Arkana berdiri di tengah ruangan dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. Tatapan matanya menusuk-nusuk ke dalam ruangan, mencari tahu ke mana Flora dan Keyra pergi. Dia merasakan api kemarahan membakar di dadanya ketika menyadari bahwa Flora telah membawa pergi putri mereka tanpa izin.
"Dia tidak bisa melakukan ini," gumam Arkana, suaranya penuh dengan rasa frustrasi dan amarah. Langkahnya keras ketika dia mulai bergerak menuju pintu, niatnya sudah bulat untuk menemukan Flora dan Keyra.
Namun, sebelum dia bisa keluar dari rumah, Arini, ibu dari Flora, muncul di depannya dengan tatapan tegas.
"Arkana, berhentilah sebentar!" pintanya dengan suara yang tenang namun tegas.
Arkana menatap Arini dengan pandangan penuh dengan kebingungan dan ketidakberdayaan. "Tapi, Keyra ..."
"Keyra aman dengan Flora, dia adalah ibunya," kata Arini, mencoba menenangkan Arkana.
"Lagipula untuk apa kamu memikirkan wanita itu, Arkana!"
Arkana merasa api kemarahannya semakin membara, tetapi dia juga tahu bahwa sang mommy benar. Dia perlu menahan diri, memahami bahwa Flora juga memiliki hak sebagai ibu.
Meskipun hatinya terus berteriak untuk bertindak, Arkana akhirnya mengalah. Dia menghela nafas panjang, mencoba meredakan emosinya yang memuncak. "Baiklah," ucapnya akhirnya dengan suara yang hampir tercekat.
"Aku akan menunggu."
Dia berbalik dan berjalan ke arah jendela, melihat ke luar dengan tatapan kosong. Hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran dan rasa kehilangan, tetapi dia juga tahu bahwa saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu dan berharap bahwa Flora akan membawa Keyra kembali dengan selamat.
"Sudahlah Arka, lupakan mereka. Lagipula mami tak suka kamu memikirkan Flora."
"Apa kau lupa bagaimana kelakuan Flora yang terus menghina Devina?"
"Berkas perceraian kamu dengannya tengah diurus oleh pengacara mami!"
"Ya sudah mami pulang duluan." ujar wanita paruh baya itu.Dia berlalu meninggalkan sang anak diruang tamu.
Arkana memejamkan mata sejenak, dia mulai bangkit dan memilih beranjak dari ruang tamu menuju ke kamarnya di lantai dua.
Arkana melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah yang berat. Dahinya berkerut, matanya menyiratkan kemarahan yang sulit dikendalikan. Dalam keheningan ruangan, suara langkahnya terdengar seperti gema kehampaan yang mengisi hatinya.
Dia menutup pintu kamar mandi dengan kasar, membiarkan kesunyian menghampiri dirinya. Tiba di depan cermin, dia menatap bayangan dirinya yang tercermin di dalamnya. Wajahnya pucat, dengan mata yang menyala oleh api kemarahan yang terpendam.
Tanpa berkata-kata, Arkana melepas satu per satu pakaian yang menutupi tubuhnya. Gerakannya cepat, tanpa ampun, seperti mencoba membuang semua yang menghambatnya merasakan udara segar kebebasan.
Air hangat mengalir dari keran, menciptakan suara gemericik yang menenangkan di dalam ruangan yang terasa terlalu sesak bagi pikirannya yang kacau.
Dia membiarkan air mengalir di atas tubuhnya, mencoba menenangkan diri dari amarah yang membara. Setiap tetes air yang jatuh ke tanah terasa seperti beban yang terangkat dari pundaknya, tetapi masih ada beban yang lebih berat yang menekannya.
Arkana menutup mata, mencoba mengusir bayangan Flora dan Keyra yang terus menghantui pikirannya. Tangannya menggenggam erat sabun, sementara pikirannya berkecamuk mencari jawaban atas kepergian mereka.
Setelah mandi yang panjang, Arkana mengeringkan tubuhnya dengan lembut. Pakaian baru yang segar menggantikan pakaian basah yang dilemparkannya ke sudut kamar mandi. Namun, meskipun tubuhnya telah bersih, hatinya masih kotor oleh rasa marah dan kehilangan.
Dengan langkah yang ragu, Arkana keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju balkon apartemennya.
Udara malam yang sejuk menyambutnya, dan dia membiarkan dirinya terduduk di kursi yang tersedia. Tatapan kosongnya melayang ke langit, mencari kedamaian di antara bintang-bintang yang bersinar gemilang di atas sana.
Namun, dibalik sikap irit bicaranya, kekosongan di dalam dirinya tetap terasa tak terisi.
Dan dalam keheningan malam yang sunyi, Arkana merenungkan masa depan yang suram, di mana bayangan Flora dan Keyra terus menghantuinya, seperti setan yang tak kunjung pergi.
"Wanita itu bagaimana bisa membawa Keyra bersamanya!" geram Arkana.
"Sudah saatnya aku dan Flora mengakhiri pernikahan sialan ini." gumamnya.
Arkan masuk kembali ke kamarnya.Dia memilih duduk diatas ranjang lalu mengambil ponsel.Pria tampan itu berusaha menghubungi sang istri.
"Shit, wanita itu tak bisa 'ku hubungi." gumam Arkana.
Arkana bangun pagi-pagi sekali setelah kepergian Flora. Udara pagi masih segar memenuhi ruangan apartemennya.
Dia duduk di tepi tempat tidurnya, merenung sejenak tentang keadaannya yang kini berubah. Sebuah rasa lega menyelimuti dirinya, meskipun terdapat juga sedikit kekosongan yang dirasakannya.
Dia melangkah ke balkon, menatap langit yang mulai terang. Di sana, dia merasa bebas, bebas dari ketergantungan pada Flora yang begitu lama mengikatnya. Namun, dalam kebebasan itu juga terdapat rasa hampa.
Arkana menyadari bahwa kehadiran Flora, meskipun kadang menyulitkannya, juga memberinya kehangatan dan kehadiran yang penting.
Arkana kemudian memutuskan untuk membuat sarapan. Dia masuk ke dapur, mempersiapkan bahan-bahan dengan hati-hati. Saat memasak, dia teringat akan momen-momen bersama Flora di dapur yang sama. Meskipun ada pertengkaran dan ketegangan, tapi teringat akan perhatian yang diberikan Flora padanya.
Saat menikmati sarapannya sendirian, Arkana merasa hening. Dia menyadari bahwa ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya. Tanpa kehadiran Flora, dia harus belajar menjalani hari-harinya sendiri.
Meskipun ada rasa kesepian yang menghampirinya, tapi juga ada kesempatan untuk menemukan dirinya sendiri, tanpa harus bergantung pada wanita itu.
"Kenapa bayangan Flora tak seger enyah dari pikiranku." gumam Arkana kesal.
"Huh.Sudahlah sebaiknya aku berangkat. "
usai sarapan Arkana beranjak dari ruang tamu dan melenggang ke luar.Dia melajukan roda empat nya dengan kencang menuju ke perusahaan.
perusahaan William Corp.
Erwin, asisten dari Arkana datang menyapanya.Pria itu mengikuti langkah bosnya melewati para karyawan yang menyapa.Keduanya emas menuju lift ekslusif dan masuk.
"Apa jadwal ku hari ini?" tanya Arkana.
"Nanti siang, Tuan Hendri ingin mengajak anda makan siang, Tuan!"jawab Erwin.
"Lalu?"
"Ada meeting lagi sekitar beberapa menit." jawabnya.
ting lift terbuka, keduanya ke luar dan bergegas menuju ke ruangan kerja Arkana.
Ruangan Kerja Arkana
Arkana segera duduk di kursi kebesarannya. dia menghela napas panjang.Entah kenapa kali ini dia merasa hampa dan ada kekosongan dalam dirinya. Sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada Flora dan Keyra.
"Bukankah ini yang kamu harapkan sejak dulu Arka.Bagaimana bisa kamu justru memikirkan wanita itu."batinnya.
huh
Arkana menatap datar kearah Erwin, asisten sekaligus sekertarisnya.
"Batalkan pertemuan hari ini, kepalaku lagi pusing!"
"Baik Tuan." Erwin segera membungkuk sebentar lalu ke luar dari ruangan sangat bos.
Sepeninggal Erwin, Arkana meregangkan dasi yang melilit di lehernya saat ini.Pria itu memijit pelipisnya yang terasa pusing. dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.
"Kamu di mana Keyra, maafin daddy sayang."gumam Arkana pelan sambil menatap poto putri kecilnya.
"Daddy pasti akan membawa kamu pulang ke rumah."
Arkana berniat akan merebut gak asuh Keyra dari tangan Flora setelah mereka resmi bercerai nanti.Namun dia tak memberitahu perihal rencananya ini pada orang tuanya. Setelah puas memandangi,Arkana menyimpan ponselnya kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
guntur 1609
banci kau memang arkana. istrimu saja gak bisa kau lindungi
2024-10-18
1
jaran goyang
𝑚𝑜𝑔𝑎 ℎ𝑎𝑘 𝑎𝑠𝑢ℎ 𝑗𝑡ℎ 𝑑𝑖 𝑡𝑔𝑛 𝑓𝑙𝑜
2024-05-08
1
Miss Apple 🍎
gak harusnya hak
2024-05-08
0