Women Dignity
Jika akhirnya aku sadar apa itu cinta, maka itu adalah kamu -
- Lebih baik pernah mencintai dan kehilangan daripada tidak pernah sama sekali -
-Alfred Lord-
--------------------- ***-------------------------
Suasana malam itu memang sedikit berbeda. Biasanya ramai orang berlalu lalang. Petugas mondar mandir membawa dan mengantar pasien. Tapi entah kenapa malam itu begitu sunyi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. “...mungkin karena ini malam jum'at,” pikir Anin.
Anin sedang duduk-duduk di kantin seorang diri sambil menikmati jus alpukat yang baru saja dipesannya ketika seseorang menghampirinya dan mencengkram lengannya, menutup mulutnya, lalu menyeret tubuhnya pada sebuah lorong gelap.
"Arghh!" Anin memekik, suaranya tidak keluar. Anin meronta tapi tampaknya sia-sia. Kekuatan pria itu jauh lebih kuat. Anin hanya bisa memukul dan mendorong pria itu sekuat tenaga.
Tapi tampaknya usaha Anin tidak berpengaruh apapun. Pria itu tetap statis.
Anin hendak berteriak.
Di dalam lorong itu, Pria itu melepas bekapan tangannya lalu mengulum bibir Anin ganas. Suara gadis itu pun teredam. Aroma tembakau yang begitu kuat menyeruak dari mulut pria itu.
Pria itu mengunci kedua tangan Anin ke atas kepalanya dengan tangannya yang kuat. Tangannya yang lain mulai menelusup masuk dalam rambutnya dan menariknya.
"Lepasin!!” maki Anin marah. “Apa-apan, kamu?''
"Diam!!" Pria itu menjilat bibirnya. Tatapan matanya tampak ingin menerkam.
Lalu pria itu menggigit leher bawahnya. Anin tersentak.
"Ja-Jangan!!!"
Pria itu menghisap kulit leher Anin.
"Bajingan kamu!!! Teriak Anin. "TOLONG!" Anin meronta. Badannya gemetar. Air matanya Keluar.
"Nggak bakalan ada yang menolongmu disini, Perempuan!" hardik pria tersebut.
"Lo suka di giniin, perempuan? bagaimana rasanya?" Pria itu mencekik leher Anin. Satu tangan lainnya menangkup payudara dan meremasnya.
Anin meronta. Badannya gemetar. Air matanya Keluar semakin derasnya hingga membuat pandangannya kabur oleh air matanya sendiri.
Tiba-tiba Anin ingat tuhannya. Anin ingin berdoa, memohon ampun karena telah lalai dalam kewajibannya, dan berharap tuhannya masih sudi untuk mendengar kan doanya.lalu menolongnya dari kemalangan yang akan menimpanya.
Dan Anin mulai memejamkan mata. Berdoa, berdoa dan terus berdoa berharap ada keajaiban seseorang datang menolongnya.
Entah berapa lama dia terpejam dalam doanya ketika Mata Anin terbelalak ngeri mendengar suara pekikan keras pria didepannya.
Seseorang menghantam tubuh pria di depannya itu. Dipukulnya pria itu membabi buta. Teriakan minta ampun pun tak dihiraukannya. Laki-laki itu terus memukul pria itu yang dengan kurang ajar menjamah seorang gadis tak berdaya.
"Stop. Udah!!” Teriak Anin dalam isak tangisnya. “Sudah hentikan. Dia bisa mati….”
Laki-laki penolong itu menghentikan tinjunya. "Bajing*n seperti dia tak pantas dikasihani!!! Dan siapa sebenarnya Bajing** ini!!" Ada kemarahan pada ucapannya.
Dengan sorot mata memerah, ditatapnya pria korban kebrutalannya, mukanya babak belur, darah menetes di sana sini. Bocah boyband ini jelas bukan tandingannya.
Laki-laki itu mencengkram kerah baju pria itu. "Berani kamu sentuh sehelai rambutnya saja, sudah saya pastikan tidak akan ada yang mengenali wajahmu lagi. Ingat Itu!" Ancam Laki-laki itu.
"Cuih." pria itu membuang darah ke sembarang arah. "Apa yang kau harapkan dari gadis seperti dia!! Bahkan payudaranya saja tak mampu memuaskan telapak tanganku."
"Masih punya nyali juga kau hah?!"
Laki-laki itu kembali memukul pria itu tanpa ampun dan tanpa mengindahkan teriakan Anin, hingga pria itu tak sadarkan diri. Dan entah berapa gigi yang ia tanggalkan dari mulut kotor pria itu.
Laki-laki bertubuh tegap itu menghampiri Anin yang masih terisak -terduduk memegangi dadanya. Perasaannya ikut tersayat melihat gadis itu menangis.
"Apa kamu baik-baik saja?'' tanya nya penuh kekhawatiran.
"Aku mau pulang. antarkan aku pulang. Dan berjanji lah demi Demi aku," Anin memohon dan membawa tangan laki-laki itu pada puncak kepalanya sendiri.
Laki-laki itu mengangguk, menyetujui permintaan Anin.
Yang menjadi ganjalan di pikirannya adalah belum diketahui siapa pria yang dipukulinya. Dan bagaimana kondisinya. Sementara sepanjang perjalanan pulang Anin seolah enggan, enggan membahas kejadian yang baru saja menimpanya itu.
Asumsi bahwa pria itu mungkin -seorang preman nyasar, kekasih atau mantan kekasih -yang entah kenapa berantem hingga terjadi kekerasan pada saat itu pun menjadi jawaban utama.
Dan semenjak kejadian malam itu, dengan diam-diam laki-laki -malaikat penolong- itu meningkatkan pengawasan dan pengamanan terhadap Anin. Malah terkadang dia sendiri yang langsung turun tangan untuk memastikan semua aman terkendali.
.....
jangan lupa like & komen
ig @kata_upil
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Daniah
seru thoor....lnju😊😊
2020-02-07
1