Bima membuka paksa kelopak matanya ketika lamat-lamat didengarnya seseorang sedang berbicara dan bertumpu pada kedua kakinya dengan sebuah ponsel melekat di telinga kirinya. Jam berapa sekarang? pikirnya.
Bima meraih ponselnya yang diletakan di atas nakas di sebelah ranjang. Setengah enam pagi? Dan siapa yang sedang Anin telpon???
Bima beranjak dari tempat tidur yang kondisinya tak lagi rapih, kemudian meraih pinggang istrinya dari belakang dan menelusupkan mukanya pada curuk leher Anin.
Bima mengelus perut bagian bawah Anin yang sudah terbalut kain satin berwarna hitam tipis- menerawang.
"Kapan kamu memakainya? seingatku\, terakhir kali kita ___" bisik Bim sengaja pada telinga Anin. Tak ayal bulu kuduk Anin meremang dan terpecah konsentrasinya.
"Mas..." Anin menjeda obrolan dengan menutup ponselnya menggunakan jari tangan.
"Hhhmm....." Jawab Bima tanpa meninggalkan kegiatannya. Meniup dan mengecup kecil telinga istrinya.
"Mas!" Raung Anin yang tak tahan dengan ulah iseng suaminya. Ia pun berbalik badan memelototi suaminya dengan tatapan laser khas miliknya.
Bukannya tersinggung atau marah, justru tingkah Anin semakin membuat Bima gemas dan timbul kembali hasrat untuk menid*rinya.
Ya,ya,ya...kalau sudah cinta, tai kucing pun terlihat seperti coklat silverqueen.
Bima merebut ponsel itu dari istrinya dan melemparkannya asal setelah menekan tombol off pada sisi layarnya.
Dan Ia mulai mengecup bibir Anin yang kemerahan -entah kenapa-. Lidahnya menelusup mengoyak deret pertahanan Anin dengan intens, kedua tangannya mengeratkan pelukan pada pinggang istrinya dan mulai menjelajah tubuh bagian belakang.
Lagi?!?! Ya tuhan! Jerit Batin Anin.
Untuk hari ini Bima siap bercinta gila-gilaan sampai mungkin keduanya membutuhkan perawatan medis - barangkali.
Begitu juga Anin, dia tidak -kuasa-menolak sentuhan suaminya yang telah memberi efek candu untuk dewi batinnya. Walaupun sisa-sisa pengalaman semalam masih menyisakan nyeri pada bagian tubuhnya.
Anin segera melepaskan tautan bibir mereka dan mendorong dada suaminya dengan sisa-sisa tenaga. Sementara itu otaknya meng interupsi dirinya untuk kembali mengingat jadwal hari ini.
"Nanti kita terlambat…." ucapnya lirih di antara desah nafasnya.
Bima mengerjap dengan susah payah dan membiarkan otaknya bekerja, mencerna maksud ucapan istrinya.
“Oh, okay!” Bima kembali meraih pinggang Anin dan kembali membawanya ke tempat tidur mereka.
"Saya cuma minta sedikit waktumu dan saya jamin kita tidak akan terlambat." Bima kembali menautkan bibirnya pada bibir istrinya dan sejauh ini, dia tidak mendengar protes sang istru, hanya desahan dan nafas berat Anin yang tertangkap oleh daun telinganya.
Dan mereka kembali mengulangi kegiatan yang -kemungkinan besar- akan menjadi hobi baru mereka.
****
Jangan sebut laki-laki kalau tak pandai ngegombal. Dan jangan sebut wanita kalau tak pernah termakan rayuan gombalan laki-laki.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit Anin bersungut-sungut merutuki dirinya yang dengan mudahnya terpedaya godaan suaminya.
Dan pagi tadi hampir saja Anin terlambat ikut briefing pagi.
Dasar kingkong!! bilang cuma sebentar dikasih lima belas menit masih minta nambah! Huh.
Dan sepertinya bagian tubuhku mulai menyukai Si kingkong. Apalagi saat berada diatasku, yang jadi terlihat -sedikit- lebih sexi. OMG- Anin! dimana kau taruh otakmu?! Kenapa jadi semesum ini!
Dan disinilah Anin sekarang di ruang kantor perawatan bersalin.
Setelah sejak tadi pagi terkurung dalam ruang OK bersama team dokter Wisnu.
Ngapain? Ya membantu ibu-ibu korban keganasan kaum laki-aki lah, Yang kalau menurut dokter Susilo mana bisa disebut 'korban'. Lah wong sama-sama enak kok!!
Memangnya enak??
Hmm...Gimana yaaa..... gitu deh.
Gitu gimana sih Nin?
Yaa pokoknya gitu.
Nin, kamu gila yaa? tanya sendiri, dijawab sendiri.
Mungkin!
Anin melipat lengan diatas meja, dan kemudian membenamkan wajahnya disana. Capek luar biasa dan ini bukan soal capek menjadi seorang koass yang telah membantu persalinan tiga pasien sekaligus.
Ini tentang sendi-sendi dan otot tubuhnya yang terasa pegal serta rasa ngilu dan tidak nyaman menggigit disana diantara kedua pahanya, setiap kali dia bergerak meskipun hanya gerakan -sedikit- menggeser posisi duduknya.
"Nin!" Mika mendorong pintu dengan kasarnya.
Anin mengangkat kepalanya dengan malas.
"Kamu tahu nggak, apa yang mereka gosipkan tentang ku?"
Anin tak menjawab dan hanya mengedikkan bahunya.
"Gila itu, keterlaluan!! dan siapa sih yang punya mulut turah dan bigos -biang gosip- dirumah sakit ini?! kalau sampai ketemu, jangan harap dia bisa pakai mulutnya lagi! bakal gue jahit tu mulut. Rata dengan lidahnya!!!"
"Huuss!"
"Ini sudah keterlaluan dan ini sudah menjurus ke arah fitnah keji. Nin! dan lihat dirimu? masih bisa santai dan tidak emosi mendengar sahabat mu ini jadi santapan obrolan pagi????!!"
"......"
"Nin!! Say something dong??"
Anin memandangi sahabatnya dengan mata sayu -ngantuk-nya. "Say what, Mik?"
"Ya apa gitu, buat nenangin. Gue ini lagi emosi, Nin!! E-M-O-S-I -EMOSI!!!"
"Just stop it, okay??!!"Geram Anin.
Mika tercenung. Untuk pertama kalinya ia berhenti memikirkan masalahnya yang tak jauh dari masalah cowok-cowok ganteng di sekelilingnya. For God shake!
"Lu kenapa? sakit??"
"Aku cuma butuh tidur."
"Begadang lagi?? kan udah gue bilang, Lu perlu konsul-kan insomnia mu itu ke dokter, Nin? bandel banget sih...."
Anin menggeleng dan membenamkan lagi mukanya ke atas meja. "Lain kali saja kita lanjutkan bergosipnya, ya?? aku cuma butuh tidur sepuluh menit, sebelum dokter Wisnu menyeretku ke ruang OK."
Mika mencengo setengah heran. "Otak mesumku gagal paham, kenapa tingkahmu seperti pekerja yang habis dipaksa kerja rodi semalaman?"
Anin tidak menjawab dan untungnya Mika tidak dapat melihat rona mukanya.
Rasa perih itu lagi-lagi datang tanpa permisi, kayak mantan yang tiba-tiba datang ngajak balikan.
Dan Anin tidak akan bohong, apabila ada pasien yang menanyakan perihal ini, dan dia akan menjawab 'tidak tahu'. Karena pengetahuan yang satu ini tidak pernah ia sangka akan melenceng jauh dari teori yang didapatkannya dari bangku kuliah. Anin kira rasa perih akibat pengalaman pertama hanya muncul dan bertahan beberapa jam pertama saja dan tidak selama ini.
Siapa sangka bakal begini?
Pikirannya melayang lagi pada percintaan panas kemarin malam bersama suaminya dan pagi-pagi tadi. Astaga!!!
Darah dan jantungnya kembali berdesir. Antara malu dan tidak menyangka dirinya punya keberanian untuk memulai dan akhirnya melakukan itu.
Dan parahnya sebelum dia menyelesaikan tugas negaranya –koass- Mampuslah aku!
Anin teringat kembali cara suaminya menyentuhnya, menciumnya, mencumbunya.
Mika diam-diam mengamati sahabatnya.
"Wait..wait..wait..ini tidak ada hubungannya dengan kembalinya dokter Firman kan??''
Anin menggeleng dari atas mejanya.
"Lalu?"
Anin akhirnya mengangkat wajahnya. "Sudahlah, pergilah jangan ganggu aku!!" raung Anin pada sahabatnya.
Lain Mika lain Mei, mereka adalah dayang-dayang yang maha sok tahu. Seolah punya kekuatan cenayangnya mbah M -bukan Merapi-
Mika bisa menebak apa gerangan yang menyebabkan sahabatnya bertingkah malas malasan -mengantuk- akibat kurang tidur namun rona pipi sumringah berseri-seri -sangat- jelas tercetak di wajahnya. Kecuali kelopak bawah matanya yang menunjukan dia tidak cukup istirahat.
Dan mungkin hanya seorang balita yang belum bisa mengartikan gestur tubuh Anin saat itu, yang mirip nenek-nenek ringkih, yang takut sendi-sendinya rontok saat hendak digerakan.
Dasar bloon!
"Oh-MY-GOD. Demi Apaa?! Kamu sudah tidur dengannya!!!!??? Fucking lord!!"
"Mik, pelankan suaramu!"
"JADI BENAR!!??? OH MY GOD. Jadi taruhan gue kalah!?!" teriak Mika mendramatisir.
"Jangan teriak teriak!! Astaga Mikaila!!"
Tawa Mika meledak dalam ruangan dan Ia menghabiskan waktu satu menitnya untuk kembali mengucap kata-kata mesum yang tersimpan dalam kepalanya sampai puas.
"Mei jangan sampai tahu soal ini." seru Mika setelah sesi drama kata-kata mesumnya selesai. "Dan dimana Mei??? Meeey..... kamu benar, princes kita masih plonco dan dia baru saja tidur dengan suaminya!"
"Mik!!"
Mika sudah menghambur keluar dan berlari. Dan Anin bermaksud untuk mengejarnya namun tiba-tiba ponselnya bergetar minta untuk segera dijawab.
"Ya, Dok..! Oh, baik dok, saya segera kesana." Damn it! Gara-gara si monyong, aku gagal ngliyep.
Anin bergegas melangkahkan kakinya untuk segera menghadap dokter Wisnu. Uuuh...shit! Anin meringis dalam langkahnya. Rasa itu kembali datang dan berhasil mencuri kantuknya.
***
Begitu Selesai visite pasien, Anin Segera mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan segera menjawab panggilan telepon.
"Yaa Mas, kenapa??"
"Kamu pulang jam berapa? Mau dijemput?"
"Kalau nggak repot."
"Jam berapa?"
"Jam empat-an."
"Lalu mobil mu gimana?"
"Aku suruh Mei, Mika anterin ke rumah."
"Oh. Oke. Sudah makan?”
"Su--dah."
"Banyak?"
"Mm--Lumayan."
"Makan lagi yang banyak biar ada tenaga buat nanti malam."
"Ih...masih belum puas tadi pagi?!!" Dan sumpah demi apapun kalau bisa tembus pandang dari telinga, Bima pasti dapat melihat istrinya blushing mirip udang rebus.
"Nggak bakal puas kalau itu adalah kamu. Oke baiklah, selamat melanjutkan tugas istriku yang cantik, yang imut, ngegemesin dan sekaligus sexi dengan pay*dara yang katanya tak seberapa itu- tapi buatku itu sangat pas-" goda suara dari seberang sana.
"Ya ampun!! Kamu kok sama cerewetnya sama Mika!?!" Anin melotot pada pendengarannya yang sudah pasti Bima tidak dapat melihatnya.
"Hahaha, okay honey i Love you and miss you so badly."
"Bye.." Anin mengakhiri panggilan teleponnya dan baru saja hendak memasukan kedalam sakunya ponselnya kembali bergetar. Diurungkan niatnya.
Dan apa apan ini...si kutu dan kampret sialan!!
Mei: Mik, JANGAN NGUMPET LU!! INGAT BAYAR HUTANG MU!
Mika sex-y : buset!! apa nggak jebol tu layar. Gue nggak ngumpet tsay..sini deh samperin di kantin.
Mei: diem disitu, gue OTW!! Dan lu harus siapin dua mangkuk bakso.
Mika sex-y : pemerasan!!! Sudah kalah masih di palak juga. Eh tapi apa kamu yakin?? princes kita itu sudah you know yaa!
Mei: tentu 100%, dan nggak usah diragukan lagi.
Mika sex-y : yakin amat ni bocah.
Eh mana nih tersangkanya.
Nin..woi.. keluar Lu..!!!
Coba tolong jawab sejujurnya.
Rugi dong gue kalau ternyata kalian sekongkolan buat dapetin hermes gue.
Mei: Eeh setan mesum! Biar kata gue bobrok tapi gue anti teman makan teman apalagi cuma gara-gara hermes.
Coba aja Lu cek sendiri kerah bajunya. Bukti terpampang nyata ulala...hahahaaa dan apa Lu nggak curiga??? Sahabat macam apa kau ini hah!!!!
Mika sex-y : curiga apaan??? Gue mah kan orang nya lurus-urus aja, nggak neko neko..
Mei: suka yang lurus-lurus maksud mu!? Dokter "B" tuh lurus hahaha..
Mika sex-y : idiiihh... Eh apaan tadi..??
Mei : ya ampun!! Matamu sudah tertutup oleh pesona dokter bambang rupanya.
Mika sex-y : uh! najees.
Buruan apaan..jangan bertele-tele deh. Dan buruan kesini, keburu adem nih bakso.!!"
Mei : sabar bos. 5 menit sampai.
Masa Lu nggak curiga?? sahabat kita hari ini memakai baju kerah tinggi!!??
Ika Sex-y : yuhuu... apa hubungannya?
Mei : ya ampun ni anak !! makanya, tu otak pasangi antivirus! Lu pikir buat apa dia pake baju model begitu??? Padahal kita tahu dia hobi model v-neck.
Mika sex-y : tunggu..tunggu..tungu..!!
Jadi itu semacam.....
Mei : yaps!yuhuuuu....
Mika sex-y : O my god! Niiiiin!!!!woi...
Mau jujur atau gue periksa head to toe badan Lu?!!!
Mei : For your information, Anindira tepar di pojokan cyiin...Sudah nggak sanggup apa-apa dia!! Jalannya udah bukan lagi ngangkang tapi ngesot- mungkin kita perlu siaga ambulans.. Muahahaha. Mik, inget ya, jatah gue..!!
Mika sex-y : alamak!!!separah itu??
Tadi siang masih baik-baik saja. ya.. kecuali bibirnya yang sedikit bengkak. Hahahahaha.
Dan mereka berdua yakin bahwa saat ini Anin sedang membaca chat grup nya. Sedangkan setelah mereka berdua bertemu hanya tawa terpingkal yang mengisi setiap obrolan mereka.
Sahabat macam apa kita ini??
Dan mereka tertawa lagi.
Anin berkerut alis melihat layar ponselnya yang sedang menunjukan percakapan grup nya. Benar-benar gila sahabat-sahabatnya.
Dan Anin sadar ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari mereka. Mereka terlalu pintar dan berpengalaman. sial!!
Masih segar dalam otaknya, ketika tadi pagi ia kebingungan di depan kaca bagaimana menutupi bercak-bercak merah pada hampir -seluruh- kulit lehernya.
Dan kalau sampai ada yang tahu, bisa jadi bahan obrolan seluruh penghuni rumah sakit.
Parahnya, ketika Anin protes pada suaminya Bima malah nyengir-nyengir kuda, pasang muka melas tanpa dosa.
Lagi-lagi ulah si kingkong!! mungkin julukan kingkong masih terlalu bagus buatnya.
Kissmark hilang berapa hari, sih???
"Kkyaaaaaaa!!" Erang Anin frustasi.
**************************
Komen yang banyak dong.... seneng tau bacain komen yg lucu-lucu
ig: kata_upil
Yang sudah baca sampai end, jangan spoiler ya....
Mangatoon
noveltoon
ANIN
Bellacandra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments