Kerja sama Zoran dan Zein

Zoran mengepalkan tangannya saat mendapatkan telepon dari Gelya yang menunjukan tangannya yang terluka.

"Ada apa tuan?" Tarno, sopir sekaligus asistennya.

"Kekasihku terluka. Aku harus ke sana malam ini juga. Aku takut luka itu akan berakibat infeksi padanya."

"Aku akan siapkan mobil."

"Terlalu lama jika harus menggunakan mobil. Perjalanan dari sini memakan waktu 3 jam. Aku takut racunnya terlanjur menyebar. Kamu gunakan mobil untuk membawa berkas-berkas kerja sama. Aku akan berlari dari sini." Zoran segera pergi dari jendela agar tak ada yang bisa melihatnya.

Sebagai salah satu vampire yang berusia tua, Zoran sudah berlatih sangat lama untuk bisa berlari melebihi kecepatan pesawat terbang. Pada saat-saat tertentu, ia bahkan bisa terbang. Makanya ia bisa tiba di rumah Mila tak sampai satu jam. Zoran memang merasa sangat lelah. Apalagi ia belum minum darah malam ini. Namun kekhawatiran nya pada Gelya lebih besar dari kondisinya yang lapar.

Ia dengan mudah dapat membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya. Di lihatnya Gelya yang tertidur sambil duduk di atas ranjangnya. Kehadirannya ternyata membuat Gelya terbangun.

"Zoran?"

Zoran langsung duduk di tepi ranjang. Wajahnya terlihat marah. Tangannya memegang lengan Gelya yang sudah diperban.

"Sakit?"

"Sedikit. Tadi dokter Zein sudah menyuntikan obat penghilang rasa sakit."

"Dokter Zein?"

"Iya. Dokter yang merawat bibiku di rumah sakit. Tadi dia yang menolong aku. Kalau dia tak datang aku mungkin sudah dicekik oleh mahluk itu."

"Aku harus memeriksa lukamu."

"Dokter Zein sudah menjahitnya."

"Ini bukan luka biasa, Gelya." Zoran masih nampak marah. Ia perlahan membuka perban yang membungkus luka Gelya. Matanya dengan awas melihat luka itu.

"Mahluk yang menyerang kamu adalah dracula sekaligus juga manusia serigala. Namanya Tirgel. Semua vampire takut padanya karena kekuatannya tak terkalahkan. Ia bisa memasuki alam mimpi manusia."

"Apakah dracula makanannya adalah darah?"

"Tidak juga. Dia bisa hidup tanpa darah. Namun dracula selalu membutuhkan pengantin yang akan diubahnya menjadi mahluk yang sama dengannya. Tirgel awalnya manusia serigala yang digigit oleh seorang dracula." Zoran mengendus luka di lengan Gelya. "Apa yang diberikan dokter itu padamu?"

"Aku tak tahu. Ada cairan berwarna kuning yang dia siram ke lukaku."

Zoran menatap Gelya. "Kamu merasa ada sesuatu yang panas di sekujur tubuhmu?"

"Tadinya. Sewaktu mahluk itu menggaruk aku. Tapi setelah dokter Zein mengobati lukaku, rasa panas hanya di sekitar lukaku saja."

"Racun dracula itu belum menyebar di tubuhmu. Mungkin karena obat yang diberikan dokter itu. Namun aku harus mengeluarkan racun di lukanya. Kalau dibiarkan, tanganmu akan busuk."

"Caranya?"

"Aku harus mengisap racun itu. Namun aku butuh bantuan dokter Zein. Kamu akan merasa sakit yang luar biasa karena itu kamu membutuhkan obat bius yang hanya bisa diberikan oleh dokter itu."

"Zein akan tahu kalau kamu seorang vampire."

"Aku akan menghipnotisnya setelah itu. Kamu punya nomor telepon dokter itu?"

"Iya."

Gelya segera menelepon dokter Zein. Butuh 3 kali panggilan barulah dokter Zein menerima panggilannya.

"Dokter, ada sesuatu dengan lukaku. Aku pikir kalau kita harus ke rumah sakit."

"Aku akan menjemputmu, Gelya."

"Tidak usah. Aku akan pergi dengan pacarku." kata Gelya saat melihat Zoran yang menggeleng. Gelya tahu kalau Zoran tak suka Zein menjemputnya.

"Baiklah. Aku akan ke rumah sakit sekarang."

30 menit kemudian....

Mereka bertiga sudah ada di ruangan Zein.

"Boleh kita bicara berdua?" tanya Zoran begitu mereka tiba di rumah sakit.

"Baiklah." Zein dan Zoran berdiri agak jauh dari tempat Gelya duduk.

