Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan

"Kamu...."

"Hai…"

"Tahu dari mana aku tinggal disini?"

"Seorang teman lama." senyumnya seketika mengembang yang menurut Anin sangat menjijikan.

"Ada perlu apa ya? Maaf aku capek banget dan ingin segera tidur."

"Segitu bencinya kamu sama aku Nin? Bahkan tanya kabar saja tidak?"

"Sepertinya kita bukan sahabat lama yang baru saja ketemu."

"Ah..iya, iyaa." pandangan matanya berkeliling menyapu segala penjuru ruangan. ".....boleh juga." tukasnya.

"????" Anin mengerutkan dahinya.

"Ngomong-ngomong dimana suamimu? aku kesini ingin menyapanya."

"Dia belum pulang,” ucap Anin sedatar mungkin.

"Oh, Dia biasa pulang malam?"

"Nggak juga, hanya sesekali waktu saja."

Entah kenapa bulu kuduk Anin Meremang. Ngeri. Tatapan matanya dingin dan kosong. Dia berubah.

"Oke. Kalau begitu, saya pamit, sampaikan salamku buat suamimu."

"Nanti aku sampaikan."

Anin berjalan ke arah pintu keluar mengikuti tamunya. Sekedar untuk beramah tamah.

Setelah dipastikan tamunya telah menghilang Anin segera menutup pintu rumahnya. Menguncinya.

Anin melorot lemas, tubuhnya terasa ringan seolah tak bertulang dan ingatannya memutar kembali pada kejadian itu.

 

 

Malam itu…..

Suasana malam itu memang sedikit berbeda. Biasanya ramai orang berlalu lalang. Petugas mondar mandir membawa dan mengantar pasien. Tapi entah kenapa malam itu begitu sunyi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. “...mungkin karena ini malam jum'at,” pikir Anin.

Anin sedang duduk-duduk di kantin seorang diri sambil menikmati jus alpukat yang baru saja dipesannya ketika seseorang menghampirinya dan mencengkram lengannya, menutup mulutnya, lalu menyeret tubuhnya pada sebuah lorong gelap.

"Arghh!" Anin memekik, suaranya tidak keluar. Anin meronta tapi tampaknya sia-sia. Kekuatan pria itu jauh lebih kuat. Anin hanya bisa memukul dan mendorong pria itu sekuat tenaga.

Tapi tampaknya usaha Anin tidak berpengaruh apapun. Pria itu tetap statis.

Anin hendak berteriak.

Di dalam lorong itu, Pria itu melepas bekapan tangannya lalu mengulum bibir Anin ganas. Suara gadis itu pun teredam. Aroma tembakau yang begitu kuat menyeruak dari mulut pria itu.

Pria itu mengunci kedua tangan Anin ke atas kepalanya dengan tangannya yang kuat. Tangannya yang lain mulai menelusup masuk dalam rambutnya dan menariknya.

"Lepasin!!” maki Anin marah. “Apa-apan, kamu?''

"Diam!!" Pria itu menjilat bibirnya. Tatapan matanya tampak ingin menerkam.

Lalu pria itu menggigit leher bawahnya. Anin tersentak.

"Ja-Jangan!!!"

Pria itu menghisap kulit leher Anin.

"Bajingan kamu!!! Teriak Anin. "TOLONG!" Anin meronta. Badannya gemetar. Air matanya Keluar.

"Nggak bakalan ada yang menolongmu disini, Perempuan!" hardik pria tersebut.

"Lo suka di giniin, perempuan? bagaimana rasanya?" Pria itu mencekik leher Anin. Satu tangan lainnya menangkup payudara dan meremasnya.

Anin meronta. Badannya gemetar. Air matanya Keluar semakin derasnya hingga membuat pandangannya kabur oleh air matanya sendiri.

Tiba-tiba Anin ingat tuhannya. Anin ingin berdoa, memohon ampun karena telah lalai dalam kewajibannya, dan berharap tuhannya masih sudi untuk mendengar kan doanya lalu menolongnya dari kemalangan yang akan menimpanya.

Dan Anin mulai memejamkan mata. Berdoa, berdoa dan terus berdoa berharap ada keajaiban seseorang datang menolongnya.

