"Please, Stop!" Anin membalikan tubuhnya ketika dirasakannya sentuhan halus pada kakinya. "Mas mengganggu konsentrasiku." kemudian Anin kembali melanjutkan bacaannya.
Membaca sambil tiduran atau tengkurep sambil belajar adalah hobi Anin sedari -entah kapan- dan tempat yang enak adalah di atas kasur.
Bima kembali menjahili istrinya dengan sentuhan-sentuhan nakal yang semakin menjadi.
"Aku bilang stop! Apa Mas nggak ngerti bahasa manusia?!" Anin menghentakkan kakinya dengan setengah emosi.
Bima buru-buru menghentikan aksinya dan menatap heran pada punggung Anin
Ketika Anin hanya diam pada posisinya, tak ada tanda-tanda pergerakan lagi, Bima kembali mengusili istrinya.
Bima meraba ujung paha hingga tangannya menerobos masuk kedalam gaun tidur istrinya.
Salah siapa berpose menantang diatas kasur, kalau mau belajar ya di meja belajar! kalau tiduran di kasur ya namanya minta ditidurin.
Anin tersentak kaget ketika tangan itu menyentuh inti dirinya. Dan, yap! Bima berhasil.
Berhasil mengalihkan perhatian istrinya.
"Apa ini masih sakit??!!" tanya Bima ketika Anin menoleh dan menatap tajam mata suaminya. "Hee, saya cuma mau memastikan kalau teman si Arthur baik-baik aja, suer deh!"
"Malam ini nggak ada jatah!" Dengan ketus Anin menimpali ucapan suaminya. Siapa suruh tadi nyuekin! Kelonan aja sama TV tuh.!! "Dan besok aku ada ujian. Jadi malam ini harus belajar."
"Katanya tadi mau ngomong, mau cerita, cerita apaan?"
"Dari tadi juga kan udah ngomong, Kamu pikir siapa yang barusan ngomong?"
"Singa...."
"____" Anin menatap tajam suaminya. Rasanya ingin memuntahkan semua kata-kata pedasnya\, tapi diurungkannya. Dan Anin memilih untuk kembali menekuri jurnalnya.
"Kamu selalu ramah pada pasien-pasien dan orang-orang diluaran sana, tapi kenapa begitu galak denganku." protes Bima.
"Kalau aku galak, nanti sepi tempat praktek ku. Lagian kan mereka sudah membayar mahal untuk sekedar bertemu dengan ku."
"Apa berlaku juga untuk ku?"
"Tentu. Tanpa terkecuali."
"Kalau begitu, berapa saya harus membayarmu, untuk menyembuhkan arthur kecilku ini karena rasanya begitu sakit dari siang tadi.” Bima merampas jurnal istrinya dan meletakkannya sembarang di atas nakas.
Anin melihat sekilas pada arah yang ditunjukan oleh mata suaminya dan hampir tidak dapat menahan senyum nya. Dia merasa iba juga pada suaminya.
Dan bukannya dosa juga menolak permintaan suami!
"Hhmm...." Anin menepuk tempat kosong di sisinya, "Kemarilah... biar dokter periksa dulu Arthur kecilmu itu. Kenapa dia nakal sekali hari ini?"
Entah pergi kemana rasa malu dan canggung Anin. Dia begitu percaya diri dan begitu berani menginvasi suaminya dan Anin sadar apa yang akan diterima dari suaminya akibat ulahnya itu.
Bima begitu prima, selalu menjaga kebugaran tubuhnya. Sedangkan dirinya? Bisa tidur cukup saja sudah anugerah. Pada akhirnya, Anin lah yang selalu memohon ampun untuk setiap permainan mereka. Karena sebelum istrinya memohon dan meminta ampun, maka Bima akan terus mengolah istrinya menjadi butiran bahkan lelehan es krim.
Lalu apa kabar dengan rasa nyerimu Anin??
Ah, Urusan belakangan!
Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Bima menuruti saja instruksi Anin. Ia merangkak mendekat dan merebahkan tubuhnya di sisi istrinya.
"Anak pintar...janji dulu! kali ini nggak pake tato-tato abstrak."
"Siap!! Akan saya usahakan."
"Harus!!"
"Iyaa, harus."
"Awas aja kalau samppp____" Belum sempat Anin menyelesaikan kalimatnya\, tubuh dan bibirnya sudah dalam kuasa sang suami.
Tuh kan, bener, kan? belum apa-apa sudah disosor.
"Kelamaan!" ucap Bima di sela-sela ciumannya.
Dan mereka pun kembali merajut serpihan bunga yang bertebaran di kamar itu.
***
Bima menoleh ke kiri menatap tubuh Anin yang hanya tertutup selimut.
Anin sudah mengatupkan matanya, menyusup ke dekatnya. Bima memeluknya, lalu mencium keningnya. "Ngantuk?"
"He-hm, Mas..." terdengar suara Anin yang menelungkup.
"Hm...."
"Betulkah, Kamu mencintaiku?" Suaranya tidak begitu jelas sebab mukanya menekan sebagian tubuh Bima.
"Kenapa tanya begitu?" Tanya Bima lalu tiba-tiba ia tertawa. Dipererat pelukannya.
"Jangan khawatir, saya akan bertanggung jawab, kan saya bapaknya," katanya menepuk-nepuk punggung istrinya. "I'm yours, all yours."
"Kata orang, cinta sulit hadir dari perjodohan." Anin melepaskan diri dari lengan Bima, dibukanya matanya sedikit.
"Orang siapa!?" Bima memandang istrinya. "Kalau ku katakan saya sudah jatuh cinta sejak pertama kali kita dipertemukan, kamu percaya??"
"Cinta pandangan pertama?" Tanya Anin agak aneh.
Masih ada gitu, jaman sekarang cinta pandangan pertama, dimana gaya hidup sudah kebarat-baratan. Fakta dicicipi dulu, dicobain dulu, dilihat -cinta-nya belakangan itu sudah melekat pada sebagian kehidupan jaman now. Dan ini suaminya, bicara tentang cinta pada pandangan pertama yang hanya ada pada zaman "Galih-Ratna" SMA.
Kisah kita memang sedikit aneh dan berbeda, di zaman semodern ini, bahkan kita menikah karena perjodohan. Siti Nurbaya jaman now banget ya, kan!! Dan suami meng-klaim telah jatuh cinta pada pandangan pertama? Yakin bukan karena fisik semata??!
"Dengarlah! jangan bikin kepalamu pusing dengan memikirkan hal-hal yang tidak pasti. Saya Bas Bima Aji jatuh cinta pada Anindira Otis. Aku mencintaimu, Singa betina-ku."
Bima menanti sejenak namun Anin diam saja.
"Kamu percaya padaku, bukan?"
Anin memandangnya dengan mata setengah mengantuk. Tiba-tiba dia tersenyum.
"Tentu." Diulurkannya lengannya dan dibelainya pipi suaminya. "Aku percaya."
"Saya begitu tersiksa, karena telah mencintaimu sejak lama. Meskipun dirimu belum mencintaiku, kamu bisa belajar mencintaiku dan saya akan menanti dengan sabar sampai suatu saat kamu datang dan bilang engkau mencintaiku."
Anin membuka matanya dan memandang suaminya. Matanya yang sejak tadi mengantuk kini terbuka lebar dan tiba-tiba menangis.
"Mas, kamu tidak usah menunggu. Sekarang pun aku sudah datang dengan cintaku."
"Sungguh!?"
Anin tak dapat berkata-kata hanya air mata yang mampu mewakili isi hatinya.
"Saya janji, akan melimpahimu cinta dan kasih sayangku sebanyak yang saya mampu sampai kamu lupa rasanya bersedih." Bima memeluk erat istrinya, menciumi istrinya dengan penuh haru dan kasih yang kemudian berubah penuh gairah yang berlandaskan cinta bukan nafsu semata.
Malam ini, adalah malam pertama mereka yang sesungguhnya. Malam dimana mereka saling mencurahkan, memasrahkan jiwa raga. Bahkan ketika Petaka mengintai di depan mata. Mereka tak peduli.
Asyik masyuk saling mengutarakan perasaannya. Mengungkapkan dan menunjukkan rasa cintanya dengan bahasa tubuh mereka.
Sekali lagi, mereka kembali merajut serpihan rindu dan mengubahnya bersama-sama menjadi gelombang hasrat yang utuh serta begitu indah karena di dalamnya meledak sebuah rasa yang disebut cinta.
Semenjak Malam itu, Sekarang Anim tak lagi mimpi aneh menakutkan sekaligus membuatnya basah disaat yang bersamaan.
Sejak dua bulan lalu lebih tepatnya Anin menyadari dirinya telah membaik. Dan sakit insomnianya berangsur pulih. Anin dapat tidur dengan nyenyak. Tanpa takut terbangun tengah malam dan tak dapat tidur lagi.
Kini ada suami di sampingnya, ada suami yang menjaganya. Suami yang selalu di sisinya. Selalu melindunginya.
Pernah waktu itu, tengah malam Anin tiba-tiba tersentak -entah apa mimpinya- dan terbangun dengan nafas terengah dan keringat membasahi wajah dan anak rambutnya, Bima suaminya sampai ikut terbangun karena kaget.
"Sayang, kenapa? Mimpi buruk?"
Anin tersenyum malu-malu. "Enggak, cuma mimpi dililit ular sangat besar," Aku Anin.
"Dia bergerak disini...." Anin meraih tangan Bima dan kemudian menuntunnya pada bagian tengah diantara kedua pahanya.
"Dan aku menjadi ___" Rasa malunya berhasil membuat pipinya merona.
"Ya ampun sayang, kamu...." selanjutnya Bima lah yang mengambil alih dan menyelesaikan permainan tanpa pernah mengetahui fakta yang sebenarnya, mimpi apa sebenarnya istrinya itu hingga membuatnya begitu sangat bergairah.
Yang Bima ketahui, istrinya terbangun dan menginginkan dirinya saat itu juga tanpa tahu ada hal besar tengah mengintai di depan mata.
***
jangan lupa like dan komen nya yaaa
noveltoon
mangatoon
bellacandra
Anin
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
santi Kurnia
lanjuit thor....
2020-04-18
0