Pergi Bersama

"Maaf, saya hanya mengantarkan Cay untuk anda" lirih Asiyah. Entah kenapa Tom bergeming, jujur saja dia merasa jantungnya berdebar saat melihat Asiyah apalagi dengan pakaian tidak seperti biasanya membuat Asiyah terlihat masih lebih mudah, meski wajahnya tertutup oleh niqab dan seketika Tom membukakan pintu lebar untuk Asiyah.

"Taruh disitu?" seru Tom. Asiyah melangkah masuk ke dalam kamar Tom lalu menuju ke meja yang ada di depan sofa. Ditaruhnya cay di atas meja.

"Silahkan tuan!" ucap sopan Asiyah yang melihat Tom nampak duduk di sofa. Tom hanya mengangguk.

"Apa anda butuh sesuatu lagi?" meski ragu tapi Asiyah mencoba bertanya. Dan menggeleng itulah jawaban Tom. Duh, betapa senangnya hati Asiyah karena sepertinya Tom tidak akan menghukumnya di lihat dari raut wajahnya.

"Kalau begitu saya permisi tuan" pamit Asiyah. Asiyah menarik nafas dalam saat menutup pintu kamar Tom. Dengan cepat dia segera kembali ke kamarnya untuk istirahat. Di dalam Tom masih menetralkan debaran jantungnya. Entah kenapa melihat Asiyah kini perasaannya berdebar dan ada sedikit rasa bahagia. Apalagi melihat Asiyah yang berpakaian santai membuatnya terlihat menggemaskan saja. Di tatapnya cay yang ada di atas meja, dengan senyum tersungging dia mengambil dan menyeduh cay yang rasanya sangat pas dan memberi aroma kenyamanan hakiki.

##

Langkah kaki Afriel terhenti mana kala dia melihat Nura yang berlari ke arahnya dengan nafas sedikit ngos-ngosan.

"Maaf nona Afriel" kata Nura yang sedikit mengatur nafasnya karena mengejar Afriel barusan. Afriel mengernyit memerhatikan Nura.

"Ada apa?"

"Begini saya hanya ingin memastikan apakah anda jadi kembali ke-"

"Katakan pada tuan Tom tidak!" jawab Afriel terlihat sedikit kesal. dia kembali melangkah meninggalkan Nura sendiri.

"Kenapa dia harus marah, aku kan cuma bertanya" guman Nura, dari pada dia pusing dia lebih memilih ke ruangan nya.

Sedangkan Afriel langsung menuju dimana ruangan Tom berada. sayang sekali hari ini Tom tidak masuk ke kantor dia memilih mengerjakan pekerjaannya di rumah.

"Apa Tom tidak masuk hari ini?" sarkas Afriel saat berpapasan dengan Nura. Nura nampak gelagapan.

"Kata tuan Gio hari ini tuan tidak datang nona"

"Kenapa?" bentak Afriel. Nura sedikit mundur dan memilih menggeleng.

"Kau tahu dimana dia sekarang?" lanjut Afriel. Nura kembali menggeleng. Afriel menarik nafas dalam dan dengan kesal dia memilih meninggalkan Nura. Sebenarnya Nura tahu jika Tom sekarang ada di mension, Nura sengaja tidak memberi tahu Afriel karena di larang oleh Gio. Afriel kembali ke ruangannya, jika saja dia masih punya cuti pasti dia tidak akan masuk kerja hari ini, sayangnya pihak HDR sudah menegurnya karena sering tidak masuk. Apalagi dia masih ingin bekerja bersama Tom.

"Shit!!" kesal Afriel karena Tom tidak mengangkat panggilan darinya.

"Tom, kenapa kau berubah?" lirihnya terduduk di kursi. Dia mencoba meratapi kesalahannya, dan baru sekarang dia sadar jika dirinya butuh sosok Tom yang selalu ada di sampingnya.

***

Asiyah hari ini mulai memasak untuk sarapan Tom. Beruntung di lemari pendingin masih tersedia beberapa bahan pangan seperti ayam telur dan beberapa sayuran.

