Tak terencana

Bima perlahan melonggarkan pelukannya setelah dirasa tangis gadis itu mulai mereda, "Are you okey?"

Anin mengangguk pelan.

"Are you sure?!" Ulang Bima lagi.

Anin melepaskan dirinya dari pelukan suaminya dan menyusut ingus serta bekas-bekas air matanya. Sungguh Anin merasa konyol di hadapan suaminya atas tingkahnya yang mungkin dianggap suaminya berlebihan.

Bahkan dalam kondisi ingusan saja, tingkahmu sangat menggemaskan.

"Kamu, kapan datang?" Gumam Anin.

"Baru saja." Ucap Bima menahan tawanya melihat tingkah istrinya.

"Pasti capek? Mau aku buatkan teh manis?"

"Nggak usah, Saya cuma penasaran dengan es krim mu tadi, boleh ikut cicipi?"

"Yaah," Anin mencari cari bungkus berisi stik es yang entah ia lemparkan kemana. "Bisa mengundang semut kalau sampe nggak ketemu."

"Terus, maksud kamu...Saya mau dikasih es yang sudah kamu buang??" Masih dengan meneliti tingkah istrinya.

"Lho, katanya tadi mau cicip?" Anin masih sibuk mengobrak abrik selimutnya. "Naaaah... ini dia bungkusnya."

"....."

"Yah, lumer. Tapi masih sisa nih Mas, sedikit..hihi.." seringai nakal Anin menghiasi wajahnya.

Bima menangkup kedua pipi istrinya gemas. "…siapa yang habisin?"

"...."

Detik berikutnya Bima mencium bibir Anin begitu dalam. Menikmati perpaduan rasa manis coklat dan susu yang masih tertinggal pada bibirnya.

Walaupun sempat kaget, namun Anin akhirnya membalas pagutan suaminya. Seseorang yang beberapa hari terakhir begitu dirindukan, begitu dinantikan kehadirannya.

Kini dia telah disini di depannya. Sepertinya aku....menginginkannya.

Keduanya begitu larut dalam emosi kerinduan. Tak ada yang mau mengalah untuk sekedar menghirup oksigen. Hingga dirasa hampir habis stok oksigennya, Bima melepaskan bibirnya sejenak, menghirup udara banyak-banyak. Kemudian menciumi lagi pipi, hidung, mata, kening, bibir istrinya bergantian, dengan penuh kerinduan yang tertumpah ruah di dalamnya.

"Mas, mandi dulu gih! Bau Matahari." Tentu saja Anin berbohong. Dia hanya tak ingin suaminya masih tertempel aroma wanita lain. Ia menginginkan suaminya yang wangi sabun dan bersih dari segala sisa-sisa show-show telanj**g disana.

"Hhmm...." Bima semakin nakal menciumi istrinya  dari bahu hingga ke lehernya.

"MAS!!! Mandi dulu!!!"bentak Anin gemas.

Bima terdiam. Kaget. Istri judesnya telah kembali!! Gumamnya dalam hati.

"Saya memang mau mandi, kamu pikir mau ngapain???" Sambil tersenyum jahil Bima bangkit dan melenggang menuju ruang sebelah.

Dari ruang sebelah terdengar suara kran air bekerja. Segarnya. Anin jadi tergugah ingin membasahi tubuhnya yang sudah setengah basah.

Tak menunggu lama, gadis itu menyusul dan bergabung bersama suaminya.

"Tak keberatan berbagi tempat, kan??"

Bima yang mula-mula asyik terpejam tiba-tiba melotot hampir keluar setengah bola matanya.

Tanpa menunggu jawaban, Anin segera masuk kedalam jacuzzi yang telah penuh terisi air dan tubuh suaminya.

Anin duduk membelakangi suaminya yang masih bingung tak percaya. Ini beneran Anin, istriku!? Kesambet bidadari mana???

Entah dari mana datangnya keberanian Anin, Bima merasa bergairah, serta bersyukur pada bidadari bahkan setan sekalipun kalau ternyata istrinya kesambet setan pojokan atau bidadari kayangan.

Anin mulai merapatkan punggungnya pada tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya pada tubuh suaminya. Menuntun jari-jari Bima pada bahunya.

Oh..rupanya istriku minta dipijat disini. Bahunya tegang. Oke baiklah... dan kau -jagoan- tolong diam!  Atau tidurlah!!! Jangan ikut-ikutan tegang!!!

Namun, Bima sungguh pria dewasa yang sangat normal, meskipun sekuat tenaga berusaha menidurkan si jagoan, Ternyata, sekeras, sekuat tenaga pula sang jagoan bangun dengan pede-nya.

Seolah tidak tahu, dengan pergerakan tubuh bawah suaminya, Anin justru semakin memundurkan tubuh belakangnya kepada suaminya, sengaja merapatkan pinggulnya.

"Stop!! Jangan menggodaku!!" teriak Bima frustasi.

Dengan acuh tak acuh atau karena tuli mendadak, Anin tidak mendengarkan protes suaminya, ia justru semakin berani dan semakin nakal.

Demi tuhan!! Masuk neraka pun rela kalau godaannya seberat ini!! batin Bima.

Tanpa menyia-nyiakan lebih lama lagi atas undangan istrinya yang menurutnya entah kenapa -sepertinya Anin- menginginkannya.

Dengan insting kedewasaannya. Bima mulai menciumi tengkuk istrinya, menggigit dan mengecup belakang telinga Anin, lalu turun menyapu lehernya dengan bibirnya, menggigit-gigit kecil bahu Anin yang mulai berirama.

Tangan Bima mulai meraba dan meremas bagian depan istrinya yang terbuka, tangan lainnya meraba lebih jauh ke dalam tubuh Anin.

Anin terkesiap kaget ketika jari-jari Bima membelai inti kewanitaannya. Dan irama jantungnya menjadi begitu sangat cepat.

Irama desahan Anin membuat Bima semakin kacau. Kepasrahan Anin membuat dirinya semakin bergejolak dalam gairah. "Maaf sayang, membuatmu begitu basah."

Bima mendukung Anin dan menggendongnya ke dalam kamar, merebahkannya di atas kasur yang kini menjadi basah akibat tubuh mereka.

Dengan segala gairah yang membakar habis dirinya, Bima menunduk untuk mencium Anin -istrinya- dan gadis itu membuka diri, membiarkan laki-laki itu memiliki dirinya. Mungkin ini waktu yang tepat buatku!

Kedua matanya terpejam dan bibirnya meloloskan pekikan pendek saat Bima mendesak menyatukan tubuh mereka.

Bima terdiam sejenak untuk memberi ruang pada Anin agar terbiasa menerima dirinya.

Jari-jarinya merangkul pundak belakang Bima, mencengkeram dengan keras ketika Bima mulai bergerak di dalamnya. Dan gelombang gairah itu membawanya melambung tinggi.

Anin melengkungkan punggungnya, meraih lagi leher suaminya, menariknya kasar. Dan mengacau setiap nada yang keluar dari bibirnya. Menyebut nama suaminya berulang kali saat ritme gerakan mereka semakin panas dan mendapat kebebasannya.

Jantung Bima seolah diremas, paru-parunya terasa menyempit dan stok oksigen dalam tubuhnya menipis. Dirinya sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi hingga pada titik itu Bima menyerah pada gairahnya, Dan tak lama merasakan tubuhnya ringan melayang-layang.

Bima mencium kening istrinya, lama. Lalu berpindah pada bibirnya.

Tak berapa lama Bima kemudian melepaskan dirinya. Takut mendapat protes karena berat tubuhnya atau protes pedang arturnya yang minta lagi.

Bina merebahkan dirinya di sisi Anin. "Saya ingkar dan saya kalah pada janjiku, maafkan suamimu ini."

"Nggak, Kamu lah pemenangnya." Anin membelai lembut suaminya. "Kamu telah memenangkan hatiku." Anin menelusupkan kepalanya pada lengan kiri suaminya.

Bima membalas Anin dengan memeluk punggungnya. Dan kembali menghujani wajah istrinya dengan ciuman-ciuman kecil. Laki-laki itu merasa sangat bahagia. Mungkin malam ini Bima lah orang yang merasa paling bahagia dan belum pernah ia merasa sehebat ini selama hidupnya.

Dan sekali lagi Bima menyadari bahwa perempuan inilah yang telah menaklukan hatinya.

Bima jatuh sejatuh-jatuhnya kepada cintanya. Pemuda itu mencintainya.

Dan keduanya terlelap dalam balutan rindu yang lunas terbayar serta sisa-sisa gairah yang masih menghangat.

Pukul delapan malam, mereka terjaga oleh suara mbok Jum yang memberitahukan bahwa makan malam nya hampir dingin.

"Mau makan?" Tanya Bima pada gadis -eh sudah nggak gadis- dalam pelukannya.

Anin menggeleng enggan. Siapa yang peduli makan disaat saat seperti ini!

"Kamu yakin, sayang? Malam ini saya akan membuatmu susah tidur. Dan kamu pasti butuh tenaga."

"Kamu sendiri belum makan, belun istirahat, apa nggak capek??! dan Besok aku juga ada jadwal dengan dokter Wisnu," Rayunya pada suaminya.

"Dokter Wisnu akan memaklumi dan nggak ada yang saya inginkan selain ini...." Dan Bima enggan mencehag tangannya yang mulai bekerja tanpa menunggu komando.

Dan mereka kembali melanjutkan tembang cinta nya yang sempat tertunda sekali lagi dan sekali lagi. Seakan tak pernah puas dan tak akan ada hari esok.

Dan tak akan kubiarkan mimpi buruk datang setelahnya.

Sementara itu di salah satu gedung seseorang berdiri di balik kaca jendela lantai dua.

Dengan segelas wine di tangannya dan dari pemutar suara mengalun simfoni klasik dari salah satu karya chopin.

Pemuda itu menatap lurus kedepan dari balik matanya

***

Terpopuler

Comments

santi Kurnia

santi Kurnia

lanjuuut thor

2020-04-14

2

lihat semua
Episodes
1 Malapetaka
2 Wedding Day
3 Hari baru
4 CUMI! Cuma Mimpi
5 Dapur, Kasur, kasur!
6 Praduga yang salah
7 Abimanyu
8 Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9 Semuanya baru!
10 Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11 Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12 Tak terencana
13 Akhirnya Anin Nganu
14 Jujur
15 Mimpi buruk Anin yang hilang
16 Honeymoon yang Tertunda
17 Siapa Dia?
18 Aku dan Bintang
19 Masa lalu yang mengganggu
20 Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21 Handphone baru
22 Bintang malam yang tak Terkendali
23 Sisi Kelam Anin
24 Sembilu Syahdu
25 Sembilu Syahdu - 2
26 Dosa termanis
27 Kamu kembali
28 Terbawa suasa aja, sih ....
29 CIe, kangen ....
30 Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31 Datang Berkunjung
32 Kesalahan menyapa
33 Perkara Es krim
34 Cemburu tanda Rindu
35 Adakah yang lebih dari ini?
36 Menepi
37 Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38 Mohon Ampun
39 Berunding biar nggak pusing
40 Permintaan dari sana!
41 Yaaah! Istananya jebol juga
42 Naluri dan Kewarasan Diri
43 I gotta love you
44 Papa Tua dan Emosinya
45 Amplop dan rahasianya
46 Madu dan Racun
47 Yang lepas, ikhlaskan
48 Fakta yang terabaikan
49 Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50 Kemana?
51 Keliru
52 The last - Nice to see you
53 Till the End
54 Pengumuman
55 Jakarta I'm I Love
56 Kelakar Sahabat
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Malapetaka
2
Wedding Day
3
Hari baru
4
CUMI! Cuma Mimpi
5
Dapur, Kasur, kasur!
6
Praduga yang salah
7
Abimanyu
8
Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9
Semuanya baru!
10
Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11
Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12
Tak terencana
13
Akhirnya Anin Nganu
14
Jujur
15
Mimpi buruk Anin yang hilang
16
Honeymoon yang Tertunda
17
Siapa Dia?
18
Aku dan Bintang
19
Masa lalu yang mengganggu
20
Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21
Handphone baru
22
Bintang malam yang tak Terkendali
23
Sisi Kelam Anin
24
Sembilu Syahdu
25
Sembilu Syahdu - 2
26
Dosa termanis
27
Kamu kembali
28
Terbawa suasa aja, sih ....
29
CIe, kangen ....
30
Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31
Datang Berkunjung
32
Kesalahan menyapa
33
Perkara Es krim
34
Cemburu tanda Rindu
35
Adakah yang lebih dari ini?
36
Menepi
37
Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38
Mohon Ampun
39
Berunding biar nggak pusing
40
Permintaan dari sana!
41
Yaaah! Istananya jebol juga
42
Naluri dan Kewarasan Diri
43
I gotta love you
44
Papa Tua dan Emosinya
45
Amplop dan rahasianya
46
Madu dan Racun
47
Yang lepas, ikhlaskan
48
Fakta yang terabaikan
49
Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50
Kemana?
51
Keliru
52
The last - Nice to see you
53
Till the End
54
Pengumuman
55
Jakarta I'm I Love
56
Kelakar Sahabat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!