saya minta sample untuk tes DNA saja agar semua jelas. Setelah itu baru kita cari solusi yang terbaik."

Wati menganggukkan kepalanya kemudian dia masuk ke dalam rumahnya untuk mencari rambut Wulan yang menempel di sisir.

Setelah memasukkan sample rambut Wulan dan juga rambutnya, dia keluar dan memberikannya pada Sky. "Menggunakan sample rambut bisa?

"Iya, bisa tapi menunggu beberapa hari. Saya yakin Wulan adalah anak kandung saya, karena bakatnya berenang sama seperti saya."

"Pak Sky bilang, putri Pak Sky mengalami kecelakaan. Apa lukanya parah?"

Sky menganggukkan kepalanya lagi. "Lukanya cukup parah di bagian kepala tapi untunglah tidak ada pendarahan pada otaknya. Ara juga sudah sadar. Jika ibu ingin menemui tidak apa-apa. Tapi saya juga belum cerita apapun pada istri saya, karena istri saya juga sangat menyayangi Ara."

Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka. Sky melihat sampah-sampah yang berserakan di sekitar rumah itu. Aroma sampah busuk juga sangat menyengat. "Apa Ibu mau pindah dari tempat ini? Ibu bisa tinggal di rumah atlet yang berada di dekat klub. Ibu juga bisa bekerja di sana sebagai tukang masak karena ada beberapa atlet juga dari luar kota. Wulan juga sudah bekerja di sana."

"Tapi, saya ...."

"Tidak apa-apa. Tolong diterima. Ini sebagai balas budi saya karena ibu sudah merawat Wulan selama 18 tahun. Dia menjadi anak yang kuat dan hebat."

Wati terdiam beberapa saat.

"Nanti saya yang akan bilang sama Wulan karena dia juga salah satu atlet di klub saya dan boleh menikmati fasilitas itu."

"Baik. Terima kasih banyak, Pak."

"Saya permisi dulu. Nanti saya akan menemui ibu setelah hasil tes DNA keluar."

"Iya."

Kemudian Sky berdiri dan berjalan melewati gang-gang sempit itu. Langkahnya berhenti saat Antares menghadangnya. "Ares, kenapa kamu ada di sini?"

"Papa tega melakukan ini sama Ara!"

"Bukannya Papa tega, tapi Ara memang bukan adik kandung kamu. Papa harus memastikan kondisi adik kandung kamu dan ternyata hidupnya selama ini penuh dengan kekurangan. Kamu tega menelantarkan adik kembar kamu sendiri?"

"Tapi Ara pasti sedih kalau tahu ini semua!"

"Iya. Terkadang kenyataan itu memang menyakitkan. Papa berusaha memberi yang terbaik untuk Ara dan juga Wulan. Nanti, saat semuanya jelas, Papa akan membicarakan semua ini pada Ara dan juga Wulan."

Antares membalikkan badannya dan pergi meninggalkan papanya. Dia mengepalkan kedua tangannya. Seandainya dia tidak menabrak Adara, sampai saat ini Adara akan tetap menjadi adiknya dan kenyataan itu tidak akan terungkap. Dia masih belum bisa menerima semua ini. Dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Adara jika tahu, dia bukanlah saudara kandungnya.

...***...

"Vani, Mama sama Ayah kemana?" tanya Alvero setelah sampai di rumahnya. Seperti janjinya, hari itu dia membawa Wulan ke rumahnya.

"Mama ke kampus kalau ayah baru saja keluar sama temannya." Vani tersenyum melihat kakaknya yang datang bersama seorang gadis. "Cieee, Kak Vero sekarang punya pacar. Biar gak pacaran sama air kolam aja." Vani tertawa cukup keras yang langsung dibungkam oleh Alvero.

"Maaf ya, adikku memang agak rese. Kamu duduk aja, sebentar aku ambilkan minum." Alvero menyeret adiknya agar masuk ke dalam. "Vani, tolong kamu dandani Wulan. Kamu kan sekolah jurusan kecantikan, kasih tutorial masker wajah dan juga rambut, lalu caranya make up juga, kalau perlu kasih peralatan make up kamu."

Vani masih saja cekikikan. "Memang kenapa sih, Kak? Dia udah cantik kok meskipun gak pakai make up apapun."

"Ya biar lebih cantik. Nanti mau aku ajak ke rumah sakit sebentar lalu ngedate."

"Ya ampun, berani bayar berapa? Alat make up ku itu beli, gak gratis!"

"Iya, iya, nanti kalau aku menang kompetisi, aku kasih uang."

"Ih, kompetisi masih lama! Ya udahlah, gak papa. Demi kebahagiaan kakak. Tapi nanti pulang bawa martabak spesial."

"Iya!" Kemudian Alvero mengambil minuman dingin dan juga cemilan lalu dibawa ke ruang tamu. "Kamu minum dulu. Adik aku masih nyiapin kamarnya."

Wulan menganggukkan kepalanya lalu meminum air dingin itu.

"Kakak ayo, ikut ke kamar." Vani datang dan menarik tangan Wulan agar berdiri. "Tangan aku udah gatel mau ngerias. Oiya, namaku Vani. Nama kakak siapa?"

"Wulan."

"Oo, Wulan. Duduk sini, Kak." Vani menyuruh Wulan duduk di kursi depan meja riasnya. "Cita-citaku jadi tukang make up artis, semoga terwujud ya." Vani tersenyum sambil mengambil kapas lalu membersihkan wajah Wulan. "Kak Wulan kok bisa sama Kak Vero sih? Dia itu pria batu, kasar, dan gak peka."

Wulan tersenyum kecil. "Tapi dia sangat perhatian sama aku."

"Ciee, Kak Wulan beneran cinta mati nih sama Kak Vero. Semoga langgeng ya." Vani mulai memberi masker pada seluruh wajah Wulan dan juga rambutnya. "Aku akan ubah Kak Wulan menjadi cantik biar Kak Vero makin kesemsem biar gak rese terus sama aku."

Alvero mendengar semua pembicaraan mereka di dekat pintu. Dia tersenyum kecil. Tiba-tiba dia merasa tidak rela jika harus memutuskan Wulan.

Terpopuler

Comments

Salim S

Salim S

jangan ssmpai nanti Ares benci ama Wulan kalau Sky sudah membawa Wulan ke keluarganya...Wullan sama Vero masih saudara walaupun jauh,wuulan anaknya Shena,vero anaknya Vicky Shena sama vicky sepupu jadi wulan sama vero masih termasuk keluarga

2024-05-21

0

Risma Waty

Risma Waty

Mending Vero batalin taruhan dengan Ares sebelum Wulan tahu.

Kira2 gmn nih Ares kalau ingat taruhan itu ya sementara Wulan adalah saudara kembarnya?

2024-05-21

0

sakura hanae @ mimie liyana❤️

sakura hanae @ mimie liyana❤️

Gimana perasaan Antares ya kalo Wulan diputusin ama Vero.... Kasian ama Adara tp Wulannya gimana? Hadeuh hadeuh... Pucing

2024-05-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!