Arkana duduk tegak di kursi eksekutifnya, dengan ponsel di satu tangan dan stapler di tangan lainnya, menandai dokumen penting yang baru saja diselesaikannya. Ruangannya luas, dengan dinding-dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan perkotaan yang indah di luar.
Meskipun pemandangan itu menarik, fokus Arkana tetap pada tumpukan pekerjaan di meja kerjanya.Sebagai CEO William Corp, tanggung jawabnya tak pernah berhenti. Setiap keputusan, setiap detail, semua membutuhkan perhatian dan evaluasi yang cermat.
Dia melirik jam di dinding, menyadari bahwa waktu telah larut malam. Namun, ini bukan saat untuk bersantai. Masih ada beberapa email yang harus dibalas, laporan yang harus diperiksa ulang, dan strategi jangka panjang yang harus direvisi.
Ponselnya berdering, mengingatkan nya akan panggilan konferensi penting yang akan datang. Arkana menekan tombol untuk bergabung dengan panggilan itu, memimpin diskusi dengan keahlian dan kepercayaan diri yang khas. Meskipun lelah, dia tidak pernah menunjukkan kelemahan.
Setelah panggilan selesai, Arkana meluangkan waktu sejenak untuk merefleksikan hari yang telah berlalu. Pencapaian, hambatan yang diatasi, dan rencana untuk masa depan semuanya berputar di pikirannya. Dalam dunia bisnis yang berubah dengan cepat, kekuatan untuk beradaptasi dan inovatif adalah kunci kesuksesan.
Saat ruangan mulai terasa sunyi,
Arkana memutuskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan terakhir sebelum meninggalkan kantor. Dengan tekad yang teguh, dia menyelesaikan tugas-tugasnya dengan efisiensi yang mengesankan.
Meskipun malam telah larut, semangat dan dedikasi Arkana terhadap William Corp tidak pernah padam. Sebagai pemimpin yang dicontoh, dia siap untuk menghadapi hari esok dengan antusiasme yang sama.
Pukul sepuluh malam Arkana baru meninggalkan perusahaan.Pria tampan itu langsung melajukan roda empat nya dengan kecepatan sedang.
Mansion Arkana
Arkana melangkah masuk ke dalam Mansion setelah melempar kunci mobilnya di atas meja. Cahaya remang dari lampu-lampu di langit-langit menciptakan bayangan-bayangan yang menari di sekitar ruangan yang sunyi. Langkahnya terdengar gemetar di lantai marmer, memecah kesunyian yang memenuhi ruangan.
Arkana memasuki Mansion dengan langkah mantap setelah hari yang melelahkan di kantor. Cahaya redup dari lampu di langit-langit mengisi ruangan dengan atmosfer yang hening. Matanya melintas singkat ke arah sofa di ruang keluarga, di mana Flora tertidur dengan damai.
Namun, tidak ada perasaan hangat atau rasa keterkejutan di mata Arkana saat melihat Flora di sana. Baginya, Flora adalah sumber masalah dalam hidupnya, seorang wanita yang hadir karena perjodohan keluarga dan tidak lebih dari itu.
Arkana tidak membuang waktu untuk memperhatikan Flora. Tanpa sepatah kata pun, dia melangkah melewati ruang keluarga, menuju pintu keluar. Pikirannya dipenuhi oleh Keyra, putri mereka, satu-satunya hal yang benar-benar berarti baginya.
Dalam pandangan Arkana, Keyra adalah satu-satunya alasan mengapa dia masih bertahan dalam pernikahan ini. Dia menyayangi putrinya dengan tulus, tetapi tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk Flora. Baginya, Flora adalah beban yang harus dia tanggung, bukan sumber kebahagiaan atau dukungan.
Dengan langkah cepat, Arkana meninggalkan ruang tamu tanpa sekalipun menoleh ke arah Flora. Baginya, Flora tidak layak mendapat perhatian atau kasih sayangnya. Dia hanya ingin menjauh dari wanita itu dan memfokuskan perhatiannya pada Keyra, satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Di dalam hatinya yang dingin, Arkana menyadari bahwa pernikahan mereka adalah kesalahan yang harus dia hadapi setiap hari. Namun, dia memilih untuk memilih Keyra sebagai alasan untuk tetap bertahan, sementara Flora hanya menjadi bagian yang tidak berarti dalam hidupnya.
"Ugh."
Flora mengusap matanya.Dia membuka nya lalu menatap sekitarnya.Aroma wangi sang suami tercium hal itu membuat Flora terdiam.
"Mas Arka sudah pulang tapi kenapa dia tak membangunkan aku." gumam Flora lirih.
"Lagi lagi dia mengabaikanku seperti sebelum-sebelumnya!"
Flora terbangun di tengah malam dengan perasaan yang berat di dadanya. Dia melihat sekeliling ruangan yang sunyi. Rasa kesedihan menyeruak di dalam dirinya saat dia menyadari bahwa Arkana, suaminya, kembali tidak menganggapnya seperti hari-hari sebelumnya.
Dalam keheningan malam, Flora merenung tentang perubahan yang terjadi dalam pernikahan mereka. Dahulu, mungkin tidak ada banyak kehangatan di antara mereka, tetapi setidaknya ada sedikit perhatian dan rasa hormat. Namun, sekarang, semuanya tampak berbeda. Arkana tampak cuek dan tidak peduli dengan p perasaannya.
Flora merasakan rasa sakit yang menusuk di dadanya saat dia memikirkan bagaimana Arkana berlalu begitu saja tanpa sepatah kata atau tatapan untuknya. Dia bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan pernikahan mereka, mengapa semuanya tiba-tiba berubah menjadi begitu dingin dan acuh tak acuh.
Dalam kegelapan malam, Flora menangis pelan, menahan kesedihan yang begitu besar di dalam dirinya. Dia merasa terluka dan terbuang, terjebak dalam perasaan kesepian yang tak berujung. Setiap kali dia berusaha untuk menjaga hubungan mereka, semakin jauh Arkana menjauhinya.
Namun, di tengah-tengah tangisannya, Flora merasa sebuah kekuatan yang tumbuh di dalam dirinya. Dia tahu bahwa dia tidak bisa terus menderita dalam kehampaan ini. Dia harus menemukan cara untuk mengatasi rasa sakitnya, entah dengan berbicara dengan Arkana atau dengan menemukan jalan keluar dari pernikahan yang tidak bahagia ini.
Dengan hati yang berat, Flora bangkit dari sofa dan melangkah menuju pintu kamar tidur mereka. Dia ingin berbicara dengan Arkana, mengungkapkan perasaannya. Meskipun dia takut akan reaksi Arkana, dia tahu bahwa dia harus melangkah maju untuk kebahagiaannya sendiri.
skip
kamar Arkana dan Flora.
Flora duduk di ujung tempat tidur dengan tatapan tegang, hatinya berdebar keras saat ia memandang wajah suaminya yang sedang tertidur pulas. Dia tahu dia harus membuka topik yang sulit ini, bahkan jika itu berarti mengganggu ketenangan malam mereka.
"Mas Arkana," bisiknya pelan, mencoba untuk tidak terdengar terlalu ragu. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
Arkana berguling ke samping, wajahnya masih terlelap, tetapi segera menyadari kehadiran Flora di sampingnya. "Ada apa Flora, apa kau lupa jika ini tengah malam?"
Flora menelan ludah, merasa deg-degan. "Maafkan aku jika menganggumu, mas Arkana. Aku merasa seperti hubungan kita... hanya jalan ditempat."
Arkana mengangkat alisnya dengan kebingungan, tetapi Flora melanjutkan sebelum ia punya kesempatan untuk berbicara. "Sudah lima tahun sejak kita merasa benar benar asing satu sama lain.
Tak ada lagi kehangatan di antara kita, tak ada lagi momen-momen yang membuat kita merasa seperti pasangan yang sebenarnya."
Arkana mendengarkan dengan serius, tetapi saat Flora selesai berbicara, dia menggeleng perlahan. "Flora, aku mengerti perasaanmu, tapi... aku tidak yakin kita bisa mengembalikan apa yang sejak awal memang hilang. Mungkin ini 'lah yang seharusnya terjadi dalam hubungan kita."
Flora terdiam, matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. "Tapi Arkana, aku masih percaya bahwa kita bisa membuatnya lebih baik. Kita bisa bekerja sama untuk memperbaiki hubungan kita, untuk menemukan kembali keintiman yang hilang."
Arkana menggeleng lagi, kali ini dengan lebih tegas. "Maafkan aku, Flora, tapi aku tak ingin membuatmu berharap lebih. Kita harus menerima kenyataan bahwa mungkin ini yang terbaik untuk kita."
Flora merasa seperti kepalanya berputar, terjebak antara harapan yang hancur dan kenyataan yang menyakitkan. Namun, di balik kekecewaannya, ia tahu bahwa dia harus menerima keputusan suaminya, meskipun rasanya begitu pahit.
Dalam keheningan yang menyakitkan itu, Flora hanya bisa menundukkan kepalanya, meratapi hilangnya harapan akan masa depan yang lebih baik untuk hubungan mereka.
"Apa kamu tak memikirkan Keyra, putri kita.Dia menginginkan keluarga yang harmonis dan bahagia.Apa kau tak pernah berpikiran sampai ke sana?"
"Kalau ada apa apa seharusnya kita saling berkomunikasi bukan malah semakin jauh terlebih sudah ada Keyra diantara kita! "
deg
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
jaran goyang
𝑛𝑝 𝑘𝑎𝑢 𝑡𝑟𝑚 𝑝𝑟𝑗𝑑ℎ𝑛 𝑡𝑢.... 𝑘𝑙𝑜 𝑢𝑗𝑢𝑔" 𝑛𝑦 𝑘𝑎𝑢 𝑏𝑘𝑛 𝑠𝑘𝑡 ℎ𝑡
2024-05-08
0
Miss Apple 🍎
lanjut
2024-05-06
1