Sore itu terpaksa Anin menggunakan Taxi, Karena suaminya tidak bisa menjemput. Masih banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggal katanya.
Dan ketika Anin terjaga dari kantuknya, pukul sebelas malam Bima belum juga sampai di rumah.
Padahal sengaja Anin memasak sendiri dan mengungsikan mbok Jum untuk sementara waktu di rumah lama Bima. Berharap akan ada malam romantis pada acara makan malam itu. Namun hingga sayurnya dingin dan lilin yang Anin nyalakan habis Bima tak juga pulang. Lelah menunggu sampai-sampai tak sadar kapan Anin tertidur dalam posisi duduknya.
Pintu apartemen terbuka ketika Anin baru saja akan melangkahkan kakinya ke kamar tidur.
"Sorry, telat. Ada meeting dadakan dengan owner." Terang Bima ketika menemukan istrinya sedang berdiri di antara sofa tamu menyambutnya.
Bima mencium kening istrinya sebentar lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Anin yang masih mematung. Hingga akhirnya Anin tersadar dan menyusul suaminya. Yang tercium aroma pekat tembakau dan – Mungkin – alkohol.
Anin hendak membantu melepas kemeja suaminya namun ditolak mentah-mentah oleh Bima.
"Saya bisa sendiri," ucapnya dingin. "Kamu kenapa belum tidur?"
"Aku nunggu kamu pulang, hari ini Aku masak." Ada nada getir dalam ucapan Anin.
"Oh. Sorry! saya sudah makan tadi, di kantor. Lain kali tidak usah repot-repot memasak dan menungguku sampai selarut ini."
Mendadak Anin merasakan sakit yang teramat sangat. Sakit pada bagian dadanya, sakit hatinya seperti ditikam pisau bedah mendengar kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut orang yang dicintainya. Sorry! Dan hanya kata Sorry!! Segampang itu.
"Okey, akan ku gunakan seluruh daya ingatku untuk mengingat pesan kamu itu," jawab Anin dengan nada sarkastik dan ketegaran yang dipaksakan tentunya.
"Baguslah!" Bima melangkah menuju ruang sebelah.
Anin pun memilih untuk –memaksakan dirinya- tidur. Semoga malam ini segera berlalu.
Bima melongok lagi pada istrinya, itupun setelah Ia yakin kalau istrinya sudah tertidur dan memastikan istrinya menggunakan selimut.
“Tolong jangan benci padaku,” Bima membelai pipi dan mengecup kening istrinya.
Bahkan dalam –kepura-puraan- tidurnya Anin dapat merasakan belaian suaminya. dan dengan sekuat tenaga menahan air mata..
Akan aku usahakan, Mas. Semampuku bertahan dan tolong jangan acuhkan aku seperti ini.
Beberapa jam sebelumnya….
Sore itu Bima sudah keluar dari ruang kerjanya. Karena memang tidak ada kegiatan lagi setelah pukul lima sore. Tidak ada meeting, tidak ada janji apapun dengan Owner.
Namun Dia tidak buru-buru pulang ke rumah ataupun memenuhi permintaan istrinya untuk menjemputnya pulang. Bima tak sampai hati bertatap muka dengan istrinya dan takut akan mengasarinya, baik ucapan maupun perbuatan, seperti pagi tadi. Ingin rasanya ia memeluk dan memohon maaf atas kesalahannya saat itu juga. Namun ego mengalahkan segalanya. Dan ternyata tidak cukup kuat rasa cintanya melawan keegoisan dirinya.
Dan disinilah sekarang, Bima menghabiskan sebagian waktunya di salah satu tempat hiburan malam di daerah Jakarta Pusat. Setelah merasa bosan, kemudian dia berpindah pada sebuah kamar hotel yang juga berada tak jauh dari tempatnya, dengan wanita yang sengaja ia sewa tentunya.
Bukan tanpa alasan, Bima membayar seorang wanita, semata-mata hanya untuk memastikan reaksi bos kecilnya. Namun se sexi apapun wanita tersebut menggodanya, secantik apapun wanita yang ia sewa, tak mampu juga membuat bos kecilnya bereaksi. Nampaknya ia tertidur sangat nyenyak. Dan bukan sekali dua kali Bima melakukan hal tersebut, namun sudah beberapa kali dan semuanya berakhir sama. Wanita bayarannya hanya dijadikan pelampiasan emosi dengan mengasari wanita-wanita tersebut.
***
Keesokan harinya.
Anin menyempatkan menghubungi sekretaris di kantor suaminya, untuk menanyakan perihal meeting yang sampai larut malam.
