Diandra masih saja terus meneguk minuman itu yang sudah tidak tahu berapa gelas di habiskannya.
"Aku tidak bisa membiarkan kekasihku unboxing malam ini. Aku juga harus sama sepertinya. Siapa yang bisa menemaniku di atas ranjang yang bisa menghilangkan rasa galau ku," Diandra melihat di sekitarnya dengan matanya yang sipit mencari seseorang yang bisa memuaskannya.
Tiba-tiba mata Diandra melihat kearah pintu masuk dan melihat dengan samar-samar sosok pria tampan yang gagah yang melihat-lihat di sekitarnya.
"Bukannya dia Darren!" lirih Diandra yang melihat sepupu Alvano.
"Itu memang dia. Lalu dia sama siapa. Kemana kekasihnya yang sok kecantikan itu dengan wajah sok manis dan sok polos itu yang diam-diam masih menyukai kekasih orang lain," umpat Diandra yang melihat di dekat Darren dan tidak menemukan siapa-siapa.
"Alvano dan Darren sama-sama tampan dan berkarisma," ucapnya yang tiba-tiba tersenyum. Lalu Diandra yang berdiri dari tempat duduknya
Prang.
Tiba-tiba Diandra bertabrakan dengan seorang pria yang membuat gelas pecah yang mencuri perhatian sebagian orang-orang yang ada di sana.
"Issss kau sudah menumpahkan minumanku!" kesal Diandra setengah sadar yang mendorong pria itu dengan tubuhnya yang juga hampir jatuh.
"Kau menyalahkanku. Hey Nona jelas-jelas kau yang tidak hati-hati," pria paruh baya Itu tampak tidak mau mengalah.
"Kau malah seenaknya menuduhku dasar gendut!" Diandra kembali mendorong pria itu dengan kedua tangannya yang mengeluarkan hinaan sampai menyinggung fisik.
"Kau!" pria itu membalas dengan mendorong Diandra yang tidak terima dengan Diandra dan Diandra hampir saja jatuh dan untung saja ada tubuh tegap yang menahan tubuhnya yang membuat Diandra menoleh ke belakangnya dengan mengangkat kepalanya yang tak lain pria itu adalah Darren.
"Darren!" lirih Diandra dengan matanya yang sayu.
"Ada apa ini?" tanya Darren yang menegakkan tubuh Diandra dan fokus pada pria yang mendorong Diandra.
"Dia seenaknya beberapa kali mendorongku dan padahal dia yang salah, mulutnya juga begitu lantam berbicara kepadaku," jawab pria itu.
"Hey, kau jangan seenaknya menyalahkanku," bantah Diandra.
"Kau memang salah," tegas pria itu.
"Sudah cukup! Dia sedang mabuk. Jadi percuma juga kau berbicara kepadanya," sahut Darren.
"Tidak aku tidak mabuk," sahut Diandra yang merasa baik-buruk saja.
"Tidak ada orang mabuk yang mengatakan dirinya mabuk. Jadi diamlah. Karena kamu memang mabuk," tegas Darren.
"Ahhhhh kau sok tahu," sahut Diandra dengan tersenyum yang benar-benar sudah setengah sadar.
"Tuan, maafkan jika dia sudah mengganggu kenyamanan tuan. Ini di luar prediksi saya. Hal ini tidak akan terjadi lagi, saya mohon untuk memaafkannya," ucap Darren.
"Oke baiklah, awas saja jika aku bertemu lagi dengannya," sahut pria itu dengan singkat dan langsung pergi walau masih kesal pada Diandra.
"Hey mau kemana kau. Kau yang bersalah dan sekarang kau yang pergi. Hey! Kau benar-benar tidak bertanggung jawab!" teriak Diandra dengan emosi.
"Kau ikut dengan ku!" sahut Darren yang langsung merangkul bahu Diandra dan membawanya pergi.
"Hey, aku mau di bawa kemana. Hey apa yang kau lakukan! Kau jangan sembarangan membawaku!" lepaskan aku!" berontak Diandra yang berusaha melepaskan diri dari Darren. Namun Darren membawanya Diandra keluar dari dalam club dan langsung membawa Diandra masuk kedalam mobil.
"Hey kau mau menculik ku!"
"Lepaskan aku!" Diandra terus aja memberontak namun Darren yang tidak mempedulikan apa yang diucapkan Diandra.
Darren yang memakai kan sabuk pengaman untuk Diandra dengan kondisi Diandra yang masih mabuk dan mulutnya yang tidak hentinya merocos.
Tiba-tiba saja Diandra mengalungkan tangannya di leher Darren menarik Darren sehingga lebih dekat dengan wajahnya dan mata keduanya saling menatap dengan tatapan mata Diandra yang sayu.
"Aku lihat-lihat, kau tampan juga," ucap Diandra dengan tersenyum.
"Kau mabuk seperti ini. Apa karena kekasihmu menikah?" tanya Darren seolah mengetahui sesuatu antara Diandra dan Alvano.
"Kekasih yang mana?" tanya Diandra dengan tersenyum.
"Aku tidak bodoh dan semua orang juga. Jika kau mempunyai hubungan spesial dengan Alvano dan Alvano yang sudah menikah. Artinya ada sesuatu dengan pernikahan mereka. Jadi apa kesedihan dari sorot mata mu ini. Karena hal itu?" tanya Darren dengan menyunggingkan senyumnya.
Diandra langsung mendorong tubuh Darren menjauh darinya.
"Jadi kau hanya ingin mengintrogasi ku saja iya. Apa yang ingin kau ketahui dariku hah! Kau pikir aku akan memberitahu sesuatu! Kau jangan sok tahu jadi seorang pria dan kau juga tidak akan mendapatkannya apa-apa dariku," tegas Diandra yang tersenyum miring. Sementara Darren sudah berdiri di luar dengan melihat tingkah Diandra yang memejamkan matanya.
"Memang tidak mudah mendapatkan informasi dari mu. Tapi aku akan mendapatkannya dan aku bukan pria yang bodoh," batin Darren yang menghela nafas.
**********
Pagi hari kembali tiba. Alvano yang memasuki kamar dan melihat Kyarra yang masih tertidur pulas.
Hahh!
Alvano sampai membuang nafas kasar melihat Kyarra yang bangkong padahal sudah sangat siang.
"Apa dia sudah tidak ingat pagi dan sampai sekarang masih tidur. Apa ini pertama kali baginya tidur di tempat seperti ini. Makanya tidak bangun-bangun," umpat Darren dengan emosi tingkat dewa yang berkacak pinggang melihat istrinya itu.
"Hey bangun!"
"Apa kau tidak mendengarku!"
"Bangunlah heh!"
Darren membangunkan Kyarra dengan sangat kasar.
"Aisss!" Darren dengan kesal mengambil bantal dan melemparnya pada Kyarra yang membuat Kayra mengkerutkan dahinya dengan matanya yang berkedip.
"Hhhhhhh!" suara lirihan Kyarra terdengar yang masih sangat ngantuk.
"Bangun heh!" tegas Alvano.
"Apa sih heh, heh, aku itu punya nama," sahut Kyarra dengan kesal yang memijat kepalanya yang terasa berat.
"Malah protes lagi. Apa kau tidak sadarnya sudah siang dan kau malah seenaknya tidur seperti mayat hidup," oceh Alvano.
"Aku juga baru tidur. Tadi malam perutku sakit, jadi aku tidak tidur dan baru tidur sekarang," jawab Kyarra yang mencoba duduk dan juga tidak mau kalah marah-marah.
"Apa katamu baru tidur," sahut Alvano.
"Iya aku baru tidur," tegas Kyarra.
"Jangan alasan. Kau sejak tadi malam selalu mencari masalah dan membuatku marah dan sekarang berbohong," kesal Alvano.
"Siapa yang membuatmu marah. Kau yang mencari masalah!" tegas Kyarra dengan emosi.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu sekarang kau bangkit mandi dan ikut denganku," tegas Alvano.
"Bangkit- bangkit memang aku mayat apa. Bangkit dari kubur," desis Kyarra.
"Apa ada yang menyuruhmu menjawab?" sahut Alvano. Kyarra langsung diam.
"Memang kita mau kemana?" tanya Kyarra.
"Aku tidak harus memberitahu mu. Sekarang cepat mandi dan jangan banyak tanya!" tegas Alvano.
"Iya-iya!" kesal Kyarra.
"Dia pasti sudah merasa sebagai Nyonya sekarang. Bangun seenaknya dan selalu saja melawan. Diandra memang membawa wanita yang salah yang membuatku darah tinggi setiap hari dan ini akan sampai 1 tahun," kesal Alvano yang harus sabar-sabar dengan Kyarra.
"Kenapa mulutnya seperti wanita. Laki-laki yang tidak di berikan jatah memang seperti itu. Memuakkan! Padahal aku bukan tidak menepati janji. Tetapi aku memang datang bulan," umpat Kyarra yang juga bergerutu sepanjang perjalanan ke kamar mandi.
Alvano tadi malam memang tidak tidur di kamar mereka dan tidak tahu di mana. Kyarra tidak peduli. Dia hanya mengurus perutnya yang sakit.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments