Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!

"Boleh saya tanya sesuatu?"

"Tidakkah kau merasa membuang-buang waktu dengan menanyakan sesuatu padaku?" Anindira memiringkan wajahnya, menghindari bertemu mata suaminya.

"Kamu benar, bicara memang buang-buang waktu."

Bima tersenyum-senyum sendiri memandangi tubuh istrinya yang tergolek di atas tempat tidurnya.

Namun seindah apapun tubuh polos Anin, Bima belum cukup gila untuk membiarkan tubuh gadis itu berlama-lama terkena dinginnya hembusan AC dan ia segera menarik selimut untuk menutupi Anin.

Apa - apaan ini!!!

Bima menunduk dan melirik istrinya, kemudian mendaratkan bibirnya pada kening Anin itu. "Lekas berpakaian. Mall tutup jam sebelas." Bima berputar membelakangi tubuh Anin

"..............."

Bima berputar kembali menatap Anin dengan senyuman mautnya. "Lain kali kamu juga harus ingat, kesabaranku juga ada batasnya. Jangan kau goda terus-terusan atau kalau memang kamu tidak keberatan pada acara wisuda nanti hadir dengan perut buncit."

Sialan! "Kamu mempermainkanku?!!!"

"...jadi kamu berharap saya melanjutkannya?" Bima memandangi Anin dengan senyum tertahan. Percayalah Nin, saya juga ingin kita melanjutkannya. "Saya harap kamu tidak marah lagi padaku."

Anin menggeleng-nggeleng sekali lagi lalu berjalan menghampiri Bima. Gadis itu memeluk tubuh Bima secara tiba-tiba dan mencium bibirnya, kedua tangannya memegangi ujung celana Bima dan ciumannya berubah liar.

Bima mengerjap susah payah antara berniat mempertahankan dirinya atau siap membalas pelukan Anin dan memintanya untuk menyerahkan diri.

Peduli setan! Kamu yang minta ini, maka saya akan mewujudkannya, dan akan kubuktikan bahwa saya juga bisa membuatmu melupakan Abi atau entah siapa namanya, bahkan kalau perlu sampai kamu melupakan namamu sendiri.

Akhirnya Bima menyerah pada hasratnya, pada pertahanannya.

Bima membalas ciuman istrinya tak kalah panas. Memagut bibir gadis itu yang terasa selembut kapas dan beraroma pasta gigi.

Tangannya mulai menjamah setiap inci bagian tubuh wanita itu, bergerak meraba, mengelus, meremas.

Anin melenguh ketika lelaki itu meremas pelan area sensitifnya. Lenguhan yang terdengar oleh Bima seperti mantra yang sangat memabukkan.

Namun tiba-tiba Anin menghentikan tautan bibir mereka dan mendorong dada suaminya dengan tegas.

"Aku cuma perlu pakaianku." Anin melangkah tegas menuju walk in closet meninggalkan suaminya yang masih mematung karena kaget.

" ........" sialan gue dikerjain.

Setengah jam kemudian, gadis itu sudah berpakaian lengkap -memakai t-shirt dan celana sweatpants nya- dari ekspresi wajah serta gerakannya, Anin sama sekali tidak terlihat marah. Ia justru terlihat seperti anak ABG yang sadar dirinya telah terlambat mengikuti upacara bendera. Menggemaskan.

Kalau sudah begitu bagaimana saya bisa marah padanya. "Buruan Anin!"

"Iya tahu, Mall tutup jam sebelas kan?"

 

 

***

 

 

"Pagi Mas," sapa Anin dengan ekstra senyum manis mengembang di wajahnya.

"Pagi." Jawab Bima singkat dan padat.

"Udah aku buatin roti bakar plus Aku bikinin teh manis. Yuk sarapan." Dengan antusias Anin menggandeng lengan Bima menuju tempat makan.

"......"

Bima mengerutkan kening ketika melihat apa yang tersaji diatas meja makan. Buset deh, udah kayak mau kasih makan orang sekampung ini sih.

"Kata Mbok Jum, kamu nggak ngopi. Jadi aku buatin teh...." ucap Anin ragu-ragu yang mengira suaminya heran karena ada teh di meja.

Tak lama Bima mengambil salah satu roti bakar di meja itu dan mulai memakannya, dilanjutkan dengan menyesap teh yang terlalu manis itu.

"Enak?"

"Lumayan."

Hanya lumayan?!! Kau tidak tahu, seberapa banyak waktu yang sudah aku habiskan di dapur, agar supaya bisa membuatnya dengan isian yang berbeda-beda. Karena aku tidak tahu seleramu dan kamu cuma makan satu. Dan itu hanya lumayan!

"Kenapa belum siap?" Bareng nggak?" tanya Bima sambil menyeka mulutnya dengan tissue.

"Nggak. Berangkat sendiri aja."

"Naik apa?"

"Angkot, Taxi, apa saja." ucapnya cuek.

"Enggak, nggak..." putaran bola mata Bima tertangkap juga oleh sudut mata Anin.

"Kenapa?" Jawab Anin acuh.

"Kamu yang kenapa? Tiba-tiba ketus. Bertingkah kekanak-kanakan."

"Mas tanya aku kenapa?"

"Iya, kamu kenapa?"

"Kenapa nggak kamu gunakan saja sebagian otak encermu itu buat cari jawabannya."

"Please Anin, jawab saja kenapa, ada apa? Jangan main tebak-tebakan. Dan ini masih pagi."

"Siapa bilang ini malam!"

"Stop! cukup. Saya nggak tahu kamu kenapa dan tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini. Kalau masalahnya karena kendaran kamu boleh memakainya untuk dirimu dan 'NO! tidak' untuk memakai angkot atau sejenisnya."

Bima meraba kantong sakunya dan mengeluarkan kunci berinisial H itu lalu meletakkannya di atas meja. “...pakai ini saja.”

Dasar Bima bodoh. Ngakunya aja pinter. Manusia nggak peka.

"Dan, hari ini saya harus ke Philipina, nanti mbok Jum disini buat nemenin kamu."

"Kok mendadak?" Anin tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Baru pindah tempat baru sudah mau ditinggal.

"Bukan mendadak, komunikasi kita yang kurang baik."

"Berapa lama?"

"Seminggu atau mungkin lebih."

"Hah!" Kata sederhana yang mewakili keterkejutan itu muncul begitu saja dari mulutnya tanpa Anin sadari. Dan buru-buru dia menutup mulut untuk segera mengoreksi ucapannya sebab Bima sedang menatapnya.

Kamu itu kadang judes, kadang ramah, kadang manisnya ngalahin gula dan semalam ganas mirip singa betina. Dan kadang imut, gemesin kayak sekarang. Kamu itu complicated Anin!

"...mm, maksudnya, dalam rangka apa kesana sampai seminggu lebih. Apa urgent?"

"Tidak juga, hanya urusan kerjaan biasa."

"Ooh...."

"Ada lagi yang mau ditanyakan? Atau barangkali kamu mau saya tetap tinggal dan kita lanjutkan aksi kita yang tertunda semalam?!"

"Nggak! kalau mau pergi ya pergi saja sana."

Nah kan Anin tidak bisa menyembunyikan rona pada wajahnya. Blushing.

"Baiklah, dan kalau kamu berubah pikiran, kamu tahu persis harus meminta kepada siapa agar saya tak jadi berangkat."

"Nggak akan."

"Lihat saja nanti, kau pasti akan merindukan suamimu yang ganteng ini."

"Entahlah, mungkin juga tidak karena aku punya Ayah mertua yang sangat mencintaiku disini."

"Aaah....dan saya punya kartu member salah satu nightclub disana, dengan show-show telanjang mereka." Bima menjentikan jarinya hingga terdengar nyaring di udara.

" ...... "

"Makasih untuk teh manisnya. Saya berangkat dulu dan jangan lupa gunakan ponselmu untuk menghubungiku, oke."

"........"

Bima meninggalkan meja makannya sesaat setelah ia mengenakan jas abu-abu dan membiarkan Anin yang masih terpaku di depan sarapan paginya.

Show telanjang? hiihh. Anin menjadi mual dan bergidik hanya dengan membayangkannya. Lalu, apa benar suaminya akan mendatangi show-show itu.

Awas saja kalau sampe berani!! "Ya tuhan! aku terlambat." Setengah berlari Anin menuju kamar untuk segera menukar baju ketika didapatinya jam dinding telah berdenting tujuh kali.

Setengah jam berikutnya, Anin sudah didalam Jazz merah suaminya, bersama penduduk Ibukota lainnya yang sama-sama terjebak kemacetan.

"Kapan Ibukota nggak macet," gerutu Anin pada dirinya sendiri.

 

 

***

 

 

Semua orang tersentak ketika pintu ruang jaga dokter seperti tertabrak sesuatu yang besar -Gajah mungkin-

"Woo-Pagi nyonya Basuki." sapa Mika.

"Pagi ....'' balas Anin sambil meluncur ke kursi kosong di depannya.

Mika melirik arloji di pergelangan tangan. Tumben telat.

Anin seolah mengerti keheranan sahabatnya, "Jakarta macet." ucapnya dengan tak acuh, sambil tangannya bekerja mengeluarkan barang-barang dari dalam tas.

"Sejak kapan Jakarta nggak macet Non?" Tanya Mika penuh selidik. Ada apa gerangan sehingga membuat seorang Anin datang terlambat.

"Wajarlah Mik, kalau Princes kita ini terlambat, kan dia harus menyiapkan popok buat suaminya dulu," tambah Mei tanpa mengangkat kepalanya dari tumpukan status-status pasien.

"Stop. Aku sudah terlambat, lain kali aja kita lanjutkan sesi wawancara ini, oke dayang-dayang ku?" tukas Anin memotong perdebatan nggak mutu sahabatnya.

Anin baru saja melangkah hendak meninggalkan ruangan menuju ruang praktek dokter Susilo.Sp.PD ketika Meimunah berseru.

"Hei, mau kemane?"

"Ke Poli lah, pake nanya Lu dan kenapa juga kalian malah nongkrong disini, bukannya nemenin dokter Bambang?" raut Aneh pun tersebar di selebar paras Anin.

"O iya, Aku lupa, hari ini dokter Bambang ada seminar ke Singapura, jadi sementara digantikan dr. Guntur sampai besok lusa. Beliau sudah ditemani Dadang kundang."

"Lah, terus nasib gue?" Kali ini Anin benar-benar bingung.

"Tuh baca, jangan cuma di plototin" Mika mengarahkan jari telunjuknya pada whiteboard yang tergantung pada salah satu sisi ruangan diikuti tatapan Anin dengan patuh.

"Lah, jadi.... selama dr. Bambang nggak ada, gue dibawah bimbingan dokter Wisnu??" Anin mengulang kata-kata yang tertulis pada whiteboard tersebut dengan penuh penekanan.

"...kenapa mesti gue? Kenapa nggak si Siska-yang katanya Mahasiswi kesayangannya itu?"

"Demen kali die, ama Lu?" Ledek Mika pada Anin. "Gih sana, lapor ke ruang kebidanan sebelum keduluan dilaporkan ke Ortu Lo kalau anak kesayangannya telat datang bulan. Ops! haha."

"Ish. Mulutmu, Mik! Demen dari hongkong, kamu tau sendiri gimana dokter Wisnu judes dan galaknya minta ampun sama aku." Protes Anin tak setuju. Padahal dulu ramah, baik dan hangat. Entah sejak kapan dia berubah jadi beruang kutub.

Mei hanya mengedikkan bahu atas pernyataan Anin. Dan Mika pun sama bingungnya dengan kedua sahabatnya itu.

"Ya elo, sih! Banyak tingkah!" celetuk Meimunah.

“Banyak tingkah gimana sih, Mei?” protes Anin tak terima.

Bukan rahasia lagi, kalau sebenarnya dokter Wisnu naksir berat kepada Anindira, namun karena tekanan dari pihak management, dokter Wisnu mengurungkan niatnya untuk mengutarakan perasaan.

"Saya dengar Anda sedang dekat dengan salah satu dokter co-*** disini? kalau saya pribadi, tidak punya hak untuk mengatur urusan pribadi Saudara. Namun, Saya harap isu-isu semacam ini tidak akan muncul lagi. Apalagi sampai mengganggu integritas serta kredibilitas Saudara sebagai dokter andalan rumah sakit ini. Kita ini kan pelayan masyarakat, sudah semestinya kepentingan umum harus diletakan paling tinggi dalam kamus kita, setelah tuhan tentunya. Dan juga harus menjaga ke-profesionalisme-an kita dalam mendidik dan membimbing penerus-penerus kita. Jangan sampai timbul keraguan dalam diri pasien maupun keluarga pasien karena melihat dokternya asyik curi-curi pandang dengan rekan sejawatnya." ucap dokter Hadimulyo ketua yayasan sekaligus direktur rumah sakit kala itu Ketika dokter Wisnu dipanggil untuk menghadap ke ruangannya. Dan sampai saat ini hanya dirinya dan dokter Retno lah -yang kebetulan sedang berada didalam ruangan itu- yang tahu perihal obrolan di ruang pak Direktur tersebut.

Sejak saat itu, dokter Wisnu sebisa mungkin menghindari kontak dengan mahasiswinya yang entah polos atau naif tidak sadar dengan perubahan sikap nya. Dan sialnya tanpa menaruh curiga, Anin terus beramah-tamah dan bersikap manis pada dirinya.

Dan benar saja, dari sejak Anin datang pagi tadi -yang menjelang siang itu- sudah berapa kali Anin melihat dokter, perawat sampai tukang masak, berbisik-bisik setiap kali dirinya lewat. Entah apa yang mereka diskusikan, yang jelas Anin curiga, mereka sedang menggosipkan dirinya perihal insiden kemarin di lobby depan Rumah sakit.

Sudah jadi artis rumah sakit Nin.

"Mbak," Anin menyapa Perawat yang sedang asyik dengan ponselnya yang sontak membuat kaget perawat itu.

"Ya ampun dok, ngagetin aja deh."

"Hehe, sorry. Dokter Wisnu ada?"

"Ada dok, lagi sama mbak Siska di dalam."

"Ooh...konsul?"

"Kurang tahu saya dok?"

"Pasien VK, banyak?"

"Ada lima inpartu dok, dua rencana SC."

"Ooh, siapa yang jaga di sana, Mbak?"

"Ada Bidan Susi, dok."

"Yang cerewet itu? Ops!" Anin buru-buru mengoreksi ucapannya. "Maksud saya yang hobby ngomong itu?" Nah apa bedanya dong.

"Dokter bisa aja..." celetuk perawat yang tak bisa menyembunyikan senyumnya.

"Yaudah Mbak, saya tak kesana dulu, kalau dokter Wisnu nanyain, saya di ruang VK."

"O iya dok, kemaren itu suami? di Lobby?"

"Hah_ooh iyaa itu, kenapa? Norak yaa? nggak papa lah lumayan buat jadi sopir antar jemput." Jawab Anin sekenannya.

"Ih, engga dok, itu mah lebih dari keren. Saya aja sampe syok, hehehe.. soalnya dulu pas kabar dokter mau merit gosipnya calon suaminya duda, tua, seumuran pak Bambang tapi karena kaya raya jadi......."

"Masa?" Anin tak mampu menyembunyikan Ketertarikan gosip tentang dirinya. "Terus..terus..."

"Ya gosipnya begitu, dokter katanya frustasi gara-gara putus dengan dokter Abi terus mau aja dinikahi aki-aki tua."

"Hahaaaa.... kalian tuh, dateng aja nggak ke pernikahan kita, tapi udah kayak paling tahu."

"Iyaa dok, maaf. Hehehee...dan saya pun termasuk korban gosip itu. Malah sempat heran kenapa mau dijodohin sama aki-aki dan malah menolak dokter Firman."

"Terus…"

"Eh ternyata gini dok." ucap Perawat itu seraya mengangkat dua jempolnya. "Dokter Firman mah lewaaaat..."

"Jadi sekarang ada gosip apa lagi, Mbak?"

"Anu... kalau itu saya nggak tahu dok," Dan sudah dipastikan jawaban perawat itu dusta terlihat dari gerak tubuhnya.

"Yasudah, saya ke VK dulu ya...."

"Ah iya dok, jangan lupa, dijaga suaminya banyak pelakor disini."

"Iya, makasih."

Nggak usah heran, kalau di rumah sakit banyak tukang gosip, banyak pelakor juga. Selain itu banyak juga yang cinlok, yang curang dan ada juga yang jahat. Ya walaupun nggak sebanyak yang baik, tapi ada yang jahat. Dan saya salah satu yang pernah dijahatin.

