Afriel melangkah memasuki sebuah hotel yang berstandar bintang lima, langkahnya pasti tertuju pada sebuah restoran yang ada di hotel tersebut, para waiters menyambutnya dengan santun.
"Selamat malam nona Afriel" sambut seorang wanita yang berparas kan timur tenga.
"Dimana Dia sekarang?" tanya Afriel pada wanita itu. Wanita itu menuntun Afriel menuju ruang VIP. Di depan pintu sudah ada lelaki paruh baya yang menyambut mereka.
"Tuan sudah menunggu anda nona, silahkan masuk!". lelaki itu membukakan pintu ruang VIP. Afriel pun masuk ke dalam, seusai menutup pintu lelaki paruh baya itu melenggang pergi bersama dengan wanita yang mengantar Afriel tadi kembali ke depan dimana tempat mereka tadi makan.
"Tugas kita belum selesai" kata lelaki paruh baya itu disela-sela mereka makan malam di restoran tersebut. Wanita itu mengangguk, dia kembali menyantap hidangannya.
Di ruang VIP terlihat wajah lelaki dewasa yang di bilang matang dan berkarisma. Memang pesonanya luar biasa bagi setiap kaum hawa, tapi kenapa bagi Afriel berbeda, mungkin dari sejak kecil mereka berteman maka dari itu dia tidak terpikat sama sekali dengan lelaki yang duduk memunggunginya saat ini.
"Selamat malam Tom.." sapa Afriel dikala dirinya berada di samping lelaki itu. Lelaki itu yang tak lain adalah Tommy Dirga seketika menengok ke arah Afriel yang ada di sampingnya.
"Night,, silahkan duduk!" balas Tom. Jika yang dulu-dulu Afriel selalu di manjakan oleh Tom dengan sambutan yang sangat romantis, Tom selalu menggeserkan kursi untuk duduk Afriel, tapi kali ini Afriel menggeser kursi untuk dia tempati sendiri kendati tak ada pergerakan dari Tom seperti biasanya. Tak selang lama ada waiters yang menyajikan hidangan makan malam yaitu sandwich dan lemon teh, Tom memulai menyantap hidangan dengan tenang, Afriel menatap Tom sendu.
"Makanlah, selagi masih panas!" titah Tom datar dia masih fokus dengan makanan nya. Afriel menarik nafas dalam, entah kenapa sikap Tom yang begini membuat dada nya sesak. Afriel mulai menyantap makanannya dengan diam. Lima belas menit berlalu Afriel mulai membuka keheningan yang ada.
"Tom, maafkan aku waktu itu, bukan maksudku-"
"Sudahlah, bukan salah mu, kini aku sadar jika takdir kita hanyalah sebatas teman" sela Tom. Afriel menatap Tom terlihat wajah Tom datar, seperti tidak ada lagi tatapan dalam penuh dengan kasih sayang layaknya dulu.
'Apakah secepat itukah dia berubah?' batin Afriel. Entah mengapa seharusnya dia senang tapi hatinya malah hambar. Kini Afriel memilih menunduk, entah kenapa matanya begitu perih melihat Tom yang seakan tak begitu perduli lagi kepadanya.
"Aku dengar kamu mau kembali ke indo?" lanjut Tom bertanya. Afriel mendongak menatap Tom.
'Bagaimana dia tahu, aku belum mengatakannya' batin Afriel
"Jika kamu benar ingin kembali ke indo, kamu bilang saja pada Gio atau Nura, biar mereka yang mengurus semua" pungkas Tom selanjutnya. Bukannya dia mencegah seperti dulu yang selalu dia lakukan jika Afriel ingin pulang ke tanah air, Tom sudah berubah bukan seperti Tom yang dia kenal dulu.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Afriel bingung padahal dia belum bicara sama siapa pun.
"Hanya menduga" timpal Tom terkekeh.
"Apa kamu tidak keberatan jika aku kembali?" tanya Afriel hendak menelaah. Tom menggeleng.
"Tidak" jawab Tom pasti. Afriel tersenyum kecut melihat jawaban dari bibir Tom.
"Jika kamu takut pada mama, kamu tenang saja, biar mama aku yang urus" lanjut Tom, Afriel tidak menjawab dia melirik Tom yang nampak fokus pada ponselnya.
"Ok. Udah malam sebaiknya kamu pulang dulu!" seru Tom saat melihat jam mahal yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang". timpal Afriel beranjak, begitu juga Tom dia ikut beranjak, mereka berjalan bersama, sampai di depan lobi sudah ada mobil yang menunggu sang sopir membukakan pintu dengan sopan.
"Kau antar dia pulang!" seru Tom pada sang sopir. Sedangkan Afriel menatap Tom dengan bingung.
"Kamu gak ikut?" tanya nya. Tom menggeleng.
"Aku masih ada keperluan, see you.." jawab Tom datar. Sedangkan Afriel merasa kecewa berkali-kali, awalnya dia berfikir Tom akan mengantarnya pulang seperti biasanya tapi kali ini Tom malah memilih masuk ke mobil yang baru datang menghampiri nya. Afriel dengan lesu masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya.
Sedangkan Tom duduk bersandar di jok belakang, sementara Gio duduk di sebelah sopir pribadi keluarga. Tom merasa resah, pikirannya berkelana pada sosok Asiyah, sudah hampir dua Minggu dia tidak melihat Asiyah dan rencananya dia akan pulang ke mension.
'Apa yang harus ku lakukan jika berjumpa dengan Asiyah nanti' guman Tom sendiri, dia terus memutar otaknya agar mendapat kan ide. Otak Tom berfikir keras, tapi dia tetap juga tidak menemukan cara, Tom sedikit melonggarkan dasinya yang terasa sesak.
"Tuan, apa kita langsung ke mension?" tanya Gio.
"Hemm" jawab Tom, dia melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Tom bernafas lega. Setidaknya Asiyah mungkin sudah tidur. Tak selang lama mobil memasuki area mension, para body guard sudah siap menyambut kedatangannya. Tom keluar dari mobil saat body guard membukakan pintu untuknya.
"Selamat malam tuan" sambut para body guard dengan membungkuk hormat. Tom mengangguk seraya masuk ke dalam mension yang mana dengan sigap dua body guard yang berjaga di depan pintu membukakan pintu untuk sang tuan besar. Tom melangkah masuk, disana sudah ada Bu Lena yang menyambutnya.
"Selamat malam tuan,," sapa Bu Lena. Tom mengedarkan pandangannya ke seluruh arah dia nampak mencari seseorang, tapi beruntung seorang yang dia cari tidak nampak.
"Tuan butuh sesuatu?" tanya Bu Lena pada Tom.
"Ya, kau buatkan cay dan antar kan ke kamar" seru Tom kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Baik tuan" Bu Lena menatap kepergian Tom. Sedangkan Gio nampak kembali ke paviliun. Saat berpapasan dengan Bu Lena gio berhenti sejenak.
"Cepatlah kembali ke paviliun, jika tugasmu sudah selesai" pesan Gio pada Bu Lena. Bu Lena mengangguk. Gio melenggang pergi, sedangkan Bu Lena berjalan menuju kamar Asiyah diketuknya pintu kamar, tak lama pintu terbuka menampilkan Asiyah yang sudah memakai piyama, mungkin dia sudah tertidur tadi.
"Ada apa Bu?" tanya Asiyah mendapati Bu Lena berdiri di depan kamarnya.
"Kamu buatkan Cay dan antar ke kamar tuan!" pinta Bu Lena. Asiyah terperanjat mendengar Tom yang pulang sedangkan dia tidak menyambutnya, Asiyah ketar ketir jika Tom akan menghukumnya.
"Apa kamu dengar?" tanya Bu Lena yang melihat Asiyah bengong.
"Ba-ik Bu, saya ganti baju dulu" ucap Asiyah.
"Tidak usah, lagian bajumu sudah cukup sopan, lebih baik kamu laksanakan tugasmu!" titah Bu Lena.
"Sudah malam, aku akan kembali ke paviliun" pamit Bu Lena melenggang pergi. Asiyah menelisik penampilannya, dia pikir pakaiannya juga cukup longgar dan sopan meski sebuah setelan piyama, juga kerudung instan yang dia pakai juga tidak kala besar, dia mengambil niqabnya kemidian dia pakai lalu dengan segera pergi ke dapur untuk membuat kan teh khas Turki atau Cay. Dengan telaten Asiyah membuatkan cay, satu muk cay sudah jadi, dengan segera Asiyah membawanya di atas nampan dan di bawahnya ke kamar Tom.
Deg'
Jujur saja jantung Asiyah merasa ketar ketir. Ketika tidak ada sautan dari dalam. Asiyah kembali mengetuk. Tidak lama pintu terbuka menampilkan Tom yang berdiri di depannya, tatapan mata mereka beradu pandang cukup lama. Asiyah segera menundukkan pandangannya setelah sempat menyadari jika dia lancang karena sempat menatap dalam pada lelaki yang saat ini berdiri di depannya.
"Maaf, saya hanya mengantarkan Cay untuk anda" lirih Asiyah. Entah kenapa Tom bergeming, jujur saja dia merasa jantungnya berdebar saat melihat Asiyah apalagi dengan pakaian tidak seperti biasanya membuat Asiyah terlihat masih lebih mudah, meski wajahnya tertutup oleh niqab dan seketika Tom membukakan pintu lebar untuk Asiyah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Ds Phone
dah jadi sebersalah
2025-03-12
1
Sugiharti Rusli
apa si Tom akan jujur dia sudah tahu identitas Asiyah, atau dia tahan dulu sampai mereka menemukan keluarga angkatnya,,,
2024-07-17
0