Entah berapa lama dia terpejam dalam doanya ketika Mata Anin terbelalak ngeri mendengar suara pekikan keras pria didepannya.

Seseorang menghantam tubuh pria di depannya itu. Dipukulnya pria itu membabi buta. Teriakan minta ampun pun tak dihiraukannya. Laki-laki itu terus memukul pria itu yang dengan kurang ajar menjamah seorang gadis tak berdaya.

"Stop. Udah!!” Teriak Anin dalam isak tangisnya. “Sudah hentikan. Dia bisa mati….”

Laki-laki penolong itu menghentikan tinjunya. "Bajing*n seperti dia tak pantas dikasihani!!! Dan siapa sebenarnya Bajing** ini!!" Ada kemarahan pada ucapannya.

Dengan sorot mata memerah, ditatapnya pria korban kebrutalannya, mukanya babak belur, darah menetes di sana sini. Bocah boyband ini jelas bukan tandingannya.

Laki-laki itu mencengkram kerah baju pria itu. "Berani kamu sentuh sehelai rambutnya saja, sudah saya pastikan tidak akan ada yang mengenali wajahmu lagi. Ingat Itu!" Ancam Laki-laki itu.

"Cuih." pria itu membuang darah ke sembarang arah. "Apa yang kau harapkan dari gadis seperti dia!! Bahkan payudaranya saja tak mampu memuaskan telapak tanganku."

"Masih punya nyali juga kau hah?!"

Laki-laki itu kembali memukul pria itu tanpa ampun dan tanpa mengindahkan teriakan Anin, hingga pria itu tak sadarkan diri. Dan entah berapa gigi yang ia tanggalkan dari mulut kotor pria itu.

Laki-laki bertubuh tegap itu menghampiri Anin yang masih terisak -terduduk memegangi dadanya. Perasaannya ikut tersayat melihat gadis itu menangis.

"Apa kamu baik-baik saja?'' tanya nya penuh kekhawatiran.

"Aku mau pulang. antarkan aku pulang. Dan berjanji lah demi Demi aku," Anin memohon dan membawa tangan laki-laki itu pada puncak kepalanya sendiri.

Laki-laki itu mengangguk, menyetujui permintaan Anin.

Yang menjadi ganjalan di pikirannya adalah belum diketahui siapa pria yang dipukulinya. Dan bagaimana kondisinya. Sementara sepanjang perjalanan pulang Anin seolah enggan, enggan membahas kejadian yang baru saja menimpanya itu.

Asumsi bahwa pria itu mungkin -seorang preman nyasar, kekasih atau mantan kekasih -yang entah kenapa berantem hingga terjadi kekerasan pada saat itu pun menjadi jawaban utama.

Dan semenjak kejadian malam itu, dengan diam-diam laki-laki -malaikat penolong- itu meningkatkan pengawasan dan pengamanan terhadap Anin. Malah terkadang dia sendiri yang langsung turun tangan untuk memastikan semua aman terkendali.

 

 

"Mbok, mbok.... Mbok Juuummm...." entah seperti apa suara yang keluar, yang pasti sekarang dia tak kuasa atas tubuhnya. Lemas sekujur tubuh menderanya.

"Iya Non, sebentar." dengan segelas Jus alpukat ditangannya mbok Jum tergopoh-gopoh menghampiri Anin yang duduk terkulai di bawah Sofa. "Lho, kenapa iki Non? Ayo saya antar ke kamar."

Mbok Jum hampir melupakan jus yang dibawanya, dan buru-buru meletakan jus itu diatas meja dan segera menolong Majikan mudanya itu yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.

"Non Anin Kenapa? Ada apa sebenarnya?" Tanya Mbok Jum sesampainya di kamar.

"Saya nggak apa-apa, Mbok, saya hanya butuh istirahat."

"Mungkin kamu kecapean. Ya sudah Istirahat aja dulu, nanti jus nya simbok bawa kesini."

"Iya Mbok, terimakasih."

Sepeninggal Mbok Jum, Anin berusaha untuk memejamkan mata agar segera tertidur. Namun bayangan itu kembali berputar-putar didepan matanya layaknya kaset rusak yang tak mampu melanjutkan adegan berikutnya. Nafasnya memburu tak beraturan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, tubuhnya dijamah seorang laki-laki. Malam pertama dimana Anin menyadari hasratnya sendiri.

Dia merasa sangat ketakutan.

Anin mengambil sebutir pil yang ia simpan pada laci nakasnya. Hanya untuk jaga-jaga gumamnya waktu itu. Sepuluh menit kemudian nafasnya kembali teratur dan kemudian terlelap, melupakan suami dan jus alpukatnya.

 

 

***

Seminggu tanpa Bima tempat tidur terasa begitu lebar dan rumah ini begitu sepi, tidak ada yang mengajaknya adu urat, tidak ada yang memerintah seenaknya bahkan Anin merindukan pertengkaran dengannya dan sikap bossy nya. Termasuk tingkah mesumnya.

Dasar kingkong! sesibuk apa dia sampai melupakan istrinya sendiri. Chat pun tidak dibalasnya.

Setelah Anin mendapat kunjungan tamu tak diharapkan seminggu lalu Anin selalu cemas, hampir tiap malam selalu mimpi buruk dan pada saat yang bersamaan tubuhnya menjadi begitu basah dan hal itu membuatnya begitu frustasi.

Sesungguhnya Anin begitu merindukan suaminya hanya saja dia selalu memungkiri perasaannya.

Pagi itu Anin kembali bertugas di ruang perawatan penyakit dalam dengan dr. Susilo.

Berbeda dengan ruang kebidanan, disini tidak begitu banyak aktifitas. Dan rasanya malah membosankan menurut Anin.

Belum lagi harus bertatap muka dengan Abi walaupun hanya beberapa kali dan itupun karena harus melakukan pemeriksaan gabungan serta jadwal ujian yang kebetulan harus bertemu dengannya. Namun hal itu tetap membuatnya muak.

Anin yang sedang asyik menekuri catatan medis pasiennya tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan sahabatnya yang nggak ada santun-santunnya itu. Duduk udah kayak anak laki-laki. Ngangkang.

"Hei, Denger gosip baru nggak?" Ucap sahabatnya dengan semangat berkobar.

"Apa?" Jawab Anin enggan.

"Dokter Firman ada disini lho..."

"Hah!" detak jantung Anin meningkat seketika.

"Daaan...gosipnya dia kembali setelah melakukan permak wajah menjadi semakin tampa.."

"Oh yaa? setampan apa?" ucap Anin acuh. Namun dalam hati siapa yang tahu.

"Gue juga belum lihat."

"Oh__"

"Nggak penasaran? Mungkin akibat kau tolak dulu dia jadi merubah wajahnya jadi Tom cruise. Hahaa..."

"Untung dulu aku tolak."

"Iya juga sih, kalau dilihat-lihat, dia itu agak sedikit aneh. Iya nggak sih?"

"Aneh gimana?"

"Aneh aja, yang kata kebanyakan wanita hampir sempurna itu tapi aku nggak tertarik sama sekali. Hehehe. Dia terlihat kasar dan aneh."

Glek.

"Mei kemana, Nin?"

"....."

"Nin! oi...bengong Lu?"

"Eh..iya kenapa?" Anin tersentak kaget. Tarik nafas... keluarkan. Tenang Anin, sabar sebentar lagi koass selesai.

"Meilani, kemana dia?"

"Ooh....Mei. Kan dia hari ini ujian."

"Iya ya, nggak kerasa ya sebentar lagi kita selesai." Tatapan Mika menerawang jauh.

Tumben nih anak nggunain otaknya buat mikir.

"Rencanamu apa Nin, setelah lulus besok?"

"Belum kepikiran. Kenapa?"

"Sebenarnya, Aku lebih suka berdagang tapi keluargaku memaksaku masuk kedokteran dengan alasan tidak ada penerus rumah sakit keluarga."

"Emang mau jualan apa? Kayak bisa aja lu?"

"Jualan lendir. Hahahaha."

"Sarap Lu!"

"Pulang nanti aku nebeng ya?"

"Bayar ongkosnya, bensin sekarang mahal" Jawab Anin acuh.

"Et daah… Keluarga Basuki Aji bangkrut? sampai bensin aja minta disumbang?"