Jadi suami ku itu begini, -mempraktekan kembali apa yang tadi diperagakan si perawat itu-

Yaa boleh lah, bisa diajak main sekali-kali -dokter Firman aja lewat- Masa sih Mas Bim seganteng itu?

Oh iya lupa, di rumah sakit ini standars kegantengan, ke macho'an dan ke tampanan kaum cowok adalah dokter Firman dan satu lagi si kun*uk Abi Yang katanya mereka berdua mirip zayn Malik.

Dan entah kenapa saya bisa tergoda dengan salah satunya padahal menurut saya, menurut saya lho ya, kriteria tampan, cakep, macho gagah itu ya aktor Taylor Lautner -tau kan dia siapa-. Kalau dokter Firman aja lewat, jadi si kingkong -sebutanku untuk Mas Bim- itu sekeren apa? (Silahkan lah kalian bayangin sendiri.)

Perasaan tadi suster bilang ada lima, kenapa ini jadi penuh semua ranjang di VK?

Tak heran sih, di negara kita kan masih banyak yang paham -banyak anak banyak rejeki- jadi wajarlah kalau sehari sepuluh bed ruang vk penuh. Dan dokter kandungan adalah orang yang paling sibuk dan juga mungkin kaya raya.

"Panen ya Bu?" Sapa Anin pada bidan -Senior- Susi yang sedang menunggu salah satu pasien yang sedang dalam kontraksi namun belum lengkap pembukaannya.

"Iya nih. Kebetulan sekali dokter datang, kita butuh tenaga ekstra nih dok."

Anin melihat sekilas pada sekeliling ruangan.

Dan sepertinya memang benar Bu Susi terlihat kewalahan dan kelelahan, begitu juga dengan Bidan-Bidan yang lainnya.

"Oh siap. Apa yang bisa saya bantu?" Dengan segera Anin mengambil APD (alat pelindung diri) dan segera memakaikannya pada tubuhnya celemek anti basah, sarung tangan pada kedua tangannya serta mengganti sepatunya dengan sandal tertutup -ini pernah lho Anin memakai sepatu boot- pada kakinya.

Dan Anin siap untuk bertarung melawan ketakutannya. Lho!

Sebenarnya hal yang paling Anin takuti sekaligus kagum adalah menyaksikan proses persalinan. Sungguh proses yang luar biasa maha indah dan menakjubkan namun syarat akan kengerian.

"Dokter Anin hecting aja dok, bantuin bidan Lela. Itu pasien yang ujung, dok."

"Okey. Siap" Anin segera melangkah ke posisi yang dimaksud.

Dan sebagai dokter ko-*** memang belum diperbolehkan melakukan tindakan secara utuh tanpa ada pengawasan langsung dari dokter pembimbing.

Namun karena ini termasuk urgent- Dan benar apa kata pepatah -experience is the best teacher- Walaupun dia seorang bidan yang masih muda, namun dia sangat cekatan dan seolah sangat biasa saja menghadapi keriuh ramaian ruangan ini. Bahkan masih sempat berdendang sambil hecting pervaginam (jahit luka robek pasca melahirkan).

Anin pun memulai tugasnya dengan didampingi -diawasi- oleh bidan Lela yang mungkin seumuran dengannya namun dia begitu pintar dan cekatan, serta telaten dalam mengajari Anin

"Nah iya dok, begitu. Tiga jahitan lagi cukup deh itu, jangan lupa sisain buat suaminya dok, jangan di tutup semua bisa kena protes kita." Kelakar bidan Lela.

"Hehehe... " Buset deh bidan Lela ini, masih sempet sempetnya dia bercanda. Nggak lihat apa ini keringat gue udah segede-gede jagung.

"Sabar yaa bu, tahan yaa...sedikit lagi selesai kok ini." Bidan Lela berusaha menenangkan si pasien yang mulai meringis- meringis. Kesakitan tentunya.

Sepuluh menit kemudian...

"Nah Bu, sudah selesai...." Anin bernafas lega dan dia mengagumi hasil karyanya yang juga diakui rapih oleh bidan Lela.

"Masih ada sisa nya kan, dok??" Tanya pasiennya.

"Heh." Terlihat raut bingung Anin dengan pertanyaan pasien tersebut.

"Hahaha.... tenang aja bu, masih ada sisa,” sambar Bidan Lela. “Maklum dokter kita ini masih gadis," Balas bidan Lela tanpa menyembunyikan senyumnya. "Sudah dok, biar saya saja yang bersihin si ibu, dokter istirahat dulu aja. Sepertinya dokter capek banget." Seulas senyum tersungging disana.

"Ah ya. Okeh. Makasih yaa Mbak, maaf saya malah merepotkan. Hehehe."

Ya ampun malu-maluin aja sih aku ini. Baru cuma hecting udah ngos-ngosan dan ya ampun pinggang gue dong..udah mau copot rasanya.

"Ah nggak apa-apa dok." balas Bidan Lela.

Anin melepas segala atribut perangnya, kemudian mencuci tangan dan selanjutnya dia memilih duduk di ruang perawat sambil meluruskan kakinya.

Anin melihat arlojinya, setengah dua siang, pantas saja cacing dalam perutnya sudah mulai berdemo. "Yuk kita lihat ada makanan apa di kantin," gumamnya pada cacing-cacing di perutnya.

Baru saja Anin hendak keluar ketika dia berpapasan dengan dokter Wisnu.

"Mau kemana kamu?"

"Makam siang, dok."

"Oh, yasudah. Jam empat nanti ikut SC dan saya nggak mau ada insiden bengong-bengong di dalam sana." tegas dr.Wisnu.

"Ya dok, siap. Apa dokter sudah makan? Atau ada yang mau dokter beli? Biar sekalian."

"Nggak. Nggak usah. Saya kenyang." Jawab dr.Wisnu ketus.

Yaa ampun, ganteng-ganteng kok judes. Pantas saja masih melajang.

Anin mengambil handphone nya dan buru-buru dia menulis pesan pada grup chat nya.

Anin: kesini dong, temenin gue makan, sendirian nih.

Mika: nggak bisa, gue lagi bercinta sama dokter Bambang.

Anin : sarap lu!

Mei...kamu sini dong?

Mika : Sama. Mei lagi sibuk juga. Lagian lu jam segini baru ribut makan, di apain aja lu sama dr.Wisnu, sampe lupa makan.

Anin: eeh tu mulut yaa.. minta banget di jahit.

Mika : ihh..atut… nape Lu baru kakan siang?

Anin : Ruang VK penuh pasien, barusan banget gue kelar hecting. Daaaan jam 4 gue disuruh ikut SC.

Mika: Huhahahaa..... pulang telat lagi dong Lu. Awas noh suami digondol pelakor, dibiarin sendirian di rumah.

Anin : Suami gue lagi keluar negeri yee..aman.

Mika: justru lebih berbahaya disana oneng. Kawin disana udah kayak minum obat. 3x sehari, hahah..

Mei : apa yang 3x sehari? Ikutan dong... *ngakak guling guling*

Mika: ini lagi satu, apa aja mau ikut.

Mei : Nin, Lu dicariin si Abi tadi. gue bilang aja Lu lagi di ruang dokter Wisnu.

Anin : Kenapa lagi tu orang gila.

Mei : katanya mau minta maaf.

Minta maaf soal apaan sih,Nin?

Anin : Tar aku ceritain. sekarang biarkan cacing-cacingku makan dulu, jam 4 nanti ada Sc.

Anin meletakan ponselnya diatas meja dan dia mulai memakan gado-gado yang dipesannya tadi.

Namun Tiba-tiba handphone nya bergetar lagi. Kali ini oleh sebuah panggilan masuk. Kingkong

"Hallo...istriku yang jutek." suara nyaring terdengar dari ujung sana.

"Hmm…"

"Kok heemm…"

"Terus gimana…"

"Yaa ditanya dong, sayang..?"

Entah kapan datangnya namun Anin merasakan ada rasa aneh dan hangat menjalar pada dadanya. "Tanya apa?"

"Ya apa aja, semisal kamu kangen nggak sama suamimu? Soalnya saya kangen .Gitu dong…"

Padahal Anin tahu itu hanya gombal belaka. Namun wanita tetaplah wanita.

"Ooh, yaaa...tapi itu nggak mungkin."

"Ya kan itu misal Sayang... kamu lagi ngapain? Sudah makan?”

"Sudah. Tumben kamu berlaku manis begini? Nggak lagi merencanakan sesuatu kan? Ke club malam barangkali??"

"Biasanya juga manis. Kamu nya aja yang nggak sadar."

"Mas! Nggak ada rencana mengunjungi show bug*l itu kan??"

"Memangnya kenapa?!"

"......."

"Kalau saya bilang nggak pernah mengunjungi show itu, rasanya berdosa. Tapi untuk saat ini, yang paling menarik buatku adalah..melihat show- kamu itu, yang ala-ala sizuka."

"......" ya ampun dia masih aja mengungkit kejadian itu.

Dan untungnya Bima tidak dapat melihat betapa merah pipinya saat ini.

"...dan yang tadi itu serius, saya Kangen banget."

Tanpa sadar Anin tersenyum dengan pernyataan suaminya. Dia bangga.

"Hallo..kok diem?"

"Ah ya, mas udahan ya, aku ada operasi bentar lagi."

"Kabari kalau sudah selesai, jangan lupa, dan ingat Aku nggak suka kamu deket-deket sama si slamet dan siapaa satu laginya itu...si muka mesum."

"Pak slamet penjaga kantin itu?"

"Anin!! Aku serius!"

"Iyaa, iyaaa." Dassar bossy!

"Ya sudah, kamu ati-ati di sana."

"Iya. Sudah yaa, aku sudah terlambat dan mm--kamu juga jangan sampai telat makan. Bye."

Tut. Anin segera mengakhiri panggilannya.

Yaa ampun.. Kenapa mendadak takikardi begini! (irama jantung-nadi berdetak diatas normal - lebih cepat.)

 

 

***

 

 

"Tolong Suction (sedot cairan : Darah atau-lendir) Sus." Perintah Dr.Wisnu yang sedang dalam proses akhir operasi. -proses penutupan sayatan.

Perawat itu kemudian mengikuti perintah dokter Wisnu.

"Nah, kamu lanjutkan hectingnya." Dan kemudian dokter Wisnu menyerahkan posisinya pada Anin.

Ya Tuhan! Hecting lagi?!

Dan perlu kalian ketahui proses operasi sesar yang lama adalah proses menjahit luka sayatannya. Dan itu dilakukan dengan berdiri selama kurang lebih 30 menit. Itu untuk yang sudah profesional. Lalu apa kabar gue? dengan posisi punggung sedikit menunduk dan tangan yang belum bisa dibilang terampil -alias masih kaku- dan harus bertahan selama 30-40 menit. Kalau jahit lahiran normal kita masih bisa memakai kursi duduk.

Bertepatan dengan suara adzan berkumandang Anin akhirnya terbebas dari ruang OK (operatie kamer - bhs.belanda*).

Tugas di bagian kebidanan memang yang paling melelahkan.

Kalau disuruh pilih saya lebih suka di bagian anak walaupun tak tega juga melihat anak-anak menangis karena kesakitan.

Tak lama Anin Pun berpamitan dengan dokter dan tim lainnya. Dan segera bergegas mengemudikan mobilnya ke arah Kalibata.

Dan pasti kena macet. "Aajjrrhhg!!!" teriak Anin frustasi.

Pukul setengah sembilan malam tepat Anin sampai di rumahnya dan untungnya mbok Jum sudah menyiapkan segalanya. -Bidadari penolongku-

Anin melepas asal sepatu nya. Biar lain kali aja kubersihkan.

Kali ini dia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya, meluruskan punggungnya.

Mbok Jum muncul ketika Anin sedang meluruskan tubuhnya diatas kasur empuk dan nyaman itu.

"Non, mau makan malam ndak? Biar mbok angetin lagi sayurnya."

"Ndak usah mbok, buatin jus alpukat aja, nggak pake susu yak mbok"

"Siap. oh iya non, sore tadi ada tamu yang cariin."

"Siapa mbok?"

"Aduhh..saya lupa namanya. Sebentar Non saya ingat-ingat dulu mungkin sambil buat jus bisa mengembalikan ingatan saya non, hehe. Saya tinggal dulu ya..."

"Iya mbok."

Baru aja Anin hendak memejamkan matanya barang sebentar sebelum mbok Jum membawakannya jusnya. Lamat-lamat terdengar suara simbok nya itu memanggil-manggil.

"Yaaa mbok. Siapa?"

"Yang tadi sore. Itu orangnya datang lagi."

"Suruh masuk aja dulu mbok, sebentar saya menyusul."

Anin menukar kemejanya dengan t-shirt kesukaannya dan melangkah keluar untuk menemui tamunya.

"Hai..." sapa laki-laki tampan yang katanya -zayn malik- nya indonesia itu.

"Kamu....."

 

 

****

 

 

Yang sudah baca sampai end, jangan spoiler ya....

Mangatoon

noveltoon

ANIN

Bellacandra

Terpopuler

Comments

cha

cha

si januari februari itu.....wkwkkwkwkwkw😂🤣😂🤣😂🤣

2020-04-11

1

lihat semua
Episodes
1 Malapetaka
2 Wedding Day
3 Hari baru
4 CUMI! Cuma Mimpi
5 Dapur, Kasur, kasur!
6 Praduga yang salah
7 Abimanyu
8 Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9 Semuanya baru!
10 Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11 Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12 Tak terencana
13 Akhirnya Anin Nganu
14 Jujur
15 Mimpi buruk Anin yang hilang
16 Honeymoon yang Tertunda
17 Siapa Dia?
18 Aku dan Bintang
19 Masa lalu yang mengganggu
20 Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21 Handphone baru
22 Bintang malam yang tak Terkendali
23 Sisi Kelam Anin
24 Sembilu Syahdu
25 Sembilu Syahdu - 2
26 Dosa termanis
27 Kamu kembali
28 Terbawa suasa aja, sih ....
29 CIe, kangen ....
30 Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31 Datang Berkunjung
32 Kesalahan menyapa
33 Perkara Es krim
34 Cemburu tanda Rindu
35 Adakah yang lebih dari ini?
36 Menepi
37 Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38 Mohon Ampun
39 Berunding biar nggak pusing
40 Permintaan dari sana!
41 Yaaah! Istananya jebol juga
42 Naluri dan Kewarasan Diri
43 I gotta love you
44 Papa Tua dan Emosinya
45 Amplop dan rahasianya
46 Madu dan Racun
47 Yang lepas, ikhlaskan
48 Fakta yang terabaikan
49 Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50 Kemana?
51 Keliru
52 The last - Nice to see you
53 Till the End
54 Pengumuman
55 Jakarta I'm I Love
56 Kelakar Sahabat
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Malapetaka
2
Wedding Day
3
Hari baru
4
CUMI! Cuma Mimpi
5
Dapur, Kasur, kasur!
6
Praduga yang salah
7
Abimanyu
8
Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9
Semuanya baru!
10
Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11
Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12
Tak terencana
13
Akhirnya Anin Nganu
14
Jujur
15
Mimpi buruk Anin yang hilang
16
Honeymoon yang Tertunda
17
Siapa Dia?
18
Aku dan Bintang
19
Masa lalu yang mengganggu
20
Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21
Handphone baru
22
Bintang malam yang tak Terkendali
23
Sisi Kelam Anin
24
Sembilu Syahdu
25
Sembilu Syahdu - 2
26
Dosa termanis
27
Kamu kembali
28
Terbawa suasa aja, sih ....
29
CIe, kangen ....
30
Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31
Datang Berkunjung
32
Kesalahan menyapa
33
Perkara Es krim
34
Cemburu tanda Rindu
35
Adakah yang lebih dari ini?
36
Menepi
37
Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38
Mohon Ampun
39
Berunding biar nggak pusing
40
Permintaan dari sana!
41
Yaaah! Istananya jebol juga
42
Naluri dan Kewarasan Diri
43
I gotta love you
44
Papa Tua dan Emosinya
45
Amplop dan rahasianya
46
Madu dan Racun
47
Yang lepas, ikhlaskan
48
Fakta yang terabaikan
49
Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50
Kemana?
51
Keliru
52
The last - Nice to see you
53
Till the End
54
Pengumuman
55
Jakarta I'm I Love
56
Kelakar Sahabat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!