Zera adalah istri dari pemimpin tertinggi vampire seluruh dunia. Ia cantik, seksi dan juga terkenal suka selingkuh. Sayangnya, sang raja Vampire yang bernama Astara sangat mencintai Zera. Sehingga ia tak pernah percaya dengan kabar miring istrinya itu. Zera dulunya adalah putri kebangsaan Timur Tengah. Astara yang melihatnya langsung jatuh cinta dan akhirnya merubah gadis itu menjadi vampire seperti dirinya untuk dia nikahi.
Banyak lelaki tampan baik vampire maupun manusia biasa yang jatuh cinta pada Zera, kecuali Zoran. Vampire tampan itu tak sedikit pun tertarik pada wanita yang digilai oleh banyak vampire itu.
Laura yang mendengar permohonan Zera itu menjadi sedikit cemburu. Bagaimana pun ia masih sangat mencintai Zoran. Sedangkan Jave hanya menahan senyum karena ia tahu sebentar lagi akan ada perang dari dua wanita yang sama-sama ganas itu.
Zoran hanya diam saat mendengar permohonan Zera. Matanya memandang lurus ke arah Gelya yang juga sedang menatapnya dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Gelya, aku akan menjelaskan semuanya. Maaf kalau harus menyembunyikan ini darimu." kata Zoran dalam bahasa Indonesia.
"Jangan gunakan bahasa yang tidak ku mengerti tampan. Karena hanya dalam sekejap saja, aku dapat menghabisimu dan gadis perawan mu itu." Zera nampak kesal karena Zoran tak seperti menanggapi apa yang dia ucapkan. "Oh ya, apakah kamu sudah menemukan benda yang disimpan oleh gadis itu?"
Gelya semakin terkejut mendengar perkataan Zera. Benda apa itu?
"Let Gelya go and I will serve you." kata Zoran.
"Apakah kau tak ingin gadis itu melihat betapa hebatnya kamu dalam bercinta. Iya kan Laura? Itu yang membuatmu tak bisa melepaskan Zoran." kata Zera membuat Laura hanya bisa meringis menahan keinginannya untuk segera bercinta dengan Zoran.
"I want to go!" Gelya akan turun dari ranjang namun Laura menahan tangan gadis itu. Antara rasa takut dan marah, Gelya dengan sekuat tenaga mendorong Laura sehingga gadis itu terlempar cukup jauh.
Semua yang ada di ruangan itu terkejut melihat bagaimana kuatnya Gelya mendorong Laura. Bahkan Gelya sendiri menjadi bingung dengan apa yang baru saja dilakukannya.
"Waw......!" Zera melepaskan Zoran dan berjalan ke arah Gelya dengan tatapan membunuh. "Aku jadi penasaran dengan semua yang dapat kamu lakukan. Apakah kamu sekuat itu, sayang?"
Gelya yang sudah turun dari ranjang segera mundur saat Zera mendekatinya. Apalagi taring perempuan itu sudah keluar dan siap untuk menerkam Gelya.
"Gelya sayang, apakah kamu.....!"
"My Queen!"
Zera menoleh dengan kaget saat melihat 2 orang pengawal khusus suaminya ada di dalam kamar itu.
"Raja saat ini dalam perjalanan menuju ke Singapura. Akan sangat berbahaya jika raja tak menemukan ratu ada di sana. Kita harus berangkat sekarang sehingga tak keburu pagi." Kata salah satu dari pengawal khusus itu.
Zera mendesis kesal. Ia kemudian menatap Gelya. Berusaha menghipnotis gadis itu namun terlihat kalau Gelya tak terpengaruh.
"Sial....! Aku pasti akan kembali lagi, nona perawan!" Ia pun langsung melesat pergi diikuti oleh Jevan.
Laura yang nampaknya masih pusing akibat benturan tadi dipapah oleh dua orang pengawal dan mereka pun terbang meninggalkan kamar di lantai dua itu.
"Sayang....!" Zoran mendekati Gelya namun gadis itu mengangkat tangannya di udara dan menghentikan langkah Zoran.
"Jangan dekati aku!"
"Tapi sayang.....!"
Gelya melangkah menuju ke arah pintu. Tak peduli dengan dirinya yang hanya menggunakan baju dalam. Ia pergi ke kamar tempat ia berdandan tadi. Di sana Gelya menemukan tas dukungnya. Ia mengambil pakaian dan segera memakainya.
"Gelya......!" terdengar Zoran yang sedang mengetuk pintu.
Gelya tak menanggapi. Ia ke kamar mandi dan mencuci wajahnya dari semua make up yang tadi menempel di sana. Hati gadis itu terlanjur luka.
Saat ia keluar dari kamar mandi, nampak Zoran yang sudah masuk ke kamar.
"Baby, please. Listen to me!" Zoran kembali mendekat namun Gelya menghindar.
"Aku tak ingin kamu dekat-dekat dengan aku, tak ingin kamu memanggil aku sayang, dan tak ingin kita berhubungan lagi."
"Aku tahu. Aku sudah jahat padamu. Namun dengarkan aku dulu!"
"Aku tidak mau! Cukup sudah yang kudengar. Kamu sendiri tak menyangkal bahwa kamulah yang telah menghabisi mereka. Seharusnya aku memang tak berhubungan dengan mahluk tanpa perasaan seperti kamu."
"Jangan katakan seperti itu, sayang."
Gelya meraih tasnya. "Aku mau pulang."
"Gelya, sebentar lagi pagi. Aku tak bisa mengantarmu. Tunggulah sampai pak Tarno datang."
"Aku tak butuh dirimu!" Gelya segera melangkah untuk pergi. Namun Zoran sudah menghadangnya di depan pintu. "Sayang.....!" Zoran menahan tangan Gelya. "Bagaimana pun kita sudah menikah."
"Aku anggap ini bukan pernikahan. Aku tak mau seperti ini!" Gelya membuka cincin yang dipakai Zoran untuk melamarnya. Cincin itu terlepas dan Gelya segera melemparkannya pada Zoran. Namun saat ia akan melepaskan cincin kawinnya, cincin itu seakan melekat di jari manisnya.
"Cincin itu tak akan lepas kecuali aku yang melepaskannya. Karena kamu sudah menikah dengan seorang vampire. Kamu akan menjadi milik vampire itu selamanya."
"Aku tidak mau ....! Tidak mau.....!" Gelya berteriak histeris sambil terus berusaha melepaskan cincin itu. Namun seperti yang Zoran katakan, cincin itu tak terlepas.
"Aku tidak mau memutuskan ikatan diantara kita. Kamu hanya akan mati konyol di tangan vampire atau mahluk lainnya yang mengincar kamu."
Gelya terduduk di depan pintu. Ia menangis dengan sangat kuat sambil menyesali semua perkenalannya dengan Zoran.
Zoran pun ikut duduk di hadapan Gelya. Lelaki itu nampak lelah karena sesungguhnya ia belum meminum darah apapun malam ini.
Selama satu jam lebih, keduanya hanya duduk saling berhadapan. Gelya berusaha tak kontak mata dengan Zoran.
Sampai akhirnya melalui jendela, Gelya melihat kalau di luar rumah sudah mulai terang. Gelya langsung berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Zoran.
"Jangan pedulikan aku!" Gelya segera berlari meninggalkan kamar itu. Masih ia dengar teriakan Zoran yang memintanya jangan pergi namun gadis itu sudah nekat.
Ia menuruni tangga dengan sangat cepat. Air matanya terus membanjiri pipinya.
Agak jauh Gelya berjalan dan tak ada kendaraan yang lewat di daerah itu. Samping akhirnya Gelya melihat sebuah mobil yang sepertinya ia kenal. Gelya menghentikannya dan mobil itu berhenti.
"Gelya?" sang pengemudi turun.
"Dokter Zein?"
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Zein melihat Gelya yang nampak kacau. Gadis itu bernapas lega. Ia langsung memeluk dokter Zein sambil menangis. "Tolong aku, dok. Aku ingin pulang."
"Ok. Kita pulang. Tapi di dalam mobil ada dua temanku. Kami baru saja menghadiri acara di salah satu villa yang ada di dekat sini." ,
Teman Zein yang duduk di depan segera berpindah ke belakang. Gelya pun gantian duduk di depan dan Zein kembali menjalankan mobilnya.
Gelya segera memasang sabuk pengaman dan mengucap syukur dalam hatinya karena ia merasa sudah aman.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka berempat.
Zein yang menyetir mobil sesekali melirik ke arah Gelya. Sampai akhirnya gadis itu ketiduran karena memang satu malam ia tak tidur.
Gelya terbangun saat sudah berada di depan rumah bibinya. Kedua teman Zein ternyata sudah turun.
"Terima kasih sudah mengantarku, dok."
"Sama-sama."
Gelya membuka pintu mobil. Ia kembali melihat ke arah dokter Zein. Kemudian gadis itu kembali masuk ke dalam mobil. "Dokter boleh mengatakan ku ke rumah temanku? Aku perlu ada di sana agar Zoran tak menemukan ku."
Zein mengangguk.
"Lalu bibimu?"
"Sepertinya bibi ku juga nggak ada. Mobilnya tak ada di garasi."
Zein mengangguk. Ia pun segera mengantarkan Gelya ke alamat yang dimaksud.
"Kalau kamu butuh bantuan apapun, hubungi aku saja." kata Zein sebelum Gelya turun.
Gelya mengangguk. Ia pun segera masuk ke tempat kost Tiara. Tempat kost ini nampak sepi namun Gelya tahu kalau Tiara ada karena gadis itu off hari ini.
"Gelya?" Tiara yang baru selesai mandi terkejut melihat temannya.
"Aku boleh di sini dulu, nggak?"
"Tentu saja boleh. Ayo masuk!"
"Emil nggak ada kan?"
Tiara tersenyum. Emil adalah pacar Tiara. Gelya tahi sedalam apa hubungan Tiara dan Emil.
"Emil lagi kerja. Pulangnya nanti lusa. Ada orderan di luar kota."
Gelya masuk dan langsung duduk di lantai yang di alasi karpet.
"Kamu kenapa?"
"Aku takut di rumah sendirian. Kayak ada yang mengawasi aku."
"Astaga..., memang sekarang kita harus hati-hati. Tahu kan banyak teror pembunuhan di kota ini. Oh ya, aku tinggal sebentar mau beli makanan. Kamu ingin makan apa?"
"Apa saja. Aku juga nggak ada selera makan."
Tiara mengusap pundak sahabatnya. "Harus makan. Nanti aku beli dengan es ya?"
Tiara pergi meninggalkan Gelya. Gadis itu membuka tasnya dan mengejutkan ponselnya. Ia mengaktifkan ponselnya. Ternyata ada panggilan dari sang bibi. Lalu ada pesan juga yang menyatakan bahwa bibinya sedang pergi ke kur kita dan nanti akan kembali hari Selasa. Gelya pun merasa aman.
Ternyata ada pesan juga dari Zoran
Sayang, please, dengan aku dulu. Sebentar malam kita ketemu ya?
Gelya langsung menghapus pesan itu tanpa membalasnya. Ia juga memblokir nomor Zoran. Satu hal yang Zoran tak tahu, Gelya yang baik itu, sangat rapuh hatinya. Dan ia tipe orang yang bisa memaafkan namun tak ingin dekat lagi dengan orang yang menyakitinya.
***********
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Eka elisa
wah... zoo kyaknya slh mu ftal bgt.. kira"...glya mau gk ya maafin kmu dn kembali lagi dgn mu.... maaf... ok tpi lok kmbali.... susah kyaknya ya...
2024-04-23
2
Neng Ati
kasian sih mereka berdua...tp entahlah akan jadi seperti apa hubungan mereka,semoga dr Zein akan selalu menjadi pelindung gelya disaat Zoran tidak bisa melakukannya
2024-04-23
1
Apriyanti
lanjut thor
2024-04-23
1