BAB 20

"Gak mungkin!" Seketika air mata Shena terjatuh di pipinya. "Ara bukan anak kandungku?"

"Shena, apa yang kamu lakukan di sini?"

Shena melihat Sky yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Dia berdiri dan menghampirinya. "Kak Sky kenapa diam-diam melakukan tes DNA ini?"

Sky menatap kertas hasil lab yang dipegang Shena. Entah cepat atau lambat, Shena pasti akan mengetahui hal itu. Tapi seharusnya dia sendiri yang mengatakannya pada Shena bukan seperti ini.

"Maaf, aku menyembunyikan ini dari kamu." Sky menutup rapat ruang kerjanya agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya. Dia kini memeluk Shena yang masih menangis. "Ara memang bukan anak kandung kita. Dia tertukar di rumah sakit."

"Tertukar di rumah sakit? Bagaimana bisa?" Shena melepas pelukan suaminya lalu dia duduk di sofa yang berada dalam ruang kerja itu.

Sky ikut duduk di sebelahnya. Kali ini dia akan menjelaskan semuanya pada Shena. "Sebenarnya saat kamu koma setelah melahirkan dulu, Zaki datang ke rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di sana. Aku benar-benar kecolongan. Ternyata Ara telah ditukar. Sekarang aku berusaha mencari Zaki, tapi dia tinggal di luar pulau setelah bebas dari penjara."

"Tapi aku sudah terlanjur sayang sama Ara."

Sky kembali merengkuh bahu Shena dan mengusap lengannya agar lebih tenang. "Apa yang kamu rasakan itu sama seperti yang aku rasakan. Aku juga sudah menemukan anak kandung kita. Dia Wulan."

"Wulan yang pernah ke rumah sakit bersama Vero?"

"Iya, dia atlet renang di klub kita. Kamu tahu, dia sangat hebat dan pandai berenang. Sama seperti aku dulu. Tapi kasihan, dia hidup serba kekurangan. Ibunya hanya seorang pemulung dan sudah tidak mempunyai ayah. Aku sudah mengatur semuanya. Hidupnya sekarang sudah lebih baik dan tinggal di rumah atlet karena suatu saat nanti, antara Wulan dan Ara harus bertukar posisi."

"Nggak! Kenapa Papa bilang begitu. Ara tetap anak aku!"

"Tapi Wulan anak kandung kita. Dia juga berhak menikmati kemewahan yang kita miliki. Kamu bayangkan selama 18 tahun dia hidup serba kekurangan."

Shena menyandarkan kepalanya di bahu Sky. Dia semakin menangis membayangkan semuanya. "Tapi aku sudah terlanjur sayang sama Ara. Biarkan Wulan dan Ara di rumah ini."

"Shena, Bu Wati pasti juga ingin tinggal bersama anak kandungnya."

"Kasihan Ara kalau dia harus keluar dari rumah ini."

"Nanti kita cari solusi yang terbaik. Sudah jangan sedih. Besok ada pertandingan renang antar sekolah dan kebetulan Wulan ikut bertanding. Kita lihat ya."

Shena menganggukkan kepalanya. Dia semakin mengeratkan pelukan pada suaminya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Adara jika tahu hal ini.

...***...

"Kak Ares, aku ikut lihat pertandingan ya," pinta Adara. Sudah lama dia tidak datang ke tempat latihan yang sekarang digunakan untuk bertanding.

"Memang kamu sudah fit? Luka kamu masih belum sepenuhnya kering." Ares mengusap sekitaran luka di dahi Adara yang masih diperban.

"Gak papa. Kan aku cuma lihat, gak ikut renang."

"Ya udah, pakai jaket kamu. Kita berangkat sekarang, tapi pertandingannya belum dimulai. Ada briefing dulu sama Om Vicky. Gak papa kan?"

Adara menganggukkan kepalanya. Dia segera memakai jaketnya dan membawa tasnya keluar dari kamar.

"Mama, aku mau ikut Kak Ares ya?" kata Adara sambil menggandeng tangan Antares.

"Ara, luka kamu udah gak sakit?" tanya Shena.

Adara menggelengkan kepalanya. "Ara, bosan di rumah terus. Gak papa ya, Ma. Nanti Ara duduk anteng kok."

"Ya udah. Kebetulan nanti Papa sama Mama juga mau lihat pertandingan itu."

Seketika Antares menatap mamanya. "Lihat pertandingan?"

"Iya, Mama mau lihat kamu."

Gak mungkin Mama mau lihat pertandinganku. Apa Mama sudah tahu tentang Wulan?

"Kenapa tiba-tiba Mama lihat pertandinganku? Aku kan sudah biasa bertanding."

"Kak Ares, tidak apa-apa dong. Biar Kak Ares lebih semangat. Ayo, Kak! Katanya buru-buru." Adara menarik tangan Antares agar segera keluar dari rumah.

Apa sudah waktunya Ara juga tahu yang sebenarnya?

Antares menatap Adara yang sekarang berdiri di dekatnya dan sedang memakai helm secara perlahan agar tidak mengenai lukanya.

"Sakit gak? Kalau sakit, helmnya kamu bawa saja gak usah dipakai."

"Gak papa. Gak sakit kok."

Kemudian Antares mengaitkan tali helm di bawah dagu Adara. "Kamu naik."

Adara naik ke boncengan Antares, dan beberapa saat kemudian motor Antares segera melaju menuju tempat pertandingan. Dia melihat tangan yang melingkar di perutnya lalu tersenyum kecil.

Apa setelah Ara tahu kalau kita bukan saudara kandung, dia bisa mencintaiku seperti aku yang mencintainya?

...***...

"Ibu dan Wulan kenapa tidak bilang kalau pindah ke rumah ini?" Riki baru tahu jika ibunya dan Wulan pindah ke rumah atlet. Dia datang dan masuk ke dalam rumah yang baru tiga hari Wulan tempati itu. "Apa karena rumah ini adalah fasilitas untuk Wulan jadi aku tidak boleh menempati?"

"Kak Riki boleh tinggal di sini tapi Kak Riki tidak boleh mabuk lagi. Jangan ganggu Ibu juga, karena mulai sekarang ibu sibuk." Wulan memasukkan baju gantinya ke dalam tas kemudian dia keluar dari rumahnya.

"Kamu sombong sekali mentang-mentang jadi atlet." Riki masih saja mengikuti Wulan.

Wulan tak menggubrisnya. Dia semakin melangkah jenjang menuju tempat pertandingan.

"Wulan!" Riki menahan tangan Wulan dengan kuat yang membuat Wulan meringis kesakitan.

"Lepasin! Kak Riki mau apa?"

"Kamu punya banyak uang kan sekarang, bagi aku."

"Gak mau! Kak Riki cari saja sendiri. Kak Riki kerjaannya cuma mabuk saja."

Riki mengangkat tangannya dan akan memukul Wulan tapi ada yang menahan tangannya dengan kuat.

"Gue udah peringatkan lo berulang kali! Jangan ganggu Wulan. Dia itu adik lo!" Alvero memutar tangan Riki ke belakang dan membuat Riki meringis kesakitan.

"Lepaskan!"

"Sekali lagi lo berbuat ulah, gue bisa hancurin hidup lo!" Alvero melepas tangan Riki dan mendorongnya dengan keras hingga terjatuh.

Wulan tak bicara apapun pada Alvero. Dia berjalan jenjang meninggalkannya.

"Wulan, tunggu!" Alvero terus mengikuti langkah Wulan. "Aku minta maaf."

Wulan tak menyahuti perkataan Alvero, bahkan dia sama sekali tidak mau menatap Alvero. Entah sudah berapa kali Alvero meminta maaf padanya.

"Wulan!" Alvero menahan tangan Wulan lalu memakaikan gelang penyemangat di pergelangan tangan Wulan. "Semangat ya! Semoga kali ini kamu menang. Meskipun kamu masih tidak mau memaafkanku, tidak apa-apa."

Alvero tersenyum melihat gelang yang kini melingkar di tangan Wulan. Kemudian dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Wulan.

Wulan menatap gelang penyemangat berwarna merah hati yang sekarang melingkar di pergelangan tangannya itu.

Gimana mau semangat kalau detak jantungku makin cepat kayak gini.

Dia kembali berjalan mendekati kolam. Dia letakkan tasnya dan membuka jaketnya tapi gerakannya berhenti saat melihat Sky dan Shena menghampirinya.

"Wulan ...."

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

aneh bgt malah g suka wulan pdhl dia korban

2024-08-14

1

Natalia Hasugian

Natalia Hasugian

shena harusnya kamu senang 🥺
aku malah gk suka sama sikapnya Ara

2024-05-25

0

Risma Waty

Risma Waty

Pasti Shena meluk Wulan kasih semangat.

2024-05-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!