Flora berdebar-debar saat ia tiba di villa keluarga besar Arkana, bersama dengan suaminya yang seharusnya menjadi benteng dan pendukungnya. Namun, harapannya segera pupus ketika mereka disambut dengan dingin oleh mami Arini, sikap angkuhnya dan otoriter yang begitu berpengaruh dalam keluarga tersebut.
Mami Arini, dengan tatapan tajam dan suara yang menusuk, menyambut kedatangan Flora dan Arkana. Namun, daripada memberikan sambutan hangat yang diharapkan, ia memperlakukan Flora dengan kejam, seolah-olah ia hanyalah seorang pembantu yang tak berarti.
"Flora, apa yang kau lakukan di sini?" tanya mami Arini dengan nada yang penuh penolakan, tanpa sedikitpun rasa hormat terhadap posisi Flora sebagai menantu.
Flora terdiam, hatinya tercabik-cabik oleh perlakuan kasar dan tak manusiawi yang ditunjukkan oleh mami Arini. Ia berusaha menjelaskan bahwa mereka datang atas undangan putra tertua keluarga Arkana, tetapi kata-katanya terhenti ketika mami Arini memotongnya dengan tajam.
"Jangan berani-berani berpura-pura menjadi bagian dari keluarga kami! Kau hanyalah seorang gadis biasa, tidak pantas untuk menjadi menantu dari keluarga William!"
Perasaan sakit dan kecewa melanda Flora. Ia merasa dihinakan oleh perlakuan yang merendahkan dari mami Arini, seseorang yang seharusnya menerima kedatangannya dengan hangat sebagai bagian dari keluarga. Namun, semua harapan itu hancur di hadapannya.
Suaminya, meskipun terlihat terkejut, tidak berani menghadapi mami Arini. Flora merasa sendirian dan terluka, tetapi pada saat yang sama, ia merasa semakin kuat. Meskipun perlakuan kasar dan kejam yang ia terima, ia memilih untuk tidak menyerah.
Dengan tekad yang kuat, ia berjanji untuk membuktikan nilai dan martabatnya, bahkan di hadapan perlakuan yang paling kejam sekalipun.
"Kenapa mami memperlakukan aku yang istri sah mas Arka dengan hina tapi justru bersikap baik pada wanita yang menggoda suamiku?"cecar Flora dengan berani.
"Tutup mulutmu!"sentak nyonya Arini.
"Aku tidak akan diam saja mam, aku memang bukan dari kalangan orang kaya seperti kalian tapi bukan berarti aku hanya diam saja!"
"Apa selera menantu kalian adalah seperti Devina, wanita tidak tahu malu dan kegatelan pada suami orang?"sindir Flora.
Mami Arini memandang Flora dengan mata yang memancarkan kemarahan yang tak terbendung. Wajahnya memerah oleh amarah yang menyala-nyala ketika Flora menantang otoritasnya dan merendahkan Devina, calon menantu impian keluarga Arkana.
"Dengar dengan baik, Flora!" desis mami Arini dengan suara yang penuh kebencian. "Aku tidak akan mentolerir sikapmu yang merendahkan Devina. Dia adalah calon menantu yang kami harapkan, bukan seperti dirimu yang hanyalah seorang pembantu yang tak punya tempat di sini!"
Flora menatap balik mami Arini dengan tatapan yang penuh dengan tekad dan keberanian. Meskipun hatinya berdebar kencang, dia tetap tegar dan tak gentar di hadapan kemarahan patriarki keluarga Arkana.
"Maaf, mami Arini," ucap Flora dengan suara yang tenang namun tegas. "Aku tidak bermaksud merendahkan Devina namun itu sebuah fakta. Kini, aku adalah bagian dari keluarga ini sekarang, dan aku akan memperjuangkan tempat aku di sini, tanpa merendahkan siapapun."
Kemarahan mami Arini mencapai puncaknya, seolah-olah api kemarahannya tak bisa dipadamkan. Dengan gerakan cepat, ia menampar Flora dengan keras, membuat Flora terhuyung ke belakang.
"Tidak!" pekiknya dengan suara gemetar oleh kemarahan. "Kau telah melampaui batas! Kau tidak pantas berada di sini!"
Tidak puas dengan tindakannya, mami Arini kemudian mengusir Flora dengan kasar dari kediamannya dan kediaman Arkana.
Dia mengumumkan dengan keras bahwa Flora tidak lagi diizinkan untuk tinggal di sana.
"Kau telah menghina keluarga kami dengan keberanianmu yang tercela!" bentaknya dengan suara yang gemetar oleh amarah.
"Aku tidak akan pernah menerimamu di sini! Dan sebagai tambahan, aku akan mengatur perceraian antara Arkana dan dirimu! Kalian berdua tidak akan pernah bersama lagi!"
Flora merasa dunianya runtuh di hadapannya. Tidak hanya dia diusir dari rumah tempat dia berharap menemukan cinta dan penerimaan, tetapi hubungannya dengan suaminya juga diakhiri dengan begitu tiba-tiba.
Meskipun dia terluka dan hancur, dia masih mempertahankan sedikit keberanian dan kekuatan yang tersisa.
Dengan hati yang berat, dia meninggalkan kediaman keluarga Arkana, kini hatinya tak lagi utuh setelah dihina sang mertua hingga pada puncaknya.
"Tunggu!"
Flora berhenti, kala Nyonya Arini mendekatinya.Wanita paruh baya itu menatap tajam Flora.
"Bawa juga putrimu itu, aku tak menerima keturunan yang kau lahirkan!"
deg
Flora langsung pergi dari kediaman sang mertua dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Flora duduk di tepi tempat tidur mereka, mata memandang kosong ke ruangan yang seakan-akan kacau balau mencerminkan kekacauan perasaannya.
Selama ini, dia telah berjuang mati-matian untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Arkana, berharap bahwa cinta akan tumbuh di antara mereka, terutama setelah mereka memiliki Keyra, anak yang mereka cintai dengan sepenuh hati.
Namun, kebenaran yang pahit telah terungkap: Arkana tidak bisa mencintainya, dan hubungan mereka terasa semakin beracun setiap hari.
Dengan hati yang hancur, Flora bangkit dari tempat duduknya dan menuju lemari. Dia tahu apa yang harus dilakukan sekarang, meskipun itu menandakan akhir dari segala impian dan harapannya. Dengan gerakan gemetar, dia mulai memilih dan membereskan pakaiannya dengan cepat, seolah-olah tindakan fisik ini bisa membantu meredakan rasa sakit yang memenuhi hatinya.
Setelah pakaian-pakaian sudah disusun rapi dalam koper, Flora bergegas keluar dari rumah, mengabaikan panggilan yang hampa dari Arkana yang mungkin sedang tertidur atau sibuk dengan urusannya sendiri. Dia tidak bisa lagi menangguhkan keputusannya. Keyra menunggu di sekolah, dan dia harus menjemputnya sekarang.
Perjalanan ke sekolah terasa seperti dihantui oleh keheningan yang mencekam. Flora memandang sekelilingnya, menyadari betapa jauh perjalanan ini membawa dirinya dari kebahagiaan yang dia harapkan. Namun, dia juga merasa lega, lega karena akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan diri dari toksisitas hubungan yang menyiksanya.
Sesampainya di sekolah, Flora menunggu di pintu gerbang dengan hati yang berdebar kencang. Setiap detik terasa seperti abadi, hingga akhirnya dia melihat wajah cerah Keyra muncul di antara kerumunan anak-anak yang keluar dari pintu sekolah. Senyum kecil di wajah Keyra membuat hati Flora sedikit lebih ringan, mengingatkan bahwa ada cinta sejati di dunianya yang penuh dengan kegelapan.
"Maafkan mommy, sayang," bisik Flora saat Keyra mendekatinya. "Kita harus pergi sekarang."
Keyra menatap mommy-nya dengan pandangan bingung, tetapi Flora hanya tersenyum dan mengelus rambut putrinya dengan lembut. Dia merasa lega, lega karena akhirnya dia mengambil langkah untuk melindungi dirinya sendiri dan putrinya dari keadaan yang merusak. Dengan Keyra di sisinya, dia tahu bahwa mereka berdua akan menemukan jalan menuju kebahagiaan yang sejati, hari.
"Mommy kenapa menangis, siapa yang membuat mommy seperti ini?" tanya Keyra.
"Apa Oma Arini memarahi mommy?"
deg
"Mata mommy kelilipan tadi." elak Flora. Dia membawa putrinya ke dalam pelukan.
"Tidak apa kalau kita pindah mom, lagipula oma selama ini tidak pernah menyapa Keyra atau memeluk Keyra sama seperti oma saat memeluk Serena." ucap Keyra polos.
Flora tentu saja sakit dengan apa yang diucapkan putrinya.Tidak hanya dirinya yang mendapat ketidak adilan namun Keyra juga. wanita itu menciumi pucuk kepala sang anak penuh kasih sayang.
"Ya Tuhan, ternyata selama ini aku egois. "gumam Flora.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
guntur 1609
arkana kau memang biadab. kau perlakuakan isstrinu seprti anjing. dasar keluarga toxic
2024-10-18
0
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
hurrm bila tidak di restui oleh ibu suami memang masalah.. Arkana pula tidak tegas
2024-05-08
1
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
mak lampir sudah di beri cucu masih sombong
2024-05-08
1