Hiruk pikuk di ruang operasi selesai tepat pukul lima pagi. Dan Anin merasakan tubuhnya pegal disana sini. Tak sabar rasanya untuk segera merebahkan diri di kamarnya yang nyaman. Dengan aroma daun, gemericik air dan suasana alam hijau.
Anin menggeleng frustasi. No, no. Itu bukan kamarmu Anin. Ingat!!
***
Siang itu Bas Bima Aji datang menjemput Anin, Namun yang dijemput tak juga muncul batang hidungnya hingga pukul tiga dan Bima memutuskan untuk bertanya pada perawat yang sedang melintas di dekatnya.
"Permisi, Mbak Sus, Apa dokter Anin masih didalam? Jam berapa biasanya dokter-dokter pulang?"
"Maksud bapak dokter Anindira? Biasanya sih pergantian shift dari jam dua tadi. Maaf saya permisi pak."
Anjrit, dibilang bapak-bapak, tua banget apa tampang gue. "Ooh ya, terimakasih."
Bima memutuskan untuk menghampiri petugas keamanan yang sedang berjaga di depan pintu masuk sambil menulis entah apa yang sedang ditulisnya.
"Permisi Pak, mau tanya, kalau dokter Anindira apa sudah keluar apa belum yak Pak?"
Pak satpam mengamati lelaki yang barusan bertanya pada dirinya dari ujung kaki hingga bertemu mata.
Menimbang-nimbang bahwa yang dihadapannya bukan orang jahat.
Busyet dah ni pak satpam. Tampang ganteng begini masih dicurigai juga. Lu kira gue preman pasar!!
"Pak!"
"Ah ya. Ada apa mencari mbak Anin?"
Idih...panggilnya -Mbak- akrab banget bapaknya sama istri gue. "Saya mau menjemputnya, Pak, tapi saya tidak tahu beliau pulang jam berapa."
"Oh...sampeyan supirnya, tho? Supirnya aja begini bentuknya, gimana suaminya yah?"
"Hahaha...." busyet, sepertinya rupaku bukan tampang preman pasar, tapi tampang sopir.
"Eh, ngomong-ngomong gimana jadi supirnya mbak Anin? Tentu enak ya...."
"Biasa aja, Pak."
"Biasa aja bagaimana? apa kamu nggak grogi supirin cewek cantik bohay begitu?"
Bima melotot kaget. Busyet dah ni bapak-bapak, tidak sopan sekai bahasanya.
"Kalau saya, pasti sudah boros sabun mandi Mas, secara tiap hari harus ketemu muka dengannya yang cantiknya menggairahkan. Aduh mana tahan ini si otong."
Bima terpaku.
"....Belum lagi, jadi orang pertama yang tahu dia pakai baju apa. Dan bonusnya mendadak jadi kaya raya karena pasti selalu menang taruhan untuk -tebak baju warna apa yang dipakainya- hahaaa...."
Bima meradang. Di depannya seorang laki-laki membicarakan istrinya.
Ingin rasanya menghajar mulutnya namun di urungkannya. Dia tidak mau buat malu istrinya dan dia juga sadar betul bahwa boys will be boys. Bahwa: Laki-laki normal pasti suka berfantasi termasuk dirinya sendiri. Namun tak rela juga istrinya jadi objek fantasi laki-laki lain.
"Pak...." panggil Bima sekali lagi.
"Ya. Mbak Anin belum keluar Mas, masih di dalam. Mungkin sedang ada konsul. Biasanya sih begitu."
"Ooh......"
"Eh, Mas udah lama jadi supirnya mbak Anin? Kalau dirumah gimana orangnya? Apa dia suka pakai baju kurang bahan juga??" Mendadak Pak Satpam mengecilkan suaranya, mungkin takut kalau-kalau ada yang mendengarnya.
Sabar Bim..sabar... orang tua dia.
"Mas tahu tidak, fans nya mbak Anin banyak disini. Ada grup nya juga. Dan gosip terbarunya dia menolak cintanya anak orang nomor satu di rumah sakit ini karena terpikat dengan duda kaya raya." Ucap pak Satpam masih dengan nada berbisik.
Sumpah demi bulu dada kambing tetangga. Saya pastikan besok Anin ku suruh pindah rumah sakit lain. Tapi Bima penasaran juga dengan info yang satu itu.
"Kalah tajir mungkin, Pak? Atau kalah cakep barangkali." tanya Bima penasaran.
"Wih jangan salah. Pak Firman itu ganteng. Lulusan luar negeri. Berduit iya, pintar juga iya. Heran juga saya, kenapa laki-laki sebagus pak Firman ditolaknya."
