Seperti Dejavu

Gelya masih terpaku di tempatnya berdiri. Pandangan matanya tetap tertuju pada sofa berwarna coklat itu sambil mengingat kembali mimpi panas yang sudah berapa kali menghampirinya dan membuatnya basah di pagi hari.

"Ada apa sayang?" tanya Zoran sambil memeluk Gelya dari belakang.

Bunyi suara petir dan guntur saling bersahut-sahutan membuat Gelya membalikan tubuhnya dan langsung memeluk Zoran.

"Hujannya deras. Sedikit lagi baru kita pulang ya? Ini kan baru jam 10 malam."

Gelya mengangguk. Entah mengapa tubuh Zoran seperti magnet baginya. Sangat sulit untuk dilepaskan jika sudah dipeluk.

"Kita duduk dulu." Zoran mengajak Gelya duduk di sofa coklat itu. Gelya merasakan senyar aneh di seluruh kulit tubuhnya.

"Ada apa?" tanya Zoran melihat Gelya yang nampak gelisah.

"Aku merasa pernah datang ke sini, Zo. Sofa ini..., aku sedang ber...bercinta dengan seorang lelaki. Wajahnya memang tak jelas tapi harum tubuhnya seperti....seperti harum tubuhmu."

Zoran mengerutkan dahinya. "Memangnya ada mimpi seperti itu?"

"Aku bahkan memimpikannya sampai 4 kali. Hampir setiap malam. Makanya saat masuk ke ruangan ini, aku merasa tak asing lagi. Lemarinya, lampunya dan suasana yang pernah aku alami di sini."

Zoran memegang kedua tangan Gelya dan menggenggamnya erat. "Mungkin hanya bunga tidur saja, sayang. Atau itu semacam mimpi basah pada laki-laki yang menandakan masa pubertas."

"Tapi aku sudah berumur 20 tahun. Dan aku memasuki masa pubertas saat usiaku 14 tahun. Lagi pula laki-laki kan beda dengan perempuan."

Zoran menatap Gelya dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Atau mungkin itu pertanda bahwa kamu akan menjadi milikku."

"Apa kamu merasa ini bukan sesuatu yang aneh?"

"Jatuh cinta kok aneh sih?" Zoran menangkup kedua pipi Gelya. "Tatap aku."

Gelya menatapnya.

"Aku bahagia bisa menemukanmu. Kamu membangkitkan sesuatu yang sudah lama mati dalam diriku."

"Apa itu?"

"Perasaan sebagai seorang manusia."

"Maksudnya?"

"Jalanku hitam sebelum bertemu denganmu. Aku bahkan tak tahu lagi apa itu cinta. Keinginan ku hanyalah memuaskan diriku sendiri. Ketika melihatmu pertama kali di toko itu, aku begitu menyukaimu, begitu menginginkanmu, seluruh hasrat, gairah dan keinginan dalam hatiku seakan bangkit lagi hanya dengan melihat senyummu."

"Zoran.....!" Gelya memegang pipi lelaki itu. Ia dapat melihat kesedihan dalam tatapan mata pria bule itu. "Jangan bersedih. Kalau memang aku bisa membuatmu bahagia, maka tetaplah berada di sampingku. Karena kamu juga membuat aku bahagia."

Zoran mendekatkan wajahnya ke wajah Gelya. Dahi mereka saling bersentuhan. "I love you." bisik Zoran lalu ia mulai mencium bibir Gelya. Awalnya lembut, penuh kehati-hatian, lama-lama, ciuman itu mulai menjadi panas. Zoran bahkan mengangkat tubuh Gelya dan menaikannya di atas pangkuannya. Gelya secara alami mengalungkan tangannya di leher pria itu.

Hujan turun dengan sangat deras. Membuat suasana menjadi semakin dingin, membuat dua insan yang berbeda jenis itu mulai tak bisa mengendalikan gejolak masa muda yang membakar gairah mereka.

Gelya kini tak ada di pangkuan Zoran. Ia sudah tidur di atas sofa dan Zoran berada di atasnya. Entah bagaimana kaos dan rompi Gelya sudah terlepas dari tubuhnya dan menyisahkan penutup gunung kembarnya.

Mimpi indah yang Gelya rasakan saat itu kini menjadi nyata. Gelya mendongakkan kepalanya saat Zoran mulai mencium lehernya. Gadis itu tak dapat menahan suara desahannya saat tangan Zoran mulai membelai bagian sensitif tubuhnya.

Gelya hampir lupa dengan segalanya. Ia sekarang pasrah pada apa yang akan Zoran lakukan padanya karena memang Gelya menginginkannya.

"Gelya.....tolong....!"

Gelya seperti mendengar suara mamanya. Ia menahan kepalanya Zoran yang kini ada di perutnya.

"Zoran...., maaf....!" Gelya duduk. Napasnya masih belum stabil.

Zoran mengusap wajahnya. Ia mati-matian menahan dirinya agar bisa mengontrol sesuatu yang sebenarnya sudah hampir meledak dalam dirinya.

"Maafkan aku, Gelya." Zoran berdiri. Ia membelakangi Gelya. Entah apa yang dirasakan pria itu. Ia sedikit berlari menuju ke arah belakang.

Gelya pun bangun dan memakai kaos dan rompinya kembali. Ia merapikan rambutnya yang berantakan.

"Zoran......!" panggilnya sambil melangkah ke arah dapur.

Zoran keluar. Wajahnya terlihat tenang. Ia tersenyum dan langsung memeluk Gelya. "Maafkan aku.....!"

"Jangan minta maaf. Aku juga menginginkannya. Hanya saja, aku seperti mendengar suara mamaku. Perasaan ku jadi tak tenang. Bolehkah kamu mengantar aku pulang? Hujan sepertinya sudah mulai redah."

Zoran mengangguk. Ia kemudian meraih tangan Gelya, menggenggamnya erat lalu keduanya melangkah menuju ke luar lewat pintu samping sepertinya pintu itu terhubung dengan garasi.

Mata Gelya terbelalak melihat ada sekitar 5 mobil di sana. Dengan berbagai model dan merk. Dan Gelya yakin kalau semuanya mobil mewah.

Zoran membuka pintu mobil Mustang berwarna merah. Gelya masuk dan ia sendiri duduk di samping Gelya. Mobil meninggalkan garasi dan pintu garasi tertutup secara otomatis.

Rumah Zoran sebenarnya tak begitu jauh dari rumah bibinya Gelya. Saat mereka tiba di sana dan Gelya membuka pintu depan, ia langsung histeris melihat sang bibi yang terkapar di atas lantai dengan beberapa luka di tubuhnya.

"Bibi.....!" teriak Gelya.

Zoran pun mendekat. Ia memeriksa beberapa luka Mila.

"Ayo kita membawanya ke rumah sakit." Zoran langsung membopong tubuh Mila dan meletakkannya di jok belakang. Mereka pun segera membawanya ke rumah sakit.

Seorang dokter muda. Seorang ahli bedah, segera memeriksa Mila.

Dokter tampan itu bernama Zein. Dokter blesteran Korea-Indonesia itu nampak cekatan memeriksa Mila sedangkan Gelya menunggu di luar ruangan IGD sambil memeluk Zoran dan menangis.

"Tenang, sayang. Aku yakin bibi mu akan baik-baik saja." hibur Zoran. Karena tadi dia sudah memeriksa Mila dan Zoran tahu kalau Mila pasti selamat.

"Keluarga pasien bernama Mila." panggil seorang suster.

"Saya, suster."

"Anda dipanggil dokter Zein."

Zoran mempersilahkan Gelya masuk sementara Zoran menunggu di luar. Setelah Gelya menghilang dari balik pintu, Zoran justru pergi dari sana.

"Saya keluarga pasien yang bernama Mila." kata Gelya saat melihat seorang dokter yang nampak sedang bercerita dengan seorang perawat laki-laki.

Dokter Zein membalikan badannya. Ia langsung terkesima menatap Gelya. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuat dokter Zein langsung tertarik.

"Anda siapanya ?"

"Saya, ponakannya."

"Bibimu membutuhkan transfusi darah. Sayangnya golongan darah AB susah di temukan dan stok di bank darah kami habis. Staf kami sedang berusaha menghubungi rumah sakit lain. Atau ada kerabatmu yang lain yang memiliki golongan darah yang sama?"

"Aku memiliki golongan darah yang sama dengan bibiku."

"Suster Dewi, tolong bawa gadis ini ke ruangan bank darah." Dokter Zein memanggil seorang suster yang tadi memanggil Gelya di luar.

"Dokter, bagaimana bibi saya?" tanya Gelya sebelum pergi.

"Bibi mu akan baik-baik saja. Dia hanya butuh transfusi darah karena HB nya kurang." Zein sengaja tak menyebutkan luka aneh yang ditemukannya di leher Mila.

Gelya mengangguk lega. Ia pun mengikuti langkah suster Dewi.

************

Waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Gelya baru sadar kalau dia tak melihat Zoran sejak tadi.

Mila kini sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Di dalam. Ruangan ini ada dua pasien yang dirawat. Transfusi darah sudah diberikan kepadanya.

Tadi polisi juga datang dan bertanya beberapa hal kepada Mila. Ternyata pihak rumah sakit yang melaporkan. Gelya mengatakan tidak tahu apa-apa. Ia tak mau mengatakan kalau bibinya kencan dengan seorang bule karena ia juga tak tahu apakah si bule yang menyebabkan bibinya terluka.

Pintu ruangan perawatan sang bibi terbuka. Gelya langsung lega saat melihat Zoran.

"Kamu dari mana saja? Aku dari tadi mencarimu. Tas dan ponselku entah ada di mana."

Zoran mendekat dan memberikan tas dan ponsel Gelya.

"Ini. Ketinggalan di mobilku."

"Terima kasih."

"Bagaimana bibimu?" tanya Zoran.

"Kata dokter hanya membutuhkan transfusi darah saja. Lusa dia sudah boleh pulang. Luka-luka nya ringan saja."

"Syukurlah."

Gelya memeluk Zoran. "Aku senang kamu ada di sini? Jujur saja aku sangat ketakutan. Entah orang jahat siapa yang menyerang bibi."

"Kamu dan bibimu sebaiknya lebih berhati-hati saja. Namun aku akan selalu menjagamu."

Gelya tersenyum. Ia merasa damai dalam pelukan kekasihnya itu.

**********

Waktu pun terus berlaku. Tak terasa sudah jam 5 subuh. Zoran enggan meninggalkan Gelya namun dia harus pergi.

Tangannya menarik selimut dan menutupi tubuh Gelya yang tertidur di sofa. Matanya menatap ke arah pasien yang satu. Di batasi oleh kain pembatas ruangan. Zoran menuju ke pasien yang satu itu. Nampak seorang perempuan muda yang dirawat. Ibunya yang menjaga dan keduanya sedang tertidur. Zoran pun perlahan keluar dari ruangan itu. Ia memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan takkan ada yang melihatnya terbang.

Zoran sampai ke rumahnya hanya semenit saja. Ia baru akan masuk ke dalam rumah saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya.

"Zoran.....!"

Zoran membalikan badannya. Nampak seorang lelaki tampan berdiri di hadapannya.

"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Zoran marah sehingga kedua taringnya muncul.

"Bukan aku pelakunya !"

"Tapi kamu berkencan dengan perempuan itu!"

"Apa salahnya berkencan dengan manusia? Tujuan kita sama kan?"

"Jangan kau coba-coba mendekati Gelya!"

Lelaki tampan berwajah bule itu pun tertawa. "Lebih baik kamu mengijinkan aku masuk sebelum kita berdua terpanggang di sini."

Zoran

Gelya

Zein

Terpopuler

Comments

💖 sweet love 🌺

💖 sweet love 🌺

visual utama nya kurang greget thor

2024-12-04

0

Bahari Sandra Puspita

Bahari Sandra Puspita

zoran nya kurang ganteng kak 😁😁🤭🤭

2024-08-19

3

neng ade

neng ade

jadi terjebak cinta segitiga dong karena Zein juga mengincar Gelya

2024-06-12

0

lihat semua
Episodes
1 Sesuatu yang Aneh
2 Tatapan Matanya
3 Pernyataan Cinta
4 Lelaki Misterius
5 Kencan Pertama
6 Seperti Dejavu
7 Cinta atau Bukan?
8 Menjauh
9 Rindu
10 Darah Perawan
11 Manisnya Cinta
12 Serangan
13 Kerja sama Zoran dan Zein
14 Silsilah Keluarga
15 Kejutan di Awal Bahagia
16 Patah Hati
17 Keras Hati Gelya
18 Cinta Itu Gila
19 Semakin Menjauh
20 Belum Saatnya Berpisah
21 Siapa Gelya yang sebenarnya?
22 Siap Melepaskan
23 Miliki Aku Seutuhnya
24 Bulan Madu Yang Romantis
25 Indahnya Kebersamaan
26 Saat Bulan Purnama
27 Status Berubah
28 Musuh Yang Dekat
29 Milik Zoran
30 Ada Yang Berubah
31 Mencari Tahu
32 Hampir Saja.
33 Pergi Ke Rumania
34 Satu Rahasia Terkuak
35 Membingungkan.
36 Death or love
37 Sepi Tanpamu
38 Hari Wisuda
39 Kita Harus Pergi
40 Keinginan Untuk Hamil
41 Bahaya yang Mengintip
42 Kegelapan Menerpa
43 Ada Yang Berkhianat
44 Terjebak
45 Sebuah Pengorbanan
46 Akhirnya Damai
47 Mungkin Ini Jalan Terbaik
48 Apapun Juga Keinginanmu
49 Tak Bisa Di Hadapanmu
50 Maukah Kau Menikah Denganku?
51 Menjadi Suami dan Istri
52 2 Minggu vs 6 minggu
53 Hamil 2 Anak
54 Ada Yang Baru
55 Anak Ketiga
56 Apakah Benar?
57 Cinta Itu Tetap Ada
58 Darahku Untukmu
59 Menghabiskan Waktu
60 Pemberitahuan
61 Pergi Dalam Damai
62 Demi Hidupmu
63 Perasaan Tak Pernah Salah
64 Sebelum Kematian Zoran
65 2 Lelaki Yang Saling Berkorban
66 Cinta Yang Tak Pernah Mati
67 Sentuhan Manis
68 Penghuni Ruang Bawah Tanah
69 Aku Tahu Siapa Kamu
70 Anneth
71 Sama-Sama Ingin
72 Ini Bukan Napsu tapi tentang Perasaan.
73 Kalian Harus Berpisah
74 Pilihan Mami
75 Hati Seorang Ibu
76 Menua Ditemani Olehmu
77 Jika Kau tak ada Aku pun tak ada
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Sesuatu yang Aneh
2
Tatapan Matanya
3
Pernyataan Cinta
4
Lelaki Misterius
5
Kencan Pertama
6
Seperti Dejavu
7
Cinta atau Bukan?
8
Menjauh
9
Rindu
10
Darah Perawan
11
Manisnya Cinta
12
Serangan
13
Kerja sama Zoran dan Zein
14
Silsilah Keluarga
15
Kejutan di Awal Bahagia
16
Patah Hati
17
Keras Hati Gelya
18
Cinta Itu Gila
19
Semakin Menjauh
20
Belum Saatnya Berpisah
21
Siapa Gelya yang sebenarnya?
22
Siap Melepaskan
23
Miliki Aku Seutuhnya
24
Bulan Madu Yang Romantis
25
Indahnya Kebersamaan
26
Saat Bulan Purnama
27
Status Berubah
28
Musuh Yang Dekat
29
Milik Zoran
30
Ada Yang Berubah
31
Mencari Tahu
32
Hampir Saja.
33
Pergi Ke Rumania
34
Satu Rahasia Terkuak
35
Membingungkan.
36
Death or love
37
Sepi Tanpamu
38
Hari Wisuda
39
Kita Harus Pergi
40
Keinginan Untuk Hamil
41
Bahaya yang Mengintip
42
Kegelapan Menerpa
43
Ada Yang Berkhianat
44
Terjebak
45
Sebuah Pengorbanan
46
Akhirnya Damai
47
Mungkin Ini Jalan Terbaik
48
Apapun Juga Keinginanmu
49
Tak Bisa Di Hadapanmu
50
Maukah Kau Menikah Denganku?
51
Menjadi Suami dan Istri
52
2 Minggu vs 6 minggu
53
Hamil 2 Anak
54
Ada Yang Baru
55
Anak Ketiga
56
Apakah Benar?
57
Cinta Itu Tetap Ada
58
Darahku Untukmu
59
Menghabiskan Waktu
60
Pemberitahuan
61
Pergi Dalam Damai
62
Demi Hidupmu
63
Perasaan Tak Pernah Salah
64
Sebelum Kematian Zoran
65
2 Lelaki Yang Saling Berkorban
66
Cinta Yang Tak Pernah Mati
67
Sentuhan Manis
68
Penghuni Ruang Bawah Tanah
69
Aku Tahu Siapa Kamu
70
Anneth
71
Sama-Sama Ingin
72
Ini Bukan Napsu tapi tentang Perasaan.
73
Kalian Harus Berpisah
74
Pilihan Mami
75
Hati Seorang Ibu
76
Menua Ditemani Olehmu
77
Jika Kau tak ada Aku pun tak ada

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!