"Ya ampun beib, akhirnya kau angkat juga, lagi ngapain sih, Sibuk banget? sampai kau acuhkan drivermu ini," Gerutu Mei di seberang sana.
"Sorry, sorry ... aku ketiduran dan aah.. memalukan." Anin memegangi jidatnya, mengingat kembali kejadian sesaat lalu. "Ntar aku ceritain. Buruan jemput, Aku udah siap nih."
"Sabar nyonya, macet ini di cililitan. Tunggulah."
Tut.
Tiba-tiba Sambungan telepon terputus.
“Ah kampret ni bocah, siapa yang telpon siapa yang matiin.” Mei mendengus kesal.
***
Selesai berhias, dilihatnya jam di tangannya,14:20 siang. “Pantes saja cacing perutku protes,” gumamnya sendiri.
Tak lama terdengar bunyi klakson dari luar, Pasti itu si Mei. Anin keluar sambil menenteng tas dan koper nya. "Mbok, mbok jum..."
"...Ooh, disini rupanya," ucapnya lega karena akhirnya ketemu juga orang yang dicarinya. Sedang asyik cuci piring.
"Ya dimana lagi neng, kalau ndak di dapur yo di sumur," cicit si mbok.
"Mbok, aku pamit pulang dulu yah, tolong sampaikan sama mas Bim, aku di jemput sama Mei, balik ke apartemen dulu."
"Lho, ndak tinggal disini saja, nak Bim kasian nanti kedinginan lho," ucap mbok Jum menggoda.
Dan keduanya saling bertukar senyum, senyum malu-malu dan senyum iseng godain.
"Saya pergi ya, Mbok."
"Iya neng, Ati-ati." "...Waalaikumsalam." tambahnya.
"Ah.. iya, Assalamualaikum." jawab Anin malu.
Setelah memasukan barang bawaannya ke bagasi, Anin pun segera menyusul sahabatnya masuk kedalam mobil dan segera meluncur pergi meninggalkan pelataran rumah.
"Mau cerita apa-an tadi." ucap Mei membuka obrolan. Dilihatnya sahabatnya hanya diam asyik memainkan ponselnya.
"Yaelah, dia malah bengong." tambahnya. Meilani pun memutuskan untuk membiarkan sahabat yang sedang berkencan dengan pikirannya yang sepertinya enggan diganggu.
Sepanjang perjalanan, Anin asyik dengan pikirannya, dia acuhkan sahabatnya yang rela jadi supir diadakannya itu.
Sebaiknya aku telpon atau jangan? atau aku whatsapps aja. Ah, tapi kenapa harus aku? dia aja adem ayem aja, nggak ngasih kabar apa-apa. suami macam apa, kelakuannya begitu. Menguntit istrinya. tapi, aku juga sih, lancang memakai kamarnya.
"Hhmmm, oke-oke. Iya, baiklah!! aku yang salah," gumamnya.
Anin membuka ponselnya, mengetik kalimat, lalu memencet tombol send.
***
Bima merasakan Telepon selulernya bergetar. Siapa yang lancang mengganggu jam kerjanya, bahkan kedua orang tuanya saja tak berani. Pentingkah?
[Mas, Aku balik ke apartement dulu,maaf untuk yang tadi, Aku pakai tempatmu. Sorry}
Dan pemuda itu membalas tak lama kemudian
[Maaf diterima.]
[Oh ya, dan lain kali jangan lupa ajak-ajak! ]
Bima tersenyum lalu menoleh kembali pada partner rapatnya. "Oh ya, sampai dimana tadi..." ucapnya kembali semangat.
***
Anin menekan kesal tombol On di ponselnya dan menunggu dengan percuma, karena layar hitamnya tidak mau menyala. Baterai ponselnya benar-benar habis.
Kalau saja tadi tidak ketiduran!
Anin mengerang frustasi. Ia butuh sisa baterai terakhirnya untuk bisa sekedar tau apa reaksi si Kingkong itu.
Suara de'hem di sebelahnya membuatnya sadar bahwa sahabatnya masih di sana sejak tadi. Gadis itu duduk dengan raut aneh di belakang kemudinya.
"Nyonya, kita sudah sampai tujuan dan nyonya harus segera turun, karena saya sudah harus kembali jadi dokter." Lantas, "Buruan turun!" seru Mei yang pura-pura marah tentunya.
Anin menebar senyum pamungkasnya yang dispesialkan untuk sahabatnya itu. Lalu ia merasa sangat bersyukur bahwa nyatanya dia masih punya sahabat gilanya. "Thank ya Maemunah," bisiknya.
