Dosakah Bila Membencinya

🌸🌸🌸

Sudah satu bulan lebih aku terkurung, jujur saja aku merasa rindu pada kehidupan dulu yang ku jalani dulu. Bagaimana dengan keadaan orang-orang yang ku sayang sekarang? ammah, baba, dan para murid-murid yang ku bimbing. Apakah mereka juga merindukan ku?

Rabb, apa pun takdir yang engkau coretkan untuk ku, aku ikhlas, tujuan ku hidup kini hanya satu yaitu beribadah. Meski begitu banyak dosa yang hamba lakukan tapi aku mohon lindungi lah hamba dan jauhkanlah dari marah bahaya dan kesesatan. Hanya padamu lah Rabb hamba memohon, dan hanya padamu hamba mengharap.

Aku bersyukur di akhir-akhir ini dia tidak terlalu kasar pada ku, mungkin karena dia takut jika aku mati dia tidak akan bisa menyiksaku lagi, karena setiap aku sakit dia begitu kesal. Mungkin kesal karena tidak bisa memerintah ku semaunya.

Seperti biasa setiap hari aku harus melakukan tugas yang dia perintahkan. Entah kenapa sore ini dia terlihat lebih diam dari biasanya. Saat pulang dia juga langsung ke kamar, dan saat makan malam pun dia tidak turun dari kamarnya. Bahkan sudah pukul sembilan malam terlihat hidangan masih utuh belum dia sentuh. Kenapa dengan dirinya? sempat berfikir begitu, tapi pikiran ini segera ku tampik, bukan urusan ku. Aku lebih memilih kembali ke kamar ku guna untuk istirahat besok pekerjaan ku masih banyak. Selesai sholat Isyak ku rebahkan diri ini di atas ranjang dan memilih untuk memejamkan mata. Di sepertiga malam aku terbangun dan melaksanakan sholat malam, ku lanjutkan dengan berdzikir sampai subuh, selesai sholat subuh ku gunakan niqab dan mulai keluar dari dalam kamar untuk melakukan pekerjaan ku. Saat di dapur ku lihat Bu Lena sudah mencuci piring bekas makanan tadi malam.

"Maaf Bu, biar saya saja yang melakukannya!" kata ku tak enak pada Bu Lena.

"Dulu, sebelum menjadi kepala pelayan ini adalah pekerjaan ku, jadi kamu jangan merasa gak enak!" balas Bu Lena seraya mengelap tangannya dengan tisu.

"Tadi malam tuan tidak makan" lanjut Bu Lena. aku mendongak menatap Bu Lena penuh tanya.

"Apa tuan sakit?" reflek ku. Bu Lena menggeleng.

"Kata tuan Gio tidak" balas Bu Lena.

"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu buatin sarapan saja untuk tuan muda!" lanjut Bu Lena. Aku mengangguk. Bu Lena segera pergi dari dapur dan terlihat dia menemui para pengawal yang menjaga si pintu depan.

Kadang aku iri pada Bu Lena, dia bisa keluar masuk rumah ini dengan bebas. Sedangkan aku terpenjara di dalam, keluar ke halaman depan saja tidak di perbolehkan. Ya, siapalah aku, aku hanya seorang tawanan. Bersyukur saja setidaknya dia tidak mengikat ku. walaupun dia menyiksa batin ku.

Semangkok bubur ayam sudah tersaji, aku tinggal membikin susu. Saat akan membuat susu Bu Lena menghampiriku. Dia melihat semangkok bubur ayam yang sudah siap di meja makan. Lalu dia bilang jika tuan tidak sarapan di rumah.

"Kata tuan, beliau tidak sarapan di rumah" seketika ku hentikan aktifitas ku saat membuat susu.

"Oh, kalau gitu bubur ini akan aku simpan saja Bu" jawab ku.

"Kenapa gak kamu makan saja?" tanya Bu Lena.

"Aku puasa Bu" jawab ku. Bu Lena mengangguk mengerti, dia berpamitan untuk menemui para penjaga di luar. Melihat Bu Lena yang sudah keluar aku melirik pada bubur yang ada di meja makan. entah kenapa perasaanku merasa sedikit kecewa. Susu yang sudah jadi pun kini ku simpan bersama bubur ayam di kitchen set. Segera ku beranjak dan mengerjakan pekerjaan lain di rumah ini.

Pandanganku dengan dia bertemu sejenak manakala dia turun dari tangga dan aku sedang mengelap vas bunga yang ada di sebelah kanan tangga dia berhenti sejenak, lalu kembali melangkah tanpa kata apa pun. Harusnya aku tak sedih, tapi kenapa hati ini merasa ada yang hampa.

Sejak saat itu dia tak pernah datang lagi ke rumah ini, jujur saja aku merasa senang karena pekerjaan ku tidak begitulah terlalu tertekan dengan adanya dirinya disini. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang kosong, mungkin aku terlalu merindukan kebersamaan dengan ammah dan ane di panti dulu, mereka begitu baik padaku sampai aku mendapat kasih sayang layaknya seorang ibu pada anaknya. Andai ku pegang ponsel ku, pasti aku akan menghubungi ammah menanyakan kabarnya, teringat ponsel aku jadi merasa bersalah dan tidak bertanggung jawab dengan tugasku di Mesir yaitu menjadi pembimbing para mahasiswa dan kini asisten ku pasti sangat bingung, apalagi tak ada konteks sedikitpun dariku. Menghela nafas panjang itu lah yang saat ini aku lakukan di kolam ikan yang ada di belakang rumah. Disini lah tempat yang paling aku suka di rumah ini. Selain memberi makan ikan aku juga merasa terhibur dengan melihat mereka yang saling berebut makanan. Mungkin dari sisi itu bisa di gambarkan jika kita menginginkan sesuatu maka kita harus berusaha tak peduli rasa lelah, yang terpenting kita harus berusaha mendapatkan apa yang kita mau. Layaknya sebuah obsesi. Obsesi?

Masih pantaskah jika diriku menginginkan itu. Mungkin semua itu hanyalah sebuah angan. Angan yang tak akan bisa terwujud pada kehidupan ku kini, semua sudah sirna baik mimpi, obsesi bahkan berambisi pun kini hanya bualan semata. Di balik niqab ini bibirku tersenyum kecut dan kembali memberi makan ikan yang ada di kolam ini. Samar-samar terdengar suara langkah kaki, dan benar saja, sekarang di samping ku ada Bu Lena yang menatap ke dalam kolam melihat ikan-ikan pada berebut makanan.

"Aku lihat kamu akhir-akhir ini kamu sering melamun disini?"

"Anda belum tidur?" alih ku bertanya tanpa menjawab. Bu Lena mengulas senyum hambar.

"Ya, kamu betul, bahkan ini sudah lewat dari jam sembilan malam, sebaiknya kamu juga segera istirahat" timpal Bu Lena.

"Selamat malam" pamitnya melenggang masuk kembali ke dalam. Ku menarik nafas dalam sejenak, Bu Lena benar malam makin larut dan saatnya tubuh ini untuk istirahat.

Mata ini sulit sekali terpejam, kenapa aku memikirkan dia? mungkin ini karena rasa benci ku padanya yang bertambah besar. Hingga bayangan nya selalu di pelupuk mata. Tatapan mata yang tajam yang menyiratkan kebencian nya saat menatap ku. Dosa kah bila aku membenci nya ya Rabb, tak ada sedikit pun alasan diri ini untuk tidak membencinya. Bagi ku dia terlalu kejam entah semua itu dia lakukan hanya padaku atau pun dengan wanita lain tapi hamba mohon kuatkan lah hamba seperti engkau menguatkan iman Asiyah binti Muzahim ndungilah hamba seperti engkau melindungi Asiyah binti Muzahim.

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

tabah kan hati mu

2025-03-12

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

akan bermuara ke mana yah ini, si Tom apa selama ini ga pernah menyelidiki lagi apa yang terjadi sama perusahaannya gitu

2024-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Tawanan
3 Aku Kembali
4 Sebuah Pilihan
5 Bertemu
6 POV Tommy
7 Tuan Kejam
8 POV Author
9 Panik
10 Ikhlas
11 POV Author
12 Menurut
13 POV Tom 2
14 Musim semi
15 Dosakah Bila Membencinya
16 Identitas Asiyah
17 Beradu Pandang
18 Pergi Bersama
19 Ada Apa Dengan Perasaan ku?
20 Kesal
21 Kenapa Harus Peduli
22 Lelah
23 Pergi
24 Status Kita Sama
25 Jauh
26 Asiyah Vs Tom
27 Menebus Kesalahan
28 Kecelakaan
29 Terluka
30 Bertahanlah
31 Hukuman
32 Mimpi
33 Seni seviyorum
34 Bangunlah
35 Berdebar
36 Sengsara
37 Cantik
38 Bukan Mahram
39 Satu Bulan
40 Berlapang Dada
41 Jodoh
42 Dengan Cara ku
43 Ceroboh
44 Makan Malam
45 Menjadi Kekasih Ku
46 Menikahlah Dengan Ku
47 Pengakuan Tom
48 Imam Yang Baik
49 Kedatangan Aslan Dan Khadijah
50 Apa Saya Boleh Memilih?
51 Ingin Memastikan
52 Apa Mungkin Aku Jatuh Cinta
53 Ikhlas Itu Sulit
54 Mawas Diri
55 Pendapat Ku
56 Sah
57 Pengantin Baru
58 Berhasil
59 Mengagumi
60 Bertekuk Lutut
61 Bagian Keluarga
62 Terpenjara Dalam Hidupku
63 Menari-nari
64 Panggil Aku 'Mas'
65 Duduk Berdua
66 Tumbuh Perasaan
67 Berawal Dari Kejahatan
68 Menggenggam Tangan Asiyah
69 Mulai Dari Hal Kecil
70 Kecewa
71 Menemukan Kedamaian
72 Ke Caffe
73 Terobsesi Oleh Wanitamu
74 Kehidupan Masing-masing
75 Sekeras-kerasnya Batu Bila Terkena Hujan Akan Retak
76 Bisa Istiqomah
77 Belum Pantas
78 Mengetahui Kenyataan
79 Cinta Atau Obsesi
80 Awal Yang Baik
81 Menjadi Suami Seutuhnya
82 Bulan Madu
83 Bersalah
84 You're My Life
85 Hadiah Terindah
86 Adam Syamil Dirga
87 Pembawa Rizki
88 Pernikahan Kontrak
89 Ulang Tahun Pernikahan
90 Epilog
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Prolog
2
Tawanan
3
Aku Kembali
4
Sebuah Pilihan
5
Bertemu
6
POV Tommy
7
Tuan Kejam
8
POV Author
9
Panik
10
Ikhlas
11
POV Author
12
Menurut
13
POV Tom 2
14
Musim semi
15
Dosakah Bila Membencinya
16
Identitas Asiyah
17
Beradu Pandang
18
Pergi Bersama
19
Ada Apa Dengan Perasaan ku?
20
Kesal
21
Kenapa Harus Peduli
22
Lelah
23
Pergi
24
Status Kita Sama
25
Jauh
26
Asiyah Vs Tom
27
Menebus Kesalahan
28
Kecelakaan
29
Terluka
30
Bertahanlah
31
Hukuman
32
Mimpi
33
Seni seviyorum
34
Bangunlah
35
Berdebar
36
Sengsara
37
Cantik
38
Bukan Mahram
39
Satu Bulan
40
Berlapang Dada
41
Jodoh
42
Dengan Cara ku
43
Ceroboh
44
Makan Malam
45
Menjadi Kekasih Ku
46
Menikahlah Dengan Ku
47
Pengakuan Tom
48
Imam Yang Baik
49
Kedatangan Aslan Dan Khadijah
50
Apa Saya Boleh Memilih?
51
Ingin Memastikan
52
Apa Mungkin Aku Jatuh Cinta
53
Ikhlas Itu Sulit
54
Mawas Diri
55
Pendapat Ku
56
Sah
57
Pengantin Baru
58
Berhasil
59
Mengagumi
60
Bertekuk Lutut
61
Bagian Keluarga
62
Terpenjara Dalam Hidupku
63
Menari-nari
64
Panggil Aku 'Mas'
65
Duduk Berdua
66
Tumbuh Perasaan
67
Berawal Dari Kejahatan
68
Menggenggam Tangan Asiyah
69
Mulai Dari Hal Kecil
70
Kecewa
71
Menemukan Kedamaian
72
Ke Caffe
73
Terobsesi Oleh Wanitamu
74
Kehidupan Masing-masing
75
Sekeras-kerasnya Batu Bila Terkena Hujan Akan Retak
76
Bisa Istiqomah
77
Belum Pantas
78
Mengetahui Kenyataan
79
Cinta Atau Obsesi
80
Awal Yang Baik
81
Menjadi Suami Seutuhnya
82
Bulan Madu
83
Bersalah
84
You're My Life
85
Hadiah Terindah
86
Adam Syamil Dirga
87
Pembawa Rizki
88
Pernikahan Kontrak
89
Ulang Tahun Pernikahan
90
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!