Mey_Munah Calling......
"Damn!" Anin menerima panggilannya dengan enggan, "Hmm … Masih pagi ini."
"Ampun nyonya, Ampun." Mei terkekeh di ujung sana. "Gue cuma mau mastiin, kalau kamu nggak tidur di jalanan. Soalnya kata Mamih-mu, Kamu udah jalan ke Jekardah semalam," lanjut Mei yang berhasil membuat Anin tersadar dimana dia sekarang berada.
"Iya, aku di rumah mas Bim, Semalam ketiduran."
"OMG, Anindira Pearly Otis. Nyonya Bima Aji, Udah bobok bareng suami? Udah nggak perawan dong, Lu?" Tanya Mei usil pada sahabatnya. Dan terdengar di seberang sana gelak tawa jahat sahabatnya.
"Aku jahit mulutmu itu lama-lama."
"Uuh, atut. By the way, kamu masih inget kamasutra bab 9 kan?! Praktekin ya, jangan lupa."
"Mei, baru jam enam pagi dan kamu udah bahas kamasutris segala. Gila lo ya."
Tut.
Anin mematikan sambungannya. Temannya yang satu itu memang bener-bener rusak dan gila!
Dilihatnya jam di nakas sekilas. 06.17 Pagi. "Kira-kira sudah bangun belum ya?" gumam Anin.
Baru saja ia hendak bergeser dari posisinya, sosok yang ditunggu muncul dari balik pintu. Bikin Kaget saja, "Pagi," Sapa Anin.
Senyum Anin mengembang melihat sosok tinggi kekar di hadapannya. “Biarpun masih pagi dan sepertinya belum mandi, tetep gantengnya luar biasa ya…Malah terkesan sexy dengan rambut yang berantakan. Ini apa sih … kok malah kemana-mana otakku.'' Gumam Anin lirih.
"Pagi," Jawab Bima singkat. "Sarapan," ajaknya.
"Wait a minute. I'll be right there," jawab gadis itu tak kalah singkat. Dan ia segera bergegas menuju ke kamar mandi
Namun bagai tak terpengaruh oleh perubahan sikap Bima yang mendadak acuh dan dingin, Anin pun mengekor menyusul suaminya menuju ruang makan dengan perasaan bahagia, berbunga-bunga, entah karena apa.
Selesai mandi, Bima menyantap Nasi goreng buatan mbok Jum dengan datar dan tanpa ekspresi.
Disusul Anin kemudian.
"Hm, enak aroma nasi gorengnya." Anin membuka obrolan. Namun tak ada tanda-tanda kehidupan dari lawan bicaranya.
Anin mendengus kecewa. Ini orang kenapa deh, perasaan semalam baik-baik saja, kenapa mendadak jadi serem gini yak. Oh mungkin ada masalah sama pekerjaannya.
Bima tiba-tiba berdiri dan mengambil kunci mobilnya, tak ayal membuat Anin kaget.
"Saya mau berangkat sekarang dan nanti pulang malam."
"Oh, ya sudah. Nanti gue -eh -- aku bisa naik taxi."
"Oke." Jawab Bima singkat dan tak kalah dingin dari suhu di dalam kulkas. "Anggap saja rumah sendiri," tambahnya.
Bima berlalu meninggalkan istrinya yang masih syok di depan sarapannya. Anin Syok dengan perubahan sikap suaminya yang dirasa aneh dan mendadak.
Di dalam Mobil.
"Shit," Bima memukul stir mobilnya kesal dan menyesali sikap bodohnya.
Bahkan bangun tidurnya pun terlihat begitu manis dan bagaimana saya bisa berpindah fokus pada bibirnya, bagian dadanya, kulitnya, tubuhnya, Semuanya.
Kejadian semalam membuat Bima benar-benar gila dan tak bisa memejamkan mata. Belum lagi dewa perangnya, makin menyiksanya. Dan dengan terpaksa malam itu Bima mencari kebebasannya sendiri. Di kamar mandi.
***
Sepeninggal Bima, Anin pun memutuskan untuk menghubungi sahabatnya.
Dan tak lama terdengar jawaban dari ujung sana. “Apa?”
"Mei... siang nanti jemput aku dong," pinta Anin.
"Dih, males. Kemana suami, mu?"
"Udah berangkat, pagi-pagi tadi. Mai, please... yaaa," rajuk Anin pada sahabat gilanya itu.
"Yaudah iye-iye, tunggu beres visit sama dokter Bambang dulu yak, abis itu baru gue jemput dirimu. whatsapp in alamatnya," Ucap Mei pura-pura kesal.
"Thankiss bebeb Aku yang paling baik." jawab Anin terkekeh.
"Kalau ada maunya."
"Hehe … aku tunggu," Ucap Anin dan kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.
Ini enaknya gue ngapain yah, lumayan juga nunggu Mei munah jemput. Masih sekitar 3 jam lagi, apalagi visit sama dokter Bambang si Killer itu, pasti bakal makin lama.
"Non," sapa mbok Jum.
"Ya ampun mbok, ngagetin aja deh," jawab Anin yang setengah kaget.
"Maaf Non, saya cuma mau pamit, mau kepasar sebentar."
"Jauh mbok?"
"Deket Non, 10 menitan naik angkot."
"Oh, yasudah mbok, ati-ati ya...."
"Eh iya, Kenapa semalam kalian tidur terpisah. Kan sudah sah suami istri. Pake pisah-pisah segala." protes mbok Jum yang sedari tadi malam menahan rasa herannya.
"Oh iya mbok," jawab Anin yang tak kalah heran dengan pertanyaan yang diucapkan mbok Jum. Namun Anin seketika ingat akan cerita mamih mertuanya, Bahwa Bima diasuh oleh mbok Jum dari bayi merah. Maklum orang tuanya sibuk, Jadi mbok Jum sudah seperti ibu kedua baginya.
"Saya tinggal dulu ya Non, jangan sungkan. Disini kan, Non, nyonya rumahnya," ucap mbok Jum terkekeh.
"Hehe ... iya mbok," Jawab Anin dengan rona merah di pipinya.
Anin akhirnya memutuskan pindah ke kamar suaminya. Berharap disana dapat menemukan kegiatan yang asyik untuk sekedar menghilangkan rasa bosan.
Dan sekali lagi gadis itu terkagum dengan suasana kamar suaminya.
Ah, bahkan aromanya masih tertinggal dan mimpi semalam itu, Ya tuhan! membayangkannya saja sudah bikin bergidik badanku, bagaimana kalau seandainya benar-benar terjadi. Sadar Nin sadar.
Gadis itu menepuk pelan pipi nya sendiri.
Anin menyusuri deretan buku koleksi suaminya. Komik, Majalah, Desain modern interior dan entah apalagi. Dan semua itu tidak ada yang menarik minat dirinya untuk membaca.
Anin melangkahkan kakinya menuju pintu yang tak tertutup rapat. Penasaran ada apa dibalik pintu itu. Seingatnya, semalam dia tidak mendapati adanya ruangan lain atau dia saja yang tidak teliti.
"Oh my god." Anin dibuat terkagum lagi ketika melebarkan pintu itu.
Dia berjalan menyusuri ruangan itu, menyentuh setiap inci perabotan yang ada disana. Sungguh indah dan yang ini lebih pantas disebut ruang tidur di dalam kamar mandi.
Anin melanjutkan langkahnya mendekati jendela dan membuka tirai serta jendela kacanya.
Tampak panorama taman yang indah, bunga entah apa namanya, warnanya memanjakan mata, hijau daunnya dapat menyegarkan mata dan aroma rumputnya yang menyegarkan suasana. Terasa begitu Asri dan ia pun terlena dimana dirinya sekarang.
Yap.
Ibukota, yang syarat akan asap kendaraan, panas, macet dan tentu saja polusi dimana mana.
Pilihan tepat, jika suaminya memutuskan menyulap halaman belakangnya menjadi ruang hijau dan dia sangat setuju.