"Aku tahu kalau kamu mengerti luka apa yang Gelya alami." kata Zoran sedikit berbisik.

"Ya."

"Racunnya memang tak menyebar, namun lukanya itu akan membusuk karena racun yang tertinggal di sana. Aku butuh kamu melakukan anestesi pada Gelya. Aku yang akan mengisap racunnya. Aku tak ingin Gelya mengalami kesakitan yang amat dalam."

Zein mengangguk. "Kamu tahu kalau obat anestesi itu tersimpan di lemari khusus. Ada CCTV di ruangan itu. Aku butuh bantuan mu untuk bisa mengambilnya. Aku tahu kamu itu apa, Zoran."

"Baiklah. Kita akan bekerja sama untuk menyelamatkan Gelya."

"Kamu tak perlu menghipnotis aku setelah kita selesai menolong Gelya. Aku tak akan pernah mengatakan pada siapapun kalau kamu itu sebenarnya mahluk mati."

Zoran tersenyum sinis. "Ayo kita kerjakan."

Zoran dan Zein keluar dari ruangannya. Zoran menghipnotis petugas keamanan sedangkan Zein masuk ke ruangan penyimpanan obat. Ia menuliskan daftar obat keluar. Setelah Zein selesai dengan tugasnya, Zoran pun menghapus rekaman itu lalu membuat sang petugas keamanan tertidur.

Gelya duduk di atas sofa. Zein pun menyuntikan obat bius itu. Setelah Gelya mengatakan kalau ia tak merasakan apa-apa lagi pada tangannya, Zoran pun mengusap luka Gelya. Gadis itu merasakan panas yang mulai muncul di luka itu.

"Sakit, Gel?" tanya Zein.

"Ya. Dan agak panas." jawab Gelya sambil meremas tangan Zein.

"Sabar ya, sayang." Zein kembali mengusap luka Gelya dan membuang racun itu ke sebuah ember kecil yang sudah Zein siapkan.

"Sakit....!" Gelya mulai merintih.

Zoran mengusap wajah Gelya yang sudah berkeringat. "Aku tahu ini sakit. Namun aku yakin kamu bisa menahannya karena obat bius ini menolongmu sehingga rasa sakitnya berkurang. Sedikit lagi ya?"

Gelya mengangguk.

Zoran melanjutkan tugasnya. Zein menambahkan dosis obat bius itu. Gelya berusaha agar tak bersuara. Ia memejamkan matanya dan mengigit bibirnya. Rasa sakit itu semakin bertambah.

"Sudah selesai." kata Zoran. Saat ia menatap Gelya, wajah Zoran nampak lemah dan bibirnya terluka.

"Zoran, kamu kenapa?" tanya Gelya.

"Aku mungkin hanya terlalu lelah karena belum makan." Zoran yang menyadarkan kepalanya di sandaran sofa.

"Zein, apakah di sini tak ada darah?" tanya Gelya.

"Aku tidak tahu."

Gelya mengulurkan tangannya. "Minumlah darahku, Zo."

"Gelya, jangan!" Cegah Zein.

"Tidak, Gel." Zoran menggeleng. Wajahnya semakin pucat.

"Minumlah, Zoran. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu."

Zoran pun mengeluarkan taringnya. Ia memang sangat lemah. Perlahan ia menancapkan taringnya di pembuluh darah yang ada di tangan Gelya dan langsung meminum darahnya.

"Cukup! Kamu bisa membuatnya kehabisan darah." Zein menahan kepala Zoran. Lelaki itu pun melepaskan tangan Gelya. "Maaf."

"Sebentar lagi matahari akan keluar. Ini sudah hampir setengah enam pagi . Kamu tidak akan bisa pulang ke rumahmu." Zein membuka sebuah pintu yang ada di ruangnya. Ternyata itu sebuah kamar. "Aku biasa tidur di sini kalau tak sempat pulang. Gelya, tidurlah di atas ranjang. Kamu akan sangat mengantuk setelah ini. Zoran dapat masuk ke dalam lemari. Aku pastikan kamu akan aman di sana sampai malam nanti."

Zoran mengangguk. Ia memang sudah merasakan aura panas di sekitar kulitnya karena hari yang telah pagi. Ia mencium Gelya. Lalu masuk ke dalam lemari yang ada di sana. Tempatnya memang kurang nyaman karena tubuh Zoran yang tinggi. Namun ia merasa aman di sini.

Sebelum tidur, Gelya mengirim pesan pada bibinya. Ia mengatakan tak bisa pulang karena sedang menggantikan temannya untuk jaga malam sampai pagi.

Gelya pun langsung tertidur setelah ia memejamkan matanya. Zein sendiri meninggalkan kamarnya itu dan memilih tidur di sofa.

*********

Gelya bangun saat waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Ia merasakan tubuhnya agak lemah dan masih sedikit pusing. Matanya menatap lemari pakaian yang ada di sudut ruangan. Ia kemudian melangkah perlahan keluar dari ruangan itu.

Dokter Zein masuk ke ruangnya setelah Gelya selesai mencuci wajahnya.

"Makanlah bubur ayam ini dan habiskan 2 butir telur ayam kampung yang sudah aku rebus. Setelahnya minum vitamin penambah darah dan tidurlah lagi untuk memulihkan tenagamu. Jangan lupa minum susunya."

"Terima kasih ya, dok."

"Aku ada jam operasi sedikit lagi. Kalau kamu mau tidur, jangan lupa kunci pintunya dari dalam. Nanti selesai aku melakukan operasi, aku akan memeriksa lukamu."

Gelya mengangguk. Ia menghabiskan semua makanan dan minuman yang Zein bawakan untuknya. Setelah meminum obat dan vitaminnya, Gelya kembali ke kamar dan tidur.

***********

Zein selesai operasi saat jam sudah menunjukan pukul 6 sore. Tak lupa ia mengambil satu kantong darah dari bank darah dan menyimpannya di lemari pendingin untuk Zoran.

"Lukanya sudah mengering. Jangan dulu kena air ya?" pesan Zein.

"Apakah aku sudah boleh pulang? Aku takut bibi ku mencari aku."

"Tenang saja, ini kan akhir bulan. Biasanya orang yang kerja di bank akan lembut."

"Benar juga." Gelya tersenyum. Berarti dia bisa menunggu Zoran sampai bangun.

"Dokter, apakah anda tahu kalau Zoran adalah seorang...."

"Aku tahu sejak pertama melihatnya." kata Zein.

"Tapi kamu tak akan mengatakan pada orang lain kan?"

"Tenang saja, Gelya. Rahasia kekasih mu aman di tanganku. Hanya saja jika aku boleh memberi saran, jangan dekat dengan mahluk seperti mereka. Karena pada dasarnya mereka itu adalah mahluk yang sudah mati. Mengapa kamu harus membiarkan dirimu di kuasai oleh seorang vampire?"

Gelya tersenyum. "Aku jatuh cinta padanya sebelum aku tahu kalau dia seorang vampire, dok."

"Tapi ....!" Kalimat Zein terhenti karena pintu kamar terbuka. Nampak Zoran keluar dengan wajah yang tak sepucat semalam. Gelya langsung berlari dan memeluk Zoran. "Kamu baik-baik saja?" tanya Gelya.

"Ya." Zoran menatap Zein. "Aku mencium bau darah."

Zein menunjuk kulkasnya. Zoran membuka dan menemukan kantong berisi darah itu. Ia meminumnya sampai habis. Zein melihatnya namun Gelya memalingkan wajahnya.

"Terima kasih untuk semuanya, dokter." Zoran membersihkan bibirnya dengan tissue. Ia menatap Gelya. "Ayo sayang, mari kita pulang."

Gelya mengangguk. Ia menerima ukuran tangan Zoran. "Dokter, terima kasih ya?"

Zein hanya mengangguk. Ada rasa kecewa dalam hatinya melihat Gelya yang nampak bahagia bersama kekasihnya. Zein merasa berkewajiban untuk menyadarkan Gelya untuk lepas dari pesona seorang vampire.

**********

Bagaimana kisah selanjutnya ?

Terpopuler

Comments

💖 sweet love 🌺

💖 sweet love 🌺

"menggores lenganku" seperti nya lebih cocok deh Thor..
daripada "menggaruk aku" agak lucu rasanya..

2024-12-04

1

panty sari

panty sari

zein bertepuk sebelah tangan

2024-12-25

0

neng ade

neng ade

apakah dokter Zain bukan seorang vampire. juga thor .. kelihatan nya dia akrab sm Zoran ..

2024-06-13

1

lihat semua
Episodes
1 Sesuatu yang Aneh
2 Tatapan Matanya
3 Pernyataan Cinta
4 Lelaki Misterius
5 Kencan Pertama
6 Seperti Dejavu
7 Cinta atau Bukan?
8 Menjauh
9 Rindu
10 Darah Perawan
11 Manisnya Cinta
12 Serangan
13 Kerja sama Zoran dan Zein
14 Silsilah Keluarga
15 Kejutan di Awal Bahagia
16 Patah Hati
17 Keras Hati Gelya
18 Cinta Itu Gila
19 Semakin Menjauh
20 Belum Saatnya Berpisah
21 Siapa Gelya yang sebenarnya?
22 Siap Melepaskan
23 Miliki Aku Seutuhnya
24 Bulan Madu Yang Romantis
25 Indahnya Kebersamaan
26 Saat Bulan Purnama
27 Status Berubah
28 Musuh Yang Dekat
29 Milik Zoran
30 Ada Yang Berubah
31 Mencari Tahu
32 Hampir Saja.
33 Pergi Ke Rumania
34 Satu Rahasia Terkuak
35 Membingungkan.
36 Death or love
37 Sepi Tanpamu
38 Hari Wisuda
39 Kita Harus Pergi
40 Keinginan Untuk Hamil
41 Bahaya yang Mengintip
42 Kegelapan Menerpa
43 Ada Yang Berkhianat
44 Terjebak
45 Sebuah Pengorbanan
46 Akhirnya Damai
47 Mungkin Ini Jalan Terbaik
48 Apapun Juga Keinginanmu
49 Tak Bisa Di Hadapanmu
50 Maukah Kau Menikah Denganku?
51 Menjadi Suami dan Istri
52 2 Minggu vs 6 minggu
53 Hamil 2 Anak
54 Ada Yang Baru
55 Anak Ketiga
56 Apakah Benar?
57 Cinta Itu Tetap Ada
58 Darahku Untukmu
59 Menghabiskan Waktu
60 Pemberitahuan
61 Pergi Dalam Damai
62 Demi Hidupmu
63 Perasaan Tak Pernah Salah
64 Sebelum Kematian Zoran
65 2 Lelaki Yang Saling Berkorban
66 Cinta Yang Tak Pernah Mati
67 Sentuhan Manis
68 Penghuni Ruang Bawah Tanah
69 Aku Tahu Siapa Kamu
70 Anneth
71 Sama-Sama Ingin
72 Ini Bukan Napsu tapi tentang Perasaan.
73 Kalian Harus Berpisah
74 Pilihan Mami
75 Hati Seorang Ibu
76 Menua Ditemani Olehmu
77 Jika Kau tak ada Aku pun tak ada
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Sesuatu yang Aneh
2
Tatapan Matanya
3
Pernyataan Cinta
4
Lelaki Misterius
5
Kencan Pertama
6
Seperti Dejavu
7
Cinta atau Bukan?
8
Menjauh
9
Rindu
10
Darah Perawan
11
Manisnya Cinta
12
Serangan
13
Kerja sama Zoran dan Zein
14
Silsilah Keluarga
15
Kejutan di Awal Bahagia
16
Patah Hati
17
Keras Hati Gelya
18
Cinta Itu Gila
19
Semakin Menjauh
20
Belum Saatnya Berpisah
21
Siapa Gelya yang sebenarnya?
22
Siap Melepaskan
23
Miliki Aku Seutuhnya
24
Bulan Madu Yang Romantis
25
Indahnya Kebersamaan
26
Saat Bulan Purnama
27
Status Berubah
28
Musuh Yang Dekat
29
Milik Zoran
30
Ada Yang Berubah
31
Mencari Tahu
32
Hampir Saja.
33
Pergi Ke Rumania
34
Satu Rahasia Terkuak
35
Membingungkan.
36
Death or love
37
Sepi Tanpamu
38
Hari Wisuda
39
Kita Harus Pergi
40
Keinginan Untuk Hamil
41
Bahaya yang Mengintip
42
Kegelapan Menerpa
43
Ada Yang Berkhianat
44
Terjebak
45
Sebuah Pengorbanan
46
Akhirnya Damai
47
Mungkin Ini Jalan Terbaik
48
Apapun Juga Keinginanmu
49
Tak Bisa Di Hadapanmu
50
Maukah Kau Menikah Denganku?
51
Menjadi Suami dan Istri
52
2 Minggu vs 6 minggu
53
Hamil 2 Anak
54
Ada Yang Baru
55
Anak Ketiga
56
Apakah Benar?
57
Cinta Itu Tetap Ada
58
Darahku Untukmu
59
Menghabiskan Waktu
60
Pemberitahuan
61
Pergi Dalam Damai
62
Demi Hidupmu
63
Perasaan Tak Pernah Salah
64
Sebelum Kematian Zoran
65
2 Lelaki Yang Saling Berkorban
66
Cinta Yang Tak Pernah Mati
67
Sentuhan Manis
68
Penghuni Ruang Bawah Tanah
69
Aku Tahu Siapa Kamu
70
Anneth
71
Sama-Sama Ingin
72
Ini Bukan Napsu tapi tentang Perasaan.
73
Kalian Harus Berpisah
74
Pilihan Mami
75
Hati Seorang Ibu
76
Menua Ditemani Olehmu
77
Jika Kau tak ada Aku pun tak ada

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!