Bab 6 Kehampaan

Arkana berdiri di tengah ruangan dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. Tatapan matanya menusuk-nusuk ke dalam ruangan, mencari tahu ke mana Flora dan Keyra pergi. Dia merasakan api kemarahan membakar di dadanya ketika menyadari bahwa Flora telah membawa pergi putri mereka tanpa izin.

"Dia tidak bisa melakukan ini," gumam Arkana, suaranya penuh dengan rasa frustrasi dan amarah. Langkahnya keras ketika dia mulai bergerak menuju pintu, niatnya sudah bulat untuk menemukan Flora dan Keyra.

Namun, sebelum dia bisa keluar dari rumah, Arini, ibu dari Flora, muncul di depannya dengan tatapan tegas.

"Arkana, berhentilah sebentar!" pintanya dengan suara yang tenang namun tegas.

Arkana menatap Arini dengan pandangan penuh dengan kebingungan dan ketidakberdayaan. "Tapi, Keyra ..."

"Keyra aman dengan Flora, dia adalah ibunya," kata Arini, mencoba menenangkan Arkana.

"Lagipula untuk apa kamu memikirkan wanita itu, Arkana!"

Arkana merasa api kemarahannya semakin membara, tetapi dia juga tahu bahwa sang mommy benar. Dia perlu menahan diri, memahami bahwa Flora juga memiliki hak sebagai ibu.

Meskipun hatinya terus berteriak untuk bertindak, Arkana akhirnya mengalah. Dia menghela nafas panjang, mencoba meredakan emosinya yang memuncak. "Baiklah," ucapnya akhirnya dengan suara yang hampir tercekat.

"Aku akan menunggu."

Dia berbalik dan berjalan ke arah jendela, melihat ke luar dengan tatapan kosong. Hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran dan rasa kehilangan, tetapi dia juga tahu bahwa saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu dan berharap bahwa Flora akan membawa Keyra kembali dengan selamat.

"Sudahlah Arka, lupakan mereka. Lagipula mami tak suka kamu memikirkan Flora."

"Apa kau lupa bagaimana kelakuan Flora yang terus menghina Devina?"

"Berkas perceraian kamu dengannya tengah diurus oleh pengacara mami!"

"Ya sudah mami pulang duluan." ujar wanita paruh baya itu.Dia berlalu meninggalkan sang anak diruang tamu.

Arkana memejamkan mata sejenak, dia mulai bangkit dan memilih beranjak dari ruang tamu menuju ke kamarnya di lantai dua.

Arkana melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah yang berat. Dahinya berkerut, matanya menyiratkan kemarahan yang sulit dikendalikan. Dalam keheningan ruangan, suara langkahnya terdengar seperti gema kehampaan yang mengisi hatinya.

Dia menutup pintu kamar mandi dengan kasar, membiarkan kesunyian menghampiri dirinya. Tiba di depan cermin, dia menatap bayangan dirinya yang tercermin di dalamnya. Wajahnya pucat, dengan mata yang menyala oleh api kemarahan yang terpendam.

Tanpa berkata-kata, Arkana melepas satu per satu pakaian yang menutupi tubuhnya. Gerakannya cepat, tanpa ampun, seperti mencoba membuang semua yang menghambatnya merasakan udara segar kebebasan.

Air hangat mengalir dari keran, menciptakan suara gemericik yang menenangkan di dalam ruangan yang terasa terlalu sesak bagi pikirannya yang kacau.

Dia membiarkan air mengalir di atas tubuhnya, mencoba menenangkan diri dari amarah yang membara. Setiap tetes air yang jatuh ke tanah terasa seperti beban yang terangkat dari pundaknya, tetapi masih ada beban yang lebih berat yang menekannya.

Arkana menutup mata, mencoba mengusir bayangan Flora dan Keyra yang terus menghantui pikirannya. Tangannya menggenggam erat sabun, sementara pikirannya berkecamuk mencari jawaban atas kepergian mereka.

Setelah mandi yang panjang, Arkana mengeringkan tubuhnya dengan lembut. Pakaian baru yang segar menggantikan pakaian basah yang dilemparkannya ke sudut kamar mandi. Namun, meskipun tubuhnya telah bersih, hatinya masih kotor oleh rasa marah dan kehilangan.

Dengan langkah yang ragu, Arkana keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju balkon apartemennya.

Udara malam yang sejuk menyambutnya, dan dia membiarkan dirinya terduduk di kursi yang tersedia. Tatapan kosongnya melayang ke langit, mencari kedamaian di antara bintang-bintang yang bersinar gemilang di atas sana.

Namun, dibalik sikap irit bicaranya, kekosongan di dalam dirinya tetap terasa tak terisi.

Dan dalam keheningan malam yang sunyi, Arkana merenungkan masa depan yang suram, di mana bayangan Flora dan Keyra terus menghantuinya, seperti setan yang tak kunjung pergi.

"Wanita itu bagaimana bisa membawa Keyra bersamanya!" geram Arkana.

"Sudah saatnya aku dan Flora mengakhiri pernikahan sialan ini." gumamnya.

Arkan masuk kembali ke kamarnya.Dia memilih duduk diatas ranjang lalu mengambil ponsel.Pria tampan itu berusaha menghubungi sang istri.

"Shit, wanita itu tak bisa 'ku hubungi." gumam Arkana.

Arkana bangun pagi-pagi sekali setelah kepergian Flora. Udara pagi masih segar memenuhi ruangan apartemennya.

Dia duduk di tepi tempat tidurnya, merenung sejenak tentang keadaannya yang kini berubah. Sebuah rasa lega menyelimuti dirinya, meskipun terdapat juga sedikit kekosongan yang dirasakannya.

Dia melangkah ke balkon, menatap langit yang mulai terang. Di sana, dia merasa bebas, bebas dari ketergantungan pada Flora yang begitu lama mengikatnya. Namun, dalam kebebasan itu juga terdapat rasa hampa.

Arkana menyadari bahwa kehadiran Flora, meskipun kadang menyulitkannya, juga memberinya kehangatan dan kehadiran yang penting.

Arkana kemudian memutuskan untuk membuat sarapan. Dia masuk ke dapur, mempersiapkan bahan-bahan dengan hati-hati. Saat memasak, dia teringat akan momen-momen bersama Flora di dapur yang sama. Meskipun ada pertengkaran dan ketegangan, tapi teringat akan perhatian yang diberikan Flora padanya.

Saat menikmati sarapannya sendirian, Arkana merasa hening. Dia menyadari bahwa ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya. Tanpa kehadiran Flora, dia harus belajar menjalani hari-harinya sendiri.

Meskipun ada rasa kesepian yang menghampirinya, tapi juga ada kesempatan untuk menemukan dirinya sendiri, tanpa harus bergantung pada wanita itu.

"Kenapa bayangan Flora tak seger enyah dari pikiranku." gumam Arkana kesal.

"Huh.Sudahlah sebaiknya aku berangkat. "

usai sarapan Arkana beranjak dari ruang tamu dan melenggang ke luar.Dia melajukan roda empat nya dengan kencang menuju ke perusahaan.

perusahaan William Corp.

Erwin, asisten dari Arkana datang menyapanya.Pria itu mengikuti langkah bosnya melewati para karyawan yang menyapa.Keduanya emas menuju lift ekslusif dan masuk.

"Apa jadwal ku hari ini?" tanya Arkana.

"Nanti siang, Tuan Hendri ingin mengajak anda makan siang, Tuan!"jawab Erwin.

"Lalu?"

"Ada meeting lagi sekitar beberapa menit." jawabnya.

ting lift terbuka, keduanya ke luar dan bergegas menuju ke ruangan kerja Arkana.

Ruangan Kerja Arkana

Arkana segera duduk di kursi kebesarannya. dia menghela napas panjang.Entah kenapa kali ini dia merasa hampa dan ada kekosongan dalam dirinya. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada Flora dan Keyra.

"Bukankah ini yang kamu harapkan sejak dulu Arka.Bagaimana bisa kamu justru memikirkan wanita itu."batinnya.

huh

Arkana menatap datar kearah Erwin, asisten sekaligus sekertarisnya.

"Batalkan pertemuan hari ini, kepalaku lagi pusing!"

"Baik Tuan." Erwin segera membungkuk sebentar lalu ke luar dari ruangan sangat bos.

Sepeninggal Erwin, Arkana meregangkan dasi yang melilit di lehernya saat ini.Pria itu memijit pelipisnya yang terasa pusing. dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.

"Kamu di mana Keyra, maafin daddy sayang."gumam Arkana pelan sambil menatap poto putri kecilnya.

"Daddy pasti akan membawa kamu pulang ke rumah."

Arkana berniat akan merebut gak asuh Keyra dari tangan Flora setelah mereka resmi bercerai nanti.Namun dia tak memberitahu perihal rencananya ini pada orang tuanya. Setelah puas memandangi,Arkana menyimpan ponselnya kembali.

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

banci kau memang arkana. istrimu saja gak bisa kau lindungi

2024-10-18

1

jaran goyang

jaran goyang

𝑚𝑜𝑔𝑎 ℎ𝑎𝑘 𝑎𝑠𝑢ℎ 𝑗𝑡ℎ 𝑑𝑖 𝑡𝑔𝑛 𝑓𝑙𝑜

2024-05-08

1

Miss Apple 🍎

Miss Apple 🍎

gak harusnya hak

2024-05-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Istri Tak dianggap
2 Bab 2 Kekecewaan yang terulang
3 Bab 3 Kekasih Arkana
4 Bab 4 Menyerah
5 Bab 5 Kebersamaan Ibu dan Anak
6 Bab 6 Kehampaan
7 Bab 7 Buah Jatuh Tak Jauh dari pohon
8 Bab 8 Teman Baru
9 Bab 9 Pernyataan Kejam Arkana
10 Bab 10 Rasa Syukur Flora
11 Bab 11 Gengsi dan Ego
12 Bab 12 Surat Perceraian
13 Bab 13 Bertemu Rival
14 Bab 14 Pesta Jonathan
15 Bab 15 Istri Sah Vs Selingkuhan
16 Bab 16 Resmi Bercerai
17 Bab 17 Move On Versi Flora
18 Bab 18 Kejutan dari Jonathan
19 Bab 19 Keinginan Keyra
20 Bab 20 Kekesalan Arkana
21 Bab 21 Kecemburuan Arkana
22 Bab 22 Duda Jatuh Cinta
23 Bab 23 Keputusan Besar Arkana
24 Bab 24 Arkana vs Jonathan
25 Bab 25 Flora vs Devina
26 Bab 26 Kelicikan Devina
27 Bab 27 Kegilaan Arkana
28 Bab 28 Pernyataan Cinta
29 Bab 29 Mantan menantu vs mantan Mertua
30 Bab 30 Rencana Flora dan Jonathan
31 Bab 31 Persiapan
32 Bab 32 Keputusasaan Arkana
33 Bab 33 Cincin
34 Bab 34 Bersaing
35 Bab 35 Hanya Penyesalan
36 Bab 36 Rahasia Arkana
37 Bab 37 Video Panas
38 Bab 38 Berpihak pada Flora
39 Bab 39 Felicya & Evan
40 bab 40 Momen Manis
41 Bab 41 Pernikahan Flora & Jonathan
42 Bab 42 Diluar ekspetasi
43 Bab 43 Rencana Honeymoon
44 Bab 44 Menjemput Keyra
45 Bab 45 Benalu Kecil Bagi Devina
46 Bab 46 Kejadian tak terduga
47 Bab 47 Kembalinya Jonathan & Flora
48 Bab 48 Keresahan Flora
49 Bab 49 Rencana Kejutan
50 Bab 50 Kehamilan Flora
51 Bab 51 Perseteruan Felicya dan Brie
52 Bab 52 Berdusta
53 Bab 53 Kemarahan Devina
54 Bab 54 Nasehat Flora
55 Bab 55 Salah paham?
56 Bab 56 Pembuktian
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59 Tak Sesuai Harapan
60 Bab 60 Ulang Tahun Flora
61 Bab 61 Kecemburuan Jonathan
62 Bab 62 Mengembalikan Barang
63 Bab 63 Sebuah Karma
64 Bab 64 Rencana Perceraian
65 Bab 65 Devina dan Felicya
66 Bab 66
67 Bab 67 Kebahagiaan yang Berbeda
68 Bab 68 Nasehat Orang Tua
69 Bab 69 Perceraian
70 Bab 70 Penyesalan Arkana
71 Bab 71 Penolakan Devina
72 Bab 72 Kehangatan Keluarga
73 Bab 73 Pertengkaran Ayah & Anak
74 Bab 74 Berdamai
75 Bab 75 Keputusan Devina
76 Bab 76 Akhir Keputusan Devina
77 Bab 77 Pertunangan Evan dan Felicya
78 Bab 78 Side Story Awal Kehidupan Baru ( Tentang Arkana)
79 Ban 79 Side Story Arkana- Wanita Galak
80 Bab 80 Side Story Arkana Flashback Masa lalu
81 Bab 81 SSA- Pergi Ke Makam
82 Bab 82 SSA- Keputusan Tania
83 Bab 83 SSA-Keluarga Bahagia Jonathan
84 Bab 84 Keputusan Tania
85 Bab 85 Side Story Arkana-Ending
86 Bab 86 Happy Ending
87 Season 2 Part 1 Perjodohan untuk Keyra
88 Bab 88 Season 2 Part 2
89 Bab 89 Season 2 - Kedatangan Acha
90 Bab 90 Season 2 Part 4
91 Bab 91 Season 2 Part 5
92 Bab 92 Season 2 Part 6
93 Bab 93 Season 2 Part 7
94 Bab 94 Season 2 Part 8
95 Bab 95 Season 2 Part 9
96 Bab 96 Season 2 Part 10
97 Bab 97 Season 2 Part 11
98 Bab 98 Seakan 2 Part 12
99 Bab 99 Season 2 Part 13
100 Bab 100 Season 2 Part 14 Mengadu Pada Mama
101 Bab 101 Jebakan Acha
102 Bab 102 Ditahan di kantor polisi
103 Bab 103 Acah Tak Menyerah
104 Bab 104 Keputusan Paling Gila
105 Bab 105 Kekecewaan Keyra
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 Istri Tak dianggap
2
Bab 2 Kekecewaan yang terulang
3
Bab 3 Kekasih Arkana
4
Bab 4 Menyerah
5
Bab 5 Kebersamaan Ibu dan Anak
6
Bab 6 Kehampaan
7
Bab 7 Buah Jatuh Tak Jauh dari pohon
8
Bab 8 Teman Baru
9
Bab 9 Pernyataan Kejam Arkana
10
Bab 10 Rasa Syukur Flora
11
Bab 11 Gengsi dan Ego
12
Bab 12 Surat Perceraian
13
Bab 13 Bertemu Rival
14
Bab 14 Pesta Jonathan
15
Bab 15 Istri Sah Vs Selingkuhan
16
Bab 16 Resmi Bercerai
17
Bab 17 Move On Versi Flora
18
Bab 18 Kejutan dari Jonathan
19
Bab 19 Keinginan Keyra
20
Bab 20 Kekesalan Arkana
21
Bab 21 Kecemburuan Arkana
22
Bab 22 Duda Jatuh Cinta
23
Bab 23 Keputusan Besar Arkana
24
Bab 24 Arkana vs Jonathan
25
Bab 25 Flora vs Devina
26
Bab 26 Kelicikan Devina
27
Bab 27 Kegilaan Arkana
28
Bab 28 Pernyataan Cinta
29
Bab 29 Mantan menantu vs mantan Mertua
30
Bab 30 Rencana Flora dan Jonathan
31
Bab 31 Persiapan
32
Bab 32 Keputusasaan Arkana
33
Bab 33 Cincin
34
Bab 34 Bersaing
35
Bab 35 Hanya Penyesalan
36
Bab 36 Rahasia Arkana
37
Bab 37 Video Panas
38
Bab 38 Berpihak pada Flora
39
Bab 39 Felicya & Evan
40
bab 40 Momen Manis
41
Bab 41 Pernikahan Flora & Jonathan
42
Bab 42 Diluar ekspetasi
43
Bab 43 Rencana Honeymoon
44
Bab 44 Menjemput Keyra
45
Bab 45 Benalu Kecil Bagi Devina
46
Bab 46 Kejadian tak terduga
47
Bab 47 Kembalinya Jonathan & Flora
48
Bab 48 Keresahan Flora
49
Bab 49 Rencana Kejutan
50
Bab 50 Kehamilan Flora
51
Bab 51 Perseteruan Felicya dan Brie
52
Bab 52 Berdusta
53
Bab 53 Kemarahan Devina
54
Bab 54 Nasehat Flora
55
Bab 55 Salah paham?
56
Bab 56 Pembuktian
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59 Tak Sesuai Harapan
60
Bab 60 Ulang Tahun Flora
61
Bab 61 Kecemburuan Jonathan
62
Bab 62 Mengembalikan Barang
63
Bab 63 Sebuah Karma
64
Bab 64 Rencana Perceraian
65
Bab 65 Devina dan Felicya
66
Bab 66
67
Bab 67 Kebahagiaan yang Berbeda
68
Bab 68 Nasehat Orang Tua
69
Bab 69 Perceraian
70
Bab 70 Penyesalan Arkana
71
Bab 71 Penolakan Devina
72
Bab 72 Kehangatan Keluarga
73
Bab 73 Pertengkaran Ayah & Anak
74
Bab 74 Berdamai
75
Bab 75 Keputusan Devina
76
Bab 76 Akhir Keputusan Devina
77
Bab 77 Pertunangan Evan dan Felicya
78
Bab 78 Side Story Awal Kehidupan Baru ( Tentang Arkana)
79
Ban 79 Side Story Arkana- Wanita Galak
80
Bab 80 Side Story Arkana Flashback Masa lalu
81
Bab 81 SSA- Pergi Ke Makam
82
Bab 82 SSA- Keputusan Tania
83
Bab 83 SSA-Keluarga Bahagia Jonathan
84
Bab 84 Keputusan Tania
85
Bab 85 Side Story Arkana-Ending
86
Bab 86 Happy Ending
87
Season 2 Part 1 Perjodohan untuk Keyra
88
Bab 88 Season 2 Part 2
89
Bab 89 Season 2 - Kedatangan Acha
90
Bab 90 Season 2 Part 4
91
Bab 91 Season 2 Part 5
92
Bab 92 Season 2 Part 6
93
Bab 93 Season 2 Part 7
94
Bab 94 Season 2 Part 8
95
Bab 95 Season 2 Part 9
96
Bab 96 Season 2 Part 10
97
Bab 97 Season 2 Part 11
98
Bab 98 Seakan 2 Part 12
99
Bab 99 Season 2 Part 13
100
Bab 100 Season 2 Part 14 Mengadu Pada Mama
101
Bab 101 Jebakan Acha
102
Bab 102 Ditahan di kantor polisi
103
Bab 103 Acah Tak Menyerah
104
Bab 104 Keputusan Paling Gila
105
Bab 105 Kekecewaan Keyra

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!