"Oh, begitu, jadi memang tidak ada jadwal Meeting ya mbak ya. Oke deh, terima kasih. Oh iya, kalau besok-besok Bapak ada jadwal sampai larut, tolong kabarin ke rumah juga ya Mbak, ya…."
"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa, hanya saja, saya khawatir, karena bapak sedikit pelupa. Oke, terimakasih Mbak Anggun. Selamat pagi." Anin mengakhiri obrolannya.
Dan Anin meyakini suaminya menemui wanita itu lagi.
***
Sore harinya, Bima sampai rumah lebih dulu daripada Anin, dan dia mengetahui dari sekretarisnya perihal Anin menelpon ke kantor dan menanyakan keberadaannya.
Bima Begitu murka pada Anin. Dia merasa dipermalukan oleh istrinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya dalam rumah tangganya terjadi pertengkaran hebat. Walaupun tidak sampai pada kekerasan fisik, namun hal itu membuat Anin histeris ketika ponselnya dilempar ke dinding dan mengenai tivi plasma yang tergantung di sana. Ponsel menjadi beberapa keping dan tivi nya retak-retak namun masih kokoh bertengger pada kaitannya.
"Mas! Aku hanya khawatir, nggak ada maksud menguntitmu," ucap Anin setengah ketakutan.
"Kamu pikir, pantas mencurigai suamimu sendiri, Hah!!!" bentak Bima.
"Aku, aku hanya ingin memastikan, bahwa aku ini sedang tidak dibohongi." ucap Anin dalam isak tangisnya yang tertahan. "Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya."
Bima merampas ponsel dalam genggaman Anin dan mengangkatnya ke udara. "...kamu pikir, saya tidak tahu, apa yang kamu lakukan dengan benda ini!" Teriak Bima emosi. "Jangan kira saya tidak tahu kelakuanmu!" tambahnya.
"Apa maksudmu!" Anin tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.
Fungsi reflek Anin bekerja secepat tangan Bima yang bergerak meraih sesuatu di atas meja. Anin memejamkan mata dan melindungi kepalanya.
Bruaakk!!!!
“Stop!” Teriakan Anin keluar hampir bersamaan dengan suara benda beradu. Suara nyaring itu hanya mampu ia dengar, namun tak mampu Anin lihat.
Hening.
Beberapa detik kemudian terdengar derap langkah kaki yang kasar dan suara pintu dibanting.
Setelah tidak di dengarnya lagi derap langkah kaki suaminya, Anin membuka matanya.
Pertama-tama Anin mengira asbak-lah yang dilempar suaminya. Namun ternyata ponselnya yang beradu dengan tivi plasma.
Anin mulai memunguti kepingan telepon genggamnya dengan air mata yang turun tanpa diminta.
***
Pukul setengah enam pagi Anin terjaga entah berapa butir obat tidur yang dia minum hingga akhirnya dia mampu memejamkan matanya. Dan hingga pagi, suaminya tidak juga kembali.
“Pergi kemana dia? Haruskah aku telpon ke kantornya–lagi?” Anin bergidik ngeri membayangkan kejadian kemarin, dia pun buru-buru mengenyahkan ide untuk menelpon kantor suaminya apalagi mendatangi kantornya. Cari mati saja pikirnya!
Dengan terpaksa nya lagi, hari ini Anin berangkat dengan menggunakan Taxi. Rupanya Bima pergi dengan mobil merahnya dan meninggalkan kunci sedan tergeletak di atas meja kerjanya serta kunci CRV yang entah dimana keberadaanya.
“Mungkin mas Bim butuh waktu untuk menenangkan diri,” Pikir Anin. “Dan aku pun harus segera mencari ponsel baru.”
"Sial!! jadwal konseling pasien ada di HP itu." Anin mendengus kesal.
Anin terkejut bukan main ketika akan berangkat kerja mendapati suaminya tergeletak tak bergerak –entah tidur entah mati- diatas sofa. Belum hilang ke terkejutnya, ketika Anin dibuat hampir mati berdiri, mendapati seorang wanita cantik, rapi dengan rambut pirangnya tengah berdiri di dalam dapurnya. Anin menilai wanita itu dari atas ke bawah sebelum kedua matanya bertemu tatap dengan wanita itu.
"Oh, Hai.." sapa wanita itu santai.
Nyonya rumah berkerut heran dalam posisinya. Anin mengingat-ingat wanita itu siapa, barangkali dia salah satu tamu undangan dalam pesta pernikahannya dulu. Dan ingatannya tidak berhasil mendapatkan jawaban apapun.
Cukup lama wanita itu menunggu nyonya rumah menjawab sapaanya. Lalu wanita itu memutuskan untuk memperkenalkan dirinya.
Jangan sampai salah paham.