"Mungkin cocoknya jadi supirnya kali Pak."
Pak satpam meneliti kembali postur Bima dari bawah ke atas. "Bisa jadi. Mungkin kalau ngelamarnya jadi sopir bakal diterima dan kamu jadi pengangguran. Hahahahaha...."
Ya tertawalah sepuasnya kau Pak Tua. Harusnya saya pake baju sedikit agak rapih. Bukan jeans yang hampir putus bagian lututnya. Harusnya pake kemeja, bukannya pake kaos oblong begini. Harusnya minimal pake selop, bukannya pake swallow begini. Dan bukan salahnya juga mengira saya ini supirnya, miris banget nasibku.
"Eh Mas, bolehlah kalau ada info baru, atau foto-foto, kasih saya. Atau sampeyan mau masuk grup juga boleh."
"Nggak minat Pak, dan saya tidak suka koleksi foto" Jawab Bima asal.
"Duduklah sini. Santai dulu kita, ngobrol. mbak Anin bakalan lama juga. Biasanya jam 5 baru pada keluar sama teman-temannya."
"Nggak usah Pak. O iya pak saya boleh minta tolong nggak? kalau nanti dokter Anin keluar dan saya belum datang, tolong tahan sebisa bapak sampai saya datang, saya mau keluar sebentar pak."
"Tentu boleh, dengan senang hati saya coba semampu saya menahan mbak Anin."
"Oke. Saya percaya bapak pasti bisa. Makasih pak ya."
Dasar satpam mesum, gumam Bima dan ia segera berlalu dari hadapan laki-laki mesum itu.
"Kalau berubah pikiran, cari saya." Teriak pak satpam pantang menyerah.
Bima membalas dengan mengangkat telapak tangannya. Pengennya sih balas pake jari tengahnya tapi dia masih waras berhadapan dengan orang tua.
Kemudian Bima melarikan mobilnya seperti dikejar penagih hutang.
***
"Gue duluan ya...bye semua..." seru salah seorang teman Anin kepada dirinya dan eman-temannya yang lainnya.
"Oh yaaa..bye.. ati-ati."
Tiba-tiba Mika mendengus dibelakangnya, entah darimana dia, tiba-tiba muncul.
"Gila ya.... jam berapa ini.... Baru kelar?"
"Iyaa."
"Capek ya?"
"Menurut Anda?!"
"Et dah buset.... galak amat yang nggak dapat jatah malam." Goda Mika pada sahabatnya.
Dan Anin hanya memelototi sahabat gesreknya itu. Dia nggak mau ngabisin energi hanya untuk adu mulut dengan sahabatnya.
Adek lelah bang, bahkan buat jalan aja berat. Berat banget. belum lagi otak ini masih terbagi dengan kejadian kemarin. Batin Anin mengeluh.
"Kemana ini si monyong (Mei) ya? Kamu tadi liat nggak, Mik?"
"Lihat. Di dapur lagi godain tukang masak kita."
"Issh....."
"Heheee....."
Tak lama dari arah berlawanan muncul juga yang dicari.
Eh tapi kenapa dia? baru datang? Ya tuhan… matilah kau meilani. Dokter Bambang si killer itu menanti.
"Wo..woo woo.... ada apa ini? sabar bos sabar, jangan buru-buru." tangan Mika menghentikan langkah Mei. Sontak Anin pun ikut menghentikan langkahnya.
"Telat?" Tanya Mika dan yang ditanya hanya megap-megap kesusahan nafas.
"Hei. Darimana? baru datang?" Anin ikut menginterogasi.
"Hah… itu. suami Lu..." ucap Mei dengan nada masih ngos-ngosan.
Jelas habis nafas. Dia lari dari parkiran ke ruang aula, terus ke ruang perawatan terus balik lagi ke lorong pintu utama. Sampai akhirnya ketemu yang dicari.
"Fuuh. Itu suamimu tadi ke tempat Kita, ngangkutin semua barang-barangmu." Tambahnya.
"What!!" Hampir keluar bola mata Anin saking kagetnya.
"Iyaaa .... udah bersih tak bersisa. Siang tadi gue izin ke pak Wisnu buat bantuin berkemas, makanya aku telat."
"Tunggu, tunggu. Jadi elu pindah Nin? Kemana? Tempat suami lu?" Mika menegaskan.
"Aku nggak tau." Jawab Anin singkat.
"Iyaaa lah, kerumah suaminya dan lu nggak usah sok kaget gitu deh, bukannya lu seneng jadi bisa pake kamarnya sesukamu." Dengus Mei pura-pura kesel.
"Hehehehe.... kan bisa double party kita." Aku Mika senang.
"Males gila!"
"His! sudah-sudah!" Anin menengahi. "Yaudah buruan gih sana, entar keburu pak Bambang bertanduk. Aku nitip pasienku ya, tolong observasi-in, dan hasil lab nya belum aku ambil." Pinta Anin.
"Asiap! oh iya, coba lu telpon suamimu aja, tanyain kemana dia ngeboyong ****** ***** lu."
"Ya, nanti aku telpon."
Mei kemudian melanjutkan langkahnya terbirit-birit. Diikuti Mika yang hendak berbalik badan juga.
"Eh... mau kemana?" cegah Anin.
"Ya balik ke ruangan lah.…"
"Mau ngapain?? Nggak pulang?"
"Setan.. jadwal sahabatnya sendiri nggak hafal. Gue masih jam 9 nanti kelarnya."
"Ooh. Ya kan nggak harus balik ke ruangan juga. Atau jangan-jangan kamu kangen sama the best killer itu yaaa..." Senyum Anin mengembang.
Nah kena juga kan kau. Aku balas. gumam Anin.
"Najis....."
"Lah terus.... mau ngapain dong buru-buru balik kesana?"
"Mau perkosa mulutnya biar nggak nyerocos aja kaya sprite."
"Hahaha...gila. Udah ah temani aku ke depan dulu lah."
"Yaelah...minta di temenin aja pake muter-muter ngomongnya. Yaudah, ayok."
***
"Dokter...dokter Mika, sebentar."
Mikaila dan Anin pun menghentikan langkahnya.
"Kenapa pak Min?" Jawab keduanya.
"Anu, mbak Anin, mbak diminta menunggu disini sebentar sampai sopirnya dateng mbak."
"Sopir? Sejak kapan kamu pakai sopir, Nin?" tanya Mika heran.
"Aduh....lupa." Anin tiba-tiba teringat kalau dia nggak bawa mobil karena kemarin pagi diantar Bima. "Itu mungkin sopirnya mas Bim, Mik."
"Lho.. kenapa supir? kenapa nggak jemput sendiri aja. Lagian hari minggu bukannya dia libur?"
Anin hanya bisa mengedikan bahu atas pertanyaan sahabatnya itu.
"Aku pulang naik taxi aja lah kalo gitu atau aku pinjam mobil mu aja."
"Sialan Lu, tau aja baru aku full-in tankinya si manis. Ganti bensin ah." Seraya melempar kunci Juke nya.
"Kebetulan yang hakiki, hehehe."
"Oh ya pak min, jam berapa tadi titip pesannya?" tanya Anin kemudian.
"Jam tiga-an Mbak,."
"Nanti kalau dia datang suruh balik lagi aja ya pak, saya mau pulang duluan aja."
"Siap. Sudah capek yah mbak?"
Anin membalas pertanyaan satpamnya dengan senyum paling manis. Begitulah kira-kira menurut kacamata Bima dan gadis itu selalu ketus kepadanya.
"Yaudah lu pulang gih, ati-ati. Gue juga harus balik takut si monster kangen gue."
"Cie... yang saling kangen…."
Sementara itu seseorang tengah berjalan mendekat ke arah Anin dan Mika yang sedang berdiri ngobrol.
Sandal yang ia kenakan bukan swallow tetapi dari salah satu merk terkenal, celananya utuh tak rebel. Kaos kerahnya bertahtakan logo merk terkenal. Design arlojinya sederhana namun bertahtakan sejumput berlian.
Kacamatanya juga pasti lumayan harganya, bisa menguras isi dompet.
Postur tubuhnya yang kokoh dengan tinggi badan menjulang, pas dengan semua yang dikenakannya.
Dan...astaga- ia memegang kunci porsche. Dan coba lihat, ponsel di tangan yang satunya keluaran terbaru dari sebuah perusahan terkenal.
Eh tapi, Percuma men, Jakarta macet. Nggak cocok porsche lu dimari.
Barangkali cuma Mika yang paham berapa duit yang menempel di badan cowok itu.
Pak satpam sampai terhipnotis dan dia lupa kalau dia laki-laki juga.
"Walah itu ada artis itu mbak.." akhirnya pak Min mampu membuka mulutnya.
Busyet deh...siapa ni cowok. Batin Mikaila.
Sedangkan Anin hanya mengerutkan kening, menautkan alis sebab dia tahu siapa laki-laki itu. Mas Bim. Dan astaga irama jantungnya seketika meningkat.
"Nin, mangsa empuk tuh, Nih." Mika menyikut-nyikut sahabatnya yang tak bergeming.
"Nin,"
"...."
"Hai, Dokter Mikaila. Oh, Pak Satpam apa kabar?" Sapa Bima pada Mika dan pak satpam. Dan mereka masih terbengong-bengong.
"Hei sayang...sorry, lama yaaa..." tanpa melepas kacamatanya Bima menarik pinggang istrinya dan kemudian mendaratkan bibirnya ke puncak kepala wanita itu.
Anin setengah melawan namun setengah hati berbunga.
"Nin....kok dia tau namaku, tapi Lu yang dipeluk??" Tanya Mika pada sahabatnya yang sepertinya sedang kebingungan juga.
"Kan kamu pake nametag, oneng." ucap Anin dari sudut bibirnya setelah berhasil mengontrol diri.
"Oh ya, Mas, kenalin ini sahabat aku. Mik, kenalin, ini Mas Bima."
"Oh..... jadi ini. Pantas saja sepagian tadi uring-uringan. Ternyata pantas buat di kangenin sekaligus dicurigai." Mika terkekeh.
Lagi-lagi Anin hanya bisa memelototi sahabatnya itu atas kelakarnya yang tak kunjung habis. Selalu saja ada kata-kata untuk menggodanya dan dia tak pernah menang melawan Mika.
Keduanya menjabat tangan satu sama lain dan si pak satpam mesum terbengong-bengong ketika Bima melepas kacamata dan menyapanya sekali lagi.
"Hallo Pak. Masih rame grup nya?"
"Hah Anu.... Masnya...eeh... itu," ucap pak satpam tergagap.
Nah kan...mampus Lu aki-aki mesum. Sekarang mau apa lagi lu, berani bayangin istri gue lagi, gue jamin gigi lu rontok semua.
"Yuk, pulang." Ucap Bima acuh dan tak mau melepaskan tangannya dari pinggang istrinya biarpun sekarang sedang jadi tontonan orang.
Tontonan teman sejawat istrinya, atasan istrinya, termasuk Pembimbing istrinya dan semua seisi rumah sakit ini.
Bodo amat!! Biar dunia tahu kalau Anindira Pearly Otis sudah menjadi nyonya Bas Bima Aji.
Dan betapa malunya Anin saat ini. Dia sedang menjadi pusat perhatian dan tontonan gratis. Busa dipastikan besok akan jadi bahan gosipan seisi rumah sakit.
"Hoi..hoi... balikin dulu Juke gue itu." Mika tiba-tiba bersuara.
"Aiyaa...." Anin melempar kunci pada sahabatnya. "Lupa." tambahnya dengan senyum aneh.
"Kalau gitu...kita duluan ya dokter Mika. Pak satpam mari, saya pamit." seru Bima dan, "….oh iya," mendadak Bima memelankan suaranya. ".....kalau bisa tolong bubarkan saja grupnya. Dan kurang-kurangin bergosip, malu sama kelamin kita, Pak, kecuali kalau bapak ganti kelamin."
"Iya, iya pak. Iya siap pak... saya maaf saya tidak lagi anu, maksud saya bukan begitu......."
Bima menepuk-nepuk bahu pak satpam itu lalu, "....dan saya bukan duda, pak." kemudian pergi bersama istrinya, meninggalkan pak Min -satpam mesum- yang masih ketakutan.
"Bye Mik...." pamit Anin pada sahabatnya dan Mika melambaikan tangan sebagai balasan dari ucapan Anin lalu kemudian berbalik melangkah masuk.
***
Sepanjang setengah perjalanan keduanya diam mematung. Hanya suara Bunga Citra Lestari yang terdengar sedang melantunkan lagu 'aku wanita' disalah satu channel radio.
Aku wanita yang sedang jatuh cinta…
kuharap dia merasa yang aku rasaaaaaa.....
Apaan sih ni lagu,sentimentil begini.
Dan entah kenapa Anin merasa malu sendiri mendengarkannya. Barangkali kalau ada topeng pasti sudah dipakai untuk menutupi mukanya yang menjadi semerah tomat.
Anin melirik pada sudut matanya. Memastikan bahwa laki-laki di sampingnya tidak melihat tingkahnya yang lebih mirip remaja yang sedang dilanda asamara.
"Mau langsung pulang atau mampir makan dulu?" Tiba-tiba suara Bima memecah belah imajinasi Anin.
"Hmm… maaf, Soal barang-barangku, kata Mei, siang tadi, Kamu ke tempatku?!"