"It's A beautiful." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tak salah pilih suami, batinnya. Rasanya Aku betah berlama-lama disini. di rumah ini. Dikamar ini.
Seolah tersihir, Anin mulai melepaskan pakaian yang ia kenakan, dan mulai mengisi Jacuzinya dengan air hangat, tak lupa juga menambahkan aroma disana.
Tanpa menunggu lama, Anin sudah berada di dalamnya, menikmati air hangat yang menyentuh kulitnya. Tak lupa ia menyalakan TV kabel yang juga tersedia disana. Mendengarkan acara gosip kegemarannya sambil menikmati panorama di luar jendela.
Lelah akibat perjalanan dan acara pernikahan kemarin pun hilang, kabur seketika dari badannya.
“Dan bahkan dia mengisi lemari pendinginnya dengan berbagai macam makanan,” gumam Anin
Entah berapa lama Anin berendam dan hingga tertidur di sana. Dia lupa Handphone nya, lupa panggilannya, lupa jemputannya. Lupa semuanya.
Dasar tukang tidur!
Dengan tergesa-gesa, Bima melangkah masuk ke rumah dan mengarahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Sekilas Bima melihat Mbok Jum sedang menata meja makan. Dan kemana istrinya?
"Mbok, masak apa?" tanya Bima sambil lalu. Namun langkahnya terus menuju ke kamar.
"Anu Nak Bim...." kata-kata mbok Jum yang menggantung tak pernah didengar oleh Bima.
"Ada non Anin di kamar," lanjutnya.
Lah sudahlah, urusan mereka. batin mbok jum yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.
**
Bima mencari berkas nya yang tertinggal, dia lupa meletakkannya entah dimana.
“Oh mungkin aku taruh di atas kulkas,” gumannya.
Bruk!!
Suara pintu yang memantul menutup sendiri sebab terdorong dengan kencang oleh Bima yang memang sedang sangat terburu-buru.
Hening.
Bima terpaku dengan apa yang dia lihat.
"Mas!" seruan Anin yang tak kalah kaget mampu mengembalikan nyawa Bima yang sempat terloncat dari raganya.
"Sorry, saya cuma mau ambil ini." menunjuk map yang ternyata ia letakan di atas nakas, bukan di atas lemari pendingin.
"Silahkan lanjutkan," ucap Bima sedatar mungkin dan pergi tanpa menoleh lagi ke arah istrinya. “Bisa gawat kalau gue sampe lepas kendali,” gumamnya.
"Aduuhh, memalukan sekali kamu Anin," Gumam gadis itu seraya menutupi muka dan merutuki dirinya sendiri atas kejadian tadi.
Anin melompat keluar bathtub dan langsung menyambar handuk, bergegas mencari pakaiannya dan segera memakainya.
Dan dia ingat, dia telah melupakan sesuatu. Anin segera berlari ke kamarnya.
Bima menatap nanar ke arah jalanan yang macet, ciri khas Ibukota.
Menggeram karena tubuhnya bereaksi dengan apa yang tadi dilihatnya dan kali ini masih harus berlama-lama di mobil.
“Shit, Jakarta sekali aja nggak macet napa,” gerutunya.
Masih jelas dalam pikirannya, sosok istrinya yang tertidur dengan santainya, tanpa mengenakan busana yang membalut tubuh indahnya. Lenjang kakinya yang nampak menggoda tak terendam air busa, bagian dadanya yang.... “Damn!! kenapa jadi ngaco gini pikiran gue?” Bima mengacak-acak rambutnya frustasi.
Entah sudah sejak kapan ia jatuh cinta pada sosok wanita itu. Dari pertama kali melihatnya, Atmosfer dunianya telah berpindah, terserap pada satu pusat. Manis, pikirnya saat itu. Melihatnya yang selalu ceria dan tersenyum.
Sosok yang ramah, cerdas dan aktif dalam kelas, serta berbakat dan terlalu memikat lawan jenisnya.
"SIAL!!!"
***
ANIN
BELLACANDRA
noveltoon
mangatoon
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments