Tanpa berpikir panjang lagi, Bara langsung membuka pintu yang berada di sebelahnya itu. Pemandangan pertama yang Echa dan Bara lihat adalah Bagas sedang membenturkan kepalanya kedinding.
"BAGASSS!!" teriak Echa ketika melihat Bagas sedang membenturkan kepalanya kedinding.
Echa yang hendak berlari itu, tiba-tiba saja langkahnya terhenti, dia melihat mata Bagas yang putih, darah mengalir dari keningnya karena terus membenturkan kepalanya kedinding dan munjulurkan tangannya kedepan, seperti ingin mencekik Echa saat ini juga, Dia kesurupan.
Echa memejamkan matanya untuk melihat sosok yang berada di dalam tubuh Bagas. Dia melihat ada sosok wanita hitam, berambut panjang, mata merah menyala, memiliki taring dan berlumuran darah. Sangat menyeramkan.
"Kamu bisa melihatku Nona?" tanya Bagas dengan suara wanita yang menggema.
Echa langsung melangkahkan kakinya mundur ketika mendapat pertanyaan seperti itu, sosok yang berada di dalam tubuh Bagas menyadari bahwa Echa bisa melihat dirinya, dia menggelengkan kepalanya cepat sebagai jawaban.
"Jangan bohong! kamu bisa melihatku! aku benci pembohong!" teriak Bagas masih dengan suara khas wanita penuh yang penuh dengan amarah.
Echa bisa melihat didalam diri sosok itu ada api yang menyala-nyala, tiba-tiba saja muncul visual dari sosok tersebut di kepalanya, semasa hidupnya dia terlalu menuhankan dunia, sampai dia lupa bahwa sekarang dunia yang dia tempati sudah beda, dia sudah tidak hidup layaknya manusia pada umumnya.
Bara langsung menyembunyikan Echa dibelakang tubuhnya, Bara tau jika saat ini Echa sedang ketakutan mendengar ucapan yang melengking itu. Jujur saja dia juga takut. Tapi jika dia takut siapa yang akan melindungi adiknya manisnya itu?
"Bagas! sadar!" ucap Bara sambil melangkah maju menuju Bagas.
"Pergi kamu! jangan dekati aku!" ujar Hantu itu kepada Bara yang sedang melangkahkan kakinya menuju Bagas.
Dengan sengaja Bara mendekati Bagas sambil memegang tangan Echa, dia takut Echa kenapa-kenapa jika tidak di genggam seperti ini, nanti dia juga yang akan kerepotan karena ulahnya.
"Berhenti disana!" ucap sosok yang berada di dalam tubuh Bagas dengan suara yang melengking memenuhi ruangan.
Tiba-tiba saja Hanin, Nathan, Azka dan Ivy menuju ke kelas 12 Ips 4. Mereka mendengar keributan disini, mereka tidak berpikir panjang langsung pergi kesini dan ternyata benar saja, ada yang mampu membuat Hanin dan Ivy membulatkan matanya.
Mereka kaget dengan keadaan Bagas yang kerasukan seperti itu.
"Lepaskan dia atau aku mendekat?" tanya Bara yang geram dengan tingkah sosok tersebut.
"Aku akan melepaskan dia, tapi berikan wanita yang ada di belakangmu." jawab Bagas yang masih di kendalikan oleh sosok wanita mengerikan sambil tersenyum penuh arti kearah Echa.
Echa yang mendengar itu langsung menggenggam erat tangan Bara sambil bersembunyi dibelakang tubuh seniornya itu, dia takut Bara akan memberikannya pada sosok mengerikan tersebut.
Bara yang merasakan tangannya di genggam erat Echa itu langsung melihat kearah Echa yang sedang ketakutan, lucu. Seperti seorang kekasih yang sedang melindungi wanitanya.
Namun pikiran itu segera dia buang jauh-jauh, Apa yang dia pikirkan? ini bukan saatnya. Dia harus mempertimbangkan ini dengan baik. jika gegabah bisa saja keduanya akan celaka.
