Apa yang kita rasakan saat orang yang sebenarnya diam-diam kita kagumi menyatakan cintanya pada kita. Senang, kaget, merasa tak percaya adalah hal yang wajar terjadi.
Gelya yang masih berdiri di balik meja kasir dan Zoran yang masih berdiri di depan meja kasir saling menatap. Tatapan mata Zoran bagaikan menembus ke relung hati Gelya yang paling dalam. "Tuan... jangan bercanda!"
"Kamu selesai kerja jam berapa?" tanya Zoran tanpa memperdulikan tanggapan Gelya.
"Sebenarnya ini sudah selesai. Hanya saja karena hujan, teman-teman ku belum pada datang."
"Aku tunggu di luar ya? Kamu akan lihat apakah aku bercanda atau tidak." Zoran kemudian keluar.
Gelya masih terdiam di tempatnya berdiri. Ia menepuk pipinya sendiri seakan ingin menyadarkan dirinya kalau ini bukan mimpi.
Hujan tiba-tiba saja berhenti. Tak lama kemudian Bobi dan Jerry datang secara bersamaan. Gelya langsung membereskan daftar belanjaan dan keuangan yang ada sebelum akhirnya ia pamit pergi.
"Aku antar pulang, Gel? Ini sudah jam 11 lewat lho." Jerry menawarkan.
"Biar saja aku sendiri. Rumah ku kan dekat. Lagian, aku lebih takut pada pacarmu dari pada hantu." ujar Gelya membuat Jerry cemberut dan Bobi tertawa. Pacar Jerry memang terkenal galak dan sering cemburu tak jelas. Makanya semua karyawan perempuan takut jika harus ketemu dengan pacar Jerry itu.
Sebelum meninggalkan toko, Gelya mengenakan jaketnya, lalu memasukan pisau lipat di kantong celananya. Ia juga memasang penutup kepala dari jaketnya agar tak terlalu terlihat kalau dia perempuan.
Gelya menarik napas panjang sebelum akhirnya ia melangkah. Ia tahu jalanan pasti sepi karena hujan yang baru berhenti.
"Hai.....!" Zoran ternyata sudah menunggu Gelya di jalan depan toko.
"Hai....!" Gelya terkejut melihat Zoran.
"Kenapa harus kaget? Tadi aku sudah bilang akan menunggumu."
Gelya tersenyum. Jantungnya langsung berdetak cepat.
"Aku antar kamu pulang?" tanya Zoran.
"Apakah kamu kayak aku percaya?"
Zoran tertawa. "Aku pikir dengan kemampuan ilmu bela dirimu dan pisau lipat yang tersimpan di kantong celanamu, maka aku harus berpikir dua kali untuk bersikap kurang ajar padamu."
"Baiklah." Gelya melangkah diikuti Zoran yang berjalan di sampingnya. Hembusan angin malam yang dingin membuat Gelya memeluk dirinya sendiri.
"Kamu selalu jalan kaki pergi dan pulang kerja?" tanya Zoran.
"Ya. Selain hemat, pastinya sehat."
"Aku suka dengan dirimu yang apa adanya."
Dari arah depan nampak ada dua buah motor yang saling berkejaran. Motor yang ada di depan sudah kekuatan sedikit dari garis tengah jalan dan bisa menabrak ke arah Gelya dan Zoran.
"Ah.....!" teriak Gelya panik namun entah bagaimana, Zoran sudah memeluknya dan mereka sudah berpindah ke seberang jalan sedangkan 2 motor itu jatuh di arah yang berlawanan.
"Kamu baik-baik saja?" bisik Zoran tepat di telinga Gelya. Gadis itu mengangguk walaupun ia masih diliputi rasa takut. Indra penciumannya mencium sesuatu yang sepertinya sudah sangat Gelya kenal baunya. Harum tubuh Zoran.
Namun saat mendengar rintihan kesakitan dari 2 pengendara motor itu, perhatian Gelya langsung beralih kepada mereka.
"Zoran, kita harus menolong mereka." kata Gelya saat ia akan melangkah namun Zoran justru menahan tangannya.
"Kamu tunggu di sini saja, biar aku yang melihat mereka."
Zoran pun melangkah ke arah dua motor yang jatuh itu. Ia membantu keduanya berdiri dan mendirikan motor mereka yang jatuh. Entah apa yang Zoran katakan namun kedua pengendara motor itu segera naik ke atas motor mereka masing-masing dan segera pergi.
"Mereka memangnya baik-baik saja? Kenapa langsung pergi?"
Zoran tersenyum. "Mereka baik-baik saja."
"Zoran, tadi kita ada di seberang sana, kenapa sekarang ada di seberang sini? Aku merasa tak menyeberang jalan?" tanya Gelya tak menyembunyikan rasa penasarannya.
"Tadi kamu sedang ketakutan. Kamu memejamkan mata dan memegang tanganku erat. Aku yang menarik kamu sampai kita akhirnya ada di seberang sini."
"Masa sih?"
"Jadi kamu pikir aku seperti Superman yang bisa membuatmu berpindah tempat hanya sepersekian detik saja?"
Gelya tertawa. "Ya sudah, aku kita pergi." Gelya melangkah lagi dan Zoran kembali berjalan di sampingnya.
Mereka akhirnya tiba di depan rumah bibinya Gelya. Sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas.
"Aku tak bisa mengajak kamu masuk karena ini sudah hampir tengah malam."
Zoran hanya mengangguk.
"Terima kasih ya?"
Zoran tersenyum. Gelya ikut tersenyum.
"Aku suka senyummu. Cantik."
Gelya merasa pipinya panas. "Sudah berapa gadis yang kamu rayu seperti itu?"
Zoran tertawa, menampakan gigi nya putih dan rapi.
"Aku sudah lama sekali tak merayu cewek."
"Aku tak percaya."
"Aku tak bisa memaksamu untuk percaya."
Gelya membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu itu. "sekali lagi terima kasih ya? Aku masuk dulu!" pamit Gelya. Namun Zoran menahan tangan Gelya. Gelya dapat merasakan permukaan kulit Zoran yang dingin.
"Ada apa?"
Pria itu mendekat. Jarak diantara mereka hanya beberapa sentimeter saja. Harum tubuh Zoran membuat Gelya seperti dihipnotis. Ia mencoba mengingat di mana ia pernah mencium harum yang sama dengan ini.
"Aku tadi mengatakan padamu, kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana menurutmu?"
"Aku, aku....!" Gelya tak tahu harus menjawab apa.
Zoran tiba-tiba saja mengecup dahi Gelya. "Sampai jumpa besok. Kalau masuk ke dalam jangan terlalu ribut. Nampaknya bibimu sedang berkencan" katanya lalu segera pergi.
Gelya menatap kepergian Zoran tanpa bicara. Tangannya memegang dahinya yang baru saja di cium oleh Zoran. Gadis itu tersenyum malu. Ia pun segera masuk ke dalam. Mata Gelya menatap ke arah garasi. Bukan hanya ada mobil kecil milik bibinya yang terparkir di sana. Tapi juga ada sebuah mobil lain.
Setelah membuka pintu depan, Gelya pun masuk perlahan. Lampu ruang tamu nampak sudah dimatikan. Namun, saat Gelya mendekati kamar bibinya, ia mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar sang bibi.
"Baby...., you are so narrow. I'm crazy about you." terdengar suara seorang pria. Menggunakan bahasa Inggris.
"Oh....yes ....!"
Gelya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia ingat tadi Zoran mengatakan kalau bibinya sedang berkencan. Bagaimana lelaki itu bisa tahu?
Secara perlahan Gelya membuka pintu kamarnya yang berhadapan dengan kamar bibinya. Gelya sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang bibinya lakukan di dalam kamar.
Tak ingin pusing dengan kegiatan panas sang bibi yang terdengar sampai di kamarnya, Gelya pun langsung ganti pakaian secara cepat dan naik ke atas ranjang. Ia memakai headset di telinganya dan memutar lagu Korea kesukaannya.
***********
Mata Gelya menatap sosok bayangan hitam yang berdiri di jendela kamarnya. Tirai jendela yang tersingkap membuat gadis itu dapat melihat sosok hitam yang tinggi dan menggunakan sebuah topi lebar hitam itu.
Bayangan wajahnya tak jelas namun Gelya dapat merasakan kalau dia seorang pria.
Pria berpakaian serba hitam itu menatap ke arah Gelya. Matanya merah dan Gelya dapat melihat ada 2 taring yang keluar dari antara giginya. Gelya menggelengkan kepalanya. Ia ingin berteriak namun suaranya entah hilang kemana.
"Gelya, i want you!" kata pria itu dengan suara yang sensual dan menggoda.
"No....!" Gelya menggelengkan kepalanya. Ia merasa kalau tubuhnya bagaikan ditarik menuju ke arah jendela kamarnya.
"No....!" Gelya memegang seprei dengan kedua tangannya saat tubuhnya semakin ditarik ke arah jendela. Pegangan tangan Gelya terlepas. Tubuh Gelya semakin ditarik ke sana. "No.....! Mommy....!" teriak Gelya. Sebuah sinar tiba-tiba saja muncul dan membuat pria itu menghilang.
Gelya tersentak bangun. Tubuhnya basah dengan keringat. Ia langsung melepaskan headset di telinganya dan menyalahkan lampu kamarnya. Matanya langsung tertuju ke arah jendela kamarnya yang tertutup rapat dengan kain tirai jendelanya.
"Syukurlah hanya mimpi." kata Gelya sambil mengusap dadanya sendiri. Ia kemudian turun dari ranjang saat mendengar suara mesin mobil yang meninggalkan halaman rumah. Gelya mengintipnya dan melihat mobil yang tadi ada di samping mobil bibinya sudah pergi. Mata Gelya menatap jam dinding kamarnya. Ternyata sudah jam 4 subuh.
Siapa lelaki yang kencan dengan bibi? Seorang bule kah? Tanya hati Gelya penasaran.
**********
Hallo semua bagaimana cerita ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Elmi Varida
thor..bikin aku jd nahan napas....😄😄
2025-01-07
2
neng ade
makin penasaran dngn alur cerita nya .. tentang sosok Zoran dia kah sang vampir tampan yg udh membuat Gelta jatuh cinta
2024-06-12
1
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
makin seru saja padahal baru berapa bab, Gelya selalu di teror oleh mimpi aneh
2024-04-24
1