"Benar sekali Alvano. Darren sudah kembali dari Amerika dan Darren akan menetap di Indonesia yang akan membantu kamu untuk mengembangkan Perusahaan," ucap Eyang. Mata Alvano terbelalak kaget mendengar pernyataan Eyang yang membuatnya shock.
"Maaf Eyang. Tapi aku rasa itu tidak perlu. Karena selama ini aku yang menangani Perusahaan sendiri dan tidak perlu ada yang membantu. Apa lagi dia baru kembali dari Luar Negri dan tidak tahu apa-apa tentang Perusahaan," ucap Alvano yang berterus terang berbicara sangat pedas.
"Kamu meragukan ku Alvano," sahut Darren.
"Aku hanya mengatakan apa yang ingin yang sebenarnya. Kau tidak perlu ikut membantuku. Aku bisa melakukannya sendiri," tegas Alvano.
"Alvano. Tetapi bagaimana pun Darren akan tetap ikut andil dalam Perusahan," tegas Eyang yang memutuskan secara sepihak.
"Kenapa Eyang. Bukannya aku sudah mengatakan. Jika aku tidak membutuhkan siapa-siapa untuk membantuku. Dan dia pasti tidak tahu apa-apa dan hanya akan menyusahkan saja," tegas Alvano yang tetap tidak setuju.
"Jika tidak tahu apa-apa. Kamu punya kewajiban untuk mengajarinya. Tetapi Eyang rasa kamu tidak perlu mengajarinya. Karena Darren juga punya pengalaman bisnis yang sangat bagus," jawab Eyang.
"Tapi dia tidak harus berada di Perusahaan ku," tegas Alvano dengan menekankan.
"Apa maksud kamu dengan Perusahaan kamu Alvano?" tanya Eyang dengan alisnya terangkat.
"Alvano Perusahaan itu masih atas nama Eyang dan belum di alihkan kepada kamu atau juga Darren," tegas Eyang.
"Apa maksud Eyang membawa nama Darren dalam peralihan Perusahaan?" Alvano bertanya kembali.
"Kalian berdua adalah cucuku dan mempunyai kemampuan masing-masing. Perusahaan utama akan jatuh ketangan salah satu di antara kalian berdua. Jika salah satu dari kalian sudah memiliki keturunan," tegas Eyang yang membuat Alvano kaget.
"Apa maksud Eyang?" tanya Alvano dengan nafasnya hampir putus.
"Eyang tidak harus mengulangi kembali," sahut Eyang besar.
"Tidak Eyang. Apa-apaan itu. Apa itu artinya Eyang menyuruhku mempunyai anak, baru Perusahaan menjadi hak milikku dan itu sangat tidak mungkin!" tegas Alvano yang merasa apa yang di katakan sang Eyang tidak masuk akal.
"Jika kamu merasa tidak mungkin. Mungkin tidak dengan Darren yang mungkin sudah siap untuk memiliki keturunan dan Eyang tidak pernah memaksa kamu harus melakukannya," tegas Eyang membuat Alvano kaget dan melihat ke arah Darren.
"Eyang saya belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat. Tetapi saya pasti ada tujuan kearah sana. Tetapi saya tidak tahu kapan," sahut Darren berpendapat.
"Intinya Eyang tidak pernah memaksa kalian berdua. Siapapun yang memiliki keturunan. Maka dialah yang mendapatkan Perusahaan utama," tegas Eyang penuh dengan penekanan.
"Sangat tidak masuk akal. Ini semua karena kehadirannya kembali," umpat Alvano dengan emosi.
********
Alvano yang menyetir mobil dengan kecepatan tinggi dengan wajahnya yang kelihatan sangat marah. Rahang kokoh yang mengeras dengan aura dingin yang semakin terpancar di wajahnya.
"Arggg!" umpat Alvano memukul stir mobil.
"Apa-apaan Eyang. Aku selama ini yang mengembangkan Perusahaan dan sekarang Darren muncul dan memberikan syarat yang tidak masuk akal untuk kepemilikan Perusahaan. Benar-benar sangat tidak bisa di terima," Alvano yang marah-marah penuh dengan emosi atas apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Aku tidak akan membiarkan Darren menguasai Perusahaan. Aku yang mati-matian selama ini," batin Alvano yang langsung mengambil ponselnya dan Alvano yang menelepon kekasihnya.
"Kemana Diandra. Kenapa dia tidak mengangkat teleponku," umpat Alvano yang semakin kesal dengan kekasihnya yang tidak tahu di mana keberadaannya yang tidak mengangkat panggilannya sama sekali. Padahal Darren membutuhkan dirinya untuk saat seperti ini.
Alvano yang terus menghubungi Diandra sang kekasih.
Ponsel Diandra yang berdering di atas nakas yang berada di dalam kamar yang terdengar suara desahan.
Diandra yang tanpa busana yang sekarang bersama dengan Gilbert yang berada di atas ranjang.Yang mana Gilbert yang berada di bawahnya yang menjilati liang surga kenikmatan dengan sangat lihai yang membuat Diandra terus mendesah dengan meremas seprai.
"Kamu nikmat sekali sayang!" puji Gilbert yang mengangkat kepalanya dan melihat wajah Diandra yang memejamkan matanya dengan mengigit bawah bibirnya.
"Kamu sangat pintar bermain, aku juga menikmatinya," sahut Diandra.
"Ahhhhhhh!"
Sampai Gilbert yang akhirnya memasukkan senjatanya kedalam liang Diandra dan memompa Diandra dengan tempo cepat yang semakin membuat Diandra kenikmatan dengan suara desahan yang semakin kuat yang membuat Gilbert semakin semangat.
"Aahhh! Sayang!"
"Ahhhhhhh!"
Suara desahan itu semakin membuat Gilbert semakin semangat dan Gilbert yang terus memompa Diandra. Permainan ranjang keduanya yang sama-sama panas. Tidak tahu sudah berapa lama Diandra dan Gilbert yang berhubungan intim yang sekarang posisinya sudah berbeda. Diandra sudah berada di atas tubuh Gilbert yang bergantian memberikan kepuasan.
Sepertinya hal ini bukan sekali di lakukan Diandra dan mungkin saja Diandra sering melakukannya terlihat dari caranya yang sudah tidak kaku dan seperti banyak pengalaman masalah ranjang.
Apalagi Gilbert. Pria kaya dan sudah berumur. Jadi jangan di tanya. Pengalamannya masalah ranjang sudah sangat biasa dan makanya Diandra terbawa suasana.
"Sayang apa aku bisa menjadi model di Amerika nanti?" tanya Diandra yang berada di atas tubuh Gilbert yang menggoyangkan pinggulnya.
"Hal itu sangat mudah sayang. Kamu bisa menjadi model terkenal dan bahkan menjadi model Internasional yang setara dengan model-model Internasional lainnya," jawab Gilbert yang memegang pinggang Diandra yang memberi janji manis kepada Diandra.
Diandra tersenyum dan semakin memberikannya pelayanan yang terbaik untuk pria yang baru dikenalnya tadi siang. Permainan ranjang di antara keduanya semakin memanas dengan gaya yang berbeda-beda dan mengabaikan bunyi telpon yang tidak berhenti berdering sejak tadi.
**********
Masih di Apartemen Diandra dan sudah jam 2 pagi. Diandra yang baru keluar dari kamar mandi yang menggunakan bathrobe putih. Kamarnya masih berantakan bekas percintaan dia dan juga Gilbert. Namun Gilbert sudah tidak ada lagi di kamarnya dan mungkin saja Gilbert yang sudah pulang.
Diandra menuju nakas dan menuang alkohol sedikit.
"Ternyata dia sangat kaya raya dan baru saja mengenalku tadi siang sudah memberikanku kalung berlian dan tadi dia juga memberikan ku kartu kreditnya. Huhhhh sepertinya dia lebih royal daripada Alvano," gumam Diandra yang hendak minum.
Tinnong.
Belum sempat Diandra minum. Pintu Apartemennya sudah berbunyi yang membuatnya bingung.
"Siapa yang datang malam-malam seperti ini. Oh jangan-jangan tuan Gilbert kembali datang menemuiku dan mungkin saja masih ada yang ingin diberikannya. Sebaiknya aku cepat-cepat membuka pintu," ucap Diandra yang langsung buru-buru keluar dari kamarnya dan juga langsung buru-buru membuka.
"Tu...."
Diandra tidak melanjutkan kalimatnya dan malah kaget melihat yang bertamu ke rumahnya adalah kekasihnya Alvano dan Alvano.
"S_sayang," sahut Diandra dengan kesulitan menelan salivanya yang tampak terkejut.
"Kamu ngapain da.....mpt!" belum sempat Diandra berbicara panjang lebar Alvano langsung membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman dan mendorong Diandra masuk kedalam Apartemen dan Alvano menutup pintu dengan menggunakan kakinya.
Diandra tidak tahu setan apa yang merasuki kekasihnya itu sampai-sampai Alvano yang menyosornya begitu saja yang membuatnya tidak siap menghadapi ciuman brutal dari Alvano.
Bahkan Diandra sampai mundur-mundur dan akhirnya terjatuh di sofa dan Alvano juga ikut akhirnya jatuh di atas tubuh Diandra dan semakin menciumi Diandra dengan berutal.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
pena_sf:)
iw jijik
2024-09-28
0