"Mungkin benar, kata dokter Yeni, Aku butuh ke psikiater deh Mik," Keluh Anin pada sahabatnya ketika mereka sedang menyantap makan siang.
"Kenapa? Muntah, Pusing lagi?"
'Iya. Dan sudah hampir sebulan tak ada perubahan. Sakit kepalaku masih saja sering kambuh."
"Yakin, bukan karena kamu hamil?"
"Bukan!" Anin mendengus kesal.
"Ya, kali aja Lu bunting Nin," Mika terkekeh. Dan menyuapkan puding ke mulutnya sendiri.
"Gimana hubunganmu dengan Abi?" Tanya Anin iseng.
"Maksudnya apa nih? Kok tumbenan tanya soal hubungan gue?? Lu nggak lagi berharap kita putus, kan?" Selidik Mika.
"Setan! Ya enggak lah. Masa tanya saja nggak boleh."
"HAHAHA. Setan teriak setan." Teriak Mika di tengah-tengah tawanya.
Hampir saja sendok melayang dari tangan Anin beralih fungsi jadi alat pukul.
Mika membentuk pertahanan dengan kedua tangannya. "Ampuun bos, ampun, hee! Abi, Dia sudah banyak berubah." Mika kembali melanjutkan menyendok pudingnya.
"Syukurlah, semoga kamu pelabuhan terakhirnya." Bisik Anin.
"Lu kira kapal, pake berlabuh." Jawab Mika sekenanya. "Kapan kita ngumpul kangen nih sama si monyong satu itu." Imbuhnya.
"Entahlah, Dia terlalu sibuk di pelosok sana." Anin menimpali pertanyaan sahabatnya.
"Untung gue langsung gercep. Nggak jadi deh dilempar ke daerah. Hohoho."
"Curang itu!" Tuduh Anin.
"Biar! Apalagi sebentar lagi Abi balik. Demi apapun gue rela, asal bisa satu tempat dengannya." Aku Mika tak tahu malu.
"Oh, nggak kerasa ya, tahu-tahu selesai."
"Nggak kerasa pala Lu? Gue yang ngerasain LDR berasa se-abad tahu!"
"Yaelah, lebay Lu."
"Bodo."
"Memangnya, kapan dia balik Indo?" Tanya Anin setelah beberapa saat terjadi keheningan.
Mika tidak segera menjawab. Ia menatap sahabatnya sebentar sebelum tersenyum dan merona. "Lusa deh kayaknya."
Anin tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya yang mirip anak ABG sedang jatuh cinta. Padahal udah tua hampir renta.
Kedua dokter muda itu menoleh hampir bersamaan ketika terdengar pintu diketuk. Dan tak lama muncul seseorang dari balik pintu ruang dokter.
"Hai," sapa Dokter Firman dengan menunjukan deretan gigi putihnya. "...sorry ganggu. Bisa minta bantuannya sebentar?"
Anin mengernyit. Apalagi sih nih orang!
Mika melirik sahabatnya dan nampak belum ada tanda-tanda darinya akan membalas sapaan co-gan yang menunggu di depan pintu.
Satu...dua..tiga.. ! yaelah kenapa gue terjebak dalam posisi awkward gini. Mika menatap sahabatnya lagi, kali ini dengan tatapan isyarat yang mungkin bisa diartikan "Nin, please dong itu jangan dianggurin! Jawab!!"
Ani mengedikan bahunya. Lu aja gih sana. Masih dalam isyarat mata.
Dan Firman dapat merasakan aura yang tiba-tiba berubah serta menangkap percakapan mata kedua wanita di depannya itu.
Mika tersenyum canggung dan terkesan dipaksakan. "Hai dok...." dan bukan karena apa-apa Tapi dimata Mika sekarang dokter Firman jadi sedikit lebih tampan dan ramah dari Abi. Ahh Abi, aku merindukannya.
"Tentu, dengan senang hati dokter Anin pasti mau membantumu, yaa kan, Nin?" Mika menoleh pada sahabatnya yang juga sedang menatapnya, dengan tatapan laser mematikan miliknya. Barangkali kalau diartikan. Kubunuh kau setelah ini, Mim!
Anin menarik nafas panjang. "Ada apa ya, Dok?" tanya Anin datar.
"Itu, pasien Sintya, Akan dipindahkan ke ruang perawatan dan aah you know lah bagaimana beliau, harus selalu perfect. Dan dia meminta dokter perempuan yang wangi, yang cantik, untuk mengantarkannya!" Terang Firman.
Aah...apa bukan alasanmu saja!! pikir Anin.
"Jadi.. Can you help me, dokter Anin?" Tanyanya sekali lagi.
"Oh, ya. Saya segera kesana." balasnya singkat.
"Oke! Ditunggu." Dan Firman segera meninggalkan daun pintu yang sedari tadi di pegangnya.
"Yaaa ampun, Nin! Lu biarin dokter cakep mematung di depan pintu. Tegaa kamu! padahal dia calon pengganti dokter Hadi, loh!" Cerocos Mika setelah sepeninggal Firman.
"Lah, kalau mau masuk ya tinggal masuk aja nggak perlu dipersilahkan!!" Dengus Anin kesal.
"Alamak!! Princes kita sensi sekali.!" jawab Mika tanpa mengacuhkan ucapan kesal sahabatnya itu.
Anin mendengus kesal lagi. "Aku kesana dulu."
"Gih..!!" Mika tersenyum lebar seraya menggerakan telapak tangannya ke udara. Mengusir sahabatnya.
Anin meninggalkan Mika dan buah mangganya yang belum sempat ia sentuh.
***
"Selamat sore, ibu Sintya." Sapa Anin ramah serta seulas senyum yang mampu melelehkan kutub utara barangkali.
"Iya! saya." Jawab yang disapa ketus. Dengan tatapan matanya menguliti setiap inci bagian tubuh si penyapa. "Kamu! Dokter yang disini tadi ya?!"
"Iya Ibu.... nama Saya Anin," ucap Anin selembut mungkin. Kain sutera mah lewat.
"Saya tahu. Saya belum rabun masih bisa baca, nama kamu Anin." jawab si pasien dengan emosinya.
Astaga!! sabar...sabar..!! "Oh tentu." Anin menyunggingkan senyum tipis. "Barangkali saya perlu memanggil ibu dengan sebutan tante, karena sepertinya masih terlalu muda untuk disebut ibu." Rayu Anin pada pasiennya. Fiuh….
"Ah, kamu bisa saja." Sintya tertawa lebar. "Saya sudah tua begini, apa masih pantas??" Tanya Sintya.
"Oh, tentu dong, Tante masih sangat pantas." Jawab Anin dan tak lupa menyertakan senyum semanis madu.
Ternyata ini kelemahannya. Okeh baiklaah!!!
"Jadi? Apa sekarang, kita sudah bisa pindah ruang perawatan, Tante??" Bujuk Anin.
"Nggak usahlah, biar tante disini saja sama kamu."
Waduh!! musibah ini. "Loh, di ruang perawatan lebih enak kok tante, lebih nyaman. Kita sudah persiapkan kamar khusus buat tante." Terang Anin dengan ekstra sabar. Mudah-mudahan bukan kamar jenazah! Okeh stop Anin kamu tidak boleh berfikir kotor tentang pasienmu.
"Ah….sudahlah! biar tante disini saja! Nggak mau disana. Sepi!" seru Sintya menolak mentah-mentah tawaran Anin.
Ya ampun, ini sih mending bujuk anak umur lima tahun. Kasih permen atau boneka , beres.
"Saya temenin tante kesana dan pasti akan sering-sering nengokin tante di sana. Kalau disini sedang sepi." Dan itu mustahil tante. Disini nggak pernah sepi!! "Disana juga banyak perawat yang siaga buat tante. Dokter juga dipilih khusus buat memeriksa tante." Oceh Anin masih berusaha membujuk pasien spesialnya ini.
Dan bukan karena apa-apa. Dia memang harus segera dipindahkan, selain bed di ruang IGD terbatas. Kan ruang ini khusus untuk penanganan awal pasien kegawat daruratan. Bisa dibayangkan, kalau sedang rame-ramenya pasien dan ada satu pasien yang merepotkan seluruh petugas, sedangkan pasien yang datang perlu segera ditangani.
Itulah kenapa dokter Hadi langsung meng instruksikan agar segera dipindahkan bagaimanapun caranya.