"Kau akan membuat sarapan untuk tuan?" tanya Bu Lena menghampiri Asiyah yang lagi memotong ayam. Asiyah yang di tanya mengangguk.

"Apa masih ada bahannya, karena terakhir kali kamu masak kan sebelum tuan pergi-"

"Ini masih sisa sedikit Bu, mungkin hanya cukup untuk sarapan saja" sela Asiyah. Bu Lena mengangguk. ,Semenjak kepergian Tom Asiyah tidak pernah memasak, karena sudah ada katering yang selalu mengantar makanan untuk para pekerja yang ada di mension.

"Nanti biar saya tanya kan pada tuan Gio, kamu lanjutkan saja"

"Baik"

Sepeninggal Bu Lena, Asiyah kembali melanjutkan aktifitasnya, dia lebih memilih memasak yang tidak ribet. Ayam goreng dan juga tumis sayuran ala kadarnya saja. Bermodal dari insting apakah rasanya enak atau tidak, Asiyah hanya pasrah biarlah kalau tidak enak dia sudah pasrah menerima hukuman dari Tom. Setengah jam sudah Asiyah berkutat dengan dapur, dan saat ini dia telah menata hasil masakannya di meja makan.

Dengan sedikit mengerjap mata Tom terbuka di kala wajahnya terasa hangat saat mentari pagi menyinari wajah tampan milik nya. Kebiasaan setiap bangun tidur matanya tertuju pada jam dinding yang menempel di dindingnya.

"Hhmmm.. Sudah jam tujuh" Tom beranjak dari ranjang dan memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri, di saat dia berada di dalam kamar mandi beberapa kali ponselnya berdering.

Klek..

Selesai mandi dan memakai kimono Tom baru teringat dengan ponselnya yang dia taruh di nakas tadi malam. Di lihatnya beberapa panggilan tak terjawab dari Afriel juga mama. Tom yang melihat panggilan masuk segera dia mengangkatnya.

"Halo ma.."

'...'

"Ya ma, Tom kan sudah mengurus semuanya dan sekarang sudah kembali normal"

'...'

"Ma, biar Tom yang menyelesaikan semua"

'...'

Tom menghela nafas panjang, dia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Tom beranjak menuju walk in closed untuk segera berganti baju.

Tok.. tok..

Asiyah mengetuk pintu kamar Tom, meski jujur saja dalam hati dia merasa enggan tapi bagaimanapun dia harus melaksanakan tugas nya mau tak mau harus mau.

Ceklek..

Tom membuka pintu, mata Asiyah sempat memerhatikan pakaian Tom yang tidak seperti biasanya terlihat pakaian formal tapi saat ini Tom hanya memakai pakaian santai, terlihat Tom yang lebih mudah dan jauh dari wajah sangar nya. Tatapan mereka beradu, Asiyah segera menunduk.

"Maaf tuan, sarapan nya sudah siap" kata Asiyah. Tom mengangguk. Dia memilih menutup pintu dan beranjak dari kamarnya. Asiyah hanya mengekor di belakang Tom dengan gemetar dan itu semua tak luput dari pandangan Tom. Di meja sudah tersedia menu ayam goreng, tumis sayuran dan teh. Mencium dari aromanya saja membuat cacing di dalam perut Tom memberontak.

"Silahkan tuan" dengan telaten Asiyah mengambilkan nasi dan juga lauk pauknya lalu di taruh di depan Tom dengan lembut.

"Emm.." Tom sudah tidak sabar menyantap makanan tersebut diambilnya sendok dan garpu dengan segera dia menyantap hindangan yang di depan nya saat ini. Di sela-sela menikmati makanannya datang Gio menghampiri, Gio berdiri di samping Tom seraya memperhatikan tuan nya itu menyantap tandas makanannya. Di lihatnya menu yang tersisa di atas meja makan, 1 potong ayam goreng dan tumis sayuran.

'Pantas saja lahap makan ya' pikir Gio, dia melirik Asiyah yang juga berdiri di sebelahnya. Gio tersenyum pada Asiyah. Asiyah hanya mengangguk untuk membalasnya. Tom menyadari jika Gio mengulas senyum pada Asiyah, entah kenapa hatinya merasa geram.

"Ambilkan aku pencuci mulut!" seru Tom pada Asiyah.

"Baik tuan" bergegas Asiyah mengambil buah ke dapur. di lihatnya di lemari es, tidak ada satu pun buah yang tersisa. Asiyah mendengus kesal.

"Aduh,, bagaimana ini, tidak ada apa pun di sini" keluh Asiyah, lalu apa yang harus dia katakan pada Tom.

Marah. Asiyah siap menerima kemarahan Tom. Mau bikin apa pun juga percuma karena tidak ada bahan baku nya.

"Ada apa?" sarkas Tom pada Gio. Gio yang setiap harinya hafal perilaku Tom dia tidak heran dengan pertanyaan Tom yang terlihat dingin.

"Nona Afriel beberapa kali menghubungi saya, beliau menanyakan tentang anda?" aduh Gio apa adanya. Tom teringat tadi juga dia melihat notifikasi panggilan dari Afriel.

"Lalu kau bilang apa?"

"Anda sedang istirahat, tidak bisa di ganggu"

Tom hanya diam, dia teringat kata mamanya tentang hubungannya dengan Afriel.

"Apakah yang aku lakukan saat ini benar?" tanya Tom pada Gio.

"Anda bisa mencoba membuka hati dengan yang lain tuan" itulah saran yang selalu di berikan oleh Gio, karena Gio merasa kasihan melihat pengorbanan Tom untuk Afriel tapi sayangnya semua itu tidak di anggap oleh Afriel. Dan Gio merasa Tom ada insting dengan Asiyah dia lebih baik. Asiyah datang menghampiri mereka.

"Maaf tuan!" Tom seketika mengedarkan pandangannya pada Asiyah.

"Ada apa?" kali ini Gio yang bertanya. Tom hanya melirik sinis pada Gio.

"Maafkan saya, karena di dalam tidak ada apa pun untuk pencuci mulut" lirih Asiyah. Gio yang menyadari jika dia belum menyuruh orang untuk mengirim bahan makanan yang di perlukan Asiyah.

"Maaf kan saya tuan, saya akan menghubungi Nura agar mengirim barang yang di perlukan oleh-"

"Kau bersiaplah kita akan pergi ke supermarket. itu sebagai hukuman untuk mu!" titah Tom pada Asiyah.

'What!! pergi bersama'