"Tidak usah berpikir, berikan saja padaku." ucap Bagas sambil mengulurkan tangannya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Bara penasaran ketika sosok itu mengincar Echa.
"Dia wanita istimewa, dia 1 dari banyak nya penghuni bumi yang diinginkan kami." jawab sosok mengerikan tersebut.
"Jangan Kak, jangan kasih Echa." ucap Hanin yang ingin berlari namun dicekal Nathan.
"Jangan bertindak gegabah. Nanti kamu sendiri yang akan menjadi sasaran atau bahkan menjadi sanderanya." ujar Nathan memperingatkan ketika Hanin ingin melangkahkan kakinya kearah Echa.
Ada benernya juga kata kak Nathan, bisa-bisa Hanin yang malah nyerang balik Echa, apalagi ini udah malam energi Hanin udah gak sebanyak tadi siang yang masih bisa lawan diri sendiri. ucap Hanin dalam hati.
Bara melihat kearah Echa yang masih ketakutan dan bersembunyi dibalik tubuhnya itu. Bara mencoba untuk melangkahkan kakinya maju kearah Bagas, dia penasaran kenapa dirinya tidak boleh mendekat kearah Bagas?
"Jangan mendekat, atau temanmu yang mati." ucap sosok itu memperingatkan kepada Bara yang masih betah berada di dalam tubuh Bagas.
Echa mencegah Bara agar tidak melangkah maju lagi, dia mengetahui ancaman dari sosok mengerikan itu bukan hal yang main-main.
"Kak Bara, jangan maju lagi, sosok yang ada di dalam tubuh Bagas terlalu kuat, Hanin takut Bagas bakal meninggal atau kakak sama Echa juga bakalan celaka." ucap Hanin memperingatkan kepada Bara tentang sosok yang berada di tubuh Bagas.
Sekarang mereka bingung apa yang harus mereka lakukan? Jika maju mereka akan kehilangan dan mundurpun mereka akan kehilangan.
Tidak ada opsi yang bagus untuk mereka ambil, dua-duanya merugikan. ini yang Echa takutkan jika berhubungan dengan mereka yang tak kasat mata. Tidak ada opsi yang menguntungkan untuk dipilih. Bisa-bisa orang yang ada di dekat Echa juga akan mendapat imbasnya. Jadi, dia tidak pernah menghiraukan sapaan mahluk tak kasat mata.
"Hei wanita buruk rupa." Teriak Ivy dengan lantang.
Sosok yang baru saja Ivy sebut sebagai buruk rupa itu langsung menatap Ivy tajam, seperti seorang pemangsa yang ingin menerkam mangsanya.
"Kau berani padaku?!" teriak Bagas sambil menatap tajam kearah Ivy.
Namun Ivy tidak menjawab perkataan tersebut, Dia sedang memfokuskan dirinya untuk melihat mata Bagas untuk mencari sumber masalah dari sosok yang berada di dalam tubuh Bagas.
"Pergilah, ini bukan duniamu! kamu jangan menuhankan dunia. Kamu sudah bukan manusia lagi, tempatmu bukan disini, percuma saja kau mengambil tubuh manusia sedangkan energi yang kau miliki tidak bertahan lama, Pergi sekarang atau tidak sama sekali!" ucap Ivy yang sudah melihat sumber masalah dari sosok tersebut.
Hantu itu langsung menundukkan kepalanya ketika mendengar perkataan Ivy.
"Aku masih manusia! lihat aku menginjak tanah bukan?" ujar sosok itu tidak terima atas apa yang Ivy katakan.
"Itu bukan tubuhmu. Keluarlah." ucap Ivy.
"Bagaimana aku bisa pergi? Aku butuh wanita itu sebagai kuncinya." ujar sosok tersebut sambil menunjuk kearah Echa dengan senyuman yang mengerikan.
"Kami bantu." ucap Hanin secara tiba-tiba.
Perkataan Hanin mampu membuat semua mata tertuju padanya termasuk kakak seniornya.
"Nin jangan gegabah. Caca gak mau yang lain kenapa-kenapa." ujar Echa sambil menatap kearah Hanin.
"Kita ga ada pilihan lain Ca. kalau kita maju Bagas akan celaka, kalau mundur kita bakalan kehilangan, jalan satu-satunya cuman bantu dia." ucap Hanin. Echa hanya menghela nafasnya panjang ketika mendengar perkataan Hanin, yang dikatakan Hanin memang benar.
Hanin langsung melihat kearah Ivy yang dibalas oleh anggukkan, mereka melangkahkan kakinya mendekati Echa dan Bara.
"Sekarang atau gak sama sekali Ca." ucap Hanin sambil mengulurkan tangannya kepada Echa.
Jujur saja Echa pernah melakukan hal seperti ini, dan itu sangat menakutkan seolah dia sedang berada dalam ruangan yang gelap tanpa cahaya.
Dan sekarang, dia harus lakukan itu lagi. Jika tidak dia lakukan sama saja seperti manusia tidak berguna. ini saatnya Echa harus berani menerima kenyataan bahwa ini adalah jalan hidupnya.
Echa menerima uluran tangan Hanin tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Bara.
Mereka membuat lingkaran sambil menggenggam tangan satu sama lain. Nathan, Bara dan Azka hanya melihat semua itu, mereka tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan. semoga itu tidak mencelakakan dirinya sendiri dan Bagas.
"Nin bukannya kita butuh aura yang bisa Caca serap biar bisa kembali?" tanya Ivy.
"Kita punya semua itu." jawab Hanin tersenyum penuh arti.
Tanpa berpikir panjang Hanin langsung menatap ketiga kakak kelasnya itu. Sedangkan mereka yang ditatap oleh Hanin malah menatap satu sama lain, seolah bertanya, apa maksudnya?
"Kakak, boleh kami minta bantuan?". tanya Hanin yang langsung diangguki Kakak kelasnya itu.
"Kak Bara bisa duduk disamping Echa sambil memegang tangannya. Kakak bakalan ikut sama Caca, bawa Caca kembali sebelum 30 menit atau Echa gak bakalam bisa masuk ketubuh Caca lagi dan kak Bara harus ingat, cari pintu yang ada cahaya warna putih." jelas Hanin sambil menatap kearah Bara.
"Kemana?" tanya Bara penasaran.
"Nanti Kak Bara bakalan tau. Jangan pernah lepasin tangan Caca, dia butuh kakak." jawab Hanin yang langsung diangguki Bara.
"Kak Nathan boleh pegang tangan Hanin? Hanin butuh energi kakak." ujar Hanin sambil mengulurkan tangannya kearah Nathan.
"Energi? Apa maksudnya?" tanya Nathan bingung dengan alur pembicaraan Hanin.
"Nanti kita jelasin, ini bukan saatnya." jawab Hanin, tanpa berpikir panjang lagi Nathan menerima uluran tangan Hanin.
"Kak Azka bisa pegang tangan Vivi, dia terlalu lemah. Jangan tanya kenapa, sekarang bukan saatnya, ini udah larut malam." sambung Hanin yang langsung diangguki Azka.
"Kamu. Duduk di tengah, jangan membantah atau membawa Echa, kami akan membuka pintu itu." ujar Hanin kepada sosok yang masih berada dalam tubuh Bagas.
Sosok itu langsung duduk ditengah, mereka semua memejamkan matanya. Hanin menyerap energi mereka semua untuk membawa Echa, Bara dan sosok tersebut ke alam lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
Dtyas Aldric
alur x sampai sini aja udah kere. .. makan apa lu Thor . sampai punya ide kyk gini ...
2023-08-05
2
Daliffa
mampir nyimak lanjut 💪💪🙏
2023-04-13
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓴𝓮𝓻𝓮𝓷 𝓳𝓭 𝓫𝓲𝓴𝓲𝓷 𝓹𝓮𝓷𝓪𝓼𝓪𝓻𝓪𝓷 𝓷𝓲𝓱🤔🤔🤔🤔
2022-09-27
0