"Maaf sebelumnya, Kalau saya lancang. Saya Laura. dan saya kesini diantar oleh security, untuk mengantarkan Mas ini –yang katanya juga- Suami Mbak. Beliau sepertinya mabuk berat sampai tertabrak mobil saya." Terangnya. "Dan saya disuruh menunggu di sini oleh nenek yang ta--! kemana beliau pergi ya?" Tanya Laura bingung.
"Nenek? Tertabrak mobil?!!" Anin mengulang kalimat yang baru saja didengarnya, seolah ada yang salah dalam kalimat itu.
"Iya, Nenek–nenek yang disini, tadi. Dan Pak Bima tertabrak -menabrakan dirinya- lebih tepatnya pada mobil saya di lobby basement. Beruntung pak satpam mengenalnya. Saya khawatir terjadi apa–apa, dan saya juga tidak mau dituduh melarikan diri. Maka dari itu, saya kesini. Menemui anda, begitu." Laura menyelesaikan kalimatnya tanpa hambatan.
Mungkin yang dia maksud itu mbok Jum. Lalu kemana nenek satu itu, masa meninggalkan tamu begitu saja. "Oh...Begitu..." Anin menggaruk-garuk pelipis kepalanya yang tak gatal. Hampir saja, salah paham pada wanita sebaik dia. Bikin malu saja!
"Dan\, Kalau boleh _____" Laura melirik jam tangannya. "Karena saya sedikit buru-buru." Wanita itu mengeluarkan semacam kartu dan memberikan pada Anin. "Ini alamat kantor saya\, saya juga tinggal di apartemen ini. Di Tower Mahoni. Jadi kalau Mbak butuh apa-apa\, bisa hubungi saya\, sebagai bentuk tanggung jawab saya." Terangnya gamblang.
Anin menerima kartu itu. Owh, lawyer. pantes lancar ngomongnya. "Oh iya, nggak apa-apa, silahkan. Pasti anda sangat terburu-buru. Mohon maaf juga atas kecerobohan suami saya."
Dan hanya di balas senyuman hangat oleh Laura.
Anin Pun mengantarkan tamunya ke depan pintu rumahnya. keduanya pun sempat berjabat tangan sebelum berpisah.
Ketika Anin kembali, suaminya sedang meracau tidak jelas. Lalu kemudian tertidur lagi. Sia-sia juga Anin berusaha membangunkan suaminya.
Badan segede kingkong, tidur udah kayak mayat saja. Berapa banyak yang kamu minum, Mas?!
Anin membuka kemeja suaminya, bermaksud untuk membersihkan tubuhnya lalu menukar bajunya dengan kaos yang dia ambil dari lemarinya.
Baru saja sampai pada kancing ketiga, mendadak Anin menghentikan kegiatannya ketika dia mendapati tubuh suaminya penuh dengan tato merah dengan motif yang sangat dikenalnya.
Dengan kasar Anin melempar kaos yang dibawanya ke tubuh suaminya. Persetan kau mas! kenapa nggak mati saja sekalian!
Anin pergi meninggalkan suaminya begitu saja setelah sebelumnya mengambil kunci mobil sedan yang tergeletak di atas meja.
Sepanjang perjalanan, air matanya tak juga mau berhenti. Anin pun sampai heran, kenapa nggak habis-habis air matanya. Dan bagaimana menghadapi pasien–pasiennya? Dengan muka sembab dan mata bengkak??
Pandangan matanya terasa semakin kabur, ketika Anin memutuskan untuk menepikan mobilnya. Air matanya menghalangi pandangannya.
"Please help me Tuhan....tolong katakan ini hanya mimpi." Ucapnya dengan memukul-mukul kemudi mobil yang tak tahu apa-apa itu. Tangisnya pun pecah seketika.
Setelah merasa sedikit tenang. Anin menstater kembali mobilnya.
Dan melanjutkan perjalannya.
"Saya butuh sesuatu yang menyegarkan." gumamnya pada diri sendiri.
Dan inilah salah satu kesulitan yang dirasakan oleh seorang dokter. Ketika sedang dalam masalah apapun, seberat apapun, di depan pasien kita harus menjadi seseorang yang dapat memberi solusi untuk pasiennya. Memberi penawar bagi kesakitan pasiennya. Serta memasang senyum yang paling manis serta sikap yang ramah. Dan tentu saja harus fokus dan berkonsentrasi penuh. Nggak lucu kalau sampai salah tulis resep.
Karena –sebagian- pasien tidak mau tahu –tidak peduli– apa kesusahan yang sedang dialami dokternya.
***
Jangan lupa tinggalin komen ya....
noveltoon
bellacandra
anin
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Din Ga
sabar ya Anin...
2021-04-05
1