Terpopuler

Comments

Endang Sulistia

Endang Sulistia

gaya mu tom..tom

2025-03-18

0

Ds Phone

Ds Phone

dah mula ajak jalan

2025-03-12

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

sebetulnya jadi hukuman yang menyenangkan ya Asi,,,

2024-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Tawanan
3 Aku Kembali
4 Sebuah Pilihan
5 Bertemu
6 POV Tommy
7 Tuan Kejam
8 POV Author
9 Panik
10 Ikhlas
11 POV Author
12 Menurut
13 POV Tom 2
14 Musim semi
15 Dosakah Bila Membencinya
16 Identitas Asiyah
17 Beradu Pandang
18 Pergi Bersama
19 Ada Apa Dengan Perasaan ku?
20 Kesal
21 Kenapa Harus Peduli
22 Lelah
23 Pergi
24 Status Kita Sama
25 Jauh
26 Asiyah Vs Tom
27 Menebus Kesalahan
28 Kecelakaan
29 Terluka
30 Bertahanlah
31 Hukuman
32 Mimpi
33 Seni seviyorum
34 Bangunlah
35 Berdebar
36 Sengsara
37 Cantik
38 Bukan Mahram
39 Satu Bulan
40 Berlapang Dada
41 Jodoh
42 Dengan Cara ku
43 Ceroboh
44 Makan Malam
45 Menjadi Kekasih Ku
46 Menikahlah Dengan Ku
47 Pengakuan Tom
48 Imam Yang Baik
49 Kedatangan Aslan Dan Khadijah
50 Apa Saya Boleh Memilih?
51 Ingin Memastikan
52 Apa Mungkin Aku Jatuh Cinta
53 Ikhlas Itu Sulit
54 Mawas Diri
55 Pendapat Ku
56 Sah
57 Pengantin Baru
58 Berhasil
59 Mengagumi
60 Bertekuk Lutut
61 Bagian Keluarga
62 Terpenjara Dalam Hidupku
63 Menari-nari
64 Panggil Aku 'Mas'
65 Duduk Berdua
66 Tumbuh Perasaan
67 Berawal Dari Kejahatan
68 Menggenggam Tangan Asiyah
69 Mulai Dari Hal Kecil
70 Kecewa
71 Menemukan Kedamaian
72 Ke Caffe
73 Terobsesi Oleh Wanitamu
74 Kehidupan Masing-masing
75 Sekeras-kerasnya Batu Bila Terkena Hujan Akan Retak
76 Bisa Istiqomah
77 Belum Pantas
78 Mengetahui Kenyataan
79 Cinta Atau Obsesi
80 Awal Yang Baik
81 Menjadi Suami Seutuhnya
82 Bulan Madu
83 Bersalah
84 You're My Life
85 Hadiah Terindah
86 Adam Syamil Dirga
87 Pembawa Rizki
88 Pernikahan Kontrak
89 Ulang Tahun Pernikahan
90 Epilog
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Prolog
2
Tawanan
3
Aku Kembali
4
Sebuah Pilihan
5
Bertemu
6
POV Tommy
7
Tuan Kejam
8
POV Author
9
Panik
10
Ikhlas
11
POV Author
12
Menurut
13
POV Tom 2
14
Musim semi
15
Dosakah Bila Membencinya
16
Identitas Asiyah
17
Beradu Pandang
18
Pergi Bersama
19
Ada Apa Dengan Perasaan ku?
20
Kesal
21
Kenapa Harus Peduli
22
Lelah
23
Pergi
24
Status Kita Sama
25
Jauh
26
Asiyah Vs Tom
27
Menebus Kesalahan
28
Kecelakaan
29
Terluka
30
Bertahanlah
31
Hukuman
32
Mimpi
33
Seni seviyorum
34
Bangunlah
35
Berdebar
36
Sengsara
37
Cantik
38
Bukan Mahram
39
Satu Bulan
40
Berlapang Dada
41
Jodoh
42
Dengan Cara ku
43
Ceroboh
44
Makan Malam
45
Menjadi Kekasih Ku
46
Menikahlah Dengan Ku
47
Pengakuan Tom
48
Imam Yang Baik
49
Kedatangan Aslan Dan Khadijah
50
Apa Saya Boleh Memilih?
51
Ingin Memastikan
52
Apa Mungkin Aku Jatuh Cinta
53
Ikhlas Itu Sulit
54
Mawas Diri
55
Pendapat Ku
56
Sah
57
Pengantin Baru
58
Berhasil
59
Mengagumi
60
Bertekuk Lutut
61
Bagian Keluarga
62
Terpenjara Dalam Hidupku
63
Menari-nari
64
Panggil Aku 'Mas'
65
Duduk Berdua
66
Tumbuh Perasaan
67
Berawal Dari Kejahatan
68
Menggenggam Tangan Asiyah
69
Mulai Dari Hal Kecil
70
Kecewa
71
Menemukan Kedamaian
72
Ke Caffe
73
Terobsesi Oleh Wanitamu
74
Kehidupan Masing-masing
75
Sekeras-kerasnya Batu Bila Terkena Hujan Akan Retak
76
Bisa Istiqomah
77
Belum Pantas
78
Mengetahui Kenyataan
79
Cinta Atau Obsesi
80
Awal Yang Baik
81
Menjadi Suami Seutuhnya
82
Bulan Madu
83
Bersalah
84
You're My Life
85
Hadiah Terindah
86
Adam Syamil Dirga
87
Pembawa Rizki
88
Pernikahan Kontrak
89
Ulang Tahun Pernikahan
90
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!