Anin sedang asyik membaca diktat ketika Bima masuk membawa setumpuk buku-buku miliknya dan meletakkan buku tersebut pada Rak buku di sudut kamar mereka.
Si Mr. Bim ini mendesain kamar persis dengan kamar di rumahnya hanya saja ini lebih luas dan tentu dengan jacuzzi yang lebih besar juga. Biar bisa dipake berdua jawabnya ketika ditanya.
Dan kenapa juga dia memilih tempat ini yang tak jauh dari rumah lamanya yang hanya berjarak beberapa blok saja. Hanya dipisahkan oleh perlintasan rel kereta api.
Woodland park residence ini masih tergolong baru tapi aku suka. Salah satunya karena letaknya strategis. kalau kita lihat ke sebelah kanan ada stasiun KRL duren kalibata. Didepannya ada mini mall dan di dalam kompleksnya sendiri ada swissbell hotel.
Astaga! Apa ini lokasi yang kapan itu dia bilang mau ke acara temannya namun gagal karena kita nga…. Ya ampun, jangan-jangan waktu itu dia sebenernya mau mengajakku ke tempat ini?
"Sudah mandi?!" tanya Bima sekonyong-konyong pada istrinya.
"Bentar lagi, nanggung."
"Mau mandi sekarang atau mau saya mandiin?" Bima menghampiri gadis itu dan siap dengan posisi menggendong wanitanya.
"Ah ya, ya, okeh " jawab Anin setengah kesal.
"Nggak pake lama kita mau ke mall depan, belanja bahan makanan."
"Buat apa?!"
"Mulai besok kamu yang masak makananku."
"Lho...kan ada simbok"
"Simbok sudah tua."
"Aku nggak bisa masak, kalau jahit mulut aku ahli." setengah dongkol Anin menanggapi kata-kata suaminya itu yang menurutnya sok perintah. Bossy.
"Buruan mandi Anindira!!!"
"Nggak perlu teriak! Aku nggak tuli!!" Anin pun menggelinding ke kamar mandi dengan enggan.
***
Bima merebahkan tubuhnya pada ranjang yang sedari tadi menggodanya, memanggilnya agar ia segera menidurinya.
Pancen nyaman nih kasur. Bima meraih textbook dan mulai membacanya.
Tak kurang dari lima belas menit Anin keluar hanya dengan memakai handuk.
Aroma segar dari sabun mandi dan shampo nya menyeruak ke seluruh ruangan kamar itu.
Anin berdiri didepan cermin, kemudian mulai menyisir rambut basahnya lalu mengeringkannya.
Suara hairdryer yang sedikit berisik itu berhasil mengganggu konsentrasi Bima.
Bima mengangkat mukanya dari textbook yang sedang dibacanya bermaksud memprotes tindakan Anin yang sangat mengganggunya namun yang terjadi justru sebaliknya.
Bima menikmati penglihatan matanya. Keindahan Anin mampu membungkam mulutnya.
"Lanjutkan saja bacanya, jangan curi pandang pada istrimu sendiri." celetuk Anin di antara suara bising pengering rambut.
"............. "
"Mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan ku," ucap Anin acuh tanpa menghentikan kegiatannya.
"............." glek. Bima tak lagi punya kuasa atas pita suaranya.
Anin meletakan rambutnya pada handuk dan menggulungnya lalu meletakkannya ke atas kepala.
"Mas, kamu letakan dimana perlengkapan makeup ku yang tak seberapa itu?"
Bukan jawaban yang didapatkan Anin melainkan sebuah pelukan erat dari balik punggungnya.
Anin terpekik pelan dan ia terkejut. Bukan, bukan karena tindakan suaminya, melainkan tindakannya mengingatkannya pada seseorang. Seolah sedang mereka-ulang kejadian.
Dan jantung Anin seolah berhenti berdetak.
"Mas..."
Anin memejamkan mata, berusaha mengusir sosok yang tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka.
"Kenapa diam saja? Apa kau tidak mau tahu kelanjutannya?"
Bima mulai meraba istrinya, mengecup, menggigit kecil leher yang terbuka. Tangannya bergerak naik keatas dan mulai meremas area sensitif istrinya yang masih terbungkus handuk.
"Apa kamu pernah melakukan ini sebelumnya?!" Bima bergelayut manja, "...dengan mantan-mantanmu?!"
"Mas!!!" Anin berbalik dengan emosinya. Tangannya sudah di udara siap menampar suaminya. Kalau saja Bima tidak segera menangkap tangan itu mungkin sudah mendarat di salah satu pipinya.
Entah kenapa Anin merasa sangat terhina atas ucapan Bima.
"Jangan kurang ajar kamu, Mas? Kamu pikir aku ini wanita macam apa?!"
Dengan susah payah Anin berusaha menahan air matanya.
"Shit!!" ucap Bima geram pada mulutnya sendiri. Tanpa menunggu lagi Dia ******* bibir wanita itu dengan tidak sabaran. Tak membiarkan Anin sedikitpun untuk menghirup nafas.
Anin meronta dan memukul dada suaminya dengan tangan satunya. Dan handuknya sudah menyentuh lantai, terinjak-injak. Namun Pada akhirnya Anin pasrah. Menyerah pada gairahnya yang mencuat ke permukaan akibat tindakan sang suami. Sebab ia yakin, tidak ada maksud buruk pada kalimat suaminya selain rasa cemburu yang mendasarinya.
Bima merasakan istrinya mulai tenang, tidak emosi. Begitu juga dengan dirinya sendiri terkecuali Pedang Arturnya telah berteriak lantang siap diajak perang.
"Akan ku hapus semua jejak pecundang itu tanpa sisa, tanpa celah dan kupastikan dirimu tidak lagi mengingatnya!" Bisik Bima pada telinga istrinya.
Lalu Bima mengangkat istrinya, membopong dan merebahkannya di atas tempat tidur.
"Kamu terlalu sempurna untukku." Suara Bima terdengar berat. "Ku pastikan tidak akan ada pria manapun yang berani mendekatimu, apalagi sampai menyentuhmu!"
Anin meringkuk diatas bednya dengan ekspresi yang tidak terbaca dan hanya mengawasi aksi suaminya.
Sampai sejauh mana aksi gilamu ini Mas Bim. Tidak malukah kau hendak memperkosa istrimu sendiri. Tapi, apa pantas disebut memperkosa, sedangkan aku sendiri membiarkan aksinya.
No. Aku hanya penasaran. Ya, penasaran sampai sejauh mana pertahanannya tidak menyentuhku. Dan kalaupun malam ini terjadi -you know what- aku tidak akan menyesalinya. Sungguh. Karena -mungkin saja- aku juga menginginkannya. Menyukai setiap kepemilikannya atas diriku.
******************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments