BAB 17

"Arrggghh!!!" Antares memukul tembok di depan toilet dengan tangannya karena dia sangat kesal dengan dirinya sendiri.

"Sekarang Papa akan mulai memberi perhatian lebih pada Wulan, terus gimana dengan Ara?" Antares mengacak rambutnya sendiri. Kemudian dia duduk di lantai sambil menatap layar ponselnya.

"Ara ...." Antares terus membayangkan senyuman Adara. "Ara, bukan adik kandungku kan itu berarti kita tidak memiliki ikatan darah apapun bahkan Mama pernah bercerita kalau sejak bayi kita tidak pernah minum ASI, itu tandanya kita juga bukan saudara sepersusuan. Kenapa aku baru menyadarinya."

Antares berdiri dan berlari menuju ruangan Adara. Dia berpapasan dengan Alvero dan juga Wulan. "Kalian mau pulang?"

"Iya, Ara masih marah sama Wulan. Gue duluan ya," kata Alvero. Dia kembali berjalan bersama Wulan menuju lift.

"Iya." Kemudian Antares masuk ke dalam ruangan Adara. Dia melihat papanya yang masih duduk di dekat Adara sambil mengusap lengannya.

"Ara, kamu kenapa?" tanya Antares. Dia duduk di sisi lain brankar Adara. Dia menatap papanya sesaat yang memberinya kode agar tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi.

"Seharian gak dimanja sama Papa, jadi ngambek," sahut Shena.

"Ara, kamu masih marah sama Wulan?" tanya Antares.

"Nggak terlalu sih, Kak. Tapi aku kesel sama Papa, tiap bertemu Wulan kayak excited banget."

Antares tersenyum dan mengusap pipi Adara. "Kamu cemburu sama Papa? Ara, kamu jadi cewek posesif sekali. Wulan itu juga anak didik di klub Papa, sama kayak Om Vicky yang melatih kamu."

Sky tak menyangka perasaan Adara berubah begitu cepat setelah mendengar perkataan Antares.

"Maaf ya, Pa." Adara kini menatap papanya yang masih duduk di dekatnya.

"Iya, tidak apa-apa. Papa mengerti kamu lagi sakit dan pasti sensitif. Papa juga salah seharian ini terlalu sibuk. Sekarang kamu tidur ya."

Adara menganggukkan kepalanya lalu dia memejamkan kedua matanya.

"Ares, kalau kamu dan Papa pulang tidak apa-apa. Biar Mama aja yang jaga Ara. Tidak ada tempat buat kalian tidur, sofa yang besar cuma satu," kata Shena. Dia kini merebahkan dirinya di sofa.

"Iya, Mama tidur saja. Nanti Papa pulang sama Ares." Sky saling tatap dengan Antares. Sebenarnya dia bingung, mengapa sikap Antares tiba-tiba berubah drastis?

...***...

"Wulan, sudah jangan sedih," kata Alvero. Dia kini duduk di taman bersama Wulan.

Wulan menggelengkan kepalanya. Dia menatap langit malam hari itu yang dipenuhi bintang. "Aku gak sedih. Ya, aku merasa bersalah saja karena Ara menyalahkan Papanya. Aku gak bermaksud membuat mereka bertengkar. Aku tahu, Ara pasti kecewa karena gagal mengikuti event itu."

Alvero tersenyum lalu menggenggam tangan Wulan. "Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini saatnya kamu menunjukkan kehebatan kamu pada dunia. Nanti kita berjuang bersama-sama."

Wulan semakin menatap Alvero. Semua kalimat Alvero untuknya semakin menambah penyemangat dalam dirinya. "Makasih support kamu."

"Iya."

Kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya sepasang tangan yang saling menggenggam dan terasa hangat.

Apa aku batalkan saja ya taruhan ini. Aku gak bisa putuskan Wulan begitu saja. Aku udah terlanjur nyaman sama Wulan.

"Ares kenapa marah sama aku juga ya? Padahal aku gak pernah bicara sama Ares. Apa karena Ara juga?"

Alvero membuyarkan pemikirannya tentang taruhan itu. Dia kini menatap Wulan yang sedang mengajaknya berbicara. "Ares marah sama kamu?"