"Iya, betul apa kata dokter Anin, Bu, disana jauh lebih wangi dan sejuk dibanding disini, bau wipol." Ucap suster Heti menambahkan.
"Kamu ngusir saya??!!!!" Bentak Sintya pada perawat senior itu.
Suster Heti seketika diam mematung dan Ani dapat dengan jelas melihat raut muka suster Heti yang menahan kesal.
"Tapi bener lho tante, disini bau obat dan sedikit aroma semacan kamar mandi, ya nggak sih??" tak kalah akal Anin masih mencoba.
Sintya terlihat sedang berpikir keras, mungkin ada benarnya juga pikirnya. "Iya juga sih dan saya sebal bau wipol ini." Jawab Sintya membenarkan.
Ck! Ternyata lebih sulit dari merayu anak SD yang akan disuntik imunisasi Tetanus. Pantas saja suaminya nggak betah dirumah!! -ya tuhan ampuni saya, untuk kali ini saja, biarkan saya memaki pasien yang satu ini dalam hati.
"Jadi...apa tante mau pindah?"tanya Anin lagi masih dengan kegigihannya.
"Boleh deh, tapi saya maunya kamu yang menangani dan merawat saya." Tawar sintya.
Mampus deh gue, Mimpi apa semalam sampai ketemu barang antik begini. "...suatu kehormatan sekali buat saya, tapi saya merasa belum pantas buat Tante." Anin tersenyum tipis pada pasien antiknya ini.
"Ah! Alasan." Oceh Sintya tak mau kalah. "Kalau begitu saya tidak mau pindah. Titik!!!" Omel Sintya.
"Bukan begitu lho tante, sungguh saya sangat menyesal, karena belum punya cukup ilmu dan saya takut mengecewakan tante." Bela Anin dengan masih mempertahankan kesabarannya yang sudah menipis.
"Ah, sudahlah! Pokoknya saya maunya begitu!"
"Tapi, tante...." tiba-tiba dokter Hadi muncul dibalik bahu Anin dan ternyata hebohnya pasien atas nama Sintya ini sudah sampai ke ujung dunia. Eh salah, ke pucuk pimpinan.
Anin menoleh kaget ketika bahunya ketiban sentuhan berat. Gue kira malaikat pencabut nyawa.
"Mulai sekarang, saudara Anindira saya pindah tugaskan ke bagian internis dan sementara nyonya Sintya dirawat di rumah sakit ini, Saudara saya beri tugas untuk bertanggungjawab atas nyonya sintya." Instruksi dokter Hadi dengan wibawanya.
"Oh. Baik Pak." Jawab Anin mantap. Mesti senang atau sedih Anin sendiri bingung dengan titah barunya itu. Disisi lain dia merasa terbebas dari ruangan dimana dia pernah mengalami pengalaman tak mengenakkan dan sedangkan di depannya sudah terbayang bagaimana amat sangat membosankan hidupnya untuk beberapa hari kedepan dengan kepura-puraan. Huhhh!!
Anin membuang nafas berat.
"Kalau begitu, segera siapkan berkasnya." Pak Hadi sekilas menyapu pandang ke arah sintya yang sedang terbaring dengan matanya fokus mengawasi.
"Dan bawa nyonya sintya kita ini ke ruangannya." Tambah dokter Hadi. "Jangan lupa perlakukan nyonya dengan baik!!" Pada kalimat terakhir, dokter Hadi sempat melempar kode dengan matanya.
Yang Anin artikan. "Selamat berjuang dan ikuti saja maunya...kamu yang sabar ya."
Seperti mengerti kekhawatiran yang Anin alami, dokter Hadi pun menugaskan dokter lain untuk mengisi posisinya.
***
Pukul tujuh lewat sepuluh menit Anin sampai di apartemennya dengan sisa-sisa tenaganya.
Hari yang melelahkan!
Anin melepas stilettonya asal saja dan melemparkan jas putihnya ke atas sandaran kursi makan.
Anin mengecek telepon genggamnya dan ada beberapa pesan masuk. Salah satunya dari sahabat gilanya yang mengucapkan selamat datang di neraka.
[Welcome to the hell, bibeh.]
[Sumpah!!Gue turut prihatin mendengarnya. hahaha!! Dan selamat atas job baru nya Pengasuh oma-oma Aku yakin kamu bisa, semangat honey!! KISS BASAH dari gue spesial buat Lu.]
Anin mendengus kesal. Prihatin tapi ketawa!! Setan satu itu, minta banget di bunuh. Bahagia diatas penderitaan sahabatnya sendiri, awas saja dia!!!
Anin masih sibuk meneliti ponselnya ketika Bina keluar dari persembunyiannya sambil membawa koran pagi tadi.
"Hai, Sayang." Bima mengecup pucuk kepala istrinya.
"Mas sudah makan?" Tanya Anin tak bermaksud mengacuhkan tindakan suaminya.
Bima duduk di salah satu kursi di seberang Anin. "Belum. Kita makan sama-sama." ucapnya dan mulai membuka lipatan koran tadi pagi. "Mandi lah dulu, kamu bau rumah sakit." Tambahnya tanpa mengangkat kepalanya.
Anin mengernyit heran pada suaminya. Tumben-tumbenan dia berkomentar sampai sejauh itu. "Siap laksanakan!!" Anin pun bergegas meninggalkan suaminya. Dan lima belas menit kemudian ia kembali dengan rambut basahnya serta kaos putih polos setelan dengan celana pendek berwarna merah muda.
Bima menatap sekilas tampilan istrinya yang baru saja selesai mandi lengkap dengan pakaian santainya. Lagi-lagi bagian bawah tubuhnya merespon lebih cepat ketimbang otaknya. “Sabar bos!!kita isi amunisi dulu baru kita tarung,” gumamnya dalam kepalanya.
***
Anin sedang terbaring diatas tempat tidur sambil membaca majalah fashion ketika suaminya menghampirinya dan mulai menyentuhnya.
Kalau boleh menolak tentu Anin akan menolak dan pura-pura tidak tahu kode-kode yang diberikan suaminya, namun sekali lagi Anin mengingat. Bukannya menolak suami itu dosa?!
Anin sendiri mulai terbakar gairah ketika sentuhan suaminya semakin liar. Semakin dalam. Rasanya sudah berabad-abad dia tidak merasakan kasih sayang suaminya.
Bima mulai mencumbu wanita yang berada di bawahnya, di dalam kungkungannya dengan penuh gairah. Dia begitu merindukan istrinya.
Setelah hampir satu bulan dia tidak menyentuh istrinya. Rasanya begitu bergairah. Dan bayangan wanita lain muncul di depan pelupuk mata Bima.
Bima menggelengkan kepalanya ke samping. Menutup matanya rapat-rapat berusaha mengusir bayangan itu. Dan ketika membuka matanya kembali, Bima menemukan wajah istrinya menangis di sudut kamar. Menyaksikan perselingkuhan dirinya dengan mantan kekasihnya.
Anin menatap heran pada pria yang berada di atas dirinya. "Mas!! Kamu kenapa??" Anin menyentuh pipi suaminya. Sentuhan Anin pada suaminya berhasil mengembalikan kesadarannya.
"Ah! nothing." Dan ketika Bima melanjutkan kegiatannya, bos kecilnya justru malah tertidur, sekeras apapun ia berusaha membangunkan. Dia tak juga bangun.
Sampai Anin sendiri jengah dan memutuskan untuk menyusul bos kecil tidur.
"Kita tunda saja untuk besok pagi," ucap Anin sebelum tidur sambil menepuk-nepuk dada suaminya. Namun tidak ada kepuasan pada kegiatan besok pagi, ataupun malam-malam berikutnya.
Semenjak malam itu Bima selalu gagal menuntaskan permainan yang dia mulai sendiri. Dan Dia tahu istrinya kecewa.
“What's wrong with me!" jerit Bima dalam hati.
"Kita coba lagi besok. Jangan putus asa." Anin berusaha membesarkan hati suaminya walaupun dewi bathinnya juga butuh untuk ditenangkan.
Dan semakin hari Bima semakin jatuh terpuruk pada lubang yang ia gali sendiri.
Dia malu pada dirinya sendiri dan Pada istrinya!!!
*************** komennya dong gais.... **********
noveltoon
anin
bellacandra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments