Siapa Dia?

Anin masih tertidur ketika Mika dan Mei menyambangi apartemennya.

"Non Anin Masih tidur, sepertinya capek banget." Jawab Mbok Jum ketika Mika menanyakan Nona Mudanya.

"Hhoy, Ampun deh! mentang-mentang Manten kadaluarsa, jam segini masih ngorok," ucap Mika dengan suara yang cukup untuk membangunkan setan tidur.

"Mau pada minum apa ini, biar simbok buatkan," ucap simbok ramah lalu kembali ke dapur.

"Oh, tidak usah, tidak usah, toh Nyonya rumahnya juga lagi tidur kan?" ucap Mika lagi, Setengah menjerit. "Jangan ganggu dia."

"Tapi kalian sudah menggangguku dengan suaramu!" kata Anin tenang-tenang.

Meilani menoleh ke arah asal suara. Dia tertawa melihat Anin bersandar ke dinding dengan mata mengantuk.

"Ops! Nyonya rumah terbangun," Seru Mei dan kemudian menghampiri sahabatnya lalu memeluknya. "Tolong kondisikan kancing bajumu dokter." Bisik Mei di telinga sahabatnya. Namun terdengar juga oleh Mika. Dan keduanya tertawa keras-keras.

"Kalau sampai suamiku terbangun, aku usir kalian semua!" Ancam Anin.

"Ooho...ohoo, kau dengar, Mei, Sahabat kita marah! Mbok, buatkanlah tuan putri kita ini yang dingin-dingin seger." Seru Mika sambil menyambar salah satu majalah di atas meja tamu dan mendaratkan pantatnya tepat diatas sofa berwarna coklat susu itu.

Anin tersenyum tanpa mengacuhkan olok-olok temannya, dimiringkannya kepalanya dan dilipatnya tangannya memandangi kedua sahabatnya yang tengah duduk dan asyik dengan kesibukan masing-masing.

"Ketika kita ospek dulu, kalian amat sederhana, sopan. Lihat sekarang: Kalian begitu genit, rambut berganti-ganti warna udah kaya arum manis. Terutama kamu tuh, Mik."

"Hm, Apa pedulimu? Pokoknya Abi suka. Persetan orang lain!"

Anin menatap heran sahabatnya.

Mei tertawa. "Eh, Lu belum tahu ya, Nin?"

"Apa ada berita yang terlewat?" tanya Anin yang tak bisa menyembunyikan penasarannya.

"Oops. Sorry, Nin," Mika menutup mulutnya. "Pada pesta perpisahan lalu, Abi sama gue," tambahnya.

Mei mengangguk. "Yap, betul. Dan Lu tahu kan, berakhir dimana kalau sudah berurusan dengan Mikaila Prasojo." Imbuh Mei yang tak dapat menyembunyikan tertawanya. Sahabat sableng ya gitu, Mantan sahabatnya di embat juga!

Anindira cepat-cepat melangkah menghampiri tempat duduk sahabatnya. "Kamu seriusan? Dan kamu tahu kan, apa yang dia lakukan sama aku?"

"Hhmm, i know. Tapi apa Lu oke? Maksudku, apa kamu tidak keberatan kalau kita...." ucap Mika canggung merasa tidak enak dengan Anin.

Anin mengangguk. "Never mind, itu hanya masa lalu, aku hanya khawatir sama kamu, karena aku tahu seperti apa Abi itu."

"Jadi, kamu merestuiku?" teriaknya girang.

"Ssstt! pelankan suaramu, Suamiku Masih tertidur."

"Ah, Biar! Mau sampai kapan Dia tertidur. Memangnya Mau jadi pangeran tidur?''

Mei mencebik. "Bodohnya belum hilang juga nih bocah. Tentu kalau Doi bangun, kita diusir dan kita gagal merampok."

"Haaa... iyaa, iya, iya, sorry deh, saking girangnya gue, hhahaaa...."

"Kalian tunggulah, Aku tukar baju dulu," Anin melangkah meninggalkan tamunya.

Detik berikutnya dia kembali dengan penampilan yang lebih representatif dan ditangannya tertenteng sekantong barang-barang.

"Asyikk...oleh-oleh," teriak Mika dan Mei hampir bersamaan.

***

"Geseran dikit dong, aku juga mau baca."

Bima menoleh pada istrinya. Kemudian menggeser posisi tubuhnya yang sedang asyik membaca majalah.

Padahal sisi yang lain masih kosong. Nggak enak kalau gak ngacau ya kamu!

"Mika sama Mei tadi kesini, Ngabarin kalau kita sudah harus persiapan untuk tes kompetensi -internsip-"

"Jajanan apalagi itu? dari kampus?"

"Bukan, tapi pendaftarannya di kolektif dari kampus, Mas.''

"Ooh, semacam KKN gitu? berapa lama?”

"Beda. Internsip kerja terikat dan biasanya ditempatkan sesuai kebutuhan tenaga medis pada tiap-tiap wilayah selama setahun."

"Daerah terpencil?"

"Maybe…."

"Waduh...."

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa. Kapan mulai program itu-apa tadi?"

"Internsip. Secepatnya setelah persyaratan lengkap, dan tinggal menunggu surat penugasan."

"Kalau keluar daerah, kita pisah dong?”

"Kan cuma satu tahun, Mas,"

"Cuma Satu tahun? dan itu cumaa?!!??"

"Iya."

"Satu tahun itu lama lho sayang, kalau saya kangen gimana?"

"Ya kan kamu bisa susulin."

"Gimana kalau kangennya tiap hari?"

"Ih apa sih, Mas, jangan mulai deh…."

"Lho, ini serius. Memangnya kamu, yang nggak pernah kangen sama Saya."

"Tuh kan mulai deh....”

"Lho, bener kan?!”

"Udah aah. Nanti sore jadi kan kita ke tempat Mamah?"

"Ke Bandung?"

"Iya lah, masa ke Mars."

"Baru tahu, ada jadwal ke Bandung juga honeymoon kita." Bima tersenyum tipis dari balik majalahnya.

"Mas, serius deh, jadi nggak kita ke Bandung. Mumpung aku belum mulai sibuk."

"Iya sayang."

"Oke, kalau gitu aku packing sekarang. Kamu kapan mulai masuk kerja lagi?"

"Kapan saja saya mau, kenapa? ada tujuan lain selain ke Bandung?”

"Kemana?"

"Ya kemana kamu mau."

"Enggak sih, tapi pengen juga maen ke Jogja."

"Bisa diatur, tapi apa kamu nggak capek? Saya nggak mau kamu sakit."

"Iya juga sih, sebenernya sekarang juga masih pusing."

"Kalau gitu, ke Bandungnya besok aja, hari ini kita puas-puasin main dirumah aja."

Anin menyipitkan matanya. "Mesum aja pikiranmu Mas."

"Mesum gimana sih sayang?" tanya Bima pura-pura polos.

"Itu tadi bilang."

"Bilang apa?"

"Mas tadi bilang apa?"

"Saya cuma bilang main dirumah….dimana letak kemesumannya?”

"Ah. Sudahlah, lupakan!" Dengus Anin kesal.

"Ngambek nih! kalau ngambek apa konsekuensinya, ingat, kan?" Bima menyeringai.

Mendadak merona paras Anin. "Nggak! Siapa yang ngambek." elak Anin lagi.

Kalau suatu saat diantara mereka marah, jengkel atau kesal karena salah satu berbuat kesalahan, maka mereka diwajibkan untuk melepaskan atribut yang menempel pada tubuhnya -apapun itu- hingga tak bersisa. Perjanjian konyol yang dibuat Bima dan memaksa istrinya untuk menyetujui perjanjian ter-absurd itu.

"Yakin? saya udah siap nih." memegang kaos yang dikenakannya dan siap dengan gerakan membuka baju.

"Berlama-lama disini, aku bisa jadi ketularan gila." Anin hendak bangun ketika salah satu tangannya ditahan oleh suaminya.

"Mau kemana?"

"Mau ambil minum. Haus." Anin berusaha menghindari tatapan suaminya.

"Saya juga haus."

"Kamu mau juga?"

"Iya, tapi saya mau susu."

"Kan habis, belum belanja."

"Kalau gitu susu yang lain."

Dahi Anin berkerut. "Kental manis?" tumben, biasanya paling anti susu kental manis karena menurutnya itu bukan susu melainkan cairan glukosa yang dikemas.

"Iya yang manis, kalau kentalnya kurang tahu deh," ucap Bima berusaha menahan tawanya. Menggoda istri adalah hobi barunya sekarang. Istrinya yang jutek -menurutnya- canggung, kadang-kadang malu-malu kucing dan mudah salah tingkah.

"Issh, tau ah!" Anin berusaha melepaskan pergelangan tangannya.

Bima menarik istrinya sekali lagi dan tubuh Anin terhuyung, terjatuh di atas kasurnya.

Bima memeluk istri kesayangannya. Ralat, -memeluk serta meraba- dan melemparkan majalah yang sedari tadi dibacanya.

"Jadi sebenarnya kamu mau minum apa?" tanya Anin berusaha sedatar mungkin.

"Mau ini," Bima menggeser jari-jarinya menuju area yang disenanginya.

Anin Menahan gerak tangan sang suami pada bagian perutnya. "Mas, inget! Jangan jorok. Kamu belum mandi lho, mandi dulu sana!" tawar Anin berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Gimana kalau kita sekarang mandi?"

Tanpa menunggu persetujuan istrinya, "Yuhuu..." Bima menggendong istrinya ala bridal style ke kamar mandi.

Anin meronta "No, No! Please turunkan! Aku baru saja mandi, MAS!!!" Ucap Anin setengah berteriak. Namun tak dihiraukan oleh suaminya.

Dan akhirnya Anin pun pasrah, dengan kembali berbasah-basah ria didalam sana.

"Ckckck!" Mbok Jum menggeleng. "Kelakuan anak jaman sekarang." Senyum mbok Jum mengembang lalu melangkah sambil menutup pintu kamar Mereka.

***

"Sedikit amat makanmu?" tanya Bima aneh.

"Kenyang."

"Tambah dong sayang, nanti kamu sakit."

"Iya, nanti aku tambah. Mas besok jadi kan? Aku nggak enak soalnya udah janji sama Mamah."

"Iya jadi."

"Sekalian besok ambil mobil aku ya?"

"Si merah kenapa? Rusak?" Bima menghentikan suapan makannya.

"Enggak, sih."

"Kalau gitu nggak usah. Penuh-penuhin parkiran aja." ucap Bima acuh dan kembali menekuri piring di depannya.

"Tapi kan…."

"Udah nggak usah. Lagian siapa bilang itu mobilmu. Itu punya orang tuamu."

"Iya." Desah Anin pasrah. Entah kenapa mendadak moodnya berubah jelek padahal biasanya dia akan berdebat dengan suaminya sampai menang.

"Rencana mau berapa hari di Bandung?"

"Lusa kita sudah balik Jakarta." Anin mengaduk-aduk isi piring tanpa niat untuk memakannya.

Bima memperhatikan tingkah istrinya, "Dimakan dong, kasian itu nasinya."

"Iya."

"Kamu kenapa?"

"I'm okay. Memang kenapa?!"Anin balik bertanya dengan acuh.

"Soal Mobil? sayang...bukannya saya nggak boleh, tapi disini kan udah ada mobil dan masih bisa dipakai, yang disana biar bisa dipakai Mamah atau siapa yang butuh, kan kasian Mamah kalau mobil nggak ada, ke pasar naik apa? angkot? memangnya kamu nggak kasian?!"

"Iya, iya...."

"Yasudah ayo dimakan. Abis ini anterin saya ke depan, ya?"

"Mau ngapain?"

"Mau cari Susu."

"Hah!"

Dan pada tengah malam Bima terbangun dan mendapati istrinya sedang muntah-muntah di kamar mandi.

Kenapa? masuk angin kah?

Bima segera menghampiri istrinya. "Sayang, kamu kenapa?" menempelkan telapak tangannya pada kening Anin. Nggak panas tapi sedikit agak anget sih!

"Sebentar, saya ambilkan air hangat dulu." ucap Bima yang dibalas anggukan oleh Anin.

"Mau ke dokter? Yuk." Tanya Bima kemudian.

Anin duduk diatas kloset dan mengambil tisu dari suaminya untuk menyeka mulutnya lalu menerima segelas air hangat.

"Pasti karena kelamaan main air. Maaf ya sayang," ucap Bima penuh sesal. "Saya sering lepas kontrol."

"Bukan Mas, Pusing mual dari bangun siang tadi. Mungkin masih pengaruh jetlag."

"Bukan masuk angin?"

"Nggak – Bukan deh kayaknya."

"Apa sekarang udah enakkan?"

"Lumayan."

"Mau saya balurin Minyak telon?"

"Minyak kayu putih aja Mas, aku bukan bayi." ucap Anin menahan tawanya. Suaminya lucu kalau sedang panik – khawatir.

"Baiklah, ayo ke tempat tidur, disini dingin!" Bima memapah istrinya dengan sangat hati-hati, sampai-sampai Anin jengah dibuatnya.

"Mas, aku baik-baik saja dan masih bisa jalan sendiri." protes istrinya.

"Nurut aja kenapa sih?! Nggak usah protes sekali ini saja."

"Aaah, oke! Siap pak bos!" akhirnya Anin menyerah. Mulai deh, kumat sikap bossy nya si kingkong.

Bima membaluri punggung serta perut istrinya dengan minyak kayu putih. "Besok ditunda saja ya?"

"Jangan dong Mas." ucap Anin memohon.

"Lho, Kamu aja sakit begini kok!"

"Please…." Anin mengiba.

"Kalau Mamah tahu kamu sakit pasti juga bakal ngelarang kita."

"Aku nggak sakit, Aku baik-baik saja."

"Ya sudah. Kita lihat besok. Sekarang kamu istirahat."

"Siap! Tapi besok jadi ya!?"

"Iya...."

"Janji?"

"Iya."

"Awas kalau samp----" tiba-tiba Anin merasakan bibirnya terkunci.

Kebiasaan banget deh si kingkong.

Semenit kemudian Bima melepas ciumannya. "Sudah lekas tidur." Ia memasang selimut untuk istrinya dan kemudian dia menyusul.

***

Udara khas kota kembang sudah dapat dirasakan oleh indra penciuman. Menggelitik hidung, menggoda penumpangnya supaya sedikit menurunkan kaca mobil.

Betapa sejuknya pagi ini.

"Bandung sekarang macet, ya?"

"Iya, padahal ini masih pagi."

"Gimana perutmu, apa sudah enakkan?"

"Hhm...." Anin menimbang nimbang. "So far so good." Jawabnya

Bima menoleh ke samping, "Kalau merasa nggak enak, bilang ya sayang. Jangan ditahan. Itu kursinya rendahin lagi aja, biar agak landai." Celoteh Bima menginterupsi.

"Siap bos-ku yang sok atur." Gimana nggak sok atur. sepanjang perjalanan dari Jakarta -Bandung Bima nggak berhenti mengoceh tentang ini dan itu, harus ini dan itu.

Bima memelototi istrinya. Dan Anin terkekeh melihat perubahan raut muka suaminya.

"Hei, Perhatikan jalanmu, Mas." celoteh Anin ditengah-tengah tawanya. "...aku nggak mau pulang tinggal nama."

***

Di Rumah keluarga Otis.

"Ma, sambelnya enak, Mamah beli dimana?" tanya Anin pada ibunya ketika mereka sedang sibuk di pantry, sedangkan para lelaki sibuk di kebun belakang dengan aktivitas kelelakiannya.

Sofia –ibunya- mengerutkan dahi atas pertanyaan anak bungsunya. "Kamu kok aneh tanyanya, itu kan sambal yang dari dulu mamah selalu bikin, Nin?"

"Oh, ya!!" Anin mencocol sambal itu lagi dengan mentimun yang masih sisa di tangannya. "Yang ini rasanya beda, Ma. Pulang nanti Anin bungkus ya, Mah?"

"Suamimu suka sambal?"

"Hhmm...Kurang tahu si Ma."

"Lho, kamu ini gimana, kesukaan suami malah nggak tahu. Bocah gendeng!"

Kalau di pikir-pikir memang benar. Apa yang Anin tahu soal suaminya, selain tingkat kemesuman serta sikap bossy yang diatas rata-rata dan dia mencintainya.

Apa kegemarannya? bagaimana Teman-temannya? pergaulannya? Terutama bagaimana dengan masa lalunya! Anin sama sekali buta tentang suaminya.

Anin mendengus. "Ya, Anin kan masih dalam tahap saling mengenal, Ma."

"Kamu harus lebih perhatian! Luangkan waktu lebih banyak untuk mengurus suamimu. Jangan pasien aja yang kamu urusin."

"Iya, Mah...” Mendadak Anin hilang selera dengan sambal itu. Sampai kapan mamahnya ini menceramahinya. Sumpah demi apapun Anin sudah ingin melarikan diri. Tapi nggak sopan bukan? Dan sambelnya begitu menggoda.

"Terus kapan mamah bisa gendong cucu?"

"Kalo itu...." Anin bingung mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ibunya.

"Kamu tidak berencana menunda Momongan, kan?" selidik Nyonya rumah.

Anin butuh waktu sedikit lebih lama untuk Menjawab pertanyaan mamanya itu. "Anin rencananya mau ambil spesialis, Ma."

"Lantas?"

"Ya, repot mah, jadi ya kita sepakat untuk menunda beberapa waktu. Lagian Anin juga masih terlalu muda kan, ma?"

"Muda dari mananya! Mamah dulu sudah punya Mas mu waktu seumuran kamu gitu."

"Itu kan dulu ma, beda dong…."

"Apanya yang beda, mamah mu ini sudah tua lho nduk, pengen nimang cucu."

"Udah deh mah, jangan mulai lagi. Mas Teja atau mas Budi tu suruh kawin, tar jadi bujang lapuk."

"Hus! jangan sembarangan ngomong." Sofia mendesis pada anaknya.

"Lho bener kan, mau sampai kapan gonta ganti pacar terus. Tapi satupun gak ada yang di seriusin." Seru Anin membela diri. "Nurunin siapa sih Mah? Apa mudanya papah dulu gitu kali ya, Ma?"

"Ngawur koe.''

Anin terkadang kesal. Kenapa selalu dia yang dituntut dan didesak. Belum cukup puas ternyata setelah memaksa anak nya nikah muda dengan cara perjodohan di era milenial ini.

Anin masih bersungut-sungut hendak melanjutkan protesnya ketika Pak Otis tiba-tiba muncul.

"Ngobrolin apa ini. Sepertinya seru."

"Kui lho mas, anakmu, mosok mau lanjut sekolah lagi. Apa ya ndak ketuaan nanti punya anaknya. Kan resiko tho, kalau hamil di usia tertentu?" Keluh Sofia pada Suaminya. "Masa sampai mau menunda momongan segala?" Tambahnya.

Anin semakin kesal mendengar ulah ibunya yang dianggap kekanak-kanakan itu. Bukan sekali dua kali, terkadang Anin merasa ibunya itu cemburu terhadapnya. Barangkali dulu mamah juga sebenarnya punya keinginan untuk berkarir, namun karena lingkungan, akhirnya dia memutuskan untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada suami dan keluarga.

Ibunya memutuskan vakum dari dunia perbank-kan –yang menjadi passion nya- setelah menikah dan menjadi ibu rumah tangga.

"Ambil spesialis kan bisa setelah anak-anakmu lahir nduk? Nggak usah terburu-buru, kapan saja bisa kok itu." Jelas Pak Otis pada anaknya.

"Tuh, kan…. Dengerin tuh kalau orang tua ngomong," Ucap Teja menimpali yang entah sejak kapan ikut nimbrung di pantry.

"Kamu juga. Harus segera menikah. Bawa pacarmu kerumah!! Kalau tidak mau, mamah kawinkan sama wedus!" Omel sofia pada anak lak -laki nya.

Tedja menelan ludah. Sindiran berbalik, senjata makan tuan.

"Mas Budi dulu aja tu mah, Suruh nikah."

"Iya, kalian berdua!!" dengus sofia kesal. Punya anak kok ya bandel-bandel. Susah diatur nggak kayak jamannya dulu. Nurut manut apa kata orang tua.

"Nduk, panggil suamimu. Kita makan bareng." Ucap Pak Otis penuh wibawa.

Anin tersenyum tipis lalu melangkah keluar untuk mencari suaminya.

Anin selalu merasa senang, suka pada ucapan ayahnya (pak Otis) yang selalu menenangkan, seolah tak pernah ada hal yang membuatnya emosi. Justru meredakan emosi. Anin tersenyum lagi entah apa yang baru saja dia ingat.

***

Ketika Anin sedang merebahkan dirinya di atas kasur miliknya-dulu- ia teringat pertama kali suaminya mencuri bibir nya.

Pertama kali merasakan gelenyar aneh pada dirinya.

Anin senyum-senyum sendiri ketika dia dengan tanpa pikir panjang meminum obat tidur. Lalu berpura-pura sakit. Anin kembali tersipu mengingat kejadian waktu itu. Sampai dia rela menelan obat penenang.

Dan- astaga!! Bagaimana bisa aku lupa minum pil kontrasepsi!! bodoh.

Anin mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka berhubungan badan dan kapan terakhir kali meminum pil nya.

Kemarin sore, ya, di kamar mandi. Anin kemudian bangkit dan meraih kotak makeup yang lebih tepat disebut kotak P3K itu.

Gadis itu mencari-cari pil yang dimaksud dan detik berikutnya dia sudah menemukan apa yang dicari.

"Duh...kenapa bisa lupa." Anin memukul keningnya sendiri. "...sampe kelewat tiga hari."

Anin berusaha mengingat-ingat lagi. Pada saat dirinya masih di Kanada. Kapan dia meminum pil nya dan kapan dia bersentuhan dengan suaminya.

"Oke, Tenang, tenang." ambil nafas, keluarkan. "Fiuuh!" Anin berusaha mensugesti dirinya sendiri. "Nggak apa-apa, kan sudah lewat masa subur juga. Aman!" Desahnya.

Sore itu Anin mengajak suaminya untuk berkeliling kota.

Berwisata kuliner, berbelanja, mampir ke tempat-tempat wisata dan perjalanan berakhir di salah satu mall.

Anin sedang asyik memadu padankan gaun dengan beberapa pasang sepatu dan sandal Ketika Bima pamit untuk mencari toilet.

Namun ketika Anin hendak menyusul, Suaminya tengah asyik bercengkrama dengan seseorang. Siapa?? Anin mengurungkan niatnya untuk menyusul Bima. Dia hanya diam dan mengawasi dari tempatnya berdiri.

***

Komen yang banyak dong

 

 

noveltoon

mangatoo

anin

berteman yuk

ig :karya_upil

Terpopuler

Comments

Din Ga

Din Ga

seru.. jdi pengen nikah sama do'i 😆

2021-04-04

1

Ana Jetterua

Ana Jetterua

parah ini mah cerita

2020-04-21

0

cha

cha

memang bodoh kau Seb...lelaki dewasa yg gak bisa moveon2...

2020-04-20

1

lihat semua
Episodes
1 Malapetaka
2 Wedding Day
3 Hari baru
4 CUMI! Cuma Mimpi
5 Dapur, Kasur, kasur!
6 Praduga yang salah
7 Abimanyu
8 Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9 Semuanya baru!
10 Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11 Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12 Tak terencana
13 Akhirnya Anin Nganu
14 Jujur
15 Mimpi buruk Anin yang hilang
16 Honeymoon yang Tertunda
17 Siapa Dia?
18 Aku dan Bintang
19 Masa lalu yang mengganggu
20 Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21 Handphone baru
22 Bintang malam yang tak Terkendali
23 Sisi Kelam Anin
24 Sembilu Syahdu
25 Sembilu Syahdu - 2
26 Dosa termanis
27 Kamu kembali
28 Terbawa suasa aja, sih ....
29 CIe, kangen ....
30 Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31 Datang Berkunjung
32 Kesalahan menyapa
33 Perkara Es krim
34 Cemburu tanda Rindu
35 Adakah yang lebih dari ini?
36 Menepi
37 Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38 Mohon Ampun
39 Berunding biar nggak pusing
40 Permintaan dari sana!
41 Yaaah! Istananya jebol juga
42 Naluri dan Kewarasan Diri
43 I gotta love you
44 Papa Tua dan Emosinya
45 Amplop dan rahasianya
46 Madu dan Racun
47 Yang lepas, ikhlaskan
48 Fakta yang terabaikan
49 Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50 Kemana?
51 Keliru
52 The last - Nice to see you
53 Till the End
54 Pengumuman
55 Jakarta I'm I Love
56 Kelakar Sahabat
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Malapetaka
2
Wedding Day
3
Hari baru
4
CUMI! Cuma Mimpi
5
Dapur, Kasur, kasur!
6
Praduga yang salah
7
Abimanyu
8
Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9
Semuanya baru!
10
Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11
Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12
Tak terencana
13
Akhirnya Anin Nganu
14
Jujur
15
Mimpi buruk Anin yang hilang
16
Honeymoon yang Tertunda
17
Siapa Dia?
18
Aku dan Bintang
19
Masa lalu yang mengganggu
20
Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21
Handphone baru
22
Bintang malam yang tak Terkendali
23
Sisi Kelam Anin
24
Sembilu Syahdu
25
Sembilu Syahdu - 2
26
Dosa termanis
27
Kamu kembali
28
Terbawa suasa aja, sih ....
29
CIe, kangen ....
30
Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31
Datang Berkunjung
32
Kesalahan menyapa
33
Perkara Es krim
34
Cemburu tanda Rindu
35
Adakah yang lebih dari ini?
36
Menepi
37
Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38
Mohon Ampun
39
Berunding biar nggak pusing
40
Permintaan dari sana!
41
Yaaah! Istananya jebol juga
42
Naluri dan Kewarasan Diri
43
I gotta love you
44
Papa Tua dan Emosinya
45
Amplop dan rahasianya
46
Madu dan Racun
47
Yang lepas, ikhlaskan
48
Fakta yang terabaikan
49
Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50
Kemana?
51
Keliru
52
The last - Nice to see you
53
Till the End
54
Pengumuman
55
Jakarta I'm I Love
56
Kelakar Sahabat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!