"Oh iya. Sudah saya pindahkan ke rumah kita."
"Rumah kita? Maksudnya?"
"...yaa, rumah kita."
"Nggak ngerti, maksudnya rumah kita yang mana?!"
"Kamu itu bodoh apa cuma pura-pura bodoh."
Tuh kan, si pemarahnya keluar lagi. Heran deh, ada berapa orang sebenarnya dalam dirinya itu, gampang banget berubah-ubah mood.
Melihat Anin yang hanya diam saja dan tak ada niat membalas ucapannya, Bima pun melanjutkan kalimatnya.
"Kita pindah rumah, tidak di tempatmu mu, tidak juga di rumahku. Kita ke rumah kita yang baru."
Anin menarik nafasnya berat. "Harusnya kamu tanya dulu pendapatku."
"Saya sudah ijin orang tuamu dan ini atas persetujuan mereka. Dan lagi, kata Papah, hari ini kamu tidak konsen dengan pekerjaanmu. Sudah jelas kamu tidak bisa konsentrasi belajar akibat kelakuan teman-teman mu itu kan?"
"Mereka tidak menggangguku. SAMA SEKALI TIDAK MENGGANGGU!" Dan kamulah yang mengganggu pikiranku, dasar bodoh, nggak peka.
"Tetap saja nggak sehat berlama-lama disana." Bukan tidak sehat hanya saja saya khawatir dengan kebiasan tidurmu dan saya nggak sanggup membayangkan kamu yang tidur sembarangan dan dinikmati selain diriku.
"...yang akan serumah denganmu itu aku, bukan mereka." timpal Anin.
"Suami istri mana ada yang tinggal terpisah." Jelas Bima frustasi dengan penolakan tersirat Anin.
"......."
"Dan, saya nggak suka kamu dekat dengan Si firman-firman itu. Apalagi dengan si pecundang mantanmu itu."
Bima mencengkeram kemudinya lebih erat dari sebelumnya. Jelas dia sedang menahan emosi.
Anin diam tak menjawab. Tau darimana soal Firman dan Abi!?
Dan gadis itu hanya menunjukan ekspresi heran sekaligus kengeriannya. Kamu itu menyeramkan namun menawan, pikirnya.
"Jadi.... kamu mau makan dimana?"
"Langsung pulang. Aku capek."
Barangkali Bima tahu kekesalan dan kegundahan istrinya karena apa.
"Kamu bisa pilih salah satu kamar terpisah kalau itu yang kamu khawatirkan. Tapi saya sudah meminta mbok Jum untuk merapikan barang-barang kita dalam satu tempat."
"Asal kamu inget janjimu aku nggak keberatan berbagi ranjang."
Yes yes yes. "Akan saya usahakan untuk tidak melanggar janji kita."
"Harus!"
"Iya." Senyum tak ter-elakkan mengembang di bibirnya dan Anin melihatnya.
Otak mesum! keluhnya.
***
Sebuah mobil memasuki area parkir sebuah komplek apartemen Woodland park residence.
"Yuk, turun..." ajaknya.
"Disini? Jadi kita pindahnya kesini? ke apartemen juga?!"
"Iyaa, sengaja saya beli beberapa unit disini Ya walaupun sebagian masih ngangsur tapi sengaja biar sekaligus untuk kantor pribadi di salah satu tower ini dan interiornya sudah saya design ulang. Pasti kamu suka."
"Dan Sengaja saya pilih lantai dasar biar dapat view swimming pool dan taman bunga serta pohon-pohon."
"Oouwh... ya, ya, biar kamu bisa menikmati yang berbikini dengan puas ya...."
"Hmm...kalau saya sudah cukup puas hanya dengan memandangi istriku berendam. Tidak butuh yang lain."
"-----------" segera Anin memalingkan mukanya ke arah luar jendela mobil. Merah padam mukanya dibuatnya.
"Kenapa....ingat sesuatu?" Seringai Bima pada gadis itu.
Anin mencoba menahan rasa malunya. "Nggak!" Jawabnya ketus.
"Ayo,turun." Bima menggandeng tangan istrinya dengan tidak sabaran.
Terakhir kali menggandeng seperti ini itu ketika di parkiran apartemen waktu itu dan saat itu berakhir dengan sebuah dosa termanis yang selalu menggoda.
Anin reflek menutup mulutnya dan sekujur tubuhnya terasa panas.
Semoga saja tidak.
***
Yang sudah baca sampai end, jangan spoiler ya....
Mangatoon
noveltoon
ANIN
Bellacandra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments