Sekarang Echa sudah tidur di asrama kelompoknya, tadi dia bersikeras untuk pindah dari UKS. Dia tidak ingin di UKS, terlalu mengerikan jika sedang sendirian. Dengan segala bujuk rayu yang diberikan Echa. akhirnya dia bisa kembali ke asrama. Echa juga tidak enak dengan yang lain. Apalagi dirinya menjadi ketua kelompok ini.
"Ca kamu gak apa-apa? katanya kamu pingsan?" tanya Arumi panik ketika Echa sudah berada di asrama.
Jika Echa bisa menceritakan semua kepada teman-temannya apa yang terjadi, Echa hampir saja meninggal. Tapi, Echa urungkan, dia tidak ingin semua teman-temannya itu terlibat seperti kakak kelasnya. Jika sudah bersangkutan dengan hal mistis pasti Echa akan terpanggil dengan sendirinya.
"Iya, kalau sakit mending istirahat aja." ucap Putri sambil memapah Echa duduk di ranjang.
"Kalian tenang aja, Caca gak apa-apa kok." ujar Echa dengan senyumannya.
Beruntung sekali mereka memiliki ketua sebaik Echa, dia mempertanggung jawabkan apa yang sudah orang percayakan pada dirinya. Dia bukan tipe orang seperti itu. Mereka kira karena echa cantik, dia akan sombong atau angkuh. Tapi nyatanya tak seperti itu. mereka salah menilai Echa.
"Ca, kamu cantik, baik lagi. Biasanya yang cantik gak suka temenan sama kita. jadi suka insecure sendiri." ujar Alka sambil menatap kearah Echa.
"Cantik aja ga cukup, kita juga harus punya hati yang baik." ujar Echa sambil tersenyum manis kearah Alka.
Tutur kata Echa bagaikan tamparan bagi mereka yang cantik tapi angkuh. Echa sudah di ajarkan semua ini dari sejak dia masih usia belia, sejak mama dan papanya membantu dia merangkak, berjalan dan berlari. Echa sudah diajarkan bagaimana cara agar tidak merendahkan orang. karena kita memiliki apa yang orang tidak miliki. Cukup tersenyum saja, soal membalas atau tidaknya, terserah mereka, yang penting Echa sudah menyapa mereka.
"Eh iya, gimana keadaan Bagas?" tanya Echa.
"Dia baik-baik aja kok." jawab Alka.
"Tapi, kayanya masih kurang fit." ujar Arumi menambahkan.
"Kenapa sih dia?" tanya Putri kepada Echa.
Jika Echa jujur, teman-temannya akan menjadi penakut dan bisa jadi mereka malah mengundang mahluk tak kasat mata yang lain untuk datang kemari.
"Tanya aja sendiri sama orangnya, Caca gak tau apa-apa." jawab Echa.
"Iya juga sih, mendingan ditanya ke orang nya langsung biar di ceritain rinci." ujar Putri.
"Kayaknya Caca ketinggalan banyak deh." ucap Echa mengalihkan topik pembicaraan.
"Gak apa-apa Ca, kami bakalan tetep kompak kok." jawab Alka dengan senyum manisnya.
"Iya Ca, tenang aja." ujar Putri.
"Gimana acaranya seru gak?" tanya Echa menatap satu persatu teman-temannya itu.
"Seru banget!! kamu tau ga kalau king nya Sma starlight angkatan kemarin Kak bara." ujar Alka antusias.
"Oh." jawab Echa singkat.
Echa selalu begitu. Dia tidak terlalu memperdulikan hal seperti itu, untuk saat ini.
"Hanin sama Vivi mana?" tanya Arumi.
"Dia keruang OSIS dulu, gak tau mau apaan." jawab Echa.
"Tapi Arum masih penasaran, kenapa Caca bisa pingsan?" tanya Arumi penasaran.
Echa langsung melototkan matanya panik. Bagaimana sekarang? Dia harus jawab apa? Ini pertanyaan yang dia hindari sejak tadi dan akhirnya pertanyaan itu muncul juga, bagaimana dia menjawab semua ini? Siapapun tolong Echa dalam keadaan yang membingungkan ini.
"Em, itu tadii Caca, jatuh di kamar mandi." jawab Echa terbata-bata.
"Tapi kenapa Kakak senior kesini ya?." tanya Putri.
"Iya, bukannya tadi Echa ke ruang osis ya?" tanya Putri sambil menatap Echa.
Seseorang tolong Echa dari pertanyaan yang membingungkan ini, apa lagi yang harus Echa jawab. tolong Echa sekarang juga atau Echa akan mati kutu disini, dengan lontaran pertanyaan yang tidak bisa dia jawab sama sekali.
"Emm, ginii.." baru saja Echa berkata, namun ada seseorang yang membuka pintu asrama.
"Untuk saat ini kalian makan di kantin, kami sudah siapkan makanannya di kantin, kalian tinggal ambil dan makan disana." ujar Bara yang berada di ambang pintu.
"Kak bisa nanti?" tanya Alka.
"Kalian harus siapin energi kalian buat jurit malam, jangan lupa istirahat, nanti kami akan bangunkan tepat tengah malam." jawab Bara, mereka langsung pergi ke kantin untuk mengisi energinya.
Bagaimana kalau makanannya kehabisan? bagaimana jika saat jurit malam mereka pingsan dan kekurangan energi? bisa bahaya, siapa coba yang mau angkat mereka?
Saat teman-teman Echa melangkahkan kakinya keluar asrama dan hilang dari pandangan, tiba-tiba saja Bara masuk kedalam asrama, mendekat kearah Echa.
"Mau ngapain?" tanya Echa panik ketika Bara mendekat kearahnya.
"Tenang aja, Kakak cuman bawa makanan." jawab Bara sambil.memberikan kantung plastik berisi makanan siang.
"Makasih Kak." jawab Echa dengan malu-malu karena sudah menuduh Bara yang tidak-tidak.
"Nanti, gak usah ikut jurit malam." ujar Bara memperingatkan.
"Yahh Kak, kan Caca mau ikutan. Caca kuat kok." ucap Echa dengan wajah cemberut.
"Nanti kalau kenapa-kenapa gimana?" tanya Bara.
"Caca kuat kak, tenang aja." jawab Echa sambil menunjukan otot kecil di tangannya.
"Engga."jawab Bara tegas.
"Kak Caca kuat kok.." ujar Echa meyakinkan Bara.
"Gimana kalau ada kejadian kayak tadi lagi? terus temen yang lain jadi sasarannya?" tanya Bara memperingatkan.
Ada benarnya juga ucapan Bara, apa yang harus dia lakukan? Di satu sisi dia tidak ingin membahayakan teman-teman di sekitarnya dan di sisi lain dia juga punya tanggung jawab besar pada teman-temannya itu, dia juga ingin ada moment yang indah dalam hidupnya, untuk dia ceritakan nanti.
"Caca mau ikut kak." uvap Echa pada Bara.
"Engga." jawab Bara tetap teguh pada pendiriannya.
"Kak please, Echa ikut ya, Caca janji bakal ngontrol diri kok." jawab Echa sambil menatap mata Bara untuk meyakinkannya.
"Engga." kata Bara dengan penuh penekanan.
"Kata Mama. Caca harus kuat, Caca ga boleh lemah. Putri kecilnya Mama sama Papa gak lemah." ucap Echa sambil memberikan pupy eyes andalannya pada Bara.
"Engga." Bara tetap teguh pada jawaban sebelumnya, dia sama sekali tugas goyah dengan bujukan Echa.
"Sekali aja, Caca gak bakalan bisa ikut lagi acara kayak gini." ujar Echa dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Namun Bara tidak terpengaruh dengan bujuk rayu Echa. Bagaimana jika Echa seperi tadi? terbaring lemah, dengan wajah sepucat salju. Dia tidak ingin hal itu terjadi lagi.
"Engga." ucap Bara.
"Kak Caca mohon, Caca kuat ko, beneran, serius. eh engga deh duarius aja." ujar Echa menyatukan kedua tangannya sambil memohon pada Bara dengan senyum manis andalannya.
Ini yang Bara takutkan dari Echa. Senyum manis itu seolah menjadi candu bagi Bara akhir-akhir ini, apalagi melihat dia tertawa lepas. Tenang sekali melihatnya tertawa seperti itu. Bara langsung tersadar dari lamunannya, tiba-tiba saja Bara melangkahkan kakimya pergi dari asrama itu tanpa menjawab ucapan Echa.
"Kenapa si? Caca salah ya? tapi dimana yang salah nya?" tanya Echa pada dirinya sendiri sambil mengoreksi perkataan yang dia ucapkan tadi.
Sudahlah, jangan terlalu memikirkan itu, pokoknya Echa harus buktikan bahwa dia kuat, dia tidak lemah, Echa memakan nasi yang Bara bawa lagi dengan lahap, agar nanti malam Echa bisa membuktikan bahwa dirinya itu kuat setelah kejadian siang tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
Hazel Luvena arabella Putri
horeee otw bucin ya bara
2024-04-02
2
Nona Kim Nona Kim
Aaa... ceritanya bagus banget. Jadi kecanduan deh bacanya.
2023-04-22
0
Χιαα.
jurit malam? seketika flashback waktu pengukuhan🗿
2022-12-18
0