"Sialan Lu," Anin menimpuk sahabatnya dengan tutup pulpen yang sedang dipegangnya pura-pura marah. "Jadi kamu pulang kemana sekarang?"

"Yang pasti, bukan pulang ke rumah Tuhan."

"Set*n Lu nyong...aku seriusan ini??" Anin mulai keki juga menghadapi tingkah sahabat gilanya ini.

"Haha….Iya, iya sorry, sorry gue udah pindah ke tempat Mei."

"Bayar sewa lah! Dua kali lipat, ingat??"

"Sepertinya keluarga Basuki beneran bangkrut. Kalo gitu gue mesti cari teman baru yang lebih tajir," ucap Mika memanggut-manggutkan kepalanya seolah benar sedang berpikir keras untuk mencari sahabat baru.

"Tau ah, capek gue ngeladenin orang stres kayak Lu." Namun dalam hati Anin bersyukur setidaknya sahabatnya ini selalu bisa menghibur dan mampu mengalihkan pikirannya. "Cari makan yuk? Laper." tambahnya.

"Traktir?"

"Cuci piring dulu dirumah gue sekalian tengokin tuh rumah baru kita. Ngakunya sahabat tapi berkunjung aja nggak....."

"Ett daah...pake sok-sok merajuk ni bocah! Nggak cocok muka Lu, NIn. Yang ada tu mukakelihatan mesum minta di sodok hahahaa...."

"Anyiing...mulut Lu!" Anin memelototi sahabatnya dengan tatapan laser mematikannya. "Yuk laah..laper banget gue." Ajak Anin sekali lagi.

"Ayook...."

"Eh ngomong-ngomong, tingkah konyol mu itu sudah waktunya dikurangi lho Mik, nggak lucu kan kalau nanti pasien datang ke tempat praktek mu dan mulutmu ngeluarin bahasa planet esek-esek mu itu??"

"Siapa bilang gue mau buka praktek!"

"Maksudnya?"

"Perkara nanti! Sekarang, kita makan dulu...." ajaknya kepada Anin.

Dan kemudian Keduanya menghilang di balik pintu.

 

 

***

Sore itu Anin membawa mobilnya pulang dengan santai setelah terlebih dulu mengantarkan sahabatnya.

Anin juga sempat mampir ke minimarket untuk membeli beberapa macam buah, roti serta selai kacang dan ice cream tentu saja.

Seperti biasanya, Petugas keamanan gedung yang berpapasan dengannya menyapanya dengan ramah begitu pula sebaliknya.

"Pulang,dok?"

"Ooh.. iya pak." Padahal belum resmi jadi dokter tapi seringkali dia dipanggil dokter. Setiap kali dijelaskan pasti jawabannya 'sama saja mbak.'

Anin meletakan begitu saja belanjaannya diatas meja. Tanpa ba bi bu Anin meninggalkannya dan hanya membawa serta es krim nya saja ke kamar lalu mulai memakannya.

Sesampainya di kamar Anin langsung menyambar diktat dan menjadikan kasur tidurnya sebagai sasaran empuk tubuh rampingnya. Posisi favorit kini ia lakukan. Menelungkupkan badan sambil menikmati diktat dan es krimnya.

Semakin dekat ujian harus semakin rajin belajar pikir Anin karena setelah menyelesaikan koass, Anin dan teman-temannya harus menempuh ujian lagi atau kita sering menyebutnya UKD ( ujian kompetensi dokter), Mungkin sama kayak ujian nasional nya Anak SMA.

 

 

Anin masih asyik menekuri diktat dan es krimnya yang hampir tak bersisa itu. Saking asyiknya hingga tak disadarinya kehadiran seseorang di dalam kamarnya.

Sosok itu menyergap tubuh Anin yang sedang asyik menelungkup.

Seenak apa rasa es krim nya itu sampai mengalahkan pesona orang ganteng tiada tara.

Bima menutup mata gadis itu dan mulai menikmati aroma rambutnya. Rambut nya.

Bima mulai mendaratkan bibirnya pada kulit leher gadis itu. Menggigit-gigit kecil disana. Mengecup pangkal leher gadis itu.

"Baji*gan kamu!! Lepaskan!!!"

