Flora duduk sendirian di ruang tamu rumah barunya, memandang sekeliling dengan perasaan campur aduk. Rumah ini adalah tempat baru baginya, tempat di mana dia berharap bisa memulai hidup baru setelah memutuskan untuk berpisah dari suaminya, Arkana. Dia masih merasa sedikit canggung di tengah-tengah ruangan yang belum sepenuhnya terasa seperti rumah.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Flora menghela nafas, mengetahui bahwa itu mungkin surat perceraian yang sudah lama dia tunggu-tunggu.
Dia bangkit dari kursi dan menuju pintu dengan langkah ragu. Saat dia membuka pintu, seorang kurir berdiri di sana, menyodorkan sebuah amplop besar dengan logo firma hukum yang dikenalnya dengan baik.
Flora mengambil amplop itu dengan gemetar, hatinya berdebar kencang. Dengan langkah gugup, dia kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa.
Dengan perasaan yang campur aduk, dia membuka amplop itu dan mengeluarkan surat perceraian dari suaminya, Arkana. Hatinya berdesir saat dia membaca kata-kata yang menegaskan akhir dari pernikahannya.
Tapi Flora tidak ragu-ragu. Dengan tangan yang gemetar sedikit, dia membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditentukan di surat tersebut.
Ini adalah langkah yang dia pikirkan dengan matang selama berbulan-bulan. Meskipun ada sedikit rasa sedih, Flora merasa lega karena akhirnya mengambil keputusan untuk memulai kembali hidupnya.
Setelah selesai menandatangani surat perceraian itu, Flora memutuskan untuk menyerahkannya pada kurir dari pengacara Arkana. Dia merasa bahwa itu adalah tindakan yang adil dan terhormat.
Dengan hati yang berat, dia menulis surat singkat yang menyertai surat perceraian itu, menjelaskan bahwa dia telah menandatanganinya dan menyerahkan semuanya pada pengacara tersebut.
Dengan perasaan campur aduk, Flora merasa bahwa sekarang dia hanya perlu menunggu proses pengadilan untuk menyelesaikan perceraian mereka.
Meskipun ada rasa sedih dan kehilangan, Flora juga merasa lega bahwa dia telah mengambil langkah pertama menuju kebebasannya dan mencari kedamaian yang baru.
Flora duduk sendirian di ruang tamu, wajahnya mencerminkan keraguan dan kekhawatiran yang mendalam setelah menandatangani surat perceraian.
Tangannya masih gemetar ketika teleponnya berdering, mengganggu lamunannya yang suram. Dengan napas yang bergetar, dia mengangkat telepon dan mendengarkan berita yang mengguncangnya dari guru Keyra.
Mendengar bahwa Arkana berniat membawa Keyra ikut dengannya, Flora merasa darahnya mengental. Tidak, dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Dengan langkah berani, dia bangkit dari kursi, dan memutuskan untuk segera pergi ke sekolah Keyra.
Langkahnya terburu-buru, hatinya dipenuhi dengan tekad untuk melindungi putrinya. Dia mengabaikan keraguan dan ketakutan yang menghantui pikirannya, fokus pada satu tujuan: mencegah Arkana membawa Keyra pergi.
Sampai di sekolah, Flora bertemu dengan guru Keyra, wajahnya penuh dengan kekhawatiran dan ketegangan. wanita itu langsung menghampiri Keyra lalu memeluk putri kecilnya.
"Sayang apa kamu tidak apa-apa?" tanya Flora.
"Tidak apa mom, tapi daddy jahat mom.Tadi daddy bareng sama tante Devina dan memaksaku ikut bersama mereka hiks."gumam Keyra pelan.
Deg
Flora tentu saja langsung berlutut dan memeluk sang anak dengan erat.Terdengar suara isakan kecil dari bibir Keyra.
Wanita itu membawa putrinya kembali duduk dikursinya.Dia berusaha menenangkan Keyra dibantu sang guru. Setelah tenang Flora membiarkan putrinya kembali ke kelas bersama sang guru.
Setelah berhasil menenangkan Keyra dan memastikan bahwa putrinya aman di sekolah, Flora keluar dari area sekolah dengan perasaan lega dan lega yang mendalam.
Langkahnya terasa lebih ringan, dan meskipun masih ada ketegangan yang menghantui pikirannya, dia merasa sedikit lega bahwa dia telah mengambil langkah untuk melindungi Keyra.
Flora memutuskan untuk mengambil napas segar di udara luar dan mencari tempat yang tenang untuk merenung.
Dia melangkah menuju pohon beringin tua yang menjulang di halaman sekolah, menarik kursi di sebelahnya, dan duduk dengan hati yang berat.
Di bawah naungan lebat pohon, Flora membiarkan dirinya terhanyut dalam kedamaian alam. Dia mendengarkan suara dedaunan yang berdesir lembut oleh angin, dan merasakan aroma segar tanah basah menyusup ke hidungnya.
Suasana tenang itu membantunya meredakan ketegangan yang masih menyelimuti pikirannya.
Flora menatap ke langit yang biru, mengamati awan-awan yang bergerak perlahan di atasnya.
Pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat sedikit kenangan bersama Keyra dan Arkana, sebelum segala sesuatunya menjadi rumit dan penuh kebingungan.
Namun, Flora juga menyadari bahwa masa depan mereka akan berubah, dan dia harus siap menghadapinya. Dia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, tetapi dia merasa lebih siap untuk menghadapi tantangan yang akan datang.
"Kenapa kamu sama sekali tak mengerti mas.Kamu egois dan tak memikirkan perasaanku dan Keyra?" gumam Flora kecewa.
"Apa kamu begitu membenciku hingga berniat membawa putri kita pergi?"
Flora diam diam menangis sendirian dibawah pohon beringin.Dia tak akan sanggup jika dipisahkan dari Keyra, anak yang dia lahirkan sendiri.
"Aku sangat membencimu mas Arkana." batin Flora.
Cinta yang berkobar dalam dirinya kini berubah menjadi rasa benci yang besar terhadap Arkana.Ada rasa sesal dalam dirinya, kenapa harus mencintai pria seperti Arkana yang sangat egois.
Perusahaan William Corp
Flora memasuki ruangan Arkana dengan langkah pasti, tatapannya penuh dengan kebencian yang mendalam. Arkana, suaminya, terkejut melihatnya datang, namun ekspresi dinginnya segera kembali saat menyadari niat Flora.
"Arkana," desis Flora dengan suara gemetar, "bagaimana kamu bisa melakukan ini? Mencoba merebut Keyra dariku!"
Arkana menatapnya dengan sikap acuh tak acuh, "Flora, kau tidak bisa menyalahkan saya atas tindakan yang aku anggap tepat. Keyra adalah anak kita berdua, dan saya memiliki hak untuk memutuskan apa yang terbaik baginya."
"Terbaik baginya?" Flora meledak, "Kau berpikir merebutnya dari ibunya adalah yang terbaik baginya? Kau egois, Arkana! Kau tidak peduli dengan perasaannya, dengan ikatan keluarga kita!"
Arkana mengangkat bahunya dengan dingin, "Kau tahu betul bahwa saya tidak percaya pada ikatan semacam itu. Yang saya pikirkan adalah masa depan Keyra, dan jika itu berarti harus mengambil langkah-langkah sulit, maka begitulah adanya."
Flora merasa gemetar oleh kemarahan yang memuncak. Dia menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sejenak sebelum berbicara lagi. "Kamu tidak akan berhasil, Arkana. Aku akan melindungi Keyra darimu, dengan segala cara yang aku punya."
Arkana hanya tersenyum sinis, "Kita akan lihat sampai sejauh mana kau bisa melakukannya, Flora. Tapi ingatlah, aku tidak akan mundur begitu saja."
Dengan itu, Flora keluar dari ruangan itu, hatinya berdebar-debar dengan tekad yang kuat untuk melindungi putrinya dari ancaman yang dihadirkannya sendiri oleh suaminya.
"Dia begitu sombong, memangnya apa yang bisa dia lakukan setelah ini.Apa akan meminta bantuan pria selingkuhannya itu." gumam Arkana sinis.
Arkana memiliki ego dan gengsi yang tinggi sekali.Dia tak ingin kalah dengan siapapun termasuk Flora dan pria yang bersama istrinya itu. pria tampan itu kembali duduk di kursinya sambil mengumpat.
"Aku akan membayar pengacara agar memenangkan gugatan atas hak asuh Keyra." ucap Arkana dengan licik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
anak sendiri melihat kejahatan bapanya
2024-05-10
0
Miss Apple 🍎
seru lanjut
2024-05-10
0
rahmalia maricar
kamu harus repot-repot keluar uang bayar pengacara,, flora mah gratis pengacaranya dan insyaallah hak asuh hampir dipastikan flo yg berhak
2024-05-10
0