Anin menyeret kakinya dengan susah payah menuju blok A Lt.5 No.17 Apartemennya, di kawasan Dewi sartika - Jatinegara yang ia tempati dengan sahabat gilanya itu.
Anin kaget ketika masuk dan mendapati ruangannya jauh dari kata rapi dan harum. "Ya tuhan … Aroma apa ini!!"
"Meilani Sundari, kenapa ini!!!!” teriaknya pada ruangan itu.
Sementara itu, Meilani dari balik kemudinya membayangkan ekspresi Anin yang melihat seberapa hancurnya ruangan itu.
"Hahaha, sorry Anin-ku sayang. Niikmatilah sisa aroma permainan kita," ucap Mei.
***
Entah pukul berapa sekarang.
Anin terlalu lelah untuk membuka kedua matanya Setelah kerja rodi akibat ulah sahabatnya.
Rasa pegal menyeluruh dirasakan disekujur tubuhnya. Namun berbanding terbalik dengan mata yang susah terbuka, telinganya justru telah siaga.
Suara berisik dari kamar sebelah telah mengganggu ketenangan tidurnya.
"Yasss honey!"
Tiba-tiba dirasakannya bulu kuduknya meremang. Terlintas kembali mimpi anehnya.
"Aaakk! tidak bisakah aku dibiarkan tidur sebentar," Teriak Anin frustasi.
Suara berisik kembali terdengar. Kali ini dengan diikuti suara nafas menderu. Dan suara benda terjatuh.
Oh god. bukan mimpiku rupanya. Sialan si Monyong, ngapain lagi dia disebelah?!
Heran? jelas nggak. Anin sudah terbiasa dengan kelakuan temannya itu. Walaupun kadang merasa terganggu juga. Dan kalau sudah begitu paling Ia menginap di Ruang Jaga dokter di rumah sakit tempat tugasnya.
Anin pun meraih ponselnya yang masih menancap pada charger yang entah sudah berapa lama.
Diaktifkannya ponsel itu dan rupanya sudah banyak notifikasi dari beberapa aplikasi chatting. Salah satunya dari kontak yang ia beri nama ‘calon_suami’. Padahal status terbarunya sudah berubah jadi ‘suami’.
[Maaf diterima]
[Oh ya, Dan lain kali jangan lupa ajak ajak.]
Anin merona. Dan kembali otaknya memutar kejadian siang tadi.
Selama ini, walaupun dia hidup di kota besar yang syarat akan dunia malam, pergaulan bebas, namun hal itu tidak berpengaruh terhadapnya. Walaupun tak sedikit lelaki tampan, mapan yang tergoda akan kecantikan dan keindahan tubuhnya dan menawarkan kenikmatan dunia, Anin tak bergeming.
Dan Anindira Pearly Otis bukanlah gadis polos yang tidak tahu hal yang berbau sex, sesekali dia juga membaca kisah roman dan menonton adegan semi, apalagi salah satu mata kuliah yang ia ambil pun tak jauh dari pembahasan mengenai hal itu.
Namun Anin tetap menjaga miliknya, utuh. Yang hanya boleh disentuh oleh seseorang yang mencintainya yang kelak jadi suaminya tentunya.
Tok tok tok...
tok tok..tok....
Terdengar suara ketukan pintu yang makin lama makin kencang dan menuntut untuk segera dibuka pemiliknya.
"Siapa pula yg bertamu malam-malam begini," gumam Anin. "Ya, sabar...." dan tak ayal Anin pun akhirnya melangkah untuk membukakan pintu
"Kamu...." sapanya, yang terdengar kaget seperti melihat hantu.
"Hai," ucap laki-laki itu kikuk.
Dan lagi-lagi suara gaduh benda jatuh juga artikulasi abstrak tidak jelas intonasinya kembali terdengar.
Bukan cuma Anin, Bima juga mendengarnya.
"Aa\, Itu ___" Bima tergagap dan semakin kikuk.
"Ah, iya itu ... hahaha." Mudah-mudahan mas Bima nggak curiga macem-macem. Meilani matilah kau!
"Mas, kenapa malam-malam kesini? oh, Maksudku, ada apa? Apa ada yang penting?!"
Anin kemudian menutup pintu dan menggeser tubuhnya ke samping suaminya, sengaja tak membiarkan tamunya masuk. Bahaya, pikirnya.
"Apa saya mengganggu? Dan ini baru lewat waktu isya, masih terlalu dini untuk disebut malam."
"Ah\, ya yaa … sorry\, Mas. aku baru aja bang____" Dan Anin menyadari kesalahannya. Pantas saja dari tadi Bima seperti\, dia melihat kondisiku\, pakaianku dan ____ aaduh!
"Mas. Mas masuklah dulu." Kemudian Anin buru-buru masuk ke kamar sambil menutupi bagian dadanya yang setengah terbuka akibat kebiasaan tidurnya.
Pada akhirnya dibiarkannya juga tamunya masuk. Dan ikut mendengarkan desahan-desahan dari kamar sebelah yang entah kapan usainya.
Bima merubah lagi posisi duduknya untuk yang ke tak terhitung kalinya. Dia merasa tak nyaman di ruangan itu.
Kenapa Anin lama sekali dan kenapa disini panas sekali.
Bima melonggarkan dasinya.
Bima merasa sudah berada di titik didihnya. Dewa perangnya hampir berontak ketika Istrinya keluar dengan terlihat lebih rapi dan cantik di matanya.
Dengan rambut yang dibiarkan terjatuh menutupi bahunya dan sedikit lebih tertutup dengan dress selutut yang ia kenakan, Ya…walaupun bagian punggungnya tetap terbuka.
"Mas... Yuk,"
"Ah. Ya!" Bima terkesiap. "Kemana?"
"Kemana aja, yang penting keluar."
Ah, Aku tahu, ternyata kamu juga tak nyaman rupanya, istriku.
"Saya lupa, saya kesini mau ajak kamu ke acara temanku."
"......." Anin tampak bingung.
"Oh… Itu, peresmian hotel baru, dekat kok, di kalibata situ," ucap lembut.
Tuh kan aneh lagi. Ini berasa orang yang berbeda dengan yang tadi pagi. "Oh, Ada ya?"
"Ada, itu lho, yang di komplek Woodland park Residence, Kan ada hotelnya juga di situ," jelas Bima.
"Tapi, Aku? Pakaianku?"
"Kenapa dengan pakaianmu?" Meneliti dari atas hingga ujung kaki istrinya. "Nggak ada yang salah. Cantik."
Ya tuhan. "Seenggaknya mampir dulu sebentar ke salon buat ngerapihin rambutku ini."
"Ya sudah, ayo. Disini panas." Bima menarik tangan istrinya dengan tidak sabaran.
Sesampainya di parkiran mobilnya suara heels Anin menjadi tidak teratur ketika tiba-tiba Bima meraih kedua bahunya.
Bima mendorongnya mundur ke sisi mobil. Dan menempelkan bibirnya pada Anin sebelum gadis itu sempat mengatakan sesuatu.
Dan tidak seperti kemarin, ketika Anin hanya merapatkan bibirnya. Kali ini Gadis itu membuka bibirnya membalas dan menyambut suaminya.
Aroma Anin tidak lagi aroma mint. secara bibirnya terbalut lips gloss. Namun bagi Bima rasanya tetap sama seperti saat ciuman pertama yang menggetarkan jiwa.
Tak berapa lama, tertangkap oleh mata dan telinga Anin, suara langkah kaki seseorang yang sepertinya sedang berbincang dengan ponselnya.
"M-mas ... ada- orang," ucapnya terbata, tersengal.
Bima menangkup wajah Anin dengan kedua tanganya. Meraup dan kembali merasakan bibir gadis itu sebanyak-banyaknya. Tubuh mereka melekat dan mendesak tidak sabaran.
Bima kembali melanjutkan pagutannya. Anin meronta, sadar dengan kehadiran orang lain di sekitarnya.
Peduli setan. Bima menggeram kesal.
Dengan sadar Bima menarik pinggang Anin dengan salah satu tangannya, hingga gadis itu terkesiap. Tangan lainnya meraba-raba kebagian bawah mobil mencari handle pintu dan kemudian membukanya. Mendorong gadisnya membawanya masuk dan mendudukkannya, mengurungnya di dalam mobil..
Anin membisu dan hanya bisa mengamati tingkah suaminya.
Bima melihat bagaimana cantiknya istrinya, yang sedang dilingkupi rasa penasaran dan penuh tanya apa yang selanjutnya akan Bima lakukan.
Bima menunduk, kembali untuk menautkan bibir mereka, menikmati bibir ranum mempesona milik istrinya.
Bima menyapukan lidahnya dan memberi beberapa gigitan kecil di sana, hingga Anini mendesah pelan di depan wajahnya.
Desahan pelan yang mampu membangunkan gairah disekujur tubuh pria itu.
Bima kembali menempelkan bibirnya pada kulit leher istrinya. Berlama-lama bermain disana dengan kecupan-kecupan kecil, sementara tangannya mulai meraba dari betis hingga lutut sampai paha hingga akhirnya menghilang masuk kedalam gaun yang dikenakan Anin.
Bima menunggu, mengira akan ada penolakan atas aksinya.
Melihat Anin hanya diam saja tak bereaksi, dan seolah menunggu kelanjutannya. Ia pun dengan berani melanjutkan aksinya,
Menikmati bahunya, sementara tangannya tak berhenti meraba hingga ke pangkal paha. Anin mengalungkan kedua tangannya pada pinggang suaminya. Dan memandangnya dengan penuh putus asa.
"Tidak disini," bisik Anin ketika dirasakannya tangan Bima mulai mencoba menarik turun kain dalam yang dikenakannya.
"Kenapa?" Tentu saja dia tidak mau melakukannya di dalam mobil. Basar bodoh. Bawa pulang ke rumah.
"Karena aku tidak mau pengalaman pertamaku berakhir di tempat parkir seperti ini."
Tuh kan bener\, dia tidak mau pengalaman pertamanya di ___ apa tadi? Apa dia bilang tadi?! Pengalaman pertama?
Bima menegakkan tubuhnya, menjauhkan punggungnya. Matanya terbelalak kaget.
"He-hem, Aku tidak mau mendapat pengalaman pertamaku disini," ucap Anin datar. Tak terlihat malu ataupun kecewa.
Jadi Anin masih perawan sodara sodara. Haloooo ... istriku masih murni suci. Still virgin. Oh god.
Ya iyalah Bas Bima Aji, Kamu pikir Meilani? Dia sih, aki-aki ompong juga tahu, sebinal apa dirinya. Tampang nya aja yang sok polos.
What the hell! Bima masih terduduk, kaget.
Dia masih Pe-ra-wan. Dan kamu pikir dia wanita yang bagaimana Bima?
God. forgive me! dan aku telah salah sangka.
Ternyata dia….
"Mas!"
"...."
"Mas Bim."
"Hah! Ya."
"Jadi… bisa kita pergi? Dan aku benar-benar butuh untuk ke salon."
"Besok kamu masuk?"
"He hem… kenapa?" jawab Anin sekenanya dengan tangan yang sibuk merapikan tatanan rambut dan gaunnya yang terlihat sedikit kusut dan berantakan.
"Besok saya antar. Dan malam ini kita pulang ke rumahku. Tidak sehat tinggal di apartemen ini."
"Apa?!"
Tanpa mengacuhkan jawaban istrinya, Bima mulai membawa mobilnya pergi dan sudah hilang ditelan kegelapan di belokan depan gang Apartemen.
Diam-diam dalam hatinya Bima tak henti hentinya merasa bersyukur pada Tuhan karena telah menjaga istrinya dari jahatnya ibukota.
Dan sepanjang perjalanan, Bima pun masih tak habis pikir, Anindira masih Pe-, Sedangkan kehidupan diri nya, pergaulannya. Teman-temannya tak dapat di definisikan pergaulan baik-baik.
Ya tuhan, Saya merasa sangat berdosa.
Bima kembali menyentuh bibirnya. Sisa-sisa rasa istrinya masih tertinggal disana. Dan sekali lagi dari dalam hatinya yang paling tersembunyi naun jauh disana, Ia meledak oleh rasa syukur bahwa istrinya Anindira, tidak pernah dimiliki oleh laki-laki manapun di dunia ini. Termasuk si kampret mantan pacarnya itu.
Ia pun akhirnya tahu mengapa saat malam pernikahannya, hari pertamanya, dia sibuk beralibi dan pura-pura sakit. Dia benar-benar belum siap waktu itu. Bukan Sok jual mahal semata.
Bima tersadar dari lamunan begitu ia menangkap kilauan cahaya dari sebuah benda kecil yang dipegang oleh petugas pemeriksaan.
"Kita sampai."
"????" Untuk yang kesekian kalinya Anin bingung oleh sikap suaminya sendiri.
Bima membawa pulang mobilnya. Tidak ke salon tidak juga ke acara temannya.
***
jangan lupa like, koment
ig kata_upil
ANIN
mangatoon
noveltoon
bellacandra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
cha
lanjut thoor
2020-03-30
0