"Hi," sapa seseorang. "Selamat ya, sorry kemaren gue nggak sempat dateng, you know lah si killer itu."
"Oh, Hi...." balas Anin singkat tanpa menghentikan langkahnya.
"Jadi, gimana malam pertamanya? sukses dong?" goda teman sejawatnya sekaligus Sahabat yang sering dipanggilnya Mika itu.
"Apa sih lu, Kepo deh...."
"Ecie... yang udah nggak perewii," goda temannya lagi. "Jadi, bisa dong free charge kalau-kalau gue nginep di salah satu Cipta Prima Resort itu."
"Justru kena dua kali bayar." Jawab Anin sekenanya.
"Alamak, Perhitungan sekali putri yang satu ini."
"Itu untuk ganti rugi selimut sprei serta bantal nya, yang pasti kotor dan sobek-sobek akibat ulah kalian." dengus Anin pura-pura Kesal.
"Loh! sejak kapan kamu suka menonton adegan dewasa gue? Gue kira kamu cukup terlena hanya dengan mendengar desahanku saja."
"Ooh…. Jadi kemaren sore itu, kelakuan Lu Mik, aku kira Mei?!" Anin menatap tajam kearah sahabat nya yang ini, yang tak kalah gilanya dengan Meilani. "Dan kamu tahu? Mas Bim tiba-tiba ada disana!" Kejadian di parkiran kembali berputar di otaknya, layaknya kaset kusut yang berputar sangat pelan tiap detiknya. Dan itu akibat ulah sahabatnya.
"Oh, gue tau sekarang, jadi kalian menikmati pertunjukan itu, lalu mempraktekkannya?! Gue tahu kamu murid yang pintar." Ucap Mika sambil memicingkan sudut matanya, tak lama kemudian dia tertawa.
"Ah sudahlah, Apes banget pagi-pagi ketemu pasien RSJ lepas berkeliaran. Bye,See u."
"See you beb, jangan lupa cerita malam pertamanya." Teriak Mika, sehingga memancing perhatian orang yang sedang berlalu lalang. Dan Anin hanya membalas dengan tatapan laser mematikan andalannya. Sinting pikirnya.
Dengan tubuh proporsional yang bak model profesional, Anin Melanjutkan langkah kakinya menuju ke sebuah ruangan.
***
Pagi itu Anin sedang menjalani tugas -stase- di ruang perawatan penyakit dalam. Ia sangat bersyukur tidak banyak pasien, mengingat ini akhir pekan dan dia harus menghabiskan waktu weekend nya dengan terkurung di kamar jaga yang berukuran tak lebih dari 3x4 meteran, dengan pasien dan diktat tercintanya.
Menyesal? tentu tidak. Karena Ia menyukai pilihannya, Profesinya. bukan karena paksaan orang tua atau karena mengikuti jejak papahnya. Ini murni keinginannya sendiri.
Berbeda dengan kedua kakaknya, yang lebih memilih untuk berbisnis, Anin tertarik pada dunia kesehatan sedari dia kanak kanak.
Dia selalu ingin membantu Papahnya setiap kali papanya menerima pasien-pasien di rumahnya. Bahkan ikut menunggui nya sampai tutup jam praktek Ayahnya.
Dan sebentar lagi, dia akan menerima gelar dokternya. Siap menyambut dunia barunya. Dunia profesinya dan dunia sebagai kodrat wanita.
Namun hari ini ia sedikit malas berangkat ketika Bima mengantarkannya pagi tadi.
Ck! Lelaki itu, Dia berlaku manis pagi ini, entah kenapa sikapnya jadi sangat lembut. Dan sentimentil pikir Anin.
***
Abimanyu, Putra millenial ibukota yang dua tahun lalu itu ia percaya sebagai penjaga hatinya namun harus berakhir dengan tragisnya. Dialah sebab utama Anin ber-enggan- ria berangkat hari ini.
Karena kali ini dia harus berjaga dengan Abimanyu, rekan satu tingkat dari angkatannya - Kekasihnya dulu.
Anin meletakan map dan jas nya asal pada kursi yang kosong ditinggal penghuninya. Yang sedang lepas libur dan dia menggantikannya disitu.
Meilani. Bocah itu sedang apa sekarang. Awas saja bikin ancur isi ruangan (lagi), gue bunuh beneran kali ini.
Anin duduk di belakang mejanya, mengibas-ngibaskan tangannya di udara. Berharap dapat tambahan udara diruangan yang ber-AC itu, yang terasa panas untuk saat ini. Saat dia menoleh, dia mendapati Abi sedang menatapnya intens dari sudut mejanya.
"Panas?" tanya pria itu.
"Iya."
"Kecilin saja kalau mau." tambahnya.
Kenapa waktu berjalan sangat lambat dan lebih lambat dari jalannya keong sawah. Begitulah kira-kira yang dirasakan Anin saat ini. Ia sungguh tidak fokus. Konsentrasinya telah pecah berkeping keping, akibat rasa yang dulu pernah ada ada didepan mata.
Anin bahkan sengaja melewatkan makan siangnya. Dan lebih memilih ikut mendampingi team Obgyn yang akan melakukan Sectio Caesarea dan berharap dengan menyibukkan diri dapat leluasa menyingkirkan kenangan yang kini menggila di otaknya. Tapi ternyata tidak, dia malah semakin kalut pada romansa dan sakit hatinya.
Dokter Wisnu yang sadar akan ketidak-beresan anak bimbingnya, akhirnya menyuruh Anin berdiri diam di sudut paling pojok kamar operasi.
"Berdirilah di sana. Saya suruh untuk memperhatikan, bukan untuk melamun." Bentak dokter Wisnu.
Anin kaget serta malu bukan main dibuatnya.
"Kamu!!' 'bentak dokter Wisnu. "Bantu Pak Toto saja sana, cuci korentang itu sampai steril! setelah itu kau keruangan saya." ucapnya setelah operasi selesai.
Anin hanya bisa tergagap.
Baru kali ini dia dimarahi pembimbingnya dimuka umum. Bikin malu saja.
***
Malam harinya.
Anin tersentak, terbangun ketika tiba-tiba telepon selulernya berbunyi. Dan jantungnya mungkin saja terlepas dari tempatnya kalau saja itu buatan manusia.
"Besok, mau dijemput jam berapa?!'' tanya seseorang diujung sana.
"......" Anin tampak bingung, mencerna situasi kondisi.
"Halo?" apa kau masih disana?'' tanya seseorang dari ujung sana lagi.
"Ah ya. Apa?" dan saking girangnya, hanya debaran jantungnya sendiri yang terdengar di telinga. Anin merasa senang. Kenapa? entah lah.
"Besok mau dijemput jam berapa?"
"Tak usah repot-repot, Aku bisa pulang sendiri."
"Oke, baiklah." dan telepon terputus.
Anin mendengus kesal, kenapa tidak memaksa. Masa menyerah di uji coba pertama. Hhm… dasar pria!!
Dasar nggak peka.
Dan mungkin benar menurut desas-desus di kantornya bahwa seorang Bima Aji adalah si tangan dingin yang keras kepala, galak dan nggak peka.
Sementara itu di tempatnya, Bima melempar ponselnya Kesal. Entah ada apa dengan otak encernya ini. Membiarkan dirinya gila memikirkan gadis itu.
"Sial! " Wanita memang makhluk paling aneh sedunia. Susah ditebak dan susah dijelaskan dengan akal sehat.
***
Ting!
Anin yang masih memegang ponselnya tampak tidak kaget ketika sebuah pesan berantai masuk ke ponselnya.
Mika : sepi amat yak ini grup ga-je. Princes kita lagi apa kira-kira ya Mei? bisa dipastikan tidak dia baik-baik saja? Atau jangan-jangan sedang merindukan sentuhan kehangatan.
Mei : kompoor kaleee
Mika : Eh, inget ya, nyonya Bas Aji yang kami hormati, jangan sampe lari ke pelukan mantan.
Mei : omg. Lu lagi bareng Abi, Nin?
Mika : Yippy..... tebakan anda benar 100%.
Mei : Gue tanya Anin, lu nyamner aja kayak petir! Nin...masih waras kan lu?
Mika : Hahaha...gue sih curiga Princes kita sedang mengguncang salah satu ranjang pasiennya *ngakak so hard*
Mei : Sumpah demi apapun. Jangan Kamu kasih milikmu itu?!! Biarkan si coldman -Bima- itu jadi yang pertama mencicipi Mu.
Mika : Gilingan.... emang Lu kira sayur Sop dicicip!
e apa lu bilang barusan?? Pertama kali??
O to the M to the G....
Demi apa ??
Mei : Demi orgasmeku berkali kali,
Mika : Sinting! tau apa Lu soal orgasme. ahaaaha
Oi Anin....jadi udah ngapain aja dengan suamimu? Grepe-grepe ala anak jaman Now??
OMG - Anindira~~
Mei : Panen pasien kali dia. Nggak nongol.
Mika : Hah! Iya nih, ghibah jadi nggak seru. Nggak ada yang menasehati.
Mei : uaaa*njir.. kata-kata lu nyong.
Mika : hahahaa
Mei : Eh beneran deh, aq jd ikut khawatir. kamu dimana sama siapa sedang apaa beb...?? Anindira Pearly Otis !!!! BALAS.
Sementara itu, di rumah sakit sedang sangat sibuk bahkan sampai kekurangan tenaga. Akibat tabrakan beruntun hingga semua mahasiswa coass diperbantukan ke ruang IGD.
Dan Anin telah lama meninggalkan ponselnya yang membeku di dalam tas.
Puji tuhan, setidaknya malam ini aku sibuk dan tidak perlu memikirkan cowok sialan itu. Keep working!
****
Yang sudah baca sampai end, jangan spoiler ya....
Mangatoon
noveltoon
ANIN
Bellacandra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Dwi Novayanti
ini cerita nya mana...udh 3 bab isi nya itu2 aja...bingung bacanya
2020-12-24
0
cha
lagii lanjuut.... jgn selingkuhlah kasian jaff
2020-03-30
0