"Tolong!! Mbok, Mbok Jum!!" teriak Anin histeris penuh kemarahan.

"Hei..hei... ini saya. Sayang ini saya..hei.." Bima segera menghentikan aktivitasnya dan segera membalikkan tubuh istrinya.

Tubuh Anin bergetar hebat. Menggigil.

Kenapa ini?? Ada apa??

"Sayang...kamu kenapa?? ini Saya, Bima suamimu."

Setelah memastikan bahwa pendengaran dan penglihatannya benar tangis Anin pun pecah.

"Ja--jangan seperti itu lagi..." isak nya.

"Sorry. Im so sorry\, i just missed you so much. Dan hanya ingin menggodamu saja tidak bermaksud untuk _____. Maaf sayang." Bima memeluk tubuh istrinya.

Ada apa sebenarnya. Ada apa dengan istriku???

 

 

********

IG : kata_upil

Mangatoon

noveltoon

ANIN

Bellacandra

Episodes
1 Malapetaka
2 Wedding Day
3 Hari baru
4 CUMI! Cuma Mimpi
5 Dapur, Kasur, kasur!
6 Praduga yang salah
7 Abimanyu
8 Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9 Semuanya baru!
10 Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11 Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12 Tak terencana
13 Akhirnya Anin Nganu
14 Jujur
15 Mimpi buruk Anin yang hilang
16 Honeymoon yang Tertunda
17 Siapa Dia?
18 Aku dan Bintang
19 Masa lalu yang mengganggu
20 Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21 Handphone baru
22 Bintang malam yang tak Terkendali
23 Sisi Kelam Anin
24 Sembilu Syahdu
25 Sembilu Syahdu - 2
26 Dosa termanis
27 Kamu kembali
28 Terbawa suasa aja, sih ....
29 CIe, kangen ....
30 Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31 Datang Berkunjung
32 Kesalahan menyapa
33 Perkara Es krim
34 Cemburu tanda Rindu
35 Adakah yang lebih dari ini?
36 Menepi
37 Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38 Mohon Ampun
39 Berunding biar nggak pusing
40 Permintaan dari sana!
41 Yaaah! Istananya jebol juga
42 Naluri dan Kewarasan Diri
43 I gotta love you
44 Papa Tua dan Emosinya
45 Amplop dan rahasianya
46 Madu dan Racun
47 Yang lepas, ikhlaskan
48 Fakta yang terabaikan
49 Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50 Kemana?
51 Keliru
52 The last - Nice to see you
53 Till the End
54 Pengumuman
55 Jakarta I'm I Love
56 Kelakar Sahabat
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Malapetaka
2
Wedding Day
3
Hari baru
4
CUMI! Cuma Mimpi
5
Dapur, Kasur, kasur!
6
Praduga yang salah
7
Abimanyu
8
Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9
Semuanya baru!
10
Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11
Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12
Tak terencana
13
Akhirnya Anin Nganu
14
Jujur
15
Mimpi buruk Anin yang hilang
16
Honeymoon yang Tertunda
17
Siapa Dia?
18
Aku dan Bintang
19
Masa lalu yang mengganggu
20
Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21
Handphone baru
22
Bintang malam yang tak Terkendali
23
Sisi Kelam Anin
24
Sembilu Syahdu
25
Sembilu Syahdu - 2
26
Dosa termanis
27
Kamu kembali
28
Terbawa suasa aja, sih ....
29
CIe, kangen ....
30
Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31
Datang Berkunjung
32
Kesalahan menyapa
33
Perkara Es krim
34
Cemburu tanda Rindu
35
Adakah yang lebih dari ini?
36
Menepi
37
Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38
Mohon Ampun
39
Berunding biar nggak pusing
40
Permintaan dari sana!
41
Yaaah! Istananya jebol juga
42
Naluri dan Kewarasan Diri
43
I gotta love you
44
Papa Tua dan Emosinya
45
Amplop dan rahasianya
46
Madu dan Racun
47
Yang lepas, ikhlaskan
48
Fakta yang terabaikan
49
Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50
Kemana?
51
Keliru
52
The last - Nice to see you
53
Till the End
54
Pengumuman
55
Jakarta I'm I Love
56
Kelakar Sahabat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!