Wulan menganggukkan kepalanya. "Iya, tatapannya menakutkan."

"Ares memang kayak gitu. Dia itu lembut cuma sama adiknya aja. Udah gak usah dipikirin, yang buat aku bingung itu Om Sky. Kenapa Om Sky kelihatan sayang banget sama kamu?"

Wulan menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu. Mungkin Pak Sky kasihan sama aku." Wulan tersenyum kecil lalu menundukkan pandangannya.

"Iya, kamu benar. Om Sky memang sangat baik." Alvero menatap Wulan yang sedang menundukkan pandangannya sambil tersenyum. Angin yang berhembus membuat rambut Wulan tergerai. Cantik!

Satu tangannya meraih pipi Wulan agar Wulan menatapnya. Perlahan wajah itu mendekat dan mencium bibir Wulan.

Wulan terkejut dengan perlakuan Alvero yang tiba-tiba itu. Awalnya dia menahan dada Alvero tapi beberapa detik kemudian dia luluh dan merasakan ciuman manis yang baru pertama kali dia rasakan.

Tidak terlalu lama, Alvero melepas ciumannya. Dia mengalihkan pandangannya sambil menggaruk tengkuk lehernya. Dia berpacaran dengan Wulan atas dasar taruhan mengapa dia mencium Wulan?

Dada gue kenapa ini? Ser-ser an banget. Aduh, sepertinya gue memang harus batalkan taruhan itu. Gue gak mau putusin Wulan. Biar besok gue bilang sama Ares. Gue gak butuh helm itu, gue maunya Wulan.

"Hmm, sorry ...." kata Alvero.

Wulan menggelengkan kepalanya. "Gak papa. Antar aku pulang ya, ini sudah malam."

"Iya, ayo." Alvero menggandeng tangan Wulan berjalan ke tempat parkir. Setelah menaiki motor, Alvero segera melajukan motornya menuju rumah Wulan. Sepanjang perjalanan Alvero tersenyum kecil. Dia belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.

Setelah sampai di depan rumah Wulan, Alvero menghentikan motornya. Wulan turun dari motor dan menghampiri ibunya yang menunggunya di depan rumah.

"Ibu, tumben belum tidur?"

Wati menatap Wulan yang terlihat cantik dengan baju mahal itu kemudian dia melihat Alvero yang kini turun dari motornya lalu bersalaman dengannya.

"Maaf Tante, kita habis menjenguk teman di rumah sakit."

"Iya, tidak apa-apa."

"Saya pulang dulu, Tante." Kemudian Alvero kembali menaiki motornya dan melambaikan tangannya pada Wulan

Wulan membalas lambaian tangan itu sambil tersenyum.

Wulan, memang seharusnya kehidupan kamu sempurna seperti ini. Seharusnya kamu juga tinggal di rumah mewah bukan di rumah reyot seperti ini.

"Wulan, itu pacar kamu?" tanya Wati.

Wulan hanya tersenyum. Dia menggandeng lengan ibunya agar masuk ke dalam rumah.

"Dia baik?" tanya Wati lagi.

"Baik sekali Ibu. Dia bisa menerima aku apa adanya. Awalnya aku minder karena kondisiku yang kayak gini. Tapi ternyata dia tulus."

Wati hanya bisa tersenyum. Setelah ini, kehidupan Wulan pasti akan jauh lebih baik setelah terbukti bahwa dia anak Sky.

Terpopuler

Comments

Helen Nirawan

Helen Nirawan

adara gede di ambek issshh

2024-08-19

0

sakura hanae @ mimie liyana❤️

sakura hanae @ mimie liyana❤️

Semangat Ares, jalan sudah terbentang lebar di depan💪🏻💪🏻

2024-05-23

0

jaran goyang

jaran goyang

𝒊𝒃𝒖 𝒚𝒈 𝒃𝒊𝒋𝒌𝒔𝒏.....𝒌𝒖 𝒉𝒓𝒑 𝒃𝒖 𝒕𝒅𝒌 𝒆𝒈𝒐𝒊𝒔 𝒚𝒂....😭

2024-05-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!