Honeymoon yang Tertunda

Dua hari setelah Anin disumpah dan lulus dari kepaniteraannya malam harinya keluarga Anin mengadakan pesta syukuran di rumah di Bandung. Mengundang beberapa teman dekat, Saudara dan Tetangga.

Anin lulus dengan predikat lulusan terbaik. Kedua orang tuanya begitu bangga, terlebih Papahnya.

Dan semakin bangga ketika dokter Otis diberi tahu bahwa anaknya sudah di minta di salah satu rumah sakit internasional kenamaan di Ibukota.

Mulanya Anin bingung untuk menerima atau menolak, namun berkat restu serta dukungan suami, Anin pun memutuskan untuk menolak dan memilih bekerja pada salah satu rumah sakit pemerintah, walaupun statusnya hanya sebagai dokter honorer.

"Aku ingin memulai karir dari bawah, sama seperti Papah." ucapnya waktu itu.

Anin tampak begitu bahagia dalam balutan kain putih yang telah disulapnya menjadi setelan atasan dan bawahan celana.

Sebentar-sebentar Anin melepaskan senyum pada teman-teman nya, sebentar-sebentar mengangkat ponselnya yang berdering dari kawan-kawannya yang memberi ucapan selamat lulus serta menggodanya perihal rencana bulan madu yang sempat tertunda.

Iya, besok siang Anin dan suami akan terbang ke Kanada untuk berbulan madu disana. Hadiah dari Mamih mertuanya yang sudah tak sabar ingin menimang cucu mereka.

Mertuanya curiga, jangan-jangan anaknya sama sekali tidak menyentuh istrinya. Bahkan setelah tiga bulan lewat dari tanggal pernikahan Anin belum juga menampakan tanda-tanda kehamilan.

Pernah di suatu pagi Anin mendapat telpon dari mertuanya hanya untuk menanyakan apakah dirinya sudah ada tanda-tanda kehamilan atau belum dan bukan main malunya ketika ditanya Ibu mertua perihal bagaimana hubungannya dengan Bima, apakah Bima memperlakukannya dengan baik, apakah Bima dapat memuaskan dirinya dan sebagainya dan sebagainya.

Pukul setengah sepuluh malam semuanya masih tengah asyik tertawa-tawa. Setiap orang masing-masing menemukan sedikit lelucon yang membuat mereka semakin tenggelam dalam gelak tawa.

Anin sudah terlalu mabuk kepayang, sehingga di rasanya tak ingin lagi memakan apa-apa, sampai seseorang menyodorkan piring berisi makanan.

"Ayo, makanlah sedikit."

Anin tersenyum, "Makasih, Mas," kemudian diambilnya piring itu dari tangan suaminya yang begitu sangat dirindukannya sebulan terakhir ini.

Betapa tidak. Selama sebulanan semenjak Anin mempersiapkan diri untuk ujian akhir kelulusan, Bima tidak berani mengganggu istrinya, pun ketika Anin yang meminta dan bilang tidak apa-apa, suaminya tak sampai hati membuat istrinya kecapean dan kelelahan dan semakin stress karena tidak cukup belajar, akhirnya diurungkan niatnya.

"Sabar ya Le, sementara kita puasa dulu," ucapnya kala itu pada sang Artur.

Baru mau diangkatnya sendoknya itu, ketika Bima membisikan kata-kata ajaibnya.

"Makan yang banyak, karena besok nggak akan kubiarkan kamu meninggalkan tempat tidur barang sedetikpun."

Dan -tidak- ajaibnya, Anin semakin tak berselera dengan makanannya. Bulu kuduknya meremang membayangkan apa yang akan dilakukan si kingkong itu pada dirinya.

Hasrat bergejolak dalam dirinya. Dewi bathinnya yang tertidur kini berteriak terjaga dan begitu terasa sangat lapar, hanya karena ucapan sederhana yang mengaung di telinga.

Dengan kurang ajarnya, Bima meninggalkan Anin begitu saja dengan teman-temannya yang menertawainya akibat gagal menyembunyikan rona merah pada wajah putihnya setelah apa yang diucapkannya.

"Awas kau Mas!! Kubalas nanti."

***

Kanada…..

Indahnya pemandangan alam di salah satu kota di Kanada begitu sangat sempurna. Anin pun tak henti-hentinya mengagumi keindahan panorama danau Louise yang terbentuk secara alamiah itu, dan dipoles sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga menjadi begitu memukau.

Tak sia-sia setelah menempuh perjalanan panjang yang cukup melelahkan kini di depan matanya alam menyuguhkan pemandangan yang begitu indah, begitu memanjakan mata.

Belum lagi pemandangan salju abadi Mt.Victoria, yang dapat dilihat dari sudut danau, dimana disitu berdiri bangunan hotel berkelas internasional yang tak kalah indah.

Dan disanalah saat ini mereka berada. Chateau lake louise hotel & resort.

Saat ini, Mereka sedang menikmati makan malam mereka, dengan panorama danau -yang sebagian telah membeku- yang memenuhi sepanjang mata memandang dan disekelilingnya berdiri tegak menjulang pepohonan.

Di tengah dinginnya cuaca yang menyayat kulit -yang kebetulan saat ini sedang masa peralihan ke musim dingin- tak mengurangi keromantisan yang tercipta disana.

Tentunya, Setelah seharian hanya di isi aktifitas diatas tempat tidur, dengan alasan masih capek lah, jetlag-lah, ini lah itulah. Padahal Anin tahu betul itu hanya akal-akalan suaminya.

Modus terselubung.

Akhirnya Anin mengajak istrinya keluar, setelah -mungkin- lelah mendengarkan protes sang istri tentunya, dan ternyata Bima sudah menyiapkan makan malam yang begitu romantis.

Si kingkong ini bisa romantis juga ternyata.

"Sayang banget, kita kesini pas peralihan musim dingin. Jadi nggak bisa hiking menjelajah bukit." Gumam Anin di sela-sela makannya.

"Justru bagus." Tukas Bima.

"Apanya yang bagus?!"

"....." Bima senyum sumringah.

"Mas! Kamu nggak benar-benar berniat mengurungku di dalam kamar kan??!!" selidik Anin.

Bima mengangkat kedua bahunya.

"...please deh, jauh-jauh kesini, cuma buat numpang 'Bobo' doang?!! are you kidding me!!”

"Nope, of course."

"So..?!"

"Ingat!! Tujuan utama kita kesini apa? Ngasih Mamih cucu yang lucu-lucu dan menggemaskan kan?!! Nah...kita akan mewujudkan hal itu dulu...." Bima menyuapkan lagi makanan ke mulutnya sendiri. "Lekas, habiskan makananmu," Imbuhnya.

Dasar mesum...akal-akala

n saja!!

Keesokan harinya, Bima mengajak Anin berkeliling, berbelanja, mengajarinya bermain ice skating, snow mobile, mengajaknya menaiki kereta anjing (dogsled) bahkan sampai ice fishing.

Sore harinya mampir ke taman bunga yang disediakan pengelola hotel khusus untuk para tamu, dan terkadang dibuka untuk umum juga.

Anin benar-benar merasa wanita paling bahagia.

"Mas, Apa benar kamu juga sudah pengen punya momongan?'' Tanya Anin ketika mereka sedang duduk santai menikmati indahnya bunga-bunga.

"Loh, Kok tanya gitu?"

"Ya barangkali kamu juga sudah tidak sabar. Sama kayak Mamih."

"Memangnya kenapa?"

"Rencananya, Aku pengen ikut PPDS (Program pendidikan Dokter spesialis ) Mas. Itupun kalau kamu mengijinkan. Tapi menurut Mamih, Umur kamu sudah terlalu tua untuk menunda momongan." Desah Anin.

"Jangan khawatir, biarpun usia bertambah, stok sperm*ku cukup untuk menghamili sekandang kerbau."

"Ini serius, Mas….."

"Saya bisa apa lagi?" Bima pura-pura mengeluh sambil mengangkat bahu. "Kamu kan dokternya, dan aku tahu betapa sulitnya punya istri dokter."

"Ah, Mas Bim," Anin menggebuk lengan suaminya dengan gemas. "Bisa nggak sih serius sekaliiii saja?"

"Lho, kata siapa nggak serius? Sp*rmaku kan spinter semua. Siap-siap saja, tanggung akibatnya kuliah tertunda karena cuti melahirkan."

"Mas Bim!" Anin mencubit dada suaminya dengan manja.

Sampai Bima merengkuh lengan istrinya dan mendekapnya erat-erat ke dadanya. Anin mendesah menahan gairahnya yang mulai bergejolak bagai magma siap meluap.

Dan, Bima amat terpengaruh mendengar desahan istrinya. Dibaringkannya istrinya disitu. Tidak peduli dimana mereka berada. Ditindihnya tubuhnya. Diciumi wajahnya, lehernya, dadanya, dengan ciuman seganas seekor beruang kutub.

"Mas," Sela Anin terengah-engah. "Bisa kita pindah ke kamar?"

"Apa bedanya di kamar atau di sini?"

"Kita akan jadi pusat perhatian disini?"

"Arghh!." Bima melenguh frustasi.

***

Dibukanya pintu kamar dengan tergesa-gesa dan ditendangnya pintu itu agar tertutup kembali seolah pintu adalah hal yang sangat menyebalkan bagi Bima.

Bima sudah tidak bisa ditahan lagi. Diraihnya pinggang istrinya, dilumatnya bibir gadis itu, lalu lehernya. Kemudian dada istrinya. Tidak peduli apa, dimana mereka bercinta. Mereka bercinta di kamar sendiri, -Di Dapur kamarnya- sendiri kok! dan mereka suami istri. Tidak ada yang bisa menghalangi.

Bima melepas baju istrinya dengan cepat. Agak sedikit kasar sampai membuat Anin terkejut dan agak kurang nyaman. Dia lebih suka bercinta dengan gaya klasik. Lembut tapi hangat. Perlahan tapi manis dan sama-sama mencapai puncak kemesraan.

Tetapi Anin tidak ingin menghalangi suaminya. Khusus kali ini, Bima boleh melakukan apapun yang diinginkannya. Termasuk cara bercinta. Meskipun cara yang berbeda dari biasanya.

Dan Anin mengakui, Bima memang laki-laki yang luar biasa. Dia mampu bercinta dengan berbagai gaya, yang bahkan Anin sendiri tidak pernah membayangkannya. Tetapi ketika mencicipi rasa baru itu, Dia bahkan tidak ingin berhenti. Dia malah ingin mengulanginya lagi dan lagi. Sampai Bima merasa puas dan terkulai lemah.

Anin membaringkan tubuhnya di atas tubuh suaminya dengan kepuasan yang tak terucapkan. Kenikmatan yang ingin dimilikinya untuk selamanya.

"Mas Bims hebat," Bisiknya sambil membelai dada suaminya yang basah berkeringat.

Kali ini Anin tidak berdusta. Dia mengagumi stamina suaminya. Dan dia yakin apa yang dirasakannya adalah murni perasaan cintanya.

"Lagi?" Bima tersenyum sambil membelai rambut istrinya. Menatap manik mata istrinya dengan penuh kemesraan.

"Mas tidak capek?"

"Tujuh ronde lagi pun saya masih sanggup."

Anin tersenyum manis, "Kita sisakan tenaga untuk besok malam ya.. Takut nggak sanggup pulang ke Indo."

Bima tertawa geli "Atau takut anak kita tercipta dekat kompor?"

"Issh..!"

"Atau takut dimintai ganti rugi kompor yang -nanti- rusak?"Ledek Bima menggoda istrinya.

Anin tersenyum. Dibelai-nya dada suaminya -Lagi- dengan lembut. "Mas, beneran nggak apa apa, kalau kita menunda anak?"

"He-ehm." Bima mengusap-usap punggung istrinya.

"Kamu sungguh baik dan pengertian. Makin Cinta deh sama kamu."

"Sun (cium bahasa jawa) dulu dong…."

Anin membelalak. Tentu saja hanya pura-pura kaget. "Cinta kamu pamrih!" Anin menjauhkan wajahnya.

"Jaman sekarang mana ada yang gratis. Buruan! Mau ngasih sukarela atau saya ambil paksa!"

Bima menarik kepala Anin mendekat.

Diamat-amatinya wajahnya dengan cermat. Semakin hari semakin cantik saja.

Anin berusaha menekan getaran hatinya dengan bergerak sewajar mungkin. Tetapi seperti biasa didepan suaminya dia selalu gagal. Posisi seintim ini.

Anin tahu, suaminya sedang merencanakan sesuatu, sesuatu yang lebih panas -Mungkin- karena itu Anin merasa resah dan bergairah.

"Ya tuhan, ini bener-benar memalukan," desahnya.

Anin tidak berani membalas tatapan suaminya. Tidak pula berani menjawab ataupun memberi apa yang suaminya minta. Dia terlalu malu untuk saat ini. Dan tanpa sadar pipinya memerah.

Anin menarik nafas berat. Sekilas adegan yang baru saja mereka lakukan melintas di depan matanya.

"Bagaimana, kalau secangkir Kopi?" cetus Anin terbata-bata setelah menghindari tatapan suaminya yang maha dahsyat menggoda.

"Boleh, Tapi setelah yang satu ini----" sela Bima.

Anin tidak ingat bagaimana dia dapat sampai kesana. Tidak ingat bagaimana suaminya membawanya masuk kedalam kamar tidur. Memeluknya seolah-olah tidak ingin melepaskan lagi.

"Saya mencintaimu." Bisik Bima mesra di telinganya.

Suara yang begitu menggoda. Sama memikatnya dengan alunan suara celine dion yang lamat-lamat sedang melantunkan lagu entah apa judulnya.

Bima tahu sekali bagaimana cara menyenangkan seorang wanita. -Dia terlalu Ahli- Membuat istrinya melupakan segala-galanya. Pelukannya terasa demikian menggoda. Demikian membangkitkan gairah sekaligus menguasai.

Ketika dirasanya Anin telah menyerah pasrah dengan tawaran secangkir kopinya, Bim mulai mencumbunya dengan sangat lembut seolah-olah sedang mencumbu seorang gadis yang baru saja akan mendapat pengalaman pertamanya.

Bima menyuguhkan kemahiran bercinta yang amat mengagumkan. Begitu hangat. Memikat. Begitu mesra dan menantang. Begitu percaya diri, begitu perkasa dan begitu menguasai. Membuat Anin seperti dihisap secara total kedalam tubuh lelaki itu. Dan ia tak berdaya dalam belitan gairah yang mengaburkan kesadarannya. Sekali lagi dan lagi dia pasrah dibenamkan dalam manisnya rasa yang tak berujung.

Anin mendesah tak tertahan ketika dia merasakan lagi rasa yang disuguhkan suaminya. Kenikmatan yang membuat tubuhnya melayang-layang. Anin terengah sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Membiarkan sensasi itu menjalar ke sekujur syarafnya, seluruh tubuhnya. Mendidihkan darahnya. Sampai rasa panasnya terasa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kini dirinya telah menyatu dengan suaminya.

Sensasi yang selalu membuatnya merasa aman dan nyaman pada suaminya.

"Saya lapar dan tiba-tiba ingat Mbok Jum." goda Bima pada istrinya ketika mereka berdua tengah terbaring berpelukan di dalam selimut dengan sisa-sisa tenaga.

Anin tersenyum dan mencubit dada suaminya.

***

noveltoon

bellacandra

anin

ig : kata_upil

Terpopuler

Comments

Ana Jetterua

Ana Jetterua

haduuuuh

2020-04-21

0

cha

cha

masi misteri ...siapa Jaff itu anak musuh Bima kah??
bagaimana masalalu kecil dan remajanya...???

2020-04-20

1

santi Kurnia

santi Kurnia

sukaa ceritanya....up nya yg banyak ya thor...

2020-04-19

1

lihat semua
Episodes
1 Malapetaka
2 Wedding Day
3 Hari baru
4 CUMI! Cuma Mimpi
5 Dapur, Kasur, kasur!
6 Praduga yang salah
7 Abimanyu
8 Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9 Semuanya baru!
10 Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11 Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12 Tak terencana
13 Akhirnya Anin Nganu
14 Jujur
15 Mimpi buruk Anin yang hilang
16 Honeymoon yang Tertunda
17 Siapa Dia?
18 Aku dan Bintang
19 Masa lalu yang mengganggu
20 Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21 Handphone baru
22 Bintang malam yang tak Terkendali
23 Sisi Kelam Anin
24 Sembilu Syahdu
25 Sembilu Syahdu - 2
26 Dosa termanis
27 Kamu kembali
28 Terbawa suasa aja, sih ....
29 CIe, kangen ....
30 Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31 Datang Berkunjung
32 Kesalahan menyapa
33 Perkara Es krim
34 Cemburu tanda Rindu
35 Adakah yang lebih dari ini?
36 Menepi
37 Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38 Mohon Ampun
39 Berunding biar nggak pusing
40 Permintaan dari sana!
41 Yaaah! Istananya jebol juga
42 Naluri dan Kewarasan Diri
43 I gotta love you
44 Papa Tua dan Emosinya
45 Amplop dan rahasianya
46 Madu dan Racun
47 Yang lepas, ikhlaskan
48 Fakta yang terabaikan
49 Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50 Kemana?
51 Keliru
52 The last - Nice to see you
53 Till the End
54 Pengumuman
55 Jakarta I'm I Love
56 Kelakar Sahabat
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Malapetaka
2
Wedding Day
3
Hari baru
4
CUMI! Cuma Mimpi
5
Dapur, Kasur, kasur!
6
Praduga yang salah
7
Abimanyu
8
Sopir ya Gais! Bukan Preman Pasar
9
Semuanya baru!
10
Anin & Emosinya yang .... Ng-Nganu!
11
Tamu tak Diundang & Sepenggal kenangan
12
Tak terencana
13
Akhirnya Anin Nganu
14
Jujur
15
Mimpi buruk Anin yang hilang
16
Honeymoon yang Tertunda
17
Siapa Dia?
18
Aku dan Bintang
19
Masa lalu yang mengganggu
20
Sakit, sih! Tapi ya gimana ....
21
Handphone baru
22
Bintang malam yang tak Terkendali
23
Sisi Kelam Anin
24
Sembilu Syahdu
25
Sembilu Syahdu - 2
26
Dosa termanis
27
Kamu kembali
28
Terbawa suasa aja, sih ....
29
CIe, kangen ....
30
Pasir berbisik tentang rahasia dan kebenaran
31
Datang Berkunjung
32
Kesalahan menyapa
33
Perkara Es krim
34
Cemburu tanda Rindu
35
Adakah yang lebih dari ini?
36
Menepi
37
Faktanya, yang terdekatlah yang menoreh paling dalam
38
Mohon Ampun
39
Berunding biar nggak pusing
40
Permintaan dari sana!
41
Yaaah! Istananya jebol juga
42
Naluri dan Kewarasan Diri
43
I gotta love you
44
Papa Tua dan Emosinya
45
Amplop dan rahasianya
46
Madu dan Racun
47
Yang lepas, ikhlaskan
48
Fakta yang terabaikan
49
Lelah, Menyerah belum tentu kalah
50
Kemana?
51
Keliru
52
The last - Nice to see you
53
Till the End
54
Pengumuman
55
Jakarta I'm I Love
56
Kelakar Sahabat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!