Tawanan

🌸🌸🌸

Cahaya mentari menembus gelapnya ruangan sempit yang ku tempati, entah berada dimana diriku, terpenjara saat ini karena sebuah kesalahan yang tak pernah aku perbuat. Bahkan kesalahan apakah yang telah di lakukan sampai mereka begitu geram dan benci padaku. Takdir, apakah aku harus menyalakanmu? ataukah aku harus ikhlas menerima semua ini demi sebuah kata bakti. Bertahun-tahun aku selalu menjaga dan menyayangi anak dari orang yang sudi mengadopsi ku, aku menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Mungkin inilah bakti yang bisa ku berikan pada keluarga orang tua angkat ku. Serpihan masa laluku terus ku tulis dalam paling hatiku. Begitu juga saat ini diriku menjadi tawanan seorang karena sebuah kesalahan yang di lakukan adik angkat ku. Haus, tenggorokanku sangat kering sudah dua hari aku tidak minum bahkan makan. Ingin ku berpuasa tapi dalam agamaku tidak menginjinkan berpuasa sehari semalam suntuk.

Miris.

Mungkin itulah kata yang tepat untuk ku sekarang. Aku menarik nafas panjang. Lewat celah-celah kecil fentalasi udara itu aku bisa tahu kalau saat ini sudah pagi dan aku menjalani hidup di penjara ini sudah dua hari. Terdengar derap beberapa langkah seseorang berjalan mungkin mereka berhenti tepat di depan ruang ini.

Klik

Terdengar pintu terbuka, mataku menyipit melihat beberapa orang yang masuk. mereka berhenti tepat di depanku, jujur saja tanganku gemetar tapi sebisa mungkin aku harus bersikap seperti biasa untuk menghadapi mereka semua. Jujur di penjara ini aku masih bersyukur karena mereka tidak mengikat tubuhku seperti yang ada di film atau sinetron. Tatapan mereka semua tertuju pada ku wajar saja saat ini aku adalah tawanan. Ya Tuhan lindungilah hambamu ini, semoga mereka tidak melakukan sesuatu yang paling ku takuti. Di saat aku terbuai dengan pemikiran ku ternyata suara lantang seseorang memecah sebagian lamunanku.

"Jadi kau-" suara lelaki yang tatapannya tajam dan tegas, lelaki itu nampak memerhatikan penampilanku dari atas sampai bawah.

"CK! munafik" hardiknya padaku. Aku hanya menunduk terdiam, jujur saja aku paling benci di kata seorang munafik, tapi aku sadar jika lelaki itu pantas menyebutku begitu karena pakaian yang ku kenakan saat ini merupakan pakaian muslimah yang tertutup mulai dari atas sampai ke bawah hanya mataku yang nampak. Ya, aku mengenakan niqob. Dan saat ini aku tersangka kasus manipulasi keuangan perusahaan milik lelaki itu.

"Kau tak lebih dari seorang teroris yang berkedok menjadikan agama untuk sebuah ambisi" talak nya lagi. aku memejamkan mata sebisaku menahan rasa sakit atas ungkapan lelaki itu.

"Bawah dia ke ruangan ku!" titah lelaki itu pada anak buahnya.

"Siap tuan" dengan tegas anak buahnya menjawab. Lelaki itu melangkah terlebih dahulu meninggalkan tempat ini.

"CEPAT JALAN!" seru dua orang pria bertubuh kekar padaku. Saat ini aku hanya bisa menuruti mereka berjalan mengikuti arahan dua orang bertubuh kekar itu. Di jalan menuju ruangan itu ternyata yang kita lewati hanyalah sebuah lorong panjang dan sampai di pintu ternyata pintu itu adalah pintu yang menghubungkan lorong itu dengan sebuah markas besar dan banyak sekali lukisan serigala dan beberapa potret seseorang pria paruh baya yang wajahnya hampir mirip dengan lelaki yang menemui aku tadi mungkin dia adalah bapaknya. sampai di sebuah tangga yang menjulang kita menapaki tangga tersebut sampai tiba di sebuah ruang yang sepertinya sebuah ruangan untuk berkumpul atau meeting. Dua orang itu berhenti tepat di depan pintu yang bertuliskan Tom. Dua orang itu menyuruh ku masuk ke dalam. Betapa kagetnya aku saat melangkah memasuki ruang tersebut. Ruang yang komplit, beberapa buku tertata rapi berjejer di rak. Beberapa foto kelulusan menjadi picture di setiap dinding. Ternyata lelaki itu mengenyam pendidikan tinggi. Keluarganya juga sangat terkenal akan kekayaannya. Sesaat aku berfikir bagaimana bisa adik angkat ku berani bermain dengan keluarga ini, langkah kakiku terhenti di kala aku melihat tatapan mata tajam padaku. Jujur saja aku begitu takut akan nasib yang akan ku hadapi. Hanya Tuhan yang bisa membantuku. Lelaki itu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah maju ke arahku. Langkah yang tegap dan tegas seakan dapat meremukkan setiap sendi dalam tubuh.

"Munafik!" hardiknya lagi seraya terus melangkah maju mendekati ku. Tapi aku melangkah mundur sampai tepat mentok di sebuah rak buku. Seringai lelaki itu menakutkan. Aku tak lagi bisa berkutik, tatapan mata lelaki itu begitu menghunus, segera ku tundukkan pandanganku. Jujur saja badanku bergetar hebat, tak pernah sekalipun dalam hidupku berdekatan dengan seseorang lelaki sedekat ini bahkan itu tuan Samer sekalipun. Ujung kerudung yang ku pakai ku remas kuat untuk menahan ketakutan ku. Apa yang akan di lakukan lelaki ini padaku. Ketakutan ku tak bisa ku bendung, kakiku sudah gemetar tak mampu lagi menopang tubuh ini, Tapi lelaki itu semakin dekat tatapannya menyeringai begitu menakutkan dan tangannya terulur menarik niqabku.

Srek...

Bruk..

Kakiku luruh, kini tubuhku terduduk di lantai, dengan sigap aku menutup wajahku degan kedua tanganku seraya duduk meringkuk. Lelaki itu sepertinya tambah geram, dan terdengar suara langkah kakinya menjauh.

BRAK

Mataku terus ku pejamkan mendengar suara pintu yang di tutup dengan keras.

"Astagfirullah hal Adzim" lirih ku beristighfar.

Hening, tak ada bunyi apapun, sedikit demi sedikit aku mulai membuka tanganku, dan mengintip, ternyata sudah tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali aku. Aku bernafas lega.

"Alhamdulillah..." puji syukur ku panjatkan karena Tuhan ku telah melindungi ku. Ku sandarkan tubuhku di rak buku seraya menenangkan diri dan pikiranku. Mataku terarah ke penjuru arah guna mencari niqabku. Tapi aku tak menemukannya, dimana lelaki itu membuang nya. Lagi lagi aku bersyukur pada Tuhanku beruntung saat ini aku memakai kerudung segi empat yang besar, hingga aku dapat menggunakan sebagian untuk menutup wajahku.

"Allahu Akbar, Allah Maha besar, dia akan selalu melindungi hambanya!" yakinku mengucap takbir. Mengingat Tuhan ku aku merasa berdosa karena dari dua hari lalu aku belum melaksanakan kewajiban ku.

"Astagfirullah hal Adzim, aku tidak mengerjakan sholat dua hari karena aku di penjara dan tidak tahu waktu" lirihku sendiri.

Dan betapa kagetnya aku saat melihat jam digital yang tertera di dinding ruangan ini sudah pukul 1 siang.

"Ini sudah masuk waktu dhuhur, aku harus sholat" buru-buru aku berdiri dan mengedarkan pandanganku ke penjuru arah untuk mencari toilet. Tuhan sepertinya menuntunku untuk masuk ke sebuah ruang dan betapa kagetnya aku ternyata ruangan ini terhubung dengan kamar yang mewah. Aku tak tahu mungkin di setiap ruangan ini ada CCTV nya, tapi tekatku saat ini adalah melakukan ibadah sholat wajib. Aku mengitari setiap kamar untuk mencari kamar mandi dan beruntung aku menemukannya, dengan segera aku melepas kerudungku guna mengambil air wudhu dengan cepat aku menggunakan kerudungku kembali dan keluar dari kamar mandi, buru-buru aku melaksanakan kewajibanku. Meski aku sekarang tak tahu arah kiblat dimana karena tak ada orang yang bisa ku tanyai saat ini. semoga Allah menerima ibadahku.

🌸🌸🌸

Terpopuler

Comments

bucinnya Bangtan💜

bucinnya Bangtan💜

masa mereka gk bisa mengenali siapa yg jd karyawan bagian keuangan,kan ada cctv bisa dicek dong

2025-03-02

0

SITI MAKHMUDAH

SITI MAKHMUDAH

mantap....baru baca tapi suka...semoga bab selanjutnya lebih menarik ceritanya...

2024-11-01

0

Adiba Shakila Atmarini

Adiba Shakila Atmarini

bgus ceritax..bru awal bca dh suka dngan alur ceritax

2025-01-12

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Tawanan
3 Aku Kembali
4 Sebuah Pilihan
5 Bertemu
6 POV Tommy
7 Tuan Kejam
8 POV Author
9 Panik
10 Ikhlas
11 POV Author
12 Menurut
13 POV Tom 2
14 Musim semi
15 Dosakah Bila Membencinya
16 Identitas Asiyah
17 Beradu Pandang
18 Pergi Bersama
19 Ada Apa Dengan Perasaan ku?
20 Kesal
21 Kenapa Harus Peduli
22 Lelah
23 Pergi
24 Status Kita Sama
25 Jauh
26 Asiyah Vs Tom
27 Menebus Kesalahan
28 Kecelakaan
29 Terluka
30 Bertahanlah
31 Hukuman
32 Mimpi
33 Seni seviyorum
34 Bangunlah
35 Berdebar
36 Sengsara
37 Cantik
38 Bukan Mahram
39 Satu Bulan
40 Berlapang Dada
41 Jodoh
42 Dengan Cara ku
43 Ceroboh
44 Makan Malam
45 Menjadi Kekasih Ku
46 Menikahlah Dengan Ku
47 Pengakuan Tom
48 Imam Yang Baik
49 Kedatangan Aslan Dan Khadijah
50 Apa Saya Boleh Memilih?
51 Ingin Memastikan
52 Apa Mungkin Aku Jatuh Cinta
53 Ikhlas Itu Sulit
54 Mawas Diri
55 Pendapat Ku
56 Sah
57 Pengantin Baru
58 Berhasil
59 Mengagumi
60 Bertekuk Lutut
61 Bagian Keluarga
62 Terpenjara Dalam Hidupku
63 Menari-nari
64 Panggil Aku 'Mas'
65 Duduk Berdua
66 Tumbuh Perasaan
67 Berawal Dari Kejahatan
68 Menggenggam Tangan Asiyah
69 Mulai Dari Hal Kecil
70 Kecewa
71 Menemukan Kedamaian
72 Ke Caffe
73 Terobsesi Oleh Wanitamu
74 Kehidupan Masing-masing
75 Sekeras-kerasnya Batu Bila Terkena Hujan Akan Retak
76 Bisa Istiqomah
77 Belum Pantas
78 Mengetahui Kenyataan
79 Cinta Atau Obsesi
80 Awal Yang Baik
81 Menjadi Suami Seutuhnya
82 Bulan Madu
83 Bersalah
84 You're My Life
85 Hadiah Terindah
86 Adam Syamil Dirga
87 Pembawa Rizki
88 Pernikahan Kontrak
89 Ulang Tahun Pernikahan
90 Epilog
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Prolog
2
Tawanan
3
Aku Kembali
4
Sebuah Pilihan
5
Bertemu
6
POV Tommy
7
Tuan Kejam
8
POV Author
9
Panik
10
Ikhlas
11
POV Author
12
Menurut
13
POV Tom 2
14
Musim semi
15
Dosakah Bila Membencinya
16
Identitas Asiyah
17
Beradu Pandang
18
Pergi Bersama
19
Ada Apa Dengan Perasaan ku?
20
Kesal
21
Kenapa Harus Peduli
22
Lelah
23
Pergi
24
Status Kita Sama
25
Jauh
26
Asiyah Vs Tom
27
Menebus Kesalahan
28
Kecelakaan
29
Terluka
30
Bertahanlah
31
Hukuman
32
Mimpi
33
Seni seviyorum
34
Bangunlah
35
Berdebar
36
Sengsara
37
Cantik
38
Bukan Mahram
39
Satu Bulan
40
Berlapang Dada
41
Jodoh
42
Dengan Cara ku
43
Ceroboh
44
Makan Malam
45
Menjadi Kekasih Ku
46
Menikahlah Dengan Ku
47
Pengakuan Tom
48
Imam Yang Baik
49
Kedatangan Aslan Dan Khadijah
50
Apa Saya Boleh Memilih?
51
Ingin Memastikan
52
Apa Mungkin Aku Jatuh Cinta
53
Ikhlas Itu Sulit
54
Mawas Diri
55
Pendapat Ku
56
Sah
57
Pengantin Baru
58
Berhasil
59
Mengagumi
60
Bertekuk Lutut
61
Bagian Keluarga
62
Terpenjara Dalam Hidupku
63
Menari-nari
64
Panggil Aku 'Mas'
65
Duduk Berdua
66
Tumbuh Perasaan
67
Berawal Dari Kejahatan
68
Menggenggam Tangan Asiyah
69
Mulai Dari Hal Kecil
70
Kecewa
71
Menemukan Kedamaian
72
Ke Caffe
73
Terobsesi Oleh Wanitamu
74
Kehidupan Masing-masing
75
Sekeras-kerasnya Batu Bila Terkena Hujan Akan Retak
76
Bisa Istiqomah
77
Belum Pantas
78
Mengetahui Kenyataan
79
Cinta Atau Obsesi
80
Awal Yang Baik
81
Menjadi Suami Seutuhnya
82
Bulan Madu
83
Bersalah
84
You're My Life
85
Hadiah Terindah
86
Adam Syamil Dirga
87
Pembawa Rizki
88
Pernikahan Kontrak
89
Ulang Tahun Pernikahan
90
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!