Bima hampir tidak mampu mengedipkan matanya. Dia takut kalau matanya terpejam Makhluk di depannya itu sudah lenyap ketika dia membuka mata.
"Bintang." Suaranya berdesis seperti angin di awal musim semi. Lembut membelai sukma.
"Langit," Sahut wanita di depannya sambil menjabat tangan Bima.
Seperti mengerti kelakar wanita itu, Bima tertawa renyah, kemudian diikuti wanita yang berdiri di depannya.
Semangat Bima tiba-tiba saja muncul. Padahal sesaat yang lalu dia mengeluh letih dan ngantuk pada ajakan istrinya.
"Kapan kita bisa ngopi bareng lagi?"
"Kapan-kapan kalau Kamu nggak ajak bini." Jawab Angel -yang lebih dikenal dengan panggilan 'Bintang' yang terkesan tidak nyambung dengan julukan itu, namun tidak menurut Bima.
Bima terkekeh seraya memeluk tubuh ramping Bintang dan dari seberang sana istrinya telah siaga.
Siapa perempuan itu? Tumben, bisa sesantai itu dengan wanita selain diriku.
Sejak malam itu, Diam-diam Anin memperhatikan suaminya. Suaminya lebih banyak diam dan menghabiskan sisa waktunya dengan mengurung diri dikamar dan sibuk di depan ponselnya.
Begitu pun setelah mereka pulang ke Jakarta. Bima jadi lebih kalem dan sering didapati sedang melamun. "Kamu kenapa sih, Mas? Semenjak pulang kemarin jadi sering ngelamun."
"Ah, nggak kenapa-napa. Kamu yang kenapa, beberapa hari ini saya perhatikan selera makanmu berubah dan honey, kamu sedikit pucat. Apa perutmu baik-baik saja?"
"Perutku?"
"Iya, tiap hari, pagi, siang, sore makanmu cuma lalapan sama sambel."
"Oh, itu...iyaa habis enak sambal buatan Mamah. Kalau nggak pakai sambal hilang selera makan."
"Tapi tetap harus perhatikan kesehatanmu, bu dokter."
"Tentu pak bos-ku," jawab Anin sedikit ada penekanan pada kata bosku.
Bima mengingat lagi malam pertemuan dengan Bintang, dibenaknya Bintang masih sama seperti dulu. Menarik. Bima bisa melihatnya setiap kali dia berkedip, merasakan kehadirannya setiap kali memejamkan mata.
Malam itu dia habiskan dengan membayangkan keakraban dirinya dan Bintang dimasa lalu.
"Aku bisa gila!"Desahnya ketika dia merenung seorang diri.
Keesokan harinya, akhirnya Bima meminta izin untuk pergi keluar menemui teman-temannya dan hanya sebentar pamit kepada istrinya. Namun hingga tengah malam Bima belum juga kembali.
Ada perasaan heran dan sedikit kecurigaan menyelinap ke hati Anin ketika suaminya meminta izin. Dan perasaan tambah tidak enak ketika hingga tengah malam Bima belum juga kembali.
Dan ponselnya tidak dapat dihubungi!
Untuk pertama kalinya selama hampir lima enam bulanan menikah, Anin menaruh curiga, bahwa suaminya berdusta. Dan, alasan laki-laki berdusta adalah tak lain tak bukan karena Perempuan!
Mendadak Anin teringat kata–kata perawatnya. "Lelaki tidak pernah puas hanya dengan satu perempuan, Dok. Kalau sudah mendapatkan apa yang diinginkan mereka akan mencari yang lain." Saat itu juga Anin merasa cemas dan amat sakit.
Malam itu untuk pertama kalinya setelah perpisahan dengan Abi, Anin menangis tersedu-sedu. Dia merasa hatinya amat sakit. Bukan karena miliknya yang berharga diambil orang tapi karena orang yang disayangi, dicintai tega membohonginya.
Lalu, bagaimana dengan Bima?! Setelah segalanya Anin serahkan dan percayakan apakah dia juga akan melakukan hal yang sama seperti Abi?!
***
Pagi itu, seperti biasa Anin melakukan aktivitasnya sebagai dokter.
Tak butuh waktu lama memang setelah kelengkapan berkas masuk, Anin menerima surat tugasnya. Dan dia ditugaskan di rumah sakit yang sama dimana dia terakhir menjalani koass.
Sempitnya dunia.
Anin ingat betul, waktu itu selang sehari setelah masing-masing dokter yang mengikuti program internsip menerima kabar, saat itu Mika ditugaskan di salah satu Puskesmas di pinggiran kota, Sedangkan Mei ditempatkan di Puskesmas daerah Jawa Barat. Namun keesokan harinya, Mika muncul di ruang praktek dokter Susilo lengkap dengan surat sakti.
Jadi, hanya Mei yang terpisah jauh.
"Nggak apa-apa Jakarta-Bandung kan deket, kita masih bisa ngumpul," ucap Mei menenangkan waktu itu. Padahal ia sendiri sedih pisah dengan sahabatnya.
"Lah ini, Mika Bocah nekat yang satu ini pasti dia menggunakan koneksi keluarganya. Kenapa tidak minta tukar tempat saja denganku. Pasti dengan senang hati gue terima."
"Bosen sih engga, sumpah. Senang malah. Disini banyak ilmu yang bisa didapat juga banyak dokter panutan sekaligus pembimbing yang bertaraf internasional ilmunya, tapi perputaran gosip-serta issue nya itu lho, sangat W.O.W sekali. Dan juga ada kenangan yang kembali hadir utuh setiap kali melewati tempat itu."
Seperti hari-hari sebelumnya, Pagi ini Anin bertugas di IGD. Menjadi bagian dari team yang harus selalu siaga - entah sepi entah rame pokoknya harus siaga karena sesuatu yang tak terduga bisa datang kapan saja.
Anindira sedang mengecek status pasien ketika dokter Firman masuk beserta rombongan termasuk dokter dokter Hadi Mulyo
Tanpa ba-bi-bu, dokter Hadi menginstruksikan siapa saja yang dilihatnya -kecuali pasien tentunya- untuk berkumpul dan melakukan briefing darurat.
Ada apakah?
"Tolong nanti siapkan dan rapikan semua ruangan ini hingga ke sudut-sudutnya, panggil cleaning service dan bersihkan ulang ruangan ini!" Perintah dokter Hadi.
"Siap pak." Jawab perawat senior.
"Saya nggak mau sampai ada temuan, apalagi komplain tentang rumah sakit kita ini! Jadi saya minta tolong kepada semua pihak agar sama-sama saling membantu dan mengawasi karena tamu kita ini sedikit cerewet, jadi saya minta, kalian agar lebih bersabar!"
"Baik, Pak."
"Siapa dokter jaga hari ini?"
"Dokter Anin Pak, beliau ada di ruangan sedang isi status."
"Tolong sampaikan seperti yang saya katakan tadi kepada dokter Anin."
"Baik pak."
"Baiklah, silahkan dilanjutkan. Selamat siang semuanya."
"Selamat siang." Jawab beberapa perawat bersamaan.
Dan rombongan itu pun meninggalkan ruangan.
Dan yaps! Persis seperti perkiraan Anin. Saat itu juga gosip bermunculan -apapun itu-. Kasak-kusuk dimana-dimana.
"Aku dengar akan ada pasien VVIP," ucap suster Heti pada rekan kerjanya.
"Iya saya juga dengar tadi, pas briefing pagi." Suster Lilis menimpali.
"Denger-denger, sebenarnya pasien itu tidak sakit, hanya ingin mencari perhatian saja.” ucap Dewi yang sedari tadi duduk di depan meja penerimaan.
"Emang bener ya? Katanya calon pasien ini masih keluarga besar pak Menteri atau apalah gitu…." Imbuh Pak Barda perawat laki-laki senior yang juga hobi nge-gosip.
"Orang kaya aneh yah, sakit kok diminta."
"Iya. Ada-ada sajah. Yuk ah kerjaa-kerja!" Seru Heti pada rekan-rekannya.
"Infonya juga masih kerabatan dengan pak Hadi." Tambah pak Barda sambil lalu.
Dan tersisa mereka berdua disana yang masih asyik mengobrol, biang gosip sesungguhnya!! Lilis dan Dewi.
"Orang kaya mah nikah aja di bisnisin ya, B-4, bibit, bebet, bobot-bisnis. Nggak peduli jelek apa ganteng, tua aki-aki pun no problem." mendadak Dewi memelankan suaranya.
"Apa maksudmu?"
"Ssstt...jangan kenceng-kenceng." Dewi melekatkan jari telunjuknya pada mulutnya. "Katanya sih, suami dokter Anin juga begitu. Sayang banget. E-tapi, Kenapa dokter Anin dulu menolak pria sekece dokter Firman yah?"
"Eh, jangan salah suaminya dokter Anin juga keren dan kece tau, udah gitu nggak kalah tajir," terang lilis pada Dewi
"Masa sih? bukannya katanya suaminya udah aki-aki?!"
"Beuh!! kalau yang ini saya sudah lihat dengan mata kepala sendiri. Sumpah!"
"Pake pelet apa ya, kok bisa seseorang dapat suami paket komplit begitu. Jadi penasaran."
"....dan tau nggak, mantan dokter Anin sekarang jalan sama siapa???"
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan dokter Mika "
"Ya ampun!! Dokter Mika itu, dokter Mikaila maksudmu???"
"Iya lah yang manalagi!"
"Kok tega yaa, apa jangan-jangan mereka putus karena dokter Mika?"
Dewi mengedikan bahu "Tapi dokter Abi kan memang playboy." Imbuhnya.
Anin berjalan menuju ke arah Dewi dan lilis yang masih asyik ngerumpi.
"Eehheemm...." sengaja Anin menaikan oktaf suaranya "Mbak dewi, tolong di cek lagi itu pasien atas nama Pak Bondo, apa kamarnya sudah siap apa belum. Kalau sudah, segera kirim ke ruang perawatan, ya," Tambahnya.
"Ah iya dok." Bergegas mereka berdua membubarkan diri.
Dasar tukang gosip! Anin menarik nafas panjang dan kemudian kembali melanjutkan kegiatannya lagi.
***
Nyonya Sintya masih ngomel-ngomel tak tentu arah. Dari setengah jam lalu dia sampai di ruang IGD sampai saat ini mulutnya masih aktif bergerak. Entah sudah berapa Perawat di ruangan dibuat pusing dan dongkol setengah mati.
Minta di pasang infus, minta ini, minta itu tapi maunya yang ini, nggak mau yang itu. Segala pakaian perawat dikomentarin sampai pada ujung hordeng jendela pun tak lewat ia komentarin.
Benar-benar bukan orang yang pantas disebut sebagai seorang pasien.
Anin sendiri enggan untuk berlama-lama di sekitar pasien antik itu, walaupun hanya untuk sekedar berbasa-basi pada pasien atas nama nyonya Sintya itu. Toh sudah ada dokter Firman disana.
Lebih baik saya menyingkir! Dan apa salahnya keluar sebentar, cari udara segar pikir Anin.
Baru Saja hendak memutar handle pintu ketika pintu itu sudah terbuka lebih dulu.
"Hai," Sapa dokter Firman.
"Ha Hai! Mengagetkan Saja!" Keluh Anin ambil mengelus dadanya.
"Long time no see."
"Ah, ya. " Jawab Anin singkat dan masih berusaha menenangkan degup jantungnya. Bayangan Malam itu kembali melintas di depan matanya. "By the way, Selamat atas pertunangannya." ucap Anin untuk sekedar mengendorkan otot jantungnya.
Firman mengerutkan dahi.
Aduh! stupid banget sih gue! Anin baru sadar dia telah termakan gosip murahan. Dan buru-buru mengoreksi kata katanya. "Rencana-pertunangan, Ya! Haha, disini dinding pun punya telinga." dan demi apapun, kalau ada lubang, Anin ingin segera menceburkan dirinya sendiri.
"Ternyata kamu salah satu yang mengikuti perkembangan tentangku dan aku merasa sangat tersanjung." Firman tersenyum simpul. "Boleh saya traktir secangkir kopi?"
"Maybe later." Anin menjawab ramah. "...dan, bisakah dokter sedikit bergeser. Dokter menghalangi jalan saya." ucap Anin sopan dan datar.
"Oops. Sorry!" Firman mengangkat kedua tangannya dan menggeser separuh badannya.
Dan ketika Anin melewati Pintu tersebut, Firman menahannya. "...kamu masih secanggung ini denganku?" Firman meraih salah satu tangan Anin
"Tolong, lepaskan tangan Anda, dokter!!"
Tanpa menghiraukan nada sarkastik yang dilontarkan Anin, "Oh, come on! It's been a long time. Dan tidak bisakah kau melupakannya?" Ucap Firman Gusar. "Dan gosip itu benar, aku akan segera bertunangan," Aku Firman.
"Lupa?? justru hilang ingatan yang aku minta setiap hari pada tuhan! Kamu pikir aku mau??!" ucap Anin dalam hati.
"Tidak bisakan kita berteman?"
"Tolong, dokter! Atau saya teriak kalau dokter tidak keberatan menanggung malu tentunya. Karena dokter berusaha mengganggu istri orang."
"Haha! Semakin marah kamu semakin cantik," ucap Firman tak bermaksud menggoda.
Tiba-tiba Anin merasakan perutnya sangat mual saat itu juga. Anin menghempaskan tangannya dengan kasar dan setengah berlari dia meninggalkan Firman.
"Aku selalu menyukai apapun perlakuanmu." Aku Firman pada dirinya sendiri.
Anin menyeka mulutnya dengan tisu dari saku jas putihnya, setelah mengeluarkan hampir seluruh isi perutnya.
Kenapa ya… akhir-akhir ini aku sering merasakan mual secara tiba-tiba.
Dan Anin ingat saran dokter Yeni, "Sebaiknya kamu pergi ke psikiater. Kamu perlu seorang ahli untuk tempat menumpahkan segala unek-unek. Jika perlu, minta lakukan psikoanalisa untuk mengorek penyebab yang berada di alam bawah sadar karena kalau dibiarkan gangguan ini akan semakin berat. Kamu akan semakin menderita."
Dan juga sudah sebulan ini hubungannya dengan Suami menjadi dingin. Barangkali itu yang dirasakan Anin, entah Bima merasa atau tidak bahwa Anin selalu menghindari berlama–lama dengan suaminya. Dan sejauh ini Anin belum menerima protes sang suami.
Kenapa juga mesti protes, kalau di luaran dia bisa mendapatkan apa yang tidak dia dapatkan! dan kalaupun iya, Suaminya mengkhianatinya, Anin bersumpah akan tutup mulut. Dan pura-pura tidak tahu, sesakit apapun itu.
Mungkin ini yang disebut cinta.
Dan justru karena Anin tidak pernah menanyakan kemana waktu itu suaminya pergi, hingga pulang pagi Bima semakin terpuruk dalam rasa bersalah. Dia telah membohongi istrinya dengan menemui mantan kekasihnya. Dan bukan hanya sekedar bertemu dan minum kopi. Semua itu karena pengaruh alkohol sialan hingga Bima lupa akan posisinya.
Benarkah hanya karena Alkohol??? Bukan karena Dirinya yang menginginkannya?! Merindukannya?! Mengulang Petualangan Liar nya bersama Cinta Monyetnya – Mantan kekasihnya dulu.
Dan bukannya Bima tidak berusaha untuk mengatakan sejujurnya. Namun setiap kali ingin mengakui kesalahannya ketakutan Bima berkecamuk dalam dirinya. Takut Anin akan meninggalkannya. Akhirnya di urungkan lagi niatnya. Selama Anin masih baik dan peduli padanya tidak masalah. Walaupun sekarang Anin menjadi lebih sibuk dengan pekerjaanya.
Lagipula Memang benar. Tidak mudah punya istri seorang dokter, Iya kan??
Harus ekstra sabar. Dan sialnya saingan terberatnya adalah pasienya. Kita Harus rela, istri kita membagi perhatiannya pada pasien-pasiennya.
***
anin
noveltoon
bellacandra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ana Jetterua
lanjut nggak pake lama
2020-04-21
0