Gelya duduk di atas lantai di depan ruangan unit gawat darurat. Tubuhnya bergetar, karena tangis yang ditahan sedemikian rupa. Hatinya hancur, kematian sang bibi hampir sama dengan mamanya. Dan ada nama Zoran yang disebut.
"Gelya....!" Zein berjongkok di hadapannya.
Gelya mengangkat wajahnya. Ia langsung memeluk Zein dan tangisnya pun pecah.
"Aku tak punya siapa-siapa lagi, dokter."
Zein membiarkan Gelya menangis, mengeluarkan sesak di dadanya.
"Jasad bibimu sudah selesai dibersihkan. Kapan akan dikebumikan?"
"Besok sore saja, dok. Bibiku harus dimakamkan di makam keluarga. Jaraknya sekitar satu jam lebih dari sini. Aku harus menelepon penjaga kubur di sana dan....."
"Berikan alamatnya padaku. Biar aku menyuruh orang untuk mengurusnya. Kamu kelihatan sangat lemah. Sebaiknya kamu istirahat saja. Jasad bibimu untuk sementara disimpan di kamar mayat dulu. Polisi sementara memeriksanya."
"Aku harus ganti baju dulu." Gelya menunjuk bajunya yang sudah berlumuran darah.
"Aku temani kamu ke rumah."
Gelya hanya mengangguk. Ia terlalu lemah untuk berpikir.
Begitu mereka tiba di rumah, Gelya segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia pun mengganti pakaiannya.
Namun saat ia keluar kamar untuk menemui Zein, ia terkejut melihat Zoran yang juga sudah ada di sana.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Pergi....! Pergi....!" Gelya langsung emosi saat melihat Zoran. Apalagi pakaian Zoran ada darahnya.
"Dengarkan aku dulu, Gelya!"
"Mau dengar apa? Kamulah sumber masalah dari semua keluarga ku! Pergi....! Pergi ...! Aku tak mau melihatmu lagi!" Gelya melemparkan Zoran dengan berbagai benda yang ada di dekatnya.
Zein segera menarik Zoran keluar. "Please..., mengertilah dengan Gelya yang saat ini terguncang. Kematian bibi nya sungguh tragis."
"Tapi aku tidak melakukan apapun untuk mencelakai bibi Mila."
"Pergilah. Biarkan Gelya tenang. Dia pasti mau bicara denganmu lagi."
Zoran sebenarnya agak berat meninggalkan tempat itu. Namun dia akhirnya pergi juga.
Zein pun segera masuk ke dalam. Ia melihat Gelya sedang duduk di sofa sambil menangis. "Gelya, istirahatlah. Aku akan menjagamu."
"Aku nggak bisa tidur."
"Berbaringlah." Zein sebenarnya sudah memberikan Gelya obat tidur saat gadis itu tadi mengeluh sakit kepala. Dan benar saja, tak sampai 5 menit Gelya berbaring di atas sofa, ia sudah lelap dalam tidurnya.
Zein yang duduk di tepi sofa hanya menatap wajah gadis itu. Tangannya menyingkirkan rambut yang ada di wajah Gelya. Ia kemudian menjauh lalu menelepon seseorang untuk menyiapkan pemakamannya.
*************
Air mata Gelya masih terus mengalir saat satu persatu orang yang menghadiri pemakaman bibinya sudah pulang.
Langit mulai gelap, apalagi hujan gerimis pun sudah turun. Anak bibi Mila bersama mantan suaminya juga sudah kembali ke Singapura.
Gelya enggan meninggalkan tempat itu.
"Aku turut berdukacita."
Gelya mendongakkan kepalanya. "Jave?"
Jave ikut berjongkok di samping Gelya. "Aku bersumpah padamu, Gelya. Akan ku balaskan apa yang sudah mereka lakukan pada bibimu. I love Mila. Dia adalah manusia pertama yang sungguh-sungguh aku cintai, namun karena otoritas memanggil aku ke Singapura, aku harus pergi sebagai salah satu pelayan raja."
"Kamu tak jahat seperti Zoran kan? Bibiku menyebut nama Zoran sebelum kematiannya."
"Zoran? Bukankah malam itu ia bersamamu? Di tempatnya dokter Zein kan?"
"Aku mengusirnya."
Jave diam sebentar. "Nggak mungkin Zoran terlibat dengan pembunuhan Mila. Dia mencintaimu."
"Dia tak mencintaiku. Dia pembunuh!"
Jave menatap pusara Mila. "Malam itu, aku berencana ingin ketemu dengan Mila. Aku memang sudah menghapus kenangannya tentangku. Namun, ratu meminta aku untuk pergi ke suatu tempat. Saat aku kembali, aku ke rumah Mila dan melihat polisi yang sementara memasang pagar pembatas di sekitar mobilnya."
Gelya menghapus air matanya. Ia menatap Jave yang juga ikut berdiri di sampingnya. "Apakah kamu menjerat bibi ku dengan pesona vampire mu?"
"Awalnya aku berniat begitu. Namun saat bibimu memberikan respons ketika aku mendekatinya, aku membatalkannya. Saat kami berciuman, kami berdua seperti dua orang yang sudah saling merindukan. Aku selama ini tak pernah mau punya hubungan dengan manusia. Namun bersama Mila, aku menemukan kebahagiaan yang lain." Jave mengusap gundukan tanah itu. Lelaki tampan itu menangis.
"Matamu berdarah, Jave."
"Para vampire akan mengeluarkan darah saat menangis. Karena tak ada lagi air mata pada kami." Jave membersihkan air mata darahnya.
"Gelya, pulanglah. Ini sudah malam. Dan saat ini kamu sedang datang bulan. Itu berbahaya jika sendirian."
"Mengapa kamu tahu?"
"Bau mu menunjukan itu. Dan hanya Vampire, dracula atau manusia serigala yang dapat menciumnya."
"Terima kasih."
"Aku pergi, ya? Percayalah. Aku akan menemukan siapa pembunuh bibimu." Lalu Jave segera menjauh saat Zein sudah berjalan mendekatinya.
"Aku sudah berbicara dengan pengurus makam ini. Mereka yang akan membuat kuburan bibimu. Tapi nanti setelah 2 minggu."
"Terima kasih dokter Zein."
"Zein, panggil saja begitu."
Gelya tersenyum. "Sudah malam. Kita pulang?"
"Sebaiknya memang begitu."
Zein mengambil payung dan memayungi mereka berdua meninggalkan kompleks pemakaman keluarga itu.
Sepanjang perjalanan kembali ke kota, Gelya lebih banyak diam. Ia bahkan memilih untuk memejamkan matanya walaupun ia sendiri tak mengantuk.
Zein membawa Gelya ke rumahnya karena gadis itu masih takut kembali ke rumah bibinya.
Setelah mampir makan bersama di salah satu restoran, keduanya pun langsung menuju ke rumah Zein.
"Zein, kamu nggak ada pasien? Dari kemarin kamu menemani aku terus." kata Gelya setelah mandi dan ganti pakaian. Keduanya duduk di ruang tamu.
Zein yang sedang menonton TV melirik kearah Gelya lalu kembali ke stasiun TV. "Aku minta ijin. Besok baru masuk. Kamu nggak ingin minum kopi atau semacamnya ?"
"Tidak. Aku hanya mau pamitan untuk tidur. Badanku rasanya capek semua."
"Sebentar .." Zein berdiri dan mengambil 2 butir obat. "Minumlah ini. Aku pikir kamu butuh vitamin dan juga obat tidur."
Gelya meminumnya tanpa berkomentar. Setelah itu ia langsung masuk ke kamar.
***********
Gelya melihat seorang pria bule yang sudah berusia lanjut. Pria itu berdiri sambil menatapnya sambil tersenyum. Gelya ingat kalau itu adalah lelaki yang dilihatnya di foto keluarganya. Ayah dari kakeknya.
"Kakek?" panggil Gelya sedikit meragu.
Lelaki itu mendekat lalu memeluk Gelya dengan penuh kasih.
"Akhirnya kita bertemu."
Mozer Bogdan kemudian melepaskan pelukannya. Ia menatap cucu buyutnya itu. "Dari semua keturunan, kamu yang terpilih mewarisi darah suci. Kamu punya kekuatan yang besar untuk melawan semua yang mendekatimu. Karena dirimu adalah titipan alam semesta untuk dunia ini. Jangan salah mengambil keputusan dan jangan salah mencintai orang." Mozer kemudian mengambil kotak kayu itu lalu memberikan pada Gelya. Kotak kayu yang sama persis dengan yang diberikan oleh bibinya. "Darah sucimu bercampur dengan keturunan ningrat dari mamamu yang akan mengalahkan kegelapan dunia ini."
"Tapi kuncinya?"
"Ingatlah apa yang dikatakan bibimu." lalu Mozer kemudian pergi.
"Kakek....! Tunggu.....!" Gelya kehilangan kakeknya. Masih banyak yang ingin dia tanyakan. Termasuk juga dengan kematian kakeknya. Tapi lelaki tua itu sudah pergi.
"Gelya.....!"
Gelya tersentak bangun mendengar panggilan itu. Itu adalah suara Zoran. Gelya mengambil ponselnya dan melihat jam. Ternyata sudah pukul 4 pagi.
Pandangan Gelya tertuju ke arah jendela kamar itu. Ia dapat melihat ada seseorang yang berdiri di sana tirai jendelanya tak tertutup rapat.
Dengan segera ia turun. Dapat dilihatnya ada Zoran yang berdiri di sana.
Gelya membuka jendela kaca itu.
"Tolong bebaskan aku dari pernikahan terkutuk ini. Aku ingin lepas darimu." Gelya mengangkat tangannya dan menunjukan cincin pernikahan itu. "Aku ingin jauh darimu."
Zoran mendekat. Kini keduanya berdiri saling berhadapan. "Kamu ingin melepaskan ikatan pernikahan ini? Bukankah kita saling mencintai?"
"Tak ada cinta diantara kita."
Zoran mengangguk. Sangat jelas terlihat wajahnya yang kecewa. "Gelya, aku melepaskan kamu......"
***********
Haruskah pernikahan mereka berakhir dengan perpisahan pada hal belum dimulai?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
gia nasgia
ihhh ternyata segitu aja cinta bang zoran 🤦♀️untung ada jave yg bicara, klau bukan zoran pelakunya
2024-04-27
1
irish gia
perjuangan zoran masih jauuuhh
2024-04-27
1
Eka elisa
waduh knp nyerah zoo kty cinta gel.. brjuang dulu dn buktiin lok kmu gk sjht yg mreka tuduhkn... zo...
2024-04-27
2