Sebenarnya Gelya sedikit bingung saat mengetahui bahwa bibinya membawa teman lelakinya ke rumah ini. Karena selama ini, Gelya tak pernah melihat bibinya membawa lelaki lain ke rumah ini.
Namun sekali lagi, Gelya tak mau mencampuri urusan pribadi bibinya. Ia pun hanya membersihkan wajahnya dengan cairan pembersih wajah lalu segera mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya lalu ia pun tidur.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi saat Gelya terbangun. Dadanya terasa perih. Ia ingat tadi tak sempat minum air es sebelum tidur. Perlahan gadis itu bangun. Ia membuka pintu kamarnya. Saat matanya melihat ke arah kamar bibinya, kamar itu terbuka. Ranjang nampak sangat berantakan namun tak ada orang di kamar.
Langkah Gelya terhenti di ruang tamu. Ia melihat bibinya yang hanya mengenakan gaun tidur tipis bertali spaghetti nampak sedang berciuman dengan lelaki tadi di depan pintu masuk. Dan lelaki itu sempat menoleh ke arah Gelya. Gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya.
Tak lama kemudian terdengar pintu ditutup. Mila menatap ponakannya. "Ada apa kamu bangun?"
"Aku mau minum, bi." Gelya dapat melihat dengan jelas rambut bibinya yang nampak berantakan. Wajah bibinya terlihat lelah dan akhirnya sang bibi berjalan masuk ke kamarnya. Gelya pun meneruskan langkahnya menuju ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan botol air mineral. Gelya menuangkannya ke dalam gelas lalu meminum isinya sampai habis.
Ia kemudian mencari obat di kotak obat yang ada. Namun tak ada lagi obat maag. Gelya menyesal karena tadi makan cabe terlalu banyak.
Sambil memegang perutnya yang sakit, Gelya melangkah menuju ke kamarnya. Namun ia seperti mendengar ada orang yang mengetuk pintu depan. Gelya jadi heran, siapa yang mengetuk pintu saat subuh seperti ini. Ia mengintip dari balik jendela kaca dan terkejut saat melihat Zoran ada di sana.
"Zoran? Ada apa?" tanya Gelya sedikit berbisik saat ia membuka pintu rumah.
Zoran langsung menyentuh wajah Gelya . "Kamu baik-baik saja, kan?"
"Iya. Kenapa bisa ke sini?"
"Aku merasa ada sesuatu yang buruk menimpamu. Makanya aku datang."
"Aku hanya sakit maag." Gelya tersentuh dengan perhatian Zoran.
Zoran merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebotol obat. Gelya membacanya. "Obat maag? Kok kamu tahu aku sedang sakit maag?"
"Feeling seorang kekasih."
Gelya menerima obat itu dengan hati yang bahagia. "Rasanya tanpa minum obat ini, aku sudah sembuh."
"Oh ya?" Zoran tersenyum senang. "Aku bisa menjadi obat untukmu, ya?"
"Ih...kamu ini. Sok kepedean." Gelya jadi malu sendiri.
"Minumlah obatnya. Dan langsung tidur lagi. Besok kamu nggak masuk kerja kan?"
"Iya."
"Nanti besok pukul setengah tujuh sore, aku akan menjemputmu di sini. Kita pergi kencan."
"Ok." kata Gelya nampak kegirangan. Zoran menyentuh bibir Gelya. Ia mengusapkan ibu jarinya ke bibir Gelya.
"Boleh aku mencium kamu?" tanya Zoran.
"Tadi juga saat mencium nggak minta ijin."
Zoran terkekeh. Ia menarik Gelya ke dalam pelukannya. "Rasanya ingin memeluk kamu terus seperti ini. Nggak mau pulang."
Gelya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zoran. Ia suka sekali dengan harum tubuh pria itu.
"Aku juga ingin kamu di sini. Tapi takut sama bibi. Nggak enak juga kalau ada tetangga yang lihat."
"Aku bisa pastikan bibi dan tetanggamu nggak akan ada yang tahu."
Gelya mencubit tangan Zoran. "Memangnya kamu penyihir sehingga bisa melakukan semua itu?"
Zoran kembali terkekeh. Ia mengecup dahi Gelya, turun ke hidung gadis itu lalu perlahan ia mencium bibir Gelya. Begitu lembut, penuh perasaan. Gelya yang sebelumnya tak pernah berciuman dengan pria lain, mencoba membalas ciuman itu dengan alami juga sampai akhirnya ada sesuatu yang panas mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Gelya terkejut dengan reaksi ciuman itu. Ia dengan cepat menghentikan ciuman itu.
"Kenapa?" tanya Zoran.
"Aku takut kita kebablasan." Gelya memegang pipi Zoran. "Sampai jumpa besok ya?" lalu ia segera masuk ke dalam rumah. Memegang dadanya sendiri. Tubuhnya masih gemetar oleh suatu hasrat yang seharusnya tak boleh. Hasrat penuh gairah yang pernah dirasakannya di dalam mimpi.
Gelya pun segera meminum obat maag cair itu. Lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Ia tersenyum bahagia sambil memegang bibirnya sendiri.
Sedangkan Zoran yang masih berdiri di depan pintu rumah itu, perlahan membalikan badannya. Matanya dengan awas melihat ke sekeliling rumah Gelya. Setelah ia merasa tak ada yang patut dicurigai, pria itu pun langsung melesat pergi dengan sangat cepat.
**********.
Setelah 4 kali ganti pakaian, Gelya pun menjatuhkan pilihannya pada celana jeans, kaos hitam lengan panjang, dipadu dengan rompi jeans. Ia sengaja memilih warna hitam karena ia melihat bahwa Zoran suka dengan pakaian berwarna hitam.
Ia mengenakan sepatu kets tanpa tali, mengikat rambutnya, memberikan sedikit bedak di pipi dan lipstik warna pink di bibirnya.
Tadi pagi ia sudah meminta ijin pada bibinya dan diijinkan.
"Wah, cantik sekali. Siapa sih lelaki yang sudah memikat hatimu itu? Bibi jadi penasaran. Selama ini kamu kan selalu menceritakan tentang para pria yang mendekatimu. Kenapa sekarang nggak?" tanya Mila yang masih mengenakan seragam kerjanya dan sedang duduk di depan TV.
"Bibi akan tahu siapa dia. Sedikit lagi."
"Baiklah."
Pukul setengah tujuh tepat, bel pintu berbunyi. Gelya dengan semangat membukanya. Zoran sudah berdiri di depannya. Celana jeans dan t-shirt ketat berwarna hitam. Ada logo salah satu brand ternama di dadanya.
"Aku tepat waktu kan?" tanya Zoran.
"Iya. Ayo masuk dulu. Kita pamit pada bibi." ajak Gelya.
Keduanya masuk sambil bergandengan tangan. Mila yang memang sudah menunggu Zoran langsung menatap cowok itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita cantik itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tahu mengapa pria ini bisa menaklukan Gelya.
"Bibi, ini Zoran. Dia bisa bahasa Indonesia. Zoran ini bibiku." Gelya memperkenalkan mereka.
Zoran mengulurkan tangannya pada Mila dan perempuan itu menyambutnya. "Santai saja, Zoran. Kamu nggak perlu gugup seperti ini sampai tanganmu sedingin es. Aku bibinya Gelya. Selamat berkencan ya? Ingat Gel, sebelum jam sebelas sudah ada di rumah."
"Baik, bi." ujar Gelya sebelum akhirnya ia dan Zoran pergi.
Gelya menatap sebuah motor balap yang ada di depannya. "Kita naik motor?"
"Ya. Tapi kalau kamu tak suka kita naik motor, aku akan pergi dan mengambil mobil."
"Aku suka." kata Gelya. Ia langsung memakai helm yang disodorkan Zoran padanya.
Keduanya pun pergi meninggalkan halaman rumah Gelya.
***********
Mereka baru saja selesai menonton film. Drama komedi romantis. Gelya tertawa tapi juga terbawa alur romantisnya.
Jangan ditanya berapa kali ia dan Zoran berciuman setiap kali adegan romantis itu muncul.
"Kamu itu senang sekali mencium aku." kata Gelya saat keduanya kekurangan dari ruangan bioskop.
"Salah sendiri kenapa kamu tak menolak setiap kali aku menciummu?" tanya Zoran sambil menatap Gelya dengan tatapan penuh cinta membuat gadis itu tersipu malu.
"Aku suka dengan bibirmu, Zo. Rasanya dingin, kayak aku emut permen rasa mint."
Zoran tertawa mendengarnya. Ia menggenggam tangan Gelya. "Tanganmu juga dingin, Zo. Apakah selalu seperti ini?"
"Ya. Karena berada di dekatmu, membuat aku selalu bergetar."
Gelya mengeratkan genggaman tangan diantara mereka. "Kamu siapa sih? Mengapa aku begitu mudah jatuh cinta kepadamu?"
"Karena aku juga begitu cepat jatuh cinta padamu." Jawab Zoran lalu mengecup punggung tangan Gelya yang ada digenggamannya. Keduanya pun tersenyum bersama sebelum akhirnya meninggalkan gedung bioskop.
"Kamu lapar?" tanya Zoran saat keduanya sudah ada di atas motor.
"Iya."
"Jangan makan mie bakso ya?" ujar Zoran sebelum akhirnya menjalankan motornya. Gelya hanya tersenyum. Ia memeluk pinggang Zoran dan menyandarkan kepalanya di punggung lelaki itu. Gelya jadi ingat dengan cerita-cerita teman-temannya. Kencan itu sangat menyenangkan.
Motor Zoran memasuki sebuah rumah makan Jepang.
Zoran memilih sebuah ruangan privat di mana hanya ada mereka saja. Keduanya duduk melantai di depan meja pendek. Zoran memilih duduk berdampingan dengan Gelya.
"Aku nggak tahu harus memesan apa. Kamu saja yang pesankan karena ini kali pertama aku masuk restoran Jepang."
Zoran memesan beberapa jenis makanan dan sebotol anggur.
"Zo, makannya mahal." ujar Gelya.
"Memangnya kenapa kalau mahal?"
"Aku nggak mau kesannya menjadi cewek matre."
"Siapa yang bilang kamu cewek matre? Aku hanya ingin memanjakan mu." Zoran membelai wajah Gelya. "Kesederhanaan mu yang membuat aku jatuh cinta padamu, sayang."
Gelya tersipu. "Kamu pasti orang kaya? Pekerjaan kamu apa? Aku kok merasa minder jika harus menjadi pacarmu."
"Eh, jangan berkata seperti itu. Cinta tak memandang segala perbedaan." Zoran membawa Gelya kembali ke dalam pelukannya. "Jangan memandang perbedaan diantara kita. Saat kamu membalas perasaan ku, itu sudah cukup bagiku."
"Aku suka harum tubuhmu, Zo. Rasanya aku sudah mengenal harum ini sangat lama."
"Aku senang kalau kamu menyukai parfum ku."
Gelya melepaskan pelukannya. Ia menatap Zoran. "Aku ingin suatu hari, kamu bisa menjemput aku di kampus. Aku ingin tunjukan pada teman-teman ku kalau aku sudah punya pacar. Kamu mau kan?"
"Siang hari?"
"Ya."
"Akan ku usahakan jika pekerjaanku tak banyak."
Makanan pesanan mereka datang. Gelya memperhatikan makanan yang Zoran pesan untuk dirinya sendiri.
"Sashimi? Kamu suka daging mentah?" tanya Gelya.
"Ya. Aku kan sudah bilang kalau aku sangat menjaga pola makanku."
Gelya hanya tersenyum namun tetap saja ia merasa aneh. Ia mengunyah makannya dan melihat bagaimana Zoran nampak agak kesulitan menelan makanannya.
Selesai makan, keduanya langsung pulang. Namun di tengah jalan, hujan turun dengan sangat deras.
"Kita mampir ke rumah aku dulu ya? Kita ambil mobil." kata Zoran lalu membelokan motornya ke sebuah lorong yang nampak sepi. Pagar rumah itu begitu tinggi dan pagarnya terbuka secara otomatis saat Zoran menekan salah satu tombol yang ada di motornya.
Begitu Zoran membukan pintu rumah itu dan menyalakan lampunya, Gelya terkejut. Bukankah ruangan ini seperti yang ada di mimpinya? Ia bercinta dengan seseorang di atas sofa berwana coklat itu?
***********
Siapa Zoran guys ???
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
panty sari
Zoran pria yg ada dipimpinnya gelya
2024-12-25
0
Dedeh Herawati
vampir ganteng
2024-11-01
1
neng ade
Zoran si vampir tampan